Kabut Asmara

Kabut Asmara
KAMS 3


__ADS_3

Sesaat setelah Sean memarkirkan mobil miliknya. pria itu melirik kearah Ujang kemudian menyapanya, "Mang..."


Ujang memalingkan tubuh, "Iya Den?"


Sean berpikir keras. pemuda itu menatap Ujang tanpa ekspresi. sebenarnya Sean sedang bergelut dengan jutaan ketidak nyamannya. ingin mengatakan sesuatu tapi enggan untuk memulai.


"Kenapa Den?"


Sean tersenyum tipis kemudian menggelengkan kepalanya perlahan. entah kenapa Sean selalu merasa kesal setiap kali dirinya ada dirumah. tentu semua itu terjadi bukan tanpa alasan. pemuda yang hidup berkecukupan tersebut nyatanya selalu merasa kesepian atas kesibukan kedua orang tuanya.


Andre selalu ditugaskan keluar kota, dan bahkan luar negri. hal itulah yang membuat Sean dan kedua pelayannya terlihat sangat dekat. Alistie yang selalu mendampingi sang suami kemanapun Andre pergi sebenarnya sudah berusaha untuk meluluhkan Sean agar pemuda itu mengerti. nyata tidak! usahanya sia-sia. di usia Sean yang rentan justru malah membuat pemuda itu semakin nekat. Sean bahkan meluapkan rasa kesalnya tersebut dengan cara menghabiskan waktunya lebih banyak diluar dengan teman-teman nakalnya.


"Udah Makan Den?" tanya Daryani.


Sean menatap kearah Daryani kemudian menggelengakan kepalanya perlahan.


"Yaudah Bibi siapin makan, mau disini atau dikamar?" tanya Daryani menawarkan.


"Kamar."


Dengan cepat Daryani berlalu untuk segera menyiapkan apa yang Sean butuhkan. wanita itu langsung memutar badannya setelah mengetahui apa keinginan anak dari majikannya tersebut.


"Eh, Bi."


"Kenapa, Den?"


"Papah sama Mamah?"

__ADS_1


"Belum pulang, koyone tar malem."


Sean tersenyum menyeringai. pemuda itu langsung meraih tasnya dan berlalu dengan perasaan jengkel menuju kamar.


Daryani tau apa yang Sean inginkan. semua ini terjadi bahkan karna putusnya komunikasi antara anak dan orang tua. sikap Sean yang keras membuat dirinya semakin jauh dari Alistie dan Andre. padahal jika Sean menuruti keinginan orang tua dan mengerti dengan keadaan ini semua tidak akan terjadi.


Sean mendorong kasar pintu kamarnya dengan emosi yang memuncak.


"Astagfirullah," ucap Yuli kaget.


Sean menatap tajam kearah Yuli dengan heran, "Siapa lo?" tanya Sean meninggikan suara.


Yuli membulatkan matanya, ini adalah kali pertama keduanya bertemu meskipun sudah semalam Yuli tiba dirumah tersebut. sejenak Yuli menelan salivanya dengan perasaan takut, "A... aku Yuli, Yulia. ma... maaf aku disuruh beresin kamar ini sama Ibu."


Sean menghela nafas kasar. pemuda itu nampak tidak mempermasalahkan hal tersebut, ia meletakan tasnya disembarang arah lalu menjatuhkan dirinya begitu saja diatas ranjang.


Sean melirik kearah Yuli, "Eh tunggu-tungu!"


Seketika Yuli menghentikan langkahnya menatap kearah Sean gugup, "Masa sih dia marah. aku kan disuruh ibu," batin Yuli dengan seluruh tubuh yang bergetar.


"Udah lama? kapan lo dateng?" tanya Sean santai.


Yuli terpaku. apa ini? tadi Sean terlihat sangat mengerikan dengan ekspresi marahnya. dan sekarang pria itu terlihat jauh lebih tenang.


"Itu aku, emmm." Yuli terus menatap Sean dengan perasaan gugupnya, "Aku... semalem. eh maksudnya kemarin."


Sean mengangguk. ia kembali memalingkan tubuh, kemudian meraih ponsel didalam saku dan berkata. "Tutup pintunya, Yul. bilang ibu kamu, aku gak jadi makan." ucap Sean.

__ADS_1


Yuli menganggukan kepalanya dengan cepat. sesegera mungkin ia melangkah keluar sambil menarik gagang pintu untuk menutupnya dari luar.


"Si Yuli lumayan juga," batin Sean menilai.


Sejenak Sean berpikir, ia terus mengamati setiap titik langit-langit kamar. kemudian menghembuskan nafas pelan. bertumpuknya masalah membuat mata indah milik Sean sedikit lelah. perlahan pria itu memejamkan matanya untuk bisa mendapat sedikit kerilexan.


"Tok... tok.."


Mata itu kembali terbuka lebar saat duan telinga Sean mendengar suara ketukan pintu, "Masuk!" seru Sean kesal.


Yuli kembali memasuki ruang kamar Sean. kali ini tidak dengan tangan kosong, "Ini ibu maksa aku! katanya kamu udah dua hari gak makan."


Sean menghela nafas kasar, "Taro ajah diatas nakas!"


Yuli mengangguk, ia memperjauh langkahnya mendekati nakas yang berada tepat disebelah Sean.


"Tutup lagi pintunya!" titah Sean dingin.


Yuli memutar badan menghadap kearah Sean. sorot mata sendunya menata pemuda tersebut dengan intens, lalu Yuli pun berkata. "Kata ibu 1 jam lagi dia kesini. dan makanan itu harus udah habis dimakan."


Sean memiringkan senyumnya, ia berpikir. bahkan seorang pelayan saja jauh lebih perhatian dari pada kedua orang tuanya.


"Oke! dari pada gue mati, tar sayang duit nyokap bokap gue kepake buat ngurusin pemakaman!" celetuk Sean dan langsung meraih makanan yang sudah Yuli bawa diatas nakas.


"Yallah, kalo ngomong itu dijaga!" sahut Yuli spontan.


Sean memgerutkan dahinya menatap tajam dengan sorot mematikan kearah Yuli.

__ADS_1


"Eh maksud aku, aku pamit keluar dulu." ucap Yuli setelah merasa dirinya sedang terancam saat menyadari jika Sean tersinggung akan jawaban yang keluar dari mulutnya spontan.


__ADS_2