Kabut Asmara

Kabut Asmara
Episode 81


__ADS_3

Saat Daryani akan berlalu menuju dapur, ia mendengar suara ketukan pintu dan bunyi bell dari luar. keadaan rumah saat itu memang masih terlihat sepi meskipun waktu sudah menunjukan pukul tujuh pagi.


"Sopo to pagi-pagi gini wis namu?" gumam Daryani sambil berjalan mendekati pintu utama.


Sejenak Daryani terdiam dengan ekspresi datar menatap pria kecil yang berada dihadapannya kemudian ia berkata. "Jenengan sopo to?" tanya Daryani.


Pria kecil itu sepertinya tidak mengerti perihal apa yang Daryani katakan.


"Siapa namamu? cari siapa?" ucap Daryani kembali bertanya.


Pria kecil itu menyunggingkan senyum manisnya kemudian menjawab. "Aku Dicko, Lolinya ada?"


Daryani menyeringai, "Wah sampean iki isih cilik, tapi wis berani ngapelin Loli."


Lagi-lagi Dicko hanya terdiam dengan raut wajah datar. ia benar-benar tidak mengerti mendengar ucapan Daryani yang terdengar aneh di daun telinga Dicko.


"Sampean Ra ngerti yo? wis... wiss ayo masuk, bojomu isih turu kayane." ucap Daryani kemudian menuntun masuk membawa pria kecil itu kedalam.


Setelah Daryani membawa Dicko dan membangunkan Loli dikamarnya. gadis itu pun kembali menuju dapur, karna memang ia belum sempat kesana.


Terlihat Bi As sedang membuat hidangan makanan. Daryami sendiri memang sering membatu eanita paruh baya tersebut dan bahkan mereka sangat mudah akrab.

__ADS_1


"Bibi semalem kaget, kali pertama Bibi liat Neng Al, sama pak Andre perang dunia sebesar itu." celetuk Bi As.


"Iya Bi, kasian penulis NAC. batine mesti lara." celetuk Daryani sambi memotong beberapa sayur yang akan Bi As olah menjadi hidangan.


Kebetulan disana juga ada Ujang yang sedang menikmati secangkir kopi yang sudah Daryani buatkan. seperti biasa pria itu hanya akan terdiam sambil mendengarkan ocehan para kaum hawa yang sedang asik bergosip.


"Kagalah, Andre kan kerja buat Alistie juga. dia cuma sibuk cari duit bukan cari wanita lain." celetuk Tian yang tiba-tiba saja datang dan langsung ikut menyambar.


"Beda to, yen aku ada di posisi penulis NAC juga pasti marah karo suamiku. bener to Bi?" Tegas Daryani membela Alistie.


Tian mengerutkan dahi, ia menepul bahu Ujang dengan tatapan mematikan yang mengarah pada Daryani. "Jang, Translite Jang. gue gak ngerti."


"Wis, wis, wis. sampean denger!" sejenak Daryani terdiam kemudian kembali meralat ucapannya. "Salah-salah, kamu dengar! aku kalo jadi Penulis NAC juga bakalan marah sama suami aku. iya kan, Bi?"


Bi As mengacungkan jempolnya keraha Daryani seolah menyetujui apa yang wanita itu katakan.


"Kalo aku sih gak setuju pisan. gimanapun suami kerja buat istrinya. ini pulang-pulang malah dicarekan, jelas pasti suaminya mah cape, pengennya sampe rumah teh dimanjain." celetuk Ujang, sepertinya kali ini mulai bisa sedikit mencerna ucapan Daryani.


"Keren, Jang." ucap Tian mendukung sambil menepuk bahu Ujang.


"Ora bisa! we jelas istri juga mau dimanjain. bukan cuma para suami ajah toh! sampean iki sama kaya Mas Tian. ora ada bedanya!" pekik Daryani tidak terima.

__ADS_1


Bi As yang biasa melerai pun kali ini ikut turun tangan untuk beradu mulut dengan kedua pria tersebut sebagai pembela Alistie dan Daryani.


"Bener, Neng. cewe itu selalu benar, pokonya kalian para laki-laki gak usah macem-macem. gak dikasih jatah ranjang mah baru nyaho, bener gak Neng?"


"Setuju, Bi."


Ujang Dan Tian memasang raut wajah geli melihat kekompakan yang Bi As dan Daryani lakukan.


"Apaan? cewe selalu benar? tapi kenyataanya cewe selalu salah dalam memilih laki-laki." ucap Ujang dengan santai.


Tian langsung berteriak dengan spontan seolah memberikan kesan kagum terhadap Ujang yang sudah berani bersuara. "Wohhh... Gue suka gaya lo, Jang."


Setelah mendengar hal itu, Daryani langsung meraih dan menggeser kopi yang ia buat untuk Ujang dengan bibir yang mengerucut. sedangkan Bi As menatap kedua pria itu dengan tajam sambil memegang pisauu seolah sedang mengintimidasi.


"Sudah berani kamu ya, Jang. kemarin gak ada Den Tian kamu cuma diem-diem ajah!"


Ujang tertawa kecil, kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku udah pernah bilang, kalo aku ini sekutunya Pak Andre. aku diem karna aku pasti kalah sama Bi As juga Bu Alistie."


Tian memiringkan senyumnya, lalu mengalihkan pandangannya kearah Daryani. "Tenang Jang, mulai sekarang gue ada dipihak lo sama Andre."


Daryani mengeratkan giginya dengan mata melotot. "Dasar, lanang-lanang gendeng. kurang kerjaan!" umpat Daryani kesal.

__ADS_1


__ADS_2