
Keesokan paginya, Alistie sudah menyiapkan sarapan untuk anak dan juga sang suami. tapi keadaan masih tetap sama, Alistie masih enggan untuk berbicara dengan Andre meskipun pria itu sudah sering membujuknya. Alistie sudah bersumpah jika Andre masih bersikap demikian ia tidak akan pernah menanggapi apa pun itu yang Andre katakan.
Diruangan makan terlihat Alistie dan Loli telah menyelesaikan aktifitas sarapannya lebih awal. dari arah lain Andre yang baru datangpun bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apapun semalam. tentu hal itu Andre lakukan untuk mendapat perhatian dsri Alistie.
"Pagi Loli." sapa Andre mengacak rambut pucuk kepala gadis kecil tersebut.
"Pagi Pah." sahut Loli cepat.
Alistie masih terlihat dingin, saat Andre datang Alistie langsung merapikan piring kotor yang telah ia gunakan bersama Loli.
"Kalian mau kemana?" tanya Andre kikuk.
Tidak ada tanggapan dari Alistie, wanita itu bahkan langsung mengangkat tubuh kecil Loli dan membawanya menjauh dari Andre. Bahkan sikap manis yang Andre berikan pada Loli baru saja tidak pernah pria itu lakukan pada sebelumnya.
"Mamah lagi marah ya sama, Papah." ucap Loli dengan bibir mengerucut.
Alistie tersenyum tipis, "Abisnya Papah kamu nakal, yaudah deh Mamah jadi marah."
Andre harus merasakan bagaimana rasanya diacuhkan dan diabaikan. sungguh bahkan rasa kesal Alistie terhadapnya masih sangat kuat sampai sekarang. karna memang sesuatu yang Andre lakukan sebelumnya sangatlah keterlaluan.
"Biarin ajah. biar dia ngerasain apa itu namanya, Ada tapi tak dianggap." batin Alistie jengkel.
Alistie perlahan menurunkan tubuh Loli diruang keluarga. sejenak Alistie teringat akan ponsel dan leptopnya yang berada dilsntai atas wanita itu kemudiab berkata, " Tunggu disini, Mamah mau ambil ponsel dikamar."
__ADS_1
Loli mengangguk patuh, gadis kecil itu bahkan bertingkah dengan sangat lucu dan menggemaskan layaknya bocah seusianya. Loli minidurkan boneka kesayangannya dan mengarahkan botol kayu putih pada mulut boneka tersebut menganggapnya sebagai botol susu bayi.
"Kamu jangan nangis ya, nanti kita bujuk Papah Andre buat main bareng lagi." celetuk Loli seolah sedang menenangkan boneka yang sudah ia anggap seperti bayinya.
Selang beberapa waktu, Andre melewati Loli dengan amat santai. pandagan Andre terus tertuju pada layar ponsel ditangannya.
"Papah..."
Tidak ada gubrisan dari pria jangkung itu, Andre terus saja berjalan melewati tubuh kecil Loli tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Papah..." Loli menarik ujung kaus yang Andre kenakan, "Wolfi mau main sama Papah, dia nangis terus dari kemarin."
Entah kenapa Alistie yang sedang menatap mereka dari lantai atas pun merasa jika sebenarnya yang menangis dan ingin bermain bersama Andre bukanlah boneka itu, akan tetapi Loli.
"Nanti ya, Papah sibuk." ucap Andre.
"Iya nanti kita main, tapi gak sekarang." ucap Andre menenangkan.
"Gak mau aku maunya sekarang!"
"Nanti Loli, Papah sibuk."
"Pokonya sekarang!"
__ADS_1
Kekeras kepalaan Loli berhasil memancing emosi Andre, "Loli!" bentak Andre kasar, dan bisa dikatakan ini kali pertama Andre bersikap demikian pada anak kecil itu setelah ia hanya mengabaikannya saja.
Loli langsung tertunduk takut, seluruh tubuhnya bergetar dengan tetesan air mata yang keluar.
"Loli," Alistie langsung menarik gadis itu dan memeluknya dengan begitu erat. tatapan Alistie yang mematikan terus mengamati sang suami. "Udah mulai berani ya kamu bentak, Loli."
"Al aku cuma..."
"Cuma apa?" Alistie langsung memotong ucapan Andre tanpa memberikan pria itu kesempatan untuk bicara, "Dia cuma butuh kamu buat nemenin. itu ajah gak lebih! tega kamu ya."
"Tapi aku..."
"Ayo Loli, kamu main sama Mamah ajah!" ucap Alistie dan langsung membawa pergi anak itu dari hadapan Andre.
Tak hentinya Loli menangis dan memeluk Alistie. Loli benar-benar ketakutan, pertama kali Andre berbicara dengan nada keras dan itu sangat membuat perasaan Loli terluka.
"Papah benci sama Loli, Papah gak sayang lagi sama Loli." ucap Loli terisak.
Entah harus dengan cara apa lagi Alistie menyadarkan Andre. sulit baginya untuk mengetahui apa yang sedang Andre pikirkan hingga membuat pria itu tega bersikap kasar pada Loli kecil. Alistie hanya bisa menenangkan Loli dan memberikan penjelasan yang mudah dipahami olehnya.
"Nanti kita hukum Papah, kamu sabar. untuk sekarang Papah lagi sibuk kerja." ucap Alistie sambil menyeka butiran air mata di wajah Loli.
Meskipun Loli sendiri tahu jika Andre tidak bekerja, dan telah mengambil cuti setelah proyeknya berhasil kemarin.
__ADS_1
"Kalo gini caranya aku mau nunda kehamilan ajah," batin Alistie.
Yang Alistie takutkan, jika dirinya melahirkan anak lain. khawatir Loli akan merasa anak Alistie adalah penyebab segalanya. semua tidak ada yang tidak mungkin, faktanya banyak seorang kakak yang merasa kurang mendapat kasih sayang akibat kehadiran sang adik.