
Malam berikutnya, Andre dan Alistie sudah membuat janji. Andre juga berpikir, dirinya memang sudah sangat jarang untuk meluangkan waktu makan malam bersama dengan sang istri. maka dari itu, tahu jika malam ini ia akan kembali pulang larut. Andre memutuskan makan diluar bersama istrinya disebuah lestauran.
"Berangkat sekarang, Neng?" tanya Bi As yang tak sengaja berpapasan dengan Alistie dilantai dasar.
"Iya, Bi. kalo mau masak, masak ajah Bi. buat kalian, aku sama Andre makan diluar."
Bi As mengangguk, ia sendiri tahu jika Tuannya akhir-akhir ini jarang dirumah. justru disisi lain Bi As sangat kagum akan kesabaran Alistie yang selalu menunggu Andre dan mengerti akan setiap hal yang Andre lalukan.
"Ayo, Jang." ucap Alisti pada sopir pribadinya tersebut.
Ujang pun mengangguk, ia langsung lebih dulu menuju mobil sedangkan Alistie mengekor dibelakangnya.
"Mau kemana, Al?" tanya Tian pada Alistie.
"Ada janji sama Andre diluar." sahut Alistie.
Tian juga sangat tahu perihal masalah ini, itu sebabnya sampai sekarang dirinya enggan terjun kedunia bisnis karna masih ingin menikmati kebebasannya.
"Pak Andre udah disana, Bu." tanya Ujang sambil mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang.
Alistie yang menanggapi hal itupun berkata, "Gak tau Jang, bentar aku telpon dia deh."
Hal ini cukup membahagiakan, Alistie berharap hal ini bisa membuat hubungan Andre dan dirinya kembali seperti semula. sungguh diduakan dengan pekerjaan itu juga sama sakitnya, Alistie merasa sudah seperti janda yang kekurangan belaian dari seorang pria.
__ADS_1
Tidak hanya Alistie yang menjadi korban, Loli bahkan selalu merengek setiap kali dirinya mencari keberadaan Andre yang akhir-akhir ini jarang dirumah. emosi gadis kecil tersebut sedikit tidak stabil, Loli yamg merindukan Andre pun hanya bisa Alistie tenangkan dengan janji-janji manis seperti yang Andre lakukan pada Alistie.
"Ehmmm..." Tian melangkah menuju lemari es, untuk mengambil sebotol air dingin. ia berdehem bukan tanpa alasan, hal itu ia lakukan untuk mengalihkan Daryani agar gadis itu menyapanya.
Daryani tidak menggubris apa yang Tian lakukan, ia terus berusaha memfokuskan diri menatap layar leptop. "Lanang iki bener-bener gendeng!"
"Ehmmm, ehmmm..." Tian terus berusaha agar Daryani meliriknya, dan untuk kali ini pemuda itu berhasil membuat Daryani terkecoh.
"Sampean iki kenopo? keselek batu?" celetuk Daryani jengkel.
Tian tiba-tiba saja dibuat gugup, ia melakukan hal itu karna masih merasa tidak enak hati sudah menggosipkan Daryani dengan para pembantu.
Sejenak Tian menghela nafas panjang kemudian berkata, "Maaf." tegas Tian singkat.
Tian mengerutkan dahinya, bukan karna kesal mendengar penolakan Daryani. ia sama sekali tidak mengerti ucapan gadis tersebut yang terdengar sangat kampungan didaun telinga, Tian. "Ngomong apa sih lu?"
Bi As yang berniat menyiapkan hidangan makan malampun menghampiri dua insan yang sedang bertengkar tersebut.
"Ada apa, Den?" tanya Bi As.
"Ini nih, pembantu baru. gue cuma mau minta maaf masalah kemarin dia malah so jual mahal."
Daryani memanas, ucapan tajam Tian selalu saja berhasil membuat emosinya memuncak. "Sekali lagi sampean bilang aku iki pembantu, tak jait congormu iki." pekik Daryani.
__ADS_1
Bi As mulai cemas, khawatir jika hal ini dibiarkan akan membuat pemuda dan pemudi ini adu jotos. "Sudah-sudah, Den Tian, kalo mau minta maaf yang iklas atuh. jangan ngajak perang mulu. Pak Andre pulang kalian bisa di carekan tah duaan."
Daryani menghela nafas agar dirinya bisa sedikit menahan diri, berbeda dengan Tian yang selalu membuat emosi seseorang berapi-api melalui ucapannya yang tajam.
"Wis, yang waras ngalah." celetuk Daryani.
"Eh maksdu lo apa? gue gak waras." sahut Tian spontan.
"Wolah iya, sampean emang gak waras. mulutmu iki wis koyo admin akun gosip."
"Apa lo bilang!"
"Mulut sampean wis koyo admin akun gosip, tajem, nyakitin batin, lemes."
"Dasar lo ya, pembantu baru. katro."
"Walah, keterlaluan!" Daryani meraih kemonceng yang ada disebelahnya, lalu memukul-mukulkan kemonceng tersebut kepada Tian. "Opo sampean bilang? pembantu? katro? pelakor? aku wis ra bisa nahan, cocot sampean bener-beber beracun!"
Sejenak Bi As mengerjap, teriakan Daryani dan Tian benar-benar sangat mengganggu pendengarannya, Bi As meraih sebuah panci kemudian memukulkan spatula kepanci tersebut untuk meleray Daryani dan Tian yang sedang adu mulut. dan seketika itu juga Daryani dan Tian pun menghentikan aksinya.
Bi Astuti pun melebarkan senyumnya kemudian berkata, "Tah kalo kaya gitu mah adem pisan katingalina. dari pada cecok mending bantuan Bibi masak weh atuh."
"Gak!" ucap Daryani dan Tian secara bersamaan.
__ADS_1