Kabut Asmara

Kabut Asmara
Episode 51


__ADS_3

Alistie terus mengutuk dirinya, kantor yang telah membesarkan namanya sebagainseorang penulis itu kini telah dikepung oleh media. setelah menyebarluasnya berita atas penjiplakan karya, Alistie terancam di penjara. hingga saat ini para piha kantor belum bisa menemui siapa penulis yang bukunya sendiri sama dengan milik Alistie.


"Tenang, semua akan baik-baik ajah. pihak kantor udah nemuin perusahaan yang terbitin buku itu. dan gilanya mereka malah nyerang kita buat ngeraup keuntungan." gerutu Hana jengkel sambil menenangkan Alistie.


"Terus siapa penulisnya?" tanya Alistie lirih.


"Ya mana aku tau, mereka nyembunyiin identitas si penulis. liat ajah nama penanya aneh banget gak sih? nama pena kaya gitu."


Alistie membuka buku yang isinya sangat mirip dengan naskah miliknya, ia mengerutkan dahi dengan wajah heran saat membaca nama pena tersebut. "Seorang pendosa?"


"Iya! keren kan? dosa ajah di umbar."


Alistie masih meratapi dirinya yang terlihat menyedihkan. ia masih kebingungan siapa dalang dalam masalah yang terus menimpanya tersebut.


Hana meneguk segelas air, ia melirik kearah Alistie yang hanya terus berdiam diri kemudian menyalakan televisi. "Al, kamu tau gak?"


Alistie hanya bergeming.


"Farhan jadi DPO."


Alistie menghela nafasnya kasar, ia melirik kearah Hana dengan bibir mengerucut. "Kamu curiga gak sih sama Farhan?"


Hana mengerutkan dahinya, "Farhan?"


"Gimana kalo dia itu dalang dari semua kekacauan ini?"


"Masa sih? kamu yakin?" sahut Hana.


"Enggak yakin sih, aku juga curiga sama temen-temen aku."


Hana menajamkan tatapannya menatap Alistie, "Temen kamu siapa?"

__ADS_1


"Gak tau pasti, tapi beberapa waktu lalu aku hangout bareng mereka. dan mereka secara terang-terangan bilang iri sama aku."


"Al, bukti itu penting loh..." celetuk Hana menyadarkan Alistie agar tidak menuduh sembarang orang.


Alistie menghela nafasnya kasar, ia sendiri benar-benar sudah kelabakan. entah kapan masalah ini akan segera berakhir, tentu saja tidak. mudah jika dalang belum ditemukan pasti masalah baru akan terus berdatangan.


Siang ini Alistie meninggalkan kantornya untuk pergi mendaftarkan Loli kesebuah Taman Kanak-kanak. meskipun wanita itu sedang dirundung berbagai macam maslah tapi ia tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai ibu sambung dari Loli.


"Golongan darahnya Loli apa ya?" tanya Alistie dalam batinnya.


Alistie meraih ponsel didalam tasnya dan mengirimkan pesan pada Andre. "Golongan datah Loli apaan? aku lagi isi fomulir sekolah barunya nih."


dua puluh menit berlalu, dan Alistie tak kunjung mendapatkan sebuah balasan dari sang suami. karna sudah cukup lama menunggu ia pun memilih bertanya pada salah seorang guru dihadapannya.


"Bu, maaf sebelumnya. saya gakntau golongan darah Loli, gk di isi gapapa?" tanya Alistie.


"Maaf Bunda. jika Bunda belum mengecek golongan darah buah hati Bunda, itu bisa dilakukan Bunda sekarang diruang kesehatan yang sudah disediakan di sebelah."


"Mamah, Loli mau di apain?" tanya Loli polos.


"Cek darah sayang," sahut Alistie lembut.


Loli memelas, wajahnya tiba-tiba saja merona dengan mata yang menggenang. "Pasti sakit."


Alistie tersenyum tipis, kemudian menjawab. "Cuma kaya di gigit semut doang, katanya mau sekolah. kalo mau sekolah harus pemberani."


Loli mengangguk pasrah, ia mengulurkan tangan kecilnya pada sang dokter. wajah dengan tangan lainnya memegang erat pada Alistie.


"Mamah, Al. sakit..." jerit Loli saat merasakan sesuatu menusuk jarinya.


"Tahan, gak lama kok." ucap Alistie menenangkan.

__ADS_1


"Tahan cantik, cuma sedikit ajah. Loli kan gadis pinter." ucap dokter tersebut membantu menenangkan Loli.


Akhirnya setelah beberapa menit Alistie berhasil meredam tangisan Loli, sambil menunggu hasilnya wanita itu terus mengelus kepala Loli.


Drrttt... Drtt... Alistie meraih ponselnya, dan membuka balasan pesan dari Andre.


"A, sayang."


"Telat! aku udah cek darah dia di sekolah." balas Alistie cepat.


Dokter yang bertugaspun memberikan hasil pengecekan darah Loli, "Ini Bunda untuk hasilnya. Bunda bisa langsung mengisi fomulirnya."


Tidak butuh waktu lama, Alistie meraih secarik fomulir yang sudah ia isi setengah tadi. "O?" Alistie terlejut membulatkan matanya, "Dok kayanya salah deh, Ayahnya tadi bilang A."


"99% hasil tesnya akurat Bunda, jika Bunda masih ragu saya bisa kembali mengeceknya."


"Masa sih Andre salah? masa iya dia gak tau golongan anaknya sendiri." Gumam Alistie heran.


Dokter itu memiringkan senyumnya, ia kemudian berkata. "Ada dua kemungkinan, hasil tes Ayah loli yang salah. atau mereka memang bukan..."


Alistie mengerutkan dahinya, "Bukan apa dok?" tanya Alistie penuh penekanan.


"Saya rasa Bunda sudah tahu jawabannya,"


Alistie menatap lekat dokter tersebut, untuk beberapa saat ia tidak bisa mencerna ucapan sang dokter. dan di detik berikutnya Alistie tersadar. "Astaga..." Alistie membulatkan matanya dengan mulut yang menganga, "Itu gak mungkin dok."


"Mamah, Kenapa dengan Loli?" tanya Loli kebingungan setelah mwpuhat raut wajah Alistie.


Alistie menelan salivanya menggelengkan kepalanya kikuk.


LIKE KOMEN DAN VOTE

__ADS_1


__ADS_2