
Sean dengan keadaan tubuh polos yang hanya ditutupi oleh selimut tebal, pemuda itu menatap wajah cantik Yuli penuh kepuasan. sedangkan Yuli tanpa mengenakan apapun dibawah selimut yang sama bersama Sean, ia membalas tatapan tersebut dengan perasaan tidak karuan ditambah adanya sedikit penyesalan.
"Kita gk seharusnya kaya gini," ucap Yuli tertunduk murung.
Sean meraih wajah cantik gadis yang sudah ia nodai tersebut, "Kamu nyesel?"
Yuli mengangguk sambil meloloskan sebutir air mata dari pelupuknya.
"Maaf," ucap Sean mengeratkan peleykannya terhadap Yuli.
"Aku takut," lirih Yuli.
"Gak bakalan terjadi apa-apa!" Sean terus mencoba memberikan ketenangan pada sang kekasih. "Percaya sama, aku."
Yuli mencengram tangan Sean kuat, sungguh ia sangat takut. pikiran buruk mengenai sang pria terus saja berkutat didalam otak Yuli. bagaimana jika setelah ini Sean meninggalkannya? atau bahkan sesuatu akan terjadi karna sudah jelas secara dari kasta dna keyakinan saja mereka berbeda.
"Yul jangan nangis, kalo ada apa-apa aku tanggung jawab kok."
"Tanggung jawab apa? aku cuma anak pembantu! mana bisa keluarga kamu nerima aku. kita juga beda keyakinan, kenapa kamu maksa aku!" sahut Yuli terisak.
Sean menghembuskan nafas panjang. ia mengelus kepala Yuli, dalam hal ini ia memang sudah keterlaluan. bahkan berulang kali Yuli memukul dan menolak tapi tetap saja, Sean terus memaksa hingga akhirnya gadis itu pasrah menyerahkan kehormatan tanpa adanya ikatan yang sah.
"Iya, iya maaf sayang. udah jangan nangis! tenang ajah Yul, aku gak pergi."
__ADS_1
"Gimana aku bisa tenang? Ibu sama Bapak pasti kecewa kalo mereka tau aku kaya gini."
Sean meraih mendingakan wajah kekasihnya, perlahan pria itu menghapus tetesan air mata yang terus membasahi wajah cantik Yuli. "Aku sayang sama kamu, Yul."
"Yaudah kamu jujur sama orang tua kamu!"
Sean mengangguk, "Iya setelah aku selesain pendidikan aku."
"Gak mau, aku maunya sekarang!" pekik Yuli menolak.
Oke, Sean yang notabanenya pemuda garang yang tidak sabaran pada akhirnya luluh akan kekeras kepalaan Yuli. meskipun ia mengatakan ia, mungkin saja itu hanya penenang agar Yuli tidak terus mendesaknya.
"Yaudah kamu tidur, aku balik kekamar." ucap Sean melepaskan dirinya dari Yuli perlahan.
Sean menggelengkan kepala, membelai lembut sang kekasih.
"Kalo gitu kamu pindah keyakinan ya." ucap Yuli memohon.
Sean menghela nafasnya, ia meraih bahu sang empu kemudian berkata. "Kalo aku yang nyuruh kamu buat pindah keyakinan, apa kamu bersedia?"
Yuli hanya terdiam sambil menggelengkan kepalanya perlahan.
"Sejauh ini aku gak permasalahin keyakinan kita yang berbeda. aku punya hak buat nentuin hal itu, dan aku juga gak bakal maksa kamu buat ikutin apa yang aku jalanin. kamu tenang ajah, aku gak bakal pergi meskipun kita berbeda." ucap Sean penuh kelembutan.
__ADS_1
Yuli yakin, ia mengangguk dan langsung memeluk Sean. baru kali ini ia berhadapan dengan sikap Sean yang terdengar begitu bijak.
"Kamu setuju kalo aku nolak?" tanya Sean.
"Aku gak masalah," sahut Yuli berbinar.
"Gak maksa aku?"
Yuli menggelengkan kepalanya, "Kamu ajah bisa nerima kenapa aku enggak? aku percaya, semua keyakinan pasti mengajarkan kebaikan untuk setiap pemeluknya."
Sean tersenyum tipis, kali ini mereka benar-benar satu pemikiran. "Akhirnya kamu ngerti, Tuhan kita sendiri yang udah bikin kita saling tertarik."
"Tapi Tuhan kita gak nyuruh kita buat kaya gini. itu setan,"
Sean memiringkan senyum, "Iya-iya aku salah, aku malah jauh lebih dengerin setan dari pada Tuhan. seharusnya tadi aku bisa nahan, Maaf."
"Aku percaya kamu," Yuli tenang. ia melepaskan tubuh Sean dan membiarkan prianya tersebut untuk kembali mengenakan pakaian.
"Aku balik kekamar," Sean mengecup pucuk kepala Yuli sambil berpamitan kemudian pria itu berlalu meninggalkan Yuli sendirian.
Entah, meskipun sedikit agak menggajal. Yuli mencoba bersikap tenang dan santai, padahal dari apa yang ia ketahui bahwa hubungan seperti ini cukup berat. segala sesuatunya harus ia pertanggung jawabkan, terlebih dalam keyakinnanya pria adalah imam yang berarti pemimpin. apa jadinya jika pimpinan Yuli sendiri bukan pemeluk agama yang sama dengannya?
"Ya Allah maaf," gumam Yuli memelas.
__ADS_1
LIKE JEJAK, JANGAN LUPA FOLLOW DIRIKUUUUđ