
Lagi-lagi Afifah mendapat kejutan dari Dimas. Sekarang Afifah merasa seperti simpanan Dimas saja, karena semua itu ia jalani diam-diam dari kedua orang tua dan keluarganya. Apalagi sekarang Afifah sudah kuliah, dan sudah diperbolehkan bawa mobil sendiri. Sudah jarang diawasi lagi oleh sopir. Sekarang lebih sering diawasi oleh Dimas sendiri, tapi Dimas sudah percaya kalau Afifah hanya miliknya.
Dimas pastikan tidak ada cowok yang mendekati Afifah, setiap hari ia pantau Afifah, tapi selama dengan Dimas, Afifah memang jarang berteman dengan cowok, paling teman akrabnya hanya satu, Ayu saja. Itu pun dia jarang sekali keluar dengan Ayu. Seringnya keluar sendiri lalu ketemu dengan Dimas, dan lanjut pergi dengan Dimas. Setelah Rafka ke Kairo, tidak ada lagi cowok yang mendekati Afifah. Karena memang Afifah agak jutek dengan cowok, itu semua karena untuk menjaga diri, supaya tidak ada cowok yang berani mendekatinya.
Hari ini, Afifah bilang pada bunda dan ayahnya, kalau dia kuliah sampai sore, tapi sebenarnya dia pergi dengan Dimas, ke rumah Dimas yang sudah diberikan dirinya. Mereka sering di sana sehari-harinya, hanya kalau jenuh mereka keluar sebentar. Dimas memintanya ke sana, karena ada sesuatu yang ingin Dimas berikan padanya, entah itu apa Afifah tidak tahu.
“Bunda, Afifah kuliah sampai sore, ya?” pamitnya pada Salma.
“Tumben sampai sore?” jawab Salma.
“Ih, bunda lupa, ya? ‘Kan memang kalau hari Kamis aku sampai jam dua lebih selesai kelas? Pasti sampai sore dong pulangnya?” ucap Afifah.
“Oh iya, bunda lupa,” ucap Salma percaya saja, karena memang setiap hari kamis Afifah pulang sampai sore.
Padahal kelas sampai jam sebelas siang sudah selesai, selebihnya ia gunakan waktu dengan Dimas di rumah pemberian Dimas, kadang dia menemani Dimas yang bekerja, karena pekerjaannya selalu dibawa ke rumah. Khusus tiga hari dalam seminggu, waktu untuk Afifah dari siang sampai menjelang petang. Karena selain itu Afifah harus pulang tepat waktu, supaya Salma dan Askara tidak curiga.
“Kamu ini pulang sore ya, Kak?” tanya Askara yang baru keluar dari kamarnya, menuju meja makan.
“Iya, Yah, kenapa?” tanya Afifah.
“Besok saja deh, ayah pengin ngajarin kamu, kamu itu sudah harus bisa urus kantor, Fah. Kamu anak Ayah yang paling besar, iya ada Yusuf, tapi kan masih kecil? Ayah ingin kamu bisa meneruskan perusahaan keluarga kita, sampai menunggu Yusuf gede, karena kamu juga punya hak dan bagian di situ,” jelas Askara.
“Kan ada waktu lain selain hari ini, Yah? Lagian, apa Afifah bisa mengatur perusahaan, Yah?” ucap Afifah.
“Kalau belajar, pasti kamu bisa laah? Apalagi kamu ambil jurusan yang sesuai. Entah kenapa kamu yang tadinya pengin jadi Dokter atau apa kemarin? Designer atau apa itu kamu bilangnya, tiba-tiba kamu malah ambil jurusan Bisnis? Kan sesuai?” ucap Askara.
“Iya nanti kakak belajar, Yah,” ucap Afifah.
