
Yuli terus memainkan ponsel, berharap nomor sang kekasih dapat bisa dihubungi. tapi semua itu benar-benar sia-sia, setengah prustasi Yuli mencoba dan hasilnya tetap sama.
"Ya Allah, aku nyesel." lirih Yuli menitikan air mata.
Bingung, gelisah dan takut. itulah yang Yuli rasakan sekarang. Yuli tidak mungkin mengatakan apa yang telah terjadi pada kedua orang tuanya. suduh cukup ia telah mengecewakan Ujang dan Daryani lantaran dengan mudah memberikan kesuciannya kepada Sean.
"Maafin aku, Pak. Bu." batin Yuli, Brukkk... wanita itu langsung memecah celengan ayam yang ia miliki. Dengan cepat tangan Yuli meraih uang tersenut dan langsung menghitungnya. "Astagfirullah cuma ada lima juta tujuh ratus ribu."
Yuli berpikir untuk meninggalkan rumah tersebut. pergi jauh dari orang tuanya agar mereka tidak mengetahui apa yang terjadi pada Yuli sekarang. merasa yakin, Yuli langsung mengemas beberapa barang bawaannya dan membawa barang tersenut keluar kamar menemui Ujang dan Daryani.
"Lah, kok bawa tas? mau kemana kamu Yul?" tanya Ujang heran.
Yuli mendekati Ujang, ia memberanikan diri untuk mengatakan beberapa kebohongan pada Ayahnya tersebut.
"Kenapa, Pak?" Daryani menghanpiri Yuli dan Ujang.
Gadis cantik dengan tatapan redupnya meraih tangan Daryani, "Aku ditawarin kerjaan sama temenku, Bu." Yuli mengalihkan tatapannya pada sang Ayah, "Mohon ijin pak. Yuli mau belajar hidup sendiri, gak nyusahin Bapak sama Ibu terus.
__ADS_1
"Disini ajah, kemarin kan di tawarin jadi bloger sama penulis NAC." ucap Daryani mencoba mencegah.
Yuli menggelengkan kepalanya kikuk, "Enggak Bu. kemampuan aku bukan disana. doain ajh, aku bakalan jaga diri baik-baik kok."
Ujang dan Daryani hanya bisa pasrah mengiyakan keputusan sang buah hati. percaya dan yakin akan putrinya yang terlihat sangat polos dan bisa diandalkan. mereka pun mengalah. tanpa Ujang dan Daryani ketahui, Yuli sekarang sedang mengandung cucu pertama mereka.
"Yowis, dimana? sama siapa?" Tanya Daryani santai.
Apa ini? Yuli belum menyiapkan jawaban untuk pertanyaan ini. ia sejenak terdiam, "Gi... Gita, Bu. teman sekolah Yuli. sekarang aku sama dia mau merantau ke Bekasi. katanya disana banyak kawasan industri yang lagi butuhin kariawan."
"Bentar-bentar," Daryani berlalu dari hadapan Ujang dan Yuli.
Sementara itu, Yuli terus tertunduk kaku. takut hal ini akan kedua orang tuanya persulit.
"Yul," Daryani meraih tangan Yuli. "Iki buat ongkos jajan. jangan boros, kalo udah sampe sana kabarin Ibu sama Bapak."
Astaga, tindakan kepedulian Daryani malah semakin membuat batin Yuli menjerit. sungguh ia sangat merasa bersalah, kenpaa harus menyakiti orang tua sebaik Daryani dan Ujang.
__ADS_1
Tangisan Yuli pecah, ia langsung memeluk Daryani dengan begitu erat. "Ibu...." lirih Yuli.
"Wis, Jangan nangis. Ibu sama Bapak pasti dukung kamu."
"Makasih Pak, Bu. selama ini Yuli cuma bisa bikin kalian susah ajah. Maafin Yuli."
Sungguh, Ujang dan Daryani sedikit heran. padahal uang tersebut memang sudah seharusnya mereka berikan untuk bekal sang buah hati di kota orang. Yuli bertingkah sangat dramatis hingga membuat kedua orang tuanya melongo datar.
"Kamu kenapa to, Yul? kok sampean jadi lebay koyo ngene." tanya Daryani.
Yuli melepaskan dirinya dari Daryani, ia menggelengkan kepala kemudian langsung mendekagi Ujang dan memeluknya. "Yuli sayang sama Bapak sama Ibu, Yuli gak mau Ibu sama Bapak susah gara-gara Yuli."
"Sampean iki anak Ibu Yul. mau senyusahin apapun sampean tetep anak Ibu sama Bapak. kewajiban kita menuhin semua kebutuhan dan keinginan kamu, selama kamu belum jadi istri orang lain."
Ujang mengelus pucuk kepala putrinya, "Maaf Ya, Yul. seharusnya kamu lanjut kuliah. tapi Bapak cuma sanggup sekolahin kamu sampe SMA."
Ujang dan Daryani semakin membuat perasaan Yuli menjerit. ia sangat merasa bersalah, dalam batinnya Yuli terus mengutuk diri. betapa durhakanya dia karna sudah membuat kecewa Ibu dan Ayahnya. padahal mereka sudah sangat baik dan perhatian.
__ADS_1