
Afifah menikmati pijatan suaminya. Ia merasa kakinya sudah lumayan enteng, tadi benar-benar kaku sekali, dan sakit. Afifah sambil melepaskan hiasan di kepalanya, karena sudah merasa berat sekali kepalanya. Dimas bergegas membantunya, ia dengan telaten membantu istrinya melepaskan hiasan di kepalanya, dan menata rambut Afifah.
“Aku ambilkan baju ganti, ya?” ucap Dimas.
“Nanti aku ambil sendiri saja, Om,” jawab Afifah.
“Kamu masih capek, di sini saja, biar aku saja yang ambilkan,” kata Dimas.
Dimas mengambilkan dres untuk santai di rumah, karena pasti Afifah setelah ini akan membersihkan badannya juga.
“Kok ambilnya daster, Om? Kan mau keluar lagi? Masih ada tamu, aku juga lapar pengin makan,” ucap Afifah.
“Pakai daster dulu saja, nanti kamu ke kamar mandi, bersihkan badanku, lalu aku siapkan gaun kamu untuk keluar lagi,” jelas Dimas.
“Oh begitu?” tanya Afifah.
“Iya dong, kalau mau langsung ganti gaun, tubuh kamu pasti lengket, mending bersihin dulu,” tutur Dimas.
“Iya deh,” ucap Afifah.
Afifah membuka gaunnya, ia langsung berganti pakaian yang tadi diambilkan oleh Dimas. Afifah tidak peduli, dia berganti pakaian di depan Dimas. Dimas yang melihat tubuh Afifah mulus, ia hanya bisa menelasn salivanya.
“Sayang ... kamu ini mancing aku, ya?” ucap Dimas.
“Mancing apa? Aku Cuma ganti baju kok?” jawabnya.
“Tuh buka-bukaan di depan aku?”
“Ya ampun, kayak gak biasanya saja Om lihat tubuhku polos?” jawab Afifah.
“Ya iya, sih? Ini beda lho? Om sudah jadi suami kamu? Jangan mancing ikan ****** raksasa om ya, Fah?” ujar Dimas.
“Ya kalau terpancing, ayo sekarang?” tantang Afifah.
“Kamu lagi capek, nanti kalau sudah tidak capek, biar ritualnya enak. Lagian masih banyak tamu kok, masa mau gituan? Sudah mandi dulu, aku siapkan gaun kamu,” titah Dimas.
Afifah menganggukkan kepalanya. Ia langsung ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya yang lengket. Sedangkan Dimas, ia mengambilkan gaun untuk Afifah yang akan dipakai, juga baju miliknya. Bukannya Dimas yang dilayani Afifah, yang diambilkan baju, tapi malah Dimas yang menyiapkan semuanya. Dimas tidak masalah, karena istrinya sedang lelah. Ia tidak mau istrinya sampai kelelahan, dan akhirnya sakit.
Afifah sudah selesai mandi, Dimas langsung mengambil handuk dan bergegas ke kamar mandi. “Baju kamu sudah aku siapkan, aku mandi dulu ya, Sayang?” ucap Dimas lalu mencium kilas pipi Afifah.
Afifah hanya menggelengkan kepalanya. Ia melihat gaun yang Dimas ambilkan dan di gantung di sisi lemari. Afifah tersenyum bahagia, begitu perhatiannya Dimas padanya, sampai mengambilkan gaun untuknya, menyiapkan baju miliknya juga.
“Bukannya aku yang menyiapkannya, malah suamiku yang menyiapkan semua ini? Aku ini istrinya tapi malah begini? Dia yang repot?” ucap Afifah.
Afifah melepaskan bathrobe nya, lalu ia pakai gaunnya. Dia memoles make up tipis, lalu menata rambutnya. Sudah cukup lama Afifah berdandan, Dimas keluar dari kamar mandi, dia pun siap-siap untuk keluar kamar, karena merasakan lapar.
“Sayang ... aku minta maaf, ya? Malah kamu yang menyiapkan semua ini, padahal aku istrimu,” ucap Afifah.
“Iya, gak apa-apa. Selagi aku ini bisa bantuin kerjaan kamu, aku bantuin. Bukankah suami istri itu harus saling bantu? Saling kerja sama?” ucap Dimas.
“Terima kasih suamiku ...,” ucap Afifah sembari memeluk Dimas dari samping.
__ADS_1
“Sama-sama.” Dimas mengecup kening Afifah. “Aku sudah lapar sekali, Sayang,” ucap Dimas.
“Sama, yuk buruan pakai bajunya lalu keluar,” ajak Afifah.
Mereka keluar dari kamarnya, lalu langsung ke ruang makan untuk makan siang. Dimas dan Afifah sudah merasakan lapar sekali. Mereka tadi pagi sama sekali tidak ada nafsu makan, karena sedang dag-dig-dug memikirkan akad nikah. Baru sekarang setelah sudah lancar semua acaranya, mereka baru merasakan lapar.
