Kabut Asmara

Kabut Asmara
Episode 57


__ADS_3

Setelah cukup lama menunggu Farhan melirik kearah sebuah gendung yang dimana ada seorang gadis keluar dari sana.


"Itu pasti, Alistie." ucap Farhan.


Wanita tersebut pun menghampiri Farhan, ia berjalan dengan sangat perlahan demgan sorot mata yang mengira.


"Mana, Alistie?" tanya Farhan setelah membuka jendela mobil.


"Udah pulang duluan," ucap Hana memancarkan senyum. "Boleh numpang gak?"


Sejenak Farhan terdiam, ia menatap sorot mata Hana dengan raut wajah datar. "Numpang?"


"Iyah, boleh?" ucap Hana memastikan.


Farhan mengangguk pelan, ia langsung membuka kuncian pintu tersebut kemudian menyuruh Hana untuk masuk.


Didalam mobil, Farhan dan Hana saling membicarakan Alistie. Hana terus membahas perihal curahan hati gadis tersebut yang pernah dilukai oleh Farhan.


"Iyah, gue bodoh banget! tapi Aliastie selalu ngasih gue kesempatan dan maafin gue." ucap pemuda tersebut berterus terang.


Hana terkekeh, ia menatap wajah Farhan lekat. "Kalo menurut gue sih wajar,"


Mendengar pernyataan Hana, Farhan pum cukup keheranan. bawasaanya ia sendiri merasa dirinya bersalah, tetapi Hana malah mengatakan jika hal itu wajar.


"Kalian kan udah pacaran lama, jadi wajar ajah sih. bosen itu manusiawi."


Farhan berdecih, mobil pun terhenti di kediaman Hana.

__ADS_1


"Mampir dulu, Han." ajak Hana.


Farhan yang mendengar hal itupun melirik kearah pintu rumah Hana. ia menelan salivanya kemudian mengangguk kikuk.


"Tinggal sendiri?" tanya Farhan, sambil melangkah mengekor dibelakang Hana.


"Iyah."


Sorot mata Farhan menatap kesetiap sudut ruangan. pemuda itupun kemudian mendudukan bokongnya di sebuah sofa dengan keadaan teelvisi yang menyala didepannya.


"Diminum." ucap Hana, menyuguhkan sebuah minuman dingin.


Farhan terdiam dengan raut wajah cemas. Ya, pria itu benar-benar merasa bersalah karna sudah memberikan tumpangan pada Hana, dan bahkan sampai masuk kedalam rumah wanita tersebut.


"Han..."


"Kok lu diem? kenapa?" tanya Hana.


Farhan hanya menggelengkan kepalanya.


"Khawatir sama Alistie?" sejenak Hana menyentuh tangan Farhan. "Tenang ajah, gue gak bakal bilang apapun."


Farhan tidak menggubrisnya, menatap sorot mata Hana yang cukup membuat ia bingung.


Hana tersenyum tipis, ia hanya semakin menenggelamkan tatapannya saat Farhan benar-benar sudah dirundung oleh rasa cemas dan kebingungannya.


Cup... Hana mendaratkab bibirnya pada bibir Farhan, pemuda itu sampai membulatkan matanya karna terkejut. ciuman yang Hana daratkan begitu lembut sampai membuat Farhan sendiri larut dalam sentuhan lawan mainnya.

__ADS_1


"Kenapa dia begini?" gumam Farhan dalam batiinya.


Entah pesona apa yang dimiliki Farhan, ketampanannya selalu saja membuat seorang gadis meleleh dan bertekuk lutut padanya. ironisnya Farhan memanfaatkan ketampanannya tersebut untuk menggaet para wanita yang bersedia menyerahkan apapun padanya. meskipun itu kesalahan, pada akhirnya Farhan akan kembali pada pelukan Alistie seseorang yang benar-benar ia cintai.


Keduanya benar-benar melakukan penyatuan bibir yang cukup panas, dimenit terakhir setlah ciuman itu berakhir Hana bahkan membuka kancing kemeja yang Farhan kenakan satu persatu. Farhan yang notabane-nya adalah pria normal pun pasrah, ia membiarkan Hana melakukan hal tersrbut tanpa memikirkan bagaimana reaksi Alistie jika mengetahui hal ini. itulah kekuatan nafsu, untuk sesaat ia bisa melumpuhkan pikiran seseorang.


Drrtt... Hana mengerjap, lamunannya seketika buyar saat mendengar suara getaran dari ponselnya.


"Iya Al?" ucap Hana pada Alistie.


Jauh disebrang sana, Alistie yang sedang terbaring tak berdaya diatas ranjang pun mencoba menguatkan dirinya untuk mengatakan apa yang seharusnya ia katakan kepada seseorang yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri tersebut.


"Andre udah nemuin orang buat lacak nomor si pencuri naskah." ucap Alistie.


Hana yang terkejut itupun spontan langsung menjawabnya, "Hah? serius? siapa-siapa?"


"Rahasiaa... pokonya Andre sendiri gak ngasih tau aku orangnya. tapi semuanya beres." celetuk Alistie.


"Mmmm, gitu yaaa..."


"Yaudah aku tutup ya, bay..." Alistie langsung memutuskan panggilan tersebut, ia menatap wajah sang suami yang sedari tadi terus membelai tubuhnya.


"Mau aku pijit?" tanya Andre menawarkan.


Alistie menggelengkan kepala dengan raut wajah kesal. "Kamu jangan gini terus ah, sensitif banget tiap nyentuh aku ajah langsung agresif."


Andre terkekeh, tingkah Alistie yang menggemaskan selalu sukses membut hasratnya terguncang. Andre akui, ia benar-benar tidak bisa untuk sedetik saja menganggurkan sang istri. selama ia masih sanggup untuk melakukannya Andre akan terus memaksa Alistie meskipun Alistie sering kali marah dan mendiamkannya.

__ADS_1


__ADS_2