Kabut Asmara

Kabut Asmara
KAMS 11


__ADS_3

Satu sampai dua minggu semua berjalan dengan baik. Yuli dan Sean bahkan selalu menghabiskan waktu bersama, mereka selalu mengucapkan janji untuk saling tidak meninggalkan.


"Saya terima nikahnya, Yulia Sudirman binti Ujang Sudirman dengan Mas kawin seperangkat..." Sean menghentikan ucapannya melirik keaeah Yuli.


"Seperangkat Alat solat!" tegas Yuli gemas.


Sean tersenyum tipis, ia mengangguk dan kembali mengulang apa yang sedang ia hafalkan dan pelajari atas perintah Yuli.


"Coba sekarang gantian kamu!" titah Sean memeluk Yuli mesra.


Yuli mengangguk, ia mengerjap sejenak kemudian berkata. "aku mengambil engkau menjadi suamiku, untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. pada waktu susah maupun senang, pada waktu..." Yuli mendalamkan lipatan didahinya. ia berpikir keras mencoba mengingat apa yang sudah Sean ajarkan. "Ah aku lupa..." pekik Yuli merengek.


Sean tekekeh, sejauh ini mereka masih terlihat sangat bahagia. dapat Yuli pastikan, ia sudah mencecar habis-habisan Sean agar pemuda tersebut meninggalkan segala kebiasan buruknya. meskipun dengan proses yang cukup tidak mudah, Sean pun menyanggupi apa yang Yuli inginkan. pria itu berjanji akan menjadi pribadi yang lebih baik demi sang kekasih, agar pendidikan Sean sendiri bisa cepat terselesaikan.


***


21 September 2019


Tangan Yuli bergetar hebat, secara tiba-toba matanya menggenang dengan wajah memucat.


"Aku harus bilang sama, Sean." ucap Yuli meloloskan setetes air mata dari pelupuknya. ia langsung meraik korek api, menyalakan dan membakar sebuah benda kecil berukuran panjang yang ia gunakan untuk mengetes kehamilan.


Sedikit takut, bawasannya hasil dari alat itu memperlihatkan dua garis merah. yang berarti saat ini Yuli benar-benar sedang mengandung. untung saja Sean sudah berjanji akan bertanggung jawab, Yuli sendiri sudah sangat Yakin. terlihat dari kerja keras pemuda itu yang selalu berusaha meruabh dirinya menjadi lebih baik.

__ADS_1


"Bu..." Yuli menghampiri Daryani yang sedang menyusun mawar-mawar kesukaan Alistie.


"Iyahh..."


Yuli terduduk di sebelah sang Ibu, ia terus menatap wajah Daryani yang masih terlihat cantik meskipun sudah ada beberapa kerutan diarea sekitar matanya.


"Kenapa toh? kok diem?" tanya Daryani heran.


Yuli melirik kekiri dan kekanan, ia tersenyum canggung kemudian berkata. "Pada kemana yah? kok sepi banget."


"Ohhh, kamu nanyain, Den Tian?"


Ya, hingga saat ini Daryani masih sangat yakin dan curiga akan putrinya tersebut.


"Mereka wis pergi ke singapur, minggu depan juga pulang."


Deg, perasaan Yuli langsung tidak karuan. suhu tubuhnya langsung meningkat padahal udara diruangan tersebut cukup dingin.


"Nyusul kak Loli?" tanya Yuli gugup.


"Enggak!"


Yuli mendalamkan lipatan didahinya menatap tajam Daryani.

__ADS_1


"Oh iya, awalnya itu. tapi ujungnya buat nipu Den Sean!"


Astaga, sungguh Yuli sudah sangat ketakutan. ia tidak berani melanjutkan percakapan ini, akan tetapi ia harus mengetahui dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi.


"Nipu apa, Bu?" tanya Yuli cemas.


"Dari dulu Den Sean mau dikirim ke Singapur. tapi dia nolak terus, Akhirnya Pak Andre dan Alistie dapet kesempatan. Kak Loli sakit, tapi Den Sean mau di tahan. lanjutin pendidikannya disana." ucap Daryani menjelaskan.


"Jadi Sean gak bisa pulang?" tanya Yuli spontan.


"Ya enggak to, Ndo. orang visa sama paspornya diamanin sama Pak Andre. ponsel ajah gak di kasih, disana mana bisa kabur dia?"


Deg... sungguh, perasaan Yuli hancur. apa yang harus ia lakukan? Bagaimana caranya Yuli memberitahukan hal ini pada Sean. sedangkan segala sesuatu milik sang kekasih telah kedua orang tuanya sita.


Yuli beranjak, ia berlalu begitu saja dengan air mata yang sangat sulit untuk dibendung.


"Yull... sampean kenopo toh?" tanya Daryani heran setelah sang putrie meninggalkannya tanpa permisi.


**PROMOSI NOVEL TAMAT


SENANDUNG IMPIAN** Keren, menguras emosi. yang pasti setiap epsnya sangat memuskan + bikin nagih...


__ADS_1


__ADS_2