Kabut Asmara

Kabut Asmara
KAMS 1


__ADS_3

Daryani dan Ujang hanya terus terisak. beberapa orang yang menyaksikan kehisterisan mereka pun sampai tak kuat. mereka menangis sambil mengumpat dihadapan Andre dan Alistie. semua cacian itu tentu tidak sebanding dengan apa yang sudah pihak Alistie dan Andre lakukan terhadap Ujang dan keluarganya.


"Tolong rawat bayi ini," ucap Mang Udin penuh kesedihan menyerahkan bayi kecil yang menggemaskan ketangan Alistie.


***


"Yul..."


"Iya, Bu."


Yulia seorang gadis yang baru menginjak tahun ke 19, datang mengikuti Ibu dan Ayahnya keJakarta dengan tujuan untuk mencari pekerjaan.


"Iki bawa ke kamar, Den Sean. ada temen-temennya tadi pada dateng." titah Daryani menyodorkan nampan yang berisikan beberapa gelas jus dan juga cemilan.


"Tapi, Bu."


"Buruan Den Sean sama temen-temenya, wis nunggu." seru Daryani.


Gadis itu mengangguk patuh. ia langsung mengambil alih nampan tersebut dari tangan sang Ibu, kemudian memutar badan untuk membawanya menuju kamar Sean.


Sean dan Yuli tumbuh bersama. Daryani dan Ujang yang notabane-nya adalah pekerja yang sudah mengabdi bertahun-tahun itupun terlihat seperti keluarga untuk Andre dan Alistie. Sean berusia tiga tahun lebih tua dari Yuli, mereka bahkan selalu bersama hingga pada akhirnya Yuli harus kembali ke kampung untuk bersekolah disana dan kembali setelah ia menyelesaikan tingkat pendidikan SMA.


Yuli melirik kearah pintu kamar Sean yang terbuka. setelah langkahnya sudah sampai diambang pintu semua orang didalam ruangan tersebut melirik kearah Yuli.

__ADS_1


"Eh, Neng Yuli." sapa Indra teman Sean menggoda.


"Masuk, sayang. sini temenin aa." ucap Riyan


Daryani hanya menundukan kepala sambil tersenyum kecut, "Ini aku bawa minuman disuruh, Ibu."


Aldi langsung mendekati Yuli dengan cepat. para pemuda genit itu bahkan terus saja mengganggu Yuli dan menuntun gadis itu untuk masuk kedalam kamar Sean.


"Astaga, cantik banget sumpah." puji Aldi dengan tatapan kagum.


Sedikit merasa risih karna pemuda diseluruh ruangan ini selalu menggaggu Yuli. gadis itupun hanya tersenyum kikuk, kemudian memundurkan langkahnya dan berkata. "Aku dipanggil, Ibu. prrmisi,"


"Biar Ibu kamu Sean yang urus, kamu disini ajah temenin kita." ucap Riyan mendekati dan bahkan menyentuh tangan Yuli.


"Suaranya lembut banget, cantik kalem paket komplit buat jadi istri." celetuk Indra.


Sean yang melihat tingkah konyol teman-temannya pun mulai geram. Bruakkk... pemuda itu melempar segelas jus kearah tembok hingga sukses membuat mereka tersentak.


"Kenapa lo?" tanya Riyan mengerutkan dahi.


"Gue mau istirahat! jangan gangguin Yuli. kalian semua pulang!"


"Kok lu tiba-tiba ngusir kita? ada apa?" Indra yang penasaran pun ikut bertanya.

__ADS_1


Sejenak Sean mematikan ujung rokoknya. pemuda itu menghela nafas kasar kemudian berkata, "Pulang sekarang!"


"Tapi..."


"Pulang!" tegas Sean memekik penuh kemarahan.


Tak butuh waktu lama, para pemuda itu langsung meraih tasnya masing-masing dan berlalu begitu saja dengan perasaan marah. Yuli terpaku, ia terus saja diam dengan tubuh yang bergetar menatap kearah Sean penuh ketakutan.


Setelah tiga pemuda itu benar-benar pergi, Sean langsung menutup pintu dan menguncinya tanpa mengeluarkan Yuli. pria itu terus menatap kearah Yuli dengan sorot mata tajam seolah sedang mengintimidasi. Sean melangkah mendekati Yuli, dan menghimpit tubuh gadis tersebut diantara tembok dan dirinya.


"Kamu tau salah kamu apa?" tanya Sean dingin.


Yuli mengangguk dengan bibir bergetar. ia bahkan langsung tertunduk dan tidak berani membalas tatapan Sean walau hanya sedetik, "Ma... maaf," lirih Yuli takut.


Sean memiringkan senyumnya. sejenak pria itu meraih wajah Yuli agar gadis tersebut membalas tatapan Sean. "Gitu caranya minta maaf?"


Tangan Yuli yang bergetar meremat ujung kaos yang ia kenakan. gadis itu menelan salivanya dengan mata yang mengembun. "A... aku disuruh Ibu." lirih Yuli memucat.


Sean tidak menggubris pernyataan Yuli. ia terus menatap mata gadis penuh penekanan seolah enggan mendengar penjelasan dalam bentuk apapun.


Sadar akan Sean yang tidak menanggapi. Yuli mengerjap, menghembuskan nafasnya perlahan. ia memejamkan matanya sesaat lalu pada akhirnya memberanikan diri untuk mendekatkan wajah kearah Sean kemudian mencium bibir pemuda itu penuh kelembutan.


NEXT, JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN. KOMEN LIKE DAN VOTE.

__ADS_1


__ADS_2