Kabut Asmara

Kabut Asmara
Episode 84


__ADS_3

Alistie terus menatap kearah Daryani yang berada dilantai dasar. sejak pagi tadi gerak-gerik dang editor tersebut benar-benar sangat mencurigakan. Daryani terus saja tersenyum seperti orang yang sedang bahagia. sontak hal itu membuat Alistie yang baru pertama kali melihat Daryani bersikap demikian pun kebingungan.


"Ngapain?" tanya Andre sambil memeluk Alistie dari belakang, sorot pria itu tampak menatap kearah yang dituju oleh mata Alistie.


"Itu Daryani. dia kenapa sih? senyum-senyum terus sambil cek naskah, udah dari pagi dia begitu." ucap Alistie pada Andre.


Andre menempelkan wajahnya diantara bahu Alistie, kemudian menjawab. "Tanya ajah."


Alistie pun mengangguk, ia memalingkan tubuhnya menatap lekat sang suami. Cup... ciuman singkat Alistie daratkan dipipi kiri Andre. lalu ia pun berlalu meninggalkan Andre disana dan bergegas menuju kelantai dasar menghampiri Daryani.


Daryani sudah seperti wanita yang tidak waras. ia berbicara sendiri, tersenyum dan tertawa seorang diri. siapa yang tidak heran melihat tingkah aneh gadis tersebut? bahkan tadi pagi Loli sempat mengatakan jika Daryani sedang kesurupan.


"Kamu kenapa sih? ngomong sendiri, tingkah kamu aneh banget." tanya Alistie mendudukan bokongnya di sofa sebelah Daryani.


Sejenak Daryani menahan senyumnya sambil menyembunyikan wajah kemudian ia memberanikan diri menatap Alistie, tanpa mengurangi tingkah anehnya tersebut. "Iki loh, aku..."


Alistie mengerutkan dahinya, ia semakin menajamkan tatapannya saat Daryani mulai bicara. "Kenapa?" tanya Alistie penuh penekanan.


Lagi-lagi Daryani menyembunyikan wajahnya yang terlihat merona, "Iki, aku, aku lagi kasmaran."


Alistie menghela nafas panjang dengan ekspresi datar. "Kirain kenapa! pantes kaya orang gak waras kamu, Dar." celetuk Alistie sambil menggelengkan kepala.


Daryani melebarkan senyumnya, ia langsung meraih tangan Alistie dan menatap wajah wanita terdebut intens. "Penulis NAC, aku mau tanya toh. menurutmu Mas Tian itu orangnya gmana toh?"


Alistie membulatkan mata dengan mulut yang menganga. "Apa? Tian? kamu kasmaran sama Tian?"


Daryani tertawa kecil dengan wajah sedikit memerah.

__ADS_1


"Gimana ceritanya kamu bisa kasmaran sama Tian?" tanya Alistie mencecar.


"Jadi gini toh ceritane..."


Beberapa waktu sebelumnya...


Daryani malam itu benar-benar sangat bosan. ia ingin tidur tapi matanya tak kunjung terpejam. setelah itu Daryani memutuskan untuk pergi keruang tengah menyantap cemilan sambil menonton televisi. sialnya tayangan di tv benar-benar sangat membosankan.


Daryani mengerjap, sejenak dirinya mendongak menatap langit-langit ruangan tersebut.


"Hoaaammmm...." Daryani menguap dengan mulut yang terbuka lebar bahkan sepertinya segerombolan serangga, lalat, dan hewan lainnya bisa masuk kedalam mulutnya tersebut. mata Daryani melirik kesuatu arah dan dengan spontan gadis itu menutup mulutnya dengan mata yang membulat, "Mas Tian."


Tian hanya tetsenyum kecut sambil menggelengkan kepalanya menatap tingkah Daryani tersebut. dalam batinnya Tian berujar. "Dia cewe jenis apa sih?"


"Opo to Mas, kebiasaan sampean liatin aku kaya gitu."


"Iki loh, aku bosen. mau tidur tapi gak bisa merem."


Tian menganggukan kepala, kemudian berkata. "Gue mau cari angin diluar. lo mau ikut?"


Daryani menelan salivanya menatap tajam kearah Tian.


"Kalo gak mau gapapa." celetuk Tian sambil berlalu.


Spontan Daryani beranjak, ia langsung berlari mengejar Tian. "Tunggu Mas, aku ikut." pekik Daryani.


Sepanjang jalan mereka hanya saling terdiam dengan suasana canggung. Daryani terus bergelut dengan pikirannya, "Kenapa Mas Tian ngajak aku ya?" batin Daryani.

__ADS_1


Tak hentinya Daryani mencuri pandang, menatap wajah Tian. ia berpikir ternyata Tian sangatlah tampan jika sedang dalam keadaan kalem. sungguh Daryani sendiri sampai tidak menyangka jika hal ini akan terjadi.


"Gue laper, mampir makan dulu bentar ya." ucap Tian.


Daryani hanya mengangguk dengan senyum manisnya yang tersungging.


Tibalah kini mobil yang mereka kendarai terhenti disebuah restauran. dalam pandangan Daryani sepertinya restauran tersebut cukup mahal, bisa dinilai dari tatanan gayanya.


Daryani benar-benar hanya membuntuti Tian, sungguh ia merasa sangat tidak pantas diajak ketempat seperti ini. sesekali mata Daryani melirik kepara pengunjung yang lain. mereka bergaya dengan riasan yang cantik.


"Aku minder yo," batin Daryani.


Tian sudah mimilih tempat untuk mereka berdua. pria itu bahkan sudah memesankan makanan yang sama dengannya untuk Daryani. tak hentinya Daryani memanjakan matanya dengan melihat-lihat gaya interior restauran yang khas tersebut.


"Lo pasti baru ya kesini."


Daryani mengangguk dengan ruat wajah datar. dan tidak lama setelah itu pelayan pun datang membawa makanan yang telah Tian pesan. sebuah bistik, ditambah jus jeruk sebagai minumannya.


Daryani membisu, dengan raut waja kikuk ia meraih pidau dan garpu dihadapannya. matanya melirik kearah Tian yang sedari tafi sudah menyantap makanan tersebut.


"Duh iki gimna? aku ra bisa potongnya." batin Daryani.


Saat Daryani sudah benar-benar mencoba mengerahkan segala kemampuannya. Daryani terpaku saat Tian menyentuh tangannya. spontan gadis itu menatap Tian dengan wajah terkejut.


"Biar gue bantu." ucap Tian kemudian dengan cepat pemuda itu mengambil alih pisau dan garpu ditangan Daryani.


"Ini Mas Tian toh? Astaga, jantungku berasa mau copot." batin Daryani menatap kagum wajah pria dihadapannya.

__ADS_1


__ADS_2