Kabut Asmara

Kabut Asmara
KAMS 5


__ADS_3

MASIH ADA YANG BELUM PAHAM, AKU TEGASKAN SEKALI LAGI YA SEMUANYA. INI HANYA MINI SERIES❤️ ITU ARTINYA GAK MEMAKAN EPS BANYAK, JADI BUAT YANG NYURUH AKU BIKIN LAPAK BARU INI JAWABANNYA YES.


Alistie terus menatap foto keluarganya. disana ada Andre dirinya dan kedua anak mereka. semua terlihat bahagia karna foto tersebut diambil saat Sean berusia lima tahun.


Entah harus dengan cara apa Alistie dan Andre mendidik Sean. pemuda itu selalu merasa jika kedua orang tuanya selalu mementingkan dan menyayangi Loli. padahal itu semua tidak benar, mereka selalu adil dalam memberikan sesuatu terhadap kedua anaknya. bahkan tingkat pendidikan sekalipun.


Sedari Sean menginjakan kaki disekolah SMP. macam-macam kenakalan Sean selalu orang tuanya toleransi. bahkan dalam satu semester Alistie dan Andre selalu mendapatkan surat sanksi dari sekolah. cukup sabar, mereka tidak melepas Sean begitu saja. Andre dan Alistie terus berusaha untuk memberikan yang terbaik demi sang buah hati.


Hingga pada akhirnya Andre dan Alistie pun menyerah. mereka sepenuhnya pasrah dan membiarkan segala sesuatu yang Sean lakukan. dengan harapan pemuda itu bisa berubah atas ketidak pedulian orang tuanya. nyatanya Sean malah semakin menjadi-jadi.


"Apa kita kirim dia ke singapur ajah?" tanya Andre mengusulkan.


Alistie mendengus kesal, "Gimana? baru ngomong dikit ajah dia tuh udah sensitif banget! kamu bisa yakinin anak kamu? makanya kalo punya anak tuh jangan terlalu dimanjain! kalo udah gini kamu mau apa?" gerutu Alistie kesal.


Andre menghembuskan nafas pelan. cukup menyesal karna memang dulunya Andre sangat memanjakan Sean. setiap kali Alistie menegur Sean saja Andre selalu membela anak tersebut.


"Terserah kamu ajah, aku baru ngomong dikit ajah dia udah bentak-bentak aku!" ucap Alistie dengan mata menggenang.


Andre mencoba menenangkan sang istri dengan memberikan pelukan hangat, "Dia cuma ngerasa kalo kita terlalu sibuk. dia belum ngerti ajah. nanti juga berubah kalo udah saatnya."


"Saatnya itu kapan? aku mau ngomong sama dia ajah susahnya minta ampun. tadi siang, baru ngomong satu kata ajah dia udah pergi marah-marah!" lirih Alistie.


"Emang kamu apain dia?"

__ADS_1


"Tadi dia kasih lembaran tugasnya ke aku, ngasih unjuk nilainya yang cukup bagus. aku cuma bilang, masa sih. tapi dia kaya gak terima gitu." sejenak Alistie menyeka air matanya, "Wajar dong aku ngomonng kaya gini, biasanya kan dia kasih lembaran surat isinya cuma panggilan orang tua karna dia berulah."


Andre mengelus punggung Alistie dan memeluknya erat, "Udah-udah, aku ngerti."


Ironisnya Loli yang bukan anak kandung mereka saja bisa jauh lebih patuh dan penurut. bahkan Loli sudah menyelesaikan pendidikannya dengan lulusan terbaik di luar negri. gadis yang dulunya sangat terlihat licik dan nakal sekalipun bisa sangat membanggakan Andre dan Alistie. Loli bahkan sudah bekerja di Singapur selama dua tahun.


"Aku tuh cape, diem salah ngomong juga salah." Alistie terus saja mengeluh dipelukan sang suami sambil terisak.


"Iya sayang, nanti kita pikirin cara buat Sean ngerti. udah kamu jangan nangis lagi," ucap Andre menenangkan istrinya.


***


"Yul..." Sean menggoyangkan tubuh Yuli dan menepuk wajahnya pelan, "Yull..."


Sean mengangguk, ia langsung membaringkan tubuhnya disamping Yuli. "Balik sana kekamar, Lo." titah Sean santai.


Yuli mengucek matanya yang masih terasa berat. sejenak ia melirik kearah jam yang berada diatas nakas. "Dikit lagi subuh," ucap Yuli dan langsung beranjak meninggalkan kamar Sean dengan segera.


Setelah Yuli benar-benar keluar, Sean yang memang baru saja kembali dari luar pun meraih beberapa kertas di sampingnya. Sean memiringkan senyum, cukup merasa sedikit kasihan terhadap Yuli. padahal sebelum Sean pergi mereka sempat bertengkar, Sean bahkan membentak gadis itu dengan sangat kasar. tapi Yuli justru malah mengerjakan tugas-tugas Sean sampai ketiduran.


Untung saja saat Sean kembali waktu masih menunjukan pukul tiga dini hari. pemuda itu memiliki kesempatan untuk membangunkan Yuli agar Yuli segera kembali kedalam kamarnya sebelum ada orang yang melihat.


"Kirain gak bakal dikerjain," gumam Sean tersenyum licik.

__ADS_1


Sean meraih ponsel bawah bantalnya, pemuda itu masih belum merasakan kantuk meskipun ia belum tidur sekalipun. Sean menyentuh aplikasi chating. beberapa pesan belum atau memang sengaja tidak Sean baca. ia malah menyentuh beberapa story dari teman kontaknya untuk melihat-lihat.


Sean mengerutkan dahi dengan tatapan yang semakin menajam mengarah kelayar ponsel. ia melihat story Yuli yang bertuliskan.


"Bersyukurlah. maka hidupmu akan terasa tenang dan bahagia."


Dengan cepat jari-jari Sean membalas isi story tersebut, "Gak lanjut tidur Yul?"


Di tempat lain, Yuli yang sedang menunggu waktu subuh langsung melirik kearah ponselnya saat ponsel itu tiba-tiba saja berbunyi.


Yuli mendalamkan lipatan didahinya, smabil membuka pesan yang Sean kirimkan. "Idih, tadi ajah galak banget sekarang so kepo!" gumam Yuli mengangkat satu alis tebalnya.


Jempol Yuli langsung menyentuh papan keyboard dalam ponselnya, "Belum nunggu subuh!" Yuli kembali meletakan ponselnya, ia menyalakan tv dikamar tersebut karna mulai merasa bosan. "Mau tidur lagi nanggung, nonton tv ajah kali ya."


Setela televisi itu menyala, pandangan Yuli kembali teralihkan kearah ponsel saat ponsel itu kembali berbunyi.


"Yaudah besok-besok gue yang kerjain deh, maaf tadi kebawa emosi. nanti lu bantuin gue ya!"


Yuli tersenyum tipis. tidak menyangka orang segalak Sean bisa mengatakan kata-kata sakral yang tidak lain adalah maaf. Yuli pikir hal itu tidak bisa Sean lakukan.


"Oke!" balas Yuli cepat.


Yuli mengerjap, ia menepuk wajahnya sesaat kemudian berkata. "Kenapa jadi senyum-senyum sendiri? astagfirullah Yul, nyebut! cuma anak pembantu tau diri," gumam Yuli menyadarkan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2