
Andre sendiri belum mengetahui siapa si pencuri naskah, karna ia sudah sangat tidak sabar. Andre memutuskan untuk segera menyuruh Alistie menghubuingi nomor ponsel pemberian orang yang sudah Andre suap. tidak masalah berapapun jumlah uang yang keluar. Andre tidak akan memperdulikan hal itu, jika sudah menyangkut kebahagiaan sang istri.
Setelah mendapatkan lokasi dari Alistie, pria itu langsung memutar kemudinya untuk segera menemui sang istri. Alistie mengatakan jika dirinya berada dikantor untuk makan siang bersama Hana. tidak butuh waktu lama, Andre pun langsung bergegas pergi kesana.
Alistie terus mengerucutkan bibirnya, wajahnya terlihat masam. ia dan Hana memang sudah sangat dekat, dilihat sekilas mereka seperti saudara kandung yang identik. prilaku Alistie yang seperti kekanak-kanakan berbeda halnya dengan Hana yang selalu meluruskan jika Alistie sendiri tidak yakin dengan keputusannya.
"Aku mau hengkang," Alistie mengatakan niatnya pada Hana.
Wanita yang memiliki umur beberapa tahun lebih tua dari Alistie tersebut mengerutkan dahi dengan raut wajah heran. "Hengkang?"
Alistie mengangguk perlahan, "Citra aku udah buruk, kayanya ini akhir dari karir aku."
"Astaga... kenapa harus hengkang?" sejenak Hana menghentikan teriakannya, "Denger! kamu bisa mulai lagi, bikin cerita baru yang lebih wow dari kemarin."
Alistie menghembuskan nafasnya pasrah, ia menyandarkan tubuh tidak semangatnya disebuah soffa ruangan kantor dengan posisi mata menatap langit-langit. "Aku cape, mau fokus ngurusin Andre sama Loli ajah."
"Al," Hana mendekati Alistie dan meraih tangannya. "Jangan gila kamu, kok kamu jadi nyerah gini sih?"
Alistie menggelengkan kepalanya, kemudian menciptakan senyum cantik diwajahnya. "Keputusan aku udah bulet."
"Terus?"
__ADS_1
"Terus apa?"
"Terserah deh!" Hana memasang raut wajah kesal, ia langsung memunggungi Alistie.
"Jangan ngambek gitu dong," Alistie menggelitiki punggung Hana, menghibur wanita tersebut. "Han..."
Tidak ada gubrisan dari Hana, editor pribadi Alistie itu terus mendiamkannya.
"Han..." Alistie menyandarkan dirinya kepada Hana, "Maaf, keputusan aku mendadak. tapi aku sendiri bener-bener lagi down, kamu tau sendiri kali aku lagi begini aku gk bisa berpikir."
Hana menghela nafas kasar, ia memalingkan tubuhnya menatap Alistie tajam. "Bukan hengkang! tapi cuti sampe masalah kamu bener-bener kelar."
Cklekk... Alistie dan Hana melirik kearah pintu, saat terdengar suara pintu tersebut derdorong dari luar.
"Ndre kamu," ucap Alistie kikuk.
Andre langsung melangkah mendekati Alistie dan mendudukan bokongnya disamping wanita tersebut. "Udah makan?"
"Belum, kan nunggu kamu." Sahut Alistie cepat.
Andre mengambil secarik kertas didalam sakunya, kemudian memberikan kertas tersebut pada Alistie.
__ADS_1
"Ini? apa?" tanya Alistie heran.
"Nomor ponsel si pencuri naskah."
Sontak ungkapan Andre berhasil membuat Alistie dan Hana terkejut.
"Pe... pencuri naskah?" tanya Hana.
"Iya, pihak kantor itu yang ngasih tau."
"Tapi bagaimana mungkin? kenapa dia ngasih nomor gitu ajah?"
Andre tersenyum tipis menatap Alistie, kemudian mengelus rambut indahnya. "Aku udah urus semuanya, kamu bisa hubungin dia sekarang."
Alistie mengangguk, ia langsung memasukan nomor tersebut kedalam ponsel miliknya. satu persatu Alistie menyentuh angka ditampilan layar. mata Alistie membulat saat ternyata dirinya sudah menyimpan nomor ponsel tersebut.
"Ndre ini..."
Andre melirik kearah ponsel Alistie, "Dia?"
"Ke... kenapa Al?" tanya Hana kebingungan.
__ADS_1