
Pagi hari, semua orang sudah berkumpul diruang makan untuk menyantap sarapan. Ujang dan Andre terlihat asik membicarakan perkembangan berita kemajuan di negara tersebut. sedangkan Sean, ia terlihat santai memainkan ponsel dengan raut wajah gembira.
Alistie terus menatap kagum kearah sang buah hati, dengan ukiran senyum bahagia yang ia pancarkan. bagaimana tidak? bisa dikatakan ini adalah momen langka setelah sekian lama akhirnya Sean bersedia ia bangunkan untuk menyantap sarapan bersama.
"Apaan si, Mah?" tanya Sean tidak nyaman.
"Gapapa, Mamah seneng ajah akhirnya kamu mau ikut sarapan bareng."
Sean hanya tersenyum getir. tentu alasan pemuda tersebut hanyalah agar bisa melihat sang pujaan hati, setelah semalam mereka melakukan hal-hal diluar batas.
"Yul..."Daryani membuka pintu kamar sang putri, mencari sosok Yuli untuk mengajaknya sarapan berasama. Daryani mendengus kesal, Yuli tidak ada diranjangnya, ranjang yang Daryani lihat sangatlah berantakan. "Anak gadisku iki jorok banget ya, Masya Allah."
Daryani mencoba merapikan tempat tidur Yuli. ia menyingkap dan dan menarik selimut tersebut dengan sangat epic, "Astagfirullah..." pekik Daryani terkejut.
"Ibu..." Yuli yang baru menyelesaikan aktifitas mandinya pun tesentak begitu melihat sang Ibu ada dihadapan matanya.
Yuli ketakutan, diatas sprei tersebut ada bercak darah tanda kegadisannya yang direnggut oleh Sean. tangannya langsung bergetar hebat, wajah Yuli memucat diselingi jantung yang berdebar cepat.
"Iki apa, Yul." tanya Daryani dengan raut wajah marah.
Yuli menelan salivanya, ia sedikit membuka mulutnya mencoba mencari alasan yang logis untuk menjelaskan apa yang Daryani lihat.
"Kamu jorok banget! bukannya langsung dicuci."
__ADS_1
Yuli terpaku dengan raut wajah tanpa mengurangi perasaan takutnya.
"Buruan cuci, kamu pasti lagi dateng bulan tidur bukannya hati-hati."
Yuli meloloskan nafas beratnya, dada yang sebelumnya terasa sesak akhirnya terasa sangat lega saat mendengar Daryani sang Ibu mengklaim jika otu adalah darah datang bulan milik putrinya.
"Buruan turun, semua udah nunggu. kita sarapan bareng!" titah Daryani melangkah pergi.
Syukurlah, kali ini Yuli selamat. keberuntungan masih berpihak padanya, entah apa yang akan Daryani lakukan jika ia tahu perihal darah itu adalah darah kegadisan putrinya.
Dengan cepat Yuli menarik sprei tempat tidurnya, sungguh tubuhnya sampai terasa lemah akibat hal memalukan tersebut sempat akan ketahuan oleh ibunya.
"Yull..."
Yuli memalingkan tubunya perlahan kearah sang Ibu.
Yuli melirik kearah dadanya, itu adalah tanda kepemilikan yang Sean buat semalam. "I... iya, Bu. kemarin temen-temen Den Sean ngusilin aku, wajahku disembur pake asep rokok."
Daryani menghela nafas kasar sambil menggelengkan kepalanya, "Yowis, nanti suruh Bapak beli obat. ayo sarapan."
Yuli mengangguk. untung saja sedari kecil ia memiliki riwayat alergi terhadap asap. jika dirinya mencium ataupun terpapar asap kulitnya langsung akan memerah dan sedikit memar. sedikit menguntungkan, karna hal ini dapat menyelamatkan Yuli dari cecaran ibunya.
Daryani terus menggerutu, karna menurutnya sang putri sangatlah teledor dan tidak bisa menjaga kesehatan juga kebersihan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Kenapa, Bu? mana Yuli?" tanya Ujang setelha Daryani tiba dimeja makan.
"Dikamar baru abis mandi, nanti beliin anak sampean obat. Alerginya kumat."
Alistie yang mendengar hal itupun merasa penasaran, "Kenapa Dar? Yuli alergi apa?"
"Ituloh, Mba. anaku itu Alergi asap. katanya dijailin temennya, Den Sean."
Sean lengsung mengerutkan dahi menatap kearah Daryani, karna merasa tidak mengerti dengan ucapan pelayannya tersebut.
"Terus baik-baik ajah kan? gak di apa-apain?" tanya Alistie perhatian.
"Merah-merah badannya, kaya orang dijilat Jin." celetuk Daryani. tanpa ia sadari Jin yang dimaksud adalah Sean yang berada tepat dihadapannya.
"Uhukkk..." Sean yang sedang meminum segelas jus pun sampai tersedak saat mendengar pernyataan tersebut, tentu ia sadar. sepertinya Daryani melihat tanda kepimilikan yang Sean buat semalam ditubuh anaknya.
Alistie menepuk punggung Sean, sambil berkata. "Kamu tuh kalo punya temen jangan jail gitu dong, kasian kan Yuli."
Sean hanya mengangguk pasrah. Alistie sendiri merasa anak laki-laki nakalnya tersebut sudah menjadi lebih penurut, "Kamu tumben."
"Ke... kenapa?" tanya Sean gugup.
"Mamah gak pernah liat kamu ngeroko sekarang," ucap Alistie tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
Ya, Alergi Yuli sukses membuat Sean bisa mengurangi kebiasaan buruknya menghabiskan berbungkus-bungkus rokok dalam satu hari. pemuda itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal sejenak, "I... iya, Yuli pernah marah-marah karna aku ngeroko diruang tamu pas ada dia."
Alistie beroikir demikian. syukurlah Yuli memiliki alergi semacam itu, karna hal tersebut dapat mengurangi tingkat kenakalan sang buah hati.