
Malam pun tiba, lagi-lagi Sean telah mengirimkan sebuah pesan yang berisikan seruan untuk Yuli. agar Yuli segera datang kekamarnya, dengan alasan membantu dalam menyelesaikan tugas berhitungnya.
Yuli sudah menolak, tapi Sean terus saja memaksa dan meyakinkan gadis itu dengan sangat menyedihkan. Sean juga mengancam jika Yuli tidak datang, maka dirinyalah yang akan mendatangi Yuli lalu memaksanya secara langsung.
Tidak ada pilihan lain, takut semua ini hanya akan menjadi masalah akhirnya Yuli pun mengiyakan dengan syarat tidak ingin sepenuhnya dirinya yang menyelesaikan tugas tersebut.
Cleakk... Dengan perasaan yang sedikit tidak karuan gadis itupun memberanikan diri membuka pintu kamar Sean perlahan. Yuli terlihat tidak bersemangat, ia terus menekuk wajahnya kemudian berjalan mendekati Sean dan duduk dibibir ranjang.
"Gak ikhlas banget." Celetuk Sean datar.
Yuli tidak menggubrisnya, ia langsung meraih beberapa buku catatan dan tugas Sean agar sedikit memahami sebelum akhirnya membantu pemuda tersebut.
"Yull..." Sean mencoba memulai pembicaraan agar wanita itu tidak terus mendiamkannya.
"Diem! aku lagi baca, biar paham caranya!" pekik Yuli kesal.
Sean tersentak kaget. pemuda itu langsung diam dengan wajah memelas, "Galak banget!" batin Sean.
Setelah memakan waktu, Yuli pun meraih buku-buku Sean. akan tetapi pemuda itu malah langsung melemparnya kesembarang arah.
"Sean!" ucap Yuli memekik.
"Kenapa?" sahut Sean meledek.
Yuli yang merasa dipermainkan pun langsung beranjak. tidak tahan dengan sikap Sean yang menurutnya sangat menyebalkan, gadis itu pun memutuskan untuk pergi.
"Tunggu!" Sean menarik tangan Yuli menahan gadis itu agar Yuli tidak meninggalkannya.
"Lepas," Yuli berontak, ia memukul tangan Sean agar pemuda itu melonggarkan cengkramannya. "Sean lepas! sakit!" rengek Yuli.
__ADS_1
"Gak!" Sean langsung menarik tangan gadis itu hingga Yuli jatuh tepat dalam pelukannya.
Yuli membulatkan matanya, ia terus mendorong dada Sean agar pemuda itu segera melepaskannya, "Yallah kamu ngapain!"
"Diem!" Bentak Sean kasar.
Yuli terpaku, mulutnya serasa dikunci. dengan tubuh bergetar penuh ketakutan Yuli menelan salivanya tanpa mengerjap menatap Sean.
"Nurut!" ucap Sean memiringkan senyum.
Sejenak Yuli tersadar, ia langsung kembali memberontak sambil berkata. "Lepas! kamu mau ngapain? jangan begini kita bukan muhrim!"
Sikap takut, tatapan sendu dengan suara yang teramat polos benar-benar membuat Sean tertarik padanya. entah dalam hal ini siapa yang lebih dulu memulainya, tapi Sean merasa jika Yuli sudah lebih dulu tertarik padanya. bahkan Daryani sendiri telah menyadari dan mengklaim hal yang sama seperti Sean jika Yuli telah menaruh perasaan padanya.
"Usttt..." Tanpa melepaskan pelulannya Sean berusaha menenangkan Yuli. ia meletakan jarinya tepat diatas bibir tipis gadis tersebut dengan sorot mata yang menatap kagum kearah wajah cantik Yuli, "Gue bakalan lepasin lo, tapi sebelum itu jawab pertanyaan gue dengan jujur."
"Lo suka sama gue?"
Bibir Yuli bergetar, ia terus menatap mata Sean dengan mata yang membulat.
"Jawab atau gue gak bakal pernah lepasin lo!"
Yuli menelan salivanya, "Aku... aku..."
Sean terus memgunci pergerakan Yuli, bahkan semakin Yuli memberontak semakin Sean mengeratkan pelukannya.
"Kita udah pernah bahas ini. meskipun itu iya, tapi semua itu gak mungkin!"
Sean mengerutkan dahinya penasaran, "Apannya yang gak mungkin?"
__ADS_1
"Kita beda!"
"Jadi itu masalahnya? dan itu artinya lo suka sama gue? lo ada perasaan sama gue?" ucap Sean mencecar.
Yuli tertunduk pasrah, ia sendiri sudah terjebak dalam perasaan dan jawaban yang sudah ia lemparkan barusan.
"Gue gak masalah!"
Spontan Yuli mendongak menatap wajah pemuda tampan tersebut satelah mendengar pernyataanya. "Maksud kamu?"
Sean hanya tersenyum tipis, perlahan ia melonggarkan pelukannya dengan wajah yang semakin memangkas jarak antara dirinya dan Yuli. "Gue juga tertarik sama, Lo!" ucap Sean lembut kemudian langsung meraih bibir tipis Yuli dengan penuh kelembutan.
Yuli semakin tidak karuan, ia ingin menolak tapi perasaannya berkata lain. hal inilah yang Yuli harapkan, sekuat apapun dirinya menyangkal. kenyatannya Yuli benar-benar sudah jatuh cinta pada Sean. bahkan saat Sean terus menggagahi bibirnya, ia melupakan siapa dirinya yang sebenarnya. Yuli tidak membalas ataupun menolak apa yang Sean lakukan kala itu, dirinya telah terjebak oleh perasaan yang sudah membutakan akses jalan pikirannya.
Sejenak Sean menghentikan aksinya. ia terus menatap Yuli yang sedari tadi tidak mengatakan apapun. perlahan Sean melepaskan dirinya dari Yuli kemudian berkata, "Lo boleh pergi sekarang."
Dengan raut wajah datar Yuli menjauh, ia terus menyentuh bibirnya yang baru saja telah dinikmati oleh Sean. Yuli mencoba mengatur nafas beratnya kemudian beranjak memutar badannya memunggungi Sean.
"Yull..."
Yuli menghentikan langkahnya sejenak.
"Mulai sekarang kamu pacar aku."
Yuli sedikit membuka mulutnya dengan mata yang membulat. ia langsung kembali malingkan tubuhnya menatap Sean.
Sean yang melihat ekspresi terkejut Yuli pun memyunggingkan senyum dan langsung kembali mendekati gadis itu. "Balik ke kamar sekarang," titah Sean sambil mengelus pucuk kepala Yuli penuh kelembutan.
Astaga, kenapa Yuli hanya terus terdiam. seolah mulutnya sudah dijahit, ia malah patuh mengiyakan ucapan Sean tanpa mengatakan apapun. saat keluar langkahnya sangat cepat, Yuli menjadi salah tingkah. entah ia harus senang ataupun tidak. sungguh Yuli merasa dirinya sangat tidak berguna, kebungkamannya menandakan jika Yuli benar-benar setuju akan apa yang sudah Sean putuskan.
__ADS_1