Setelah makan siang, mereka kembali menemui tamu. Dimas mengajak Afifah menemui tamunya, ada Salma dan Askara juga, karena tamu mereka juga mengenal Askara, yang tak lain teman bisnis Askara.
“Wah ... ini pengantin baru, Selamat Pak Dimas, dan Afifah,” ucap salah satu tamu.
“Terima kasih, Pak,” ucap Dimas dan Afifah ramah.
“Ini bagaimana konsepnya, Pak Dimas, Bu Salma? Masa kalian sekarang jadi menantu dan mertua?” tanya tamu lainnya.
“Ya beginilah jodoh, Pak? Jodoh kan gak ada yang tahu?” jawab Dimas.
“Padahal dulu kalian berdua pasangan yang sangat serasi sekali, ya namanya sudah jalannya kalian berpisah, mau bagaimana lagi? Sekarang malah jadi menantu Bu Salma?” ucap istri dari rekan bisnis Dimas.
“Ya begini, Bu, jodoh kan misteri, jadi gak bisa kita tebak bagaimana?” jawab Dimas.
“Lagian kalau sudah tidak berjodoh, masa mau dipaksa, Bu? Meski dulu banyak yang bilang kami pasangan serasi, tapi pada kenyataannya, kita berpisah? Semoga saja Dimas dengan putri saya berjodoh sampai akhir hayat mereka. Siapa yang mau pernikahannya gagal ya, Bu? Mungkin setiap pasangan suami-istri, gak akan mau pernikahannya gagal,” ujar Salma.
“Iya betul, Bu Salma,” jawabnya.
Afifah mulai tidak nyaman dengan bahan pembicaraan mereka. Bukannya mereka memberikan selamat, malah bahas masa lalu Dimas. Afifah sedikit kesal, karena tadi orang itu bilang, dulu Dimas dan Salma pasangan yang sangat serasi sekali. Afifah sadar, semua ini pasti akan terjadi, tapi Afifah yang jiwanya kadang masih labil, dia sangat kecewa dan tidak suka dengan orang yang berkata seperti itu. Afifah terlihat masam, senyum ramahnya pudar, ia semakin tidak nyaman, apalagi membahas yang dulu-dulu.
Boleh dikatakan Dimas dan Salma dulu pasangan yang sangat perfect. Salma cantik, Dimas gagah dan tampan sekali. Banyak yang iri dengan mereka, karena Dimas dan Salma benar-benar pasangan yang sempurna sekali. Kehidupannya dulu selalu tersorot, siapa yang tidak tahu Dimas? Dia anak konglomerat, dan pewaris tunggal. Pun dengan Salma. Tapi nasib pernikahan mereka ternyata buruk sekali, saat Dimas bertemu kembali dengan Rani.
“Ehm ... maaf, saya ke sana dulu, ya? Anakku sepertinya sudah tidak betah dengan opanya,” pamit Salma. “Ayo, Yah. Tuh Yusuf mulai rewel,” ajak Salma pada Askara.
Askara menoleh ke arah Yusuf yang sedang digendong Ardha. Memang kelihatan gelisah sekali, mungkin karena dia kecapekan, dari pagi dia bahagia sekali melihat Kakaknya menikah, dan tidak kenal lelah, dia ke sana kemari sangat senang.
“Bunda, ayah ke kamar, ya? Ayah juga capek,” ucap Askara.
“Ya sudah, bunda panggil Yusuf dulu, ya? Biar dia juga istirahat,” jawab Salma.
Askara tidak tahu, kenapa tiba-tiba perasaannya tidak enak setelah mendengar tamu Dimas malah membicarakan soal Dimas dan Salma dulu. Membahas yang sudah berlalu. Bisa dikatakan Askara cemburu, karena ia merasa belum memberikan yang terbaik untuk Salma. Sedangkan Dimas, dulu selalu memberikan yang terbaik untuk Salma.
Salma masuk ke dalam kamar tanpa memawa Yusuf, karena Yusuf maunya sama opanya. Salma melihat Askara yang duduk bersandar di sandaran tempat tidur, sambil tatapannya kosong, seperti orang sedang melamun.
“Yah? Kenapa? Kok melamun?” tanya Salma.
“Siapa yang melamun? Hanya memikirkan Afifah saja, tidak menyangka dia sudah menikah,” jawabnya berbohong.
“Ya bunda juga begitu, Yah, gak menyangka gadis kecil yang buat bunda jatuh cinta, sekarang sudah menikah,” ucap Salma sambil membayangkan saat pertama kali bertemu Afifah.
“Bun, bunda bahagia gak sama ayah?” tanya Askara.
“Lah kok tanyanya begitu? Kenapa?” tanya Salma.
“Ya pengin tanya saja, bunda itu selama menikah lagi dengan ayah bahagia enggak?” jawab Askara.
__ADS_1
“Kalau enggak, mana mungkin bunda sampai sejauh ini menemani ayah? Kalau gak bahagia, gak akan punya Yusuf dong, Yah?” jelas Salma.
