
Sambil mendengarkan musik yang terlantun melalui speker headset-nya. Tian terus memperhatikan Loli yang sedang belajar mewarnai dilantai dasar. insting kejailan Tian pun berkerja, matanya memincing sambil memfokuskan sebuah kacang yang akan ia lemparkan kepada Loli.
"Aduhh..." mata Loli melirik kesana kemari, dan diatas sana terlihat Tian sedang terbahak menertawakan kepolosan wajah Loli. "Mamaaahh..." Loli merengek menghampiri Alistie dan Daryani yang sedang mengorek sebuah naskah.
"Kenapa, Ndo?" tanya Daryani dengan suara yang khas.
"Om Tian jailin aku, aku di lempar pake kacang." rengek Loli menggemaskan.
Alistie mendengus kesal, bagaimana tidak. sejak hari pertama pria itu datang ia sama sekali tidak bisa hidup dengan tenang. Tian selalu mengecoh Alistie dengan menggunakan Loli. sangat sering Alistie mengadu pada Andre, agar Andre bisa tegas menegur Tian. nyatanya sang suami pun hanya menyuruh sabar dan harus mengerti karakter Tian tersebut.
"Jangan d tanggepin, Loli main ajah sama Bi As." ucap Alistie menenangkan anak sambungnya.
Loli menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Aku mau main sama, Bi Dar."
Alistie mengerutkan dahi, kemudian berkata. "Siapa, Bi Dar?"
"Pembantu baru kita, Bi Daryani."
Alistie dan Daryani menganga mendengar pernyataan polos Loli yang mungkin saja bisa terdengar menyakitkan di daun telinga editor baru Alistie tersebut.
"Loli, Kak Daryani. bukan Bi Dar. dia itu editor Mamah bukan pembantu."
Loli kembali mengerucutkan bibir dengan wajah memelas. "Kata, Om Tian. Bi Dar itu pembantu baru."
***
__ADS_1
Beberapa waktu lalu saat Loli sedang asik bermain sendirian dihampiri oleh Tian. pria itu dengan sengaja mengganggu Loli, dan bahkan pernyataan yang Loli katakan pada Alistie dan Daryani disampaikan oleh Tian pada waktu itu.
"Ngapain Li?" tanya Tian sambil meraih boneka wortel Loli yang ditutupi sebuah kain kecil.
"Ahhhh, jangan diambil. itu anak aku lagi tidur." pekik Loli sambil merebut boneka ditangan Tian.
Tian terkekeh, tangannya langsung menyentuh mainan Loli yang lainnya agar gadis kecil tersebut kembali merengek.
"Om Tian, itu gendongan bayi aku. nanti dia nangis," jerit Loli jengkel.
Tian menghela nafas kasar, ia berpikir keras kemudian berkata. "Li, Mamah kamu cantik ya."
"Gak boleh!" sahut Loli spontan garang.
"Cuma aku sama Papah yang boleh bilang Mamah cantik."
Astaga, Loli sendiri bahkan terlihat seperti Alistie. setiap kali Tian menganggunya Loli pasti akan bersikap seperti macam yang siap menerkam mangsanya.
"Mamah kamu kemana sekarang?" tanya Tian kembali menggoda keponakannya tersebut.
"Pergi sama, Kak Daryani."
"Oh pembantu baru itu."
Loli menatap Tian dengan raut wajah datar. "Pembantu?"
__ADS_1
Tian mengangguk, ia langsung mengangkat tubuh kecil Loli dan mendudukan gadis kecil itu disebelahnya. "Cocoknya dia tuh di panggil, Bi Dar."
"Masa iya?" sahut Loli polos.
Tian mengangguk cepat, dengan mimik wajah serius. "Beneran, percaya sama Om."
Loli menggelengkan kepala dengan mata yang memincing. "Gak mau,"
"Idih kenapa?"
"Om udah bilang Mamah aku cantik, tar aku bilangin ke Papa."
Tian mendengus, ingin rasanya ia menelan gadis kecil yang sudah ia enggap seperti monster tetsebut. "Dasar, Little Monster." umpat Tian dengan suara terendah.
"Monster itu apa?" tanya Loli polos.
seringai licik pun terukir dari Tian, pria itu langsung mengelus pucuk kepala Loli kemudian berkata. "Monster itu cantik, lucu menggaskan mirip Loli."
"Masa iya?" ucap Loli dengan raut wajah berbinar.
Tian mengangguk dengan senyum licik yang terus terpancar.
"Kalo gitu aku mau jadi monster." celetuk gadis kecil itu semringah.
Tian terkekeh, ia pun hanya bisa mengiyakan ocehan Loli yang sangat menggelikan. Tian bahkan tidak menyangka jika keponakannya tersebut benar-benar sangat polos, meskipun ocehannya sering kali terdengar sangat menyebalkan.
__ADS_1