
Didalam kamar, Andre menatap heran kearah dang istri yang tengah mengeluarkan begitu banyak tumpukan uang. entah apa yang akan wanita itu lakukan, Andre sendiri tidak ingin bertanya sebab itu adalah uang Alistie hasil dari pencapaiannya sebagai seorang penulis.
"Kamu ngapain?" Andre mencoba bertanya untuk memecah rasa penasarannya.
"Gaji Daryani bulan ini, sekalian ngasih tunjangan hari raya dia. aku mau nyuruh Daryani pulang sekarang." ucap Alistie santai.
Andre mengerutkan dahinya dan terduduk disebelah sang istri. "Lebaran masih lama, kenapa udah disuruh pulang."
Sejenak Alistie menghentikan apa yang sedang ia lakukan, sorot matanya beralih menatap Andre lekat dengan tangan yang mengelus wajah sang pria. "Kasian, aku gak tega. dia galau banget pastinya kalo disini terus ngeliat Jessi sama Tian."
Andre terkekeh mendengar pernyataan iba sang istri, "Terus mau kamu gimana?"
"Aku mau tunda naskah ini, tunggu sampe masalah Tian sama Jessi kelar. kalo mereka udah menikah dan gak tinggal disini senggaknya Daryani bisa sedikit lega."
Andre mengangguk, sikap kepedulian Alistie terhadap orang lain benar-benar membuat pria itu semakin, sangat mencintai sang empu. Andre merasa dirinya sekarang sangatlah beruntung, ia tak ingin dan sangat takut kehilangan Alistie.
"Aku sayang kamu," ucap Andre tersenyum tipis memandang Alistie dengan sorot mata kagum.
Alistie membalas senyuman Andre, ia mendelatkan wajahnya kearah pria tersenut kemudian mendaratkan ciuman singkat dipipi kiri Andre. "Aku lebih sayang kamu!"
Setelah mengambil beberapa jumlah uang, Alistie lantas meninggalkan Andre seorang diri dikamar. ia keluar untuk segera menemui Daryani untuk mengatakan jika dirinya akan menunda pekerjaan dengan Alasan libur hari raya.
Benar saja, Daryani terlihat sedang menatap kearah Tian dan Jessi yang berada dilantai dasar. pasangan itu terlibat benar-benar saling mencintai, Tian terlihat memanjakan Jessi da terus mengelus perut kekasihnya karna didalam sana ada benihnya yang sudah ia tanam.
"Dar..." ucap Alistie sambil menghampiri Daryani.
__ADS_1
Gadis itu langsung tesentak kaget, dengan spontan ia memalingkan tubuhnya menatap kearah Alistie. "Opo to, Mba?
Alistie memandang wajah Daryani, tatapan redup dengan tingkah polosnya sungguh membuat Alistie sangat tidak tega. sejenak Alistie melirik kearah lantai dasar kemudian berkata. "Sebentar lagi kan lebaran, aku mau liburin kamu."
Daryani tertunduk, sepertinya ia sudah mengerti dengan ucapan Alistie yang akan menyuruhnya pulang ke kampung halaman. "Mba jangan bohong to, aku tau sampean ngomong gini karna sampean kasian karo aku ngeliat Mas Tian sama Mba Jessi."
Alistie memasang raut wajah datar dengan mata sedikit membulat. "E... enggak, kamu kan kerja sama aku. aku yang mutusin kapan mau liburin kamu."
Setetes air mata Daryani mengalir, ia langsung memeluk Alistie untuk mumpahkan rasa sakit dihatinya. "Gak nyangka loh Mba, tau gini mending Mas Tian gak usah baikin aku sekalian. bodoh banget aku ini, cuma digituin doang udah kepedean duluan."
Alistie membalas pelukan Daryani dan mengelus punggungnya penuh perhatian. "Udah, aku yakin kamu pasti bisa nemuin cowo yang lebih segalanya dari Tian. kamu cantik kok, Yan."
Daryani terisak, ia melepaskan dirinya dari Alistie. "Kamu baik banget loh Mba karo aku, sampean bener. aku harusnya tau diri, makasih sampean wis peduli. aku mau pamit sekarang ajah."
"Tapikan ini dah malem, Yan." tegas Alistie spontan.
"Tapi Yan..."
"Batinku lara Mba, liat Mas Tian karo Mba Jessi. aku ra iso gini terus."
Baiklah, Oke. dalam hal ini Alistie hanya terdiam pasrah. maslaah hati memang sulit untuk dipaksakan, ia tidak ingin terlalu banyak bicara karna khawatir hanya akan membuat Daryani semakin kesakitan.
Daryani menyeka butiran air mata diwajahnya, "Iki aku terima yo, makasih sampean wis baik, wis perhatian karo aku."
Alistir hanya mengangguk dengan bibir yang tersungging. gadis ini benar-benar sangat polos dimata Alistie, dalam keadaan patah hatipun Daryani terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
__ADS_1
Setelah drama dakit hati itu terselesaikan, Alistie mengekor mengikuti Daryani menuju kamarnya. ia tentu akan membantu Daryani untuk mengemas beberapa pakaiannya, meskipun Alistie sudah mengatakan tidak perlu membawa seluruhnya sebab cepat atau lambat Daryani juga akan kembali lagi.
"Bi Dar..." pekik Loli menghampiri Daryani yang sudah siap untuk pulang ke kampung halaman, "Bi Dar mau kemana?"
Bibir Daryani kembali mengerucut, air matanya kembali terloloskan saat mendengar ucapan dari gadis kecil tersebut.
"Lah kenapa nangis lagi?" tanya Alistie heran.
"Iki loh, Bi Dar. itu kan nama dari Mas Tian."
Alistie menghela nafasnya dengan kepala yang menggeleng. ternyata memang benar, wanita cenderung cengeng dan sensitif saat sedang patah hati. padahal Daryani sendiri awalnya tidak pernah mempermasalahkan akan panggilan Loli tersebut. tapi sekarang setelah ia jatuh cinta terhadap Tian segalanya berubah 360 derajat.
Alistie menaruh sedikit rasa geli tapi kasihan melihat tingkah Daryani yang sepertinya sedikit lebay.
Saat Daryani melangkah melewati Jessi ia tampak memasang raut wajah tidak suka. padahal Jessi sudah tersenyum meskipun tidak menyapanya.
Hal itu sukses membuat Jessi heran, kenapa dihari pertamanya Jessi sudah mendapat perlakuan acuh dari salah satu penghuni rumah tersebut.
"Daryani..." ucap Jessi memanggil.
Daryani pun menghentikan langkahnya, kemudian memutar badan menatap kearah Jessi.
"Are you okey? sorry the situation is complicated we haven't had time to greet each other." ucap Jessi lembut.
Daryani menghela nafas kasar, "Aku ra iso ngomong karo sampean. aku ra ngerti."
__ADS_1
Jessi mengangguk, "Sorry, mmm Tidak. maaf jika bahasa indonesiaku buruk. kita belum sempat saling menyapa karna situasi yang sangat rumit. apa kau baik-baik saja? What would you do?"
Daryani tersenyum kecut, sungguh ia tidak bisa menyembunyikan perasaanya meskipun Jessi bersikap sangat baik. Daryani hanya tersenyum kecut, "Aku baik, aku mau pulang kampung. aku pamit." ucap Daryani kemudian ia kembali memalingkan tubuhnya untuk segera berlalu pergi dari hadapan Jessi.