“Ya kirain bunda gak bahagia sama ayah,” ucap Askara.
“Jangan bilang ayah bicara begini, karena ayah baru saja dengar ucapan istri dari teman Dimas itu?” ucap Salma.
“Enggak sih, ya memang kenyataannya juga, kan? Bunda dulu bahagia sama ....”
“Ssttt ... jangan bahas itu.” Jari telunjuk Salma menyentuh bibir Askara. “Kita sedang bahagia, anak kita menikah, lalu untuk apa bahas masa lalu? Ayah jangan bilang gitu lagi, ya? Kalau bunda gak bahagia untuk apa bunda bertahan?” ucapnya.
“Ya ayah merasa belum bisa bahagiain bunda,” ucap Askara.
“Sudah, jangan bicara begitu. Sini peluk bunda.” Salma merentangkan tangannya, tapi Askara malah melihatnya saja. “Ayo peluk, nanti giliran ada Yusuf, ayah ngambek gak boleh peluk bunda?” ucapnya.
Askara berhambur ke pelukan Salma. Salma memeluk Askara, dia jelas tahu bagaimana perasaan Askara, karena tadi tamu itu secara tidak langsung membandingkan hidup Salma dulu dengan sekarang.
“Jangan pernah berpikir kalau bunda gak bahagia hidup sama ayah. Bunda sangat bahagia, bahagia sekali,” ucap Salma sambil mengusap kepala Askara yang ada di pelukannya.
“Terima kasih, sudah sejauh ini menemani ayah ya, Bun? Sudah memberikan kebahagiaan yang sempurna dengan kehadiran Yusuf,” ucap Askara.
“Iya, Sayang ... sudah jangan mikir yang enggak-enggak, ya? Bunda mau mandi, lengket sekali badannya, ayah mau ikut mandi?” tanya Salma.
“Ikut?”
“Iya, yuk mandi bareng?” ajak Salma. “Mumpung Yusuf banyak yang jagain. Yuk?”
“Ih bunda? Masa di sini? Lagian kan masih ada acara?” ujar Askara.
“Itu kan acaranya Afifah sama Dimas, Yah? Ya sudah biar saja mereka yang menikmati acaranya? Yuk mandi?” Salma menarik tangan Askara, mengajaknya mandi bersama. Tentunya tidak hanya sekadar mandi saja. Melainkan mereka melakukan kegiatan lain, yang sudah seminggu tidak mereka lakukan, karena mereka terlalu sibuk dengan persiapan acara pernikahan Afifah.
Salma selalu bisa mencairka suasana hati Askara yang kadang tidak baik-baik saja, apalagi kalau sudah menyangkut masa lalunya Salma dengan Dimas. Askara merasa insecure sendiri kalau mendengar cerita Salma dan Dimas dulu, karena Askara merasa belum bisa membahagiakan Salma selama menikahinya. Padahal Salma sudah cukup bahagia, bahkan lebih bahagia dibanding dengan Dimas dulu yang bahagianya hanya sekejap di dalam pernikahannya.
“Yah ini bajunya.” Salma memberikan baju untuk Askara.
“Bunda, sepertinya ayah mau lagi, boleh nambah?” tanya Askara. “Mumpung Yusuf belum nyari kita,” imbuhnya.
“Iya boleh, ayo sini,” ucap Salma memperbolehkan suaminya menyentuh dirinya lagi.
Bukan Afifah dan Dimas yang belah duren, tapi malah Askara dan Salma yang setelah resepsi pernikahan Afifah dan Dimas selesai, mereka langsung eksekusi di kamar. Tidak peduli di depan masih ada pesta yang belum selesai, Askara dan Salma melakukan ritualnya di siang hari, ditengah acara pernikahan putri mereka.
Salma tahu, hanya itu yang membuat Askara tidak ngambek lagi. Apalagi satu minggu Askara belum dikasih amunisi dari dirinya, jadi wajar sedikit-sedikit tersinggung dan ngambekan.
“Sudah puas? Atau mau lagi?” tanya Salma.
“Sudah, tapi nanti jangan mandi dulu, ayah pengin peluk bunda,” jawab Askara.
“Iya, sini peluk bunda. Bayi besarku lagi manja banget nih, ngalahin Yusuf manjanya. Yusuf kalau lagi manja paling di ajak beli es krim langsung diem. Ini bayi gedenya bunda harusnya dikasih berkali-kali dulu, tapi bunda suka kalau ayah merajuk dan manja gini,” ucap Salma sambil menciumi pipi Askara.
“Ya sudah, aku mau sering merajuk sama kamu, biar kamu begini,” ucap Askara sambil tersenyum gemas pada Salma.
Mereka masih bergulung di bawah selimut yang menutupi tubuh polos mereka. Askara masih ingin bermanja dengan istrinya. Ia tidak peduli kalau di luar masih ada acara, yang penting dia bisa bermanja dengan istrinya.
__ADS_1