Kabut Asmara

Kabut Asmara
Episode 76


__ADS_3

Janji adalah kalimat penenang. mungkin hal itu sudah menjadi hal lumrah bagi seseorang. tanpa terkecuali Andre. belum genap seminggu ia mengatakan jika dirinya akan meluangkan waktu lebih banyak untuk Alistie, pada akhirnya sampai kini Andre masih sibuk dengan pekerjaannya dan selalu menomor duakan sang istri.


Meskipun kecewa, Alistie tidak ingin egois. ia berusaha memberikan pengertian kepada dirinya sendiri agar bisa lebih memahami kesibukan suaminya tersebut. berulang kali Alistie mengeluh, berulang kali juga ia menguatkan dirinya agar bisa lebih sabar memahami kondisi rumah tangganya sekarang.


Detik, menit, jam, sudah berlalu. malam sudah semakin larut dan sampai saat ini Andre masih belum kembali. Alistie tersenyum kecut kemudian berkata, "Sampe kapan kamu mau ingkar janji terus kaya gini?" gumam Alistie sambil menatap foto sang suami di layar ponsel.


Sudah puluhan pesan dan panggilan, tetapi semua masih nihil. Andre tidak membalas ataupun mengangkat telephone dari wanita tersebut. jengkel? pasti, istri mana pun akan bersikap demikian jika sang suami selalu mengutamakan hal lain dari pada mereka. begitupun juga Alistie, ia ingin mengatakan segalanya, tapi apa daya? tidak mungkin ia menghancurkan momen kebersamaan bersama Andre.


Tidak mungkin jika Alistie langsung berkata jujur atas siksaan rindunya. sedangkan ia sendiri tahu jika hal itu hanya akan mengundang pertengkaran. ia cukup tahu diri, waktu istirahat suaminya sangatlah singkat. dan Alistie tidak ingin mengganggu hal tersebut.


Alistie sudah terbaring, duduk, berjalan mondar-mandir kesana kemari dengan tangan yang terus menggenggam ponsel. pada akhirnya air mata wanita itupun menetes juga. Alistie menggigit bibir bawahnya dengan dada yang sedikit sesak, padahal selama ini dirinya sama sekali tidak memiliki riwayat asma.


"Aku cuma mau kita kaya dulu, Ndre. aku butuh kamu!" gumam Alistie lirih.

__ADS_1


Daryani yang baru saja keluar dari kamar pun tidak sengaja melihat Alistie. wanita tersebut memang sudah tinggal disana, karna tidak mungkin untuk Alistie membiarkan sang editor bolak-balik kampung dan jakarta. hal itu tentu sangat merepotkan.


Daryani menghentikan langkahnya sejenak, menunggu Alistie turun terlebih dahulu kelantai dasar. "Akhir-akhir iki aku isring ndeleng Penulis NAC nangis." gumam Daryani.


Alistie menyandarkan tubuhnya disofa, untuk apa lagi jika bukan menunggu sang suami kembali? wanita itu bahkan sudah sangat sering tertidur disana akibat menunggu Andre yang selalu pulang larut.


Daryani yang tadi berniat turun untuk mengambil air pun mengendapkan langkahnya karna tidak ingin mengganggu kegalauan Alistie. Tentu dijam seperti ini pasti ada Bi As, dan Mang Ujang yang selalu menyantap mie istan diwaktu malam. Daryani pun berencana akan membahas kesedihan Alistie bersama para pembantu.


Mata Daryani membulat, rahangnya mengeras sempurna saat mendapati Tian sedang menjadi juru gosip disana. sesuatu yang membuat Daryani murka adalah, Tian disana sedang mengatakan hal yang tidak-tidak pada Mang Ujang dan Bi As.


"Astagfirullah, Mas Tian. cocot sampean iki bener-bener lemes." pekik Daryani.


Tian, Bi As, dan Mang Ujang pun terkejut secara bersamaan. mereka semua langsung melirik kearah Daryani dengan raut wajah memucat.

__ADS_1


"Euu... Neng Daryani, Bibi..."


Bibir Daryani mengerucut dengan mata yang menggenang. "Sampean bilang opo? aku iki calon pelakor? gendeng! aku emang dari kampung tapi ora niat jadi perusak rumah tangga orang lain. apa lagi Penulis NAC iki idolaku."


Tian menelan salivanya, "Kan lo sendiri yang kemarin bilang suka sama Andre."


Daryani berdecak sebal. ia mencengkram kuat ujung pakaian yang ia kenakan dengan emosi yang sudah memuncak, "Yen aku suka sama Pak Andre, itu artinya aku cinta gitu? itu artinya aku mau jadi pelakor? sampean iki lanang, tapi cocotmu wis koyo wadon!"


Tian hanya terdiam, sedangkan Bi As dan Mang Ujang hanya tertunduk ketakutan meskipun sedari awal mereka hanya mendengar ocehan Tian. Bi As merasa bersalah dan tidak enak hati kepada gadis tersebut.


"Keterlaluan sampean!" celetuk Daryani, kemudian ia berlalu begitu saja dalam keadan tangisan yang sudah pecah.


Tidak hanya Bi As, untuk kali ini semua pun merasa bersalah. Daryani benar-benar terlihat tidak terima dan marah. Daryani juga tidak habis pikir, kenapa Tian sampai mempunyai pikiran sekotor itu. padahal jika pun memang Daryani berniat demikian itu tidak mungkin kepada Alistie, seorang idola yang tidak hanya cantik namun juga berbakat. tentu di bandingkan Alistie, Daryani sendiri tidak ada apa-apanya.

__ADS_1


__ADS_2