Kabut Asmara

Kabut Asmara
KAMS 14


__ADS_3

Andre dan Alistie hanya terus terdiam. sementara itu dikursi belakang mobil yang mereka tumpangi sudah ada Sean yang dijemput langsung oleh mereka dari bandara.


"Pah, sebenernya ada apa? kenapa aku disuruh pulang secara mendadak begini? dulu kalian sendiri yang udah bohongin aku supaya aku tinggal di singapur! sekarang kaliam masih cuekin aku, sebenernya apa mah kalian?" gerutu Sean kesal karna sedari tadi ocehannya tak kunjung ditanggapi.


"Diem!" pekik Andre membentak dengan emosi yang memuncak.


Dalam keadan menangis. Alistie masih mencoba melerai kemarahan suaminya.


"Kenapa aku salah apa?" tanya Sean meninggikan suara.


Lagi-lagi Andre dan Alistie hanya terdiam. sungguh Sean masih sangat kebingungan, dalam batinnya ia terus berkutat. kenapa harus memiliki orang tua semenjengkelkan ini.


"Kenapa kita kerumah sakit?" Sean masih sabar melemparkan pertanyaan rasa penasarannya.


Mereka langsung menarik Sean, membawa pria itu menyusuri lorong rumah sakit.


"Kalian kenapa sih? jangan bikin aku bingung!" pekik Sean kesal.

__ADS_1


Disudut ruangan, terdapat dua orang yang terlihat tidak asing bagi Sean. untuk memastikannya, pemuda tersebut mencoba menajamkan tatapannya.


"Kamu..." Daryani menghampiri Sean dan menunjuknya dengan sorot mata penuh kemarahan, "Kamu pemuda yang kurang ngajar. pembunuh..." jerit Daryani histeris menitikan air mata.


Tidak ada yang membantu Sean untuk melerai emosi Daryani. kedua orang tua mereka hanya bisa pasrah karna menurut mereka ini adalah mutlak kesalahan anaknya.


"Kenapa Bi? kenapa Bibi nampar Sean? sakit Bi?" ucap Sean mencoba mengindari pukulan Daryani.


"Semua ini gak ada apa-apanya! anak saya lebih sakit dan menderita gara-gara kamu!" pekik Daryani terisak.


Deg... Sean tertegun, "Yu.. Yuli kenapa, Bi?"


Semua orang disana spontan melirik kesatu arah yang sama.


"Dok, gimana keadaan Yuli? dia baik-baik ajah kan, Dok?" Tanya Daryani cemas mencecar.


"Akibat pendarahan yang terlambat mendapat penanganan, kondisi Yuli sekarang benar-benar sangat kritis, Yuli koma. harapannya sangat kecil, sistem sarafnya tidak bekerja dengan baik. hal ini juga dapat merusak ginjalnya."

__ADS_1


Daryani membisu. tatapannya kosong, sampai sekarang ia masih tidak menyangka kenapa anaknya harus mengalami masa sesulit ini.


Brukk... Daryani menjatuhkan dirinya, ia tidak sadarkan diri setelah mendengar pernyataan dokter. semua orang yang berada disana spontan mengangkat dan membantu untuk menyadarkan Daryani.


Sean yang sudah ketakutan namun tak kunjung mendapat jawaban akhirnya kembali bertanya pada Sang Ayah. "Pah, tolong jelasin. semua ini kenapa?"


Andre meraih ponsel, ia menyerahkan ponsel tersebut pada sang buah hati.


Dengan cepat Sean meraihnya, ia melihat dan membaca sesuatu yang sudah ditunjukan Andre.


"Gak mungkin! itu gak mungkin." Sean memucat, seluruh tubuhnya bergetar. bawasannya didalam ponsel itu sudah banyak memuat berita-berita tentang wanita yang melahirkan seorang diri di sebuah kost. "Ini bukan Yuli kan?" tanya Sean parau.


"Dia Yuli. dan buku ini yang sudah menjawab segalanya," Sean meraih buku tersebut dimana didalamnya terdapat catatan khusus yang sengaja Yuli buat.


Sean langsung mendorong pintu ICU yqng berada dihadapannya. padahal seharusnya ia meminta persetujuan dokter terlebih dahulu karna ruangan tersebut tidak boleh sembarangan dimasuki seseorang.


"Sean..." Pekik Andre mencoba menghentikan, namun Sean malah memberontak dan memaksa masuk kedalam untuk melihat kondisi Yuli.

__ADS_1


Tatapan Sean kosong. terlihat diatas ranjang rumah sakit sudah ada Yuli dengan selang yang terpasang di tubuhnya. Yuli sama sekali tidak bergerak. sebelumnya dokter mengatakan jika Yuli sedang koma, meskipun wanita itu bisa bertahan sekalipun. akan ada komplikasi yang terjadi akibat pendarahan yang sebelumnya tidak cepat ditangani.


__ADS_2