Afifah mengambil jurusan Bisnis karena Dimas yang minta. Setiap bersama Dimas di rumahanya, tidak hanya pacaran saja yang mereka lakukan, melainkan Dimas selalu mengajarkan dia bagaimana cara berbisnis yang baik dan menghandle sebuah perusahaan. Dimas sudah mengajarinya sebelum Afifah lulus SMA. Dia mau Afifah harus bisa perempuan yang hebat. Wanita karier yang hebat. Meski Dimas ingin selalu memanjakan Afifah, tapi Dimas mau membekali Afifah ilmu yang nantinya akan berguna untuk Afifah ke depannya. Apalagi keluarganya semua pengusaha sukses, jadi Dimas kira Afifah butuh ilmu yang mumpuni untuk meneruskan perusahaan ayahnya, atau miliknya jika nanti Afifah menjadi istrinya.
__ADS_1
Dimas belajar dari pengalamannya dulu yang gagal mengalihkan Salma untuk jangan jadi Dokter, karena penerus ayahnya bakal tidak ada. Karena Salma memang agak egois dan keras kepala, gak bisa diganggu gugat dengan keputusannya, jadi keinginannya untuk jadi Dokter haurus terwujud. Padahal sia-sia belaka dia jadi Dokter, kerja di dunia Kedokteran juga cukup singkat, tidak ia dalami dan ia tekuni. Tidak seperti keluarga Askara yang lainnya, yang jadi Dokter, semuanya menekuni, karena keluarga mereka juga ada yang memiliki Rumah Sakit, jadi mereka menjalani mendalami dan menekuni ilmu yang mereka dapatkan.
Sekarang, Dimas tidak mau Afifah salah ambil jurusan. Afifah memang pintar, dan pasti sangat mudah kalau masuk Kedokteran. Lapangan kerjanya juga sudah ada, karena keluarga besarnya memiliki Rumah Sakit. Tapi, Afifah juga punya bakat seperti Uyutnya, ya, Thalia yang sampai tua pun masih sama-sama berkiprah dengan suaminya mengurus perusahaan peninggalan orang tua mereka. Dimas juga tidak mau memiliki istri Dokter, yang mungkin waktunya akan terbatas untuk dirinya kalau sudah menikah nanti.
Afifah tahu, Dimas gak mau kalau istrinya kerja tapi tidak sama pekerjaannya dengan dirinya. Dimas maunya bisa sekantor bersama istrinya, urus perusahaan bareng istrinya, jadi tidak mau kalau Afifah meneruskan jejak Salma. Semua Dimas ceritakan pada Afifah, kalau dia gak mau
“Ayah gak tahu saja, aku sudah banyak belajar dari Om Dimas?” ucap Afifah dalam hati.
“Untung kamu gak jadi ambil kedokteran, Fah. Ayah sudah mikir, nanti perusahaan ayah siapa yang bakal meneruskan, iya ada Yusuf, tapi kan masih kecil?” ucap Askara.
“Jadi ayah sebetulnya gak ridho, ya? Kalau Afifah jadi ambil Kedokteran?” tanya Afifah.
“Iya, sebetulnya tidak,” jawab Askara.
“Pantas Afifah langsung belok gak jadi ambil Kedokteran, padahal guru Afifah sudah mempersiapkan persyaratannya untuk masuk Kedokteran biar dapat beasiswa.Eh, ternyata karena Ayah gak ridho. Tapi, Afifah juga pengin sih tahu dunia bisnis yang katanya banyak tantangan. Lebih tepatnya sih pengin seperti ayah,” ucap Afifah.
“Iya sih, kalau bunda dulu gimana waktu jadi Dokter? Suka dukanya begitu?” tanya Afifah.
“Ya banyak suka-dukanya, meskipun bunda sebentar saja terjun menjadi Dokter. Baru lulus gak dibolehin Om Dimas kerja, terus kerja sebentar di Rumah Sakit saja sih waktu itu, lalu ketemu kamu sama ayahmu. Sekarang begini lagi, balik di rumah saja?” jelas Salma.
“Iya sih, singkat juga?” ucap Afifah.
“Makanya tekuni kuliahmu, dan profesimu nanti. Tapi, namanya perempuan ya memang lebih mulia jadi ibu rumah tangga? Ngurus anak dan suami?” ucap Salma.
“Kalau itu pekerjaan yang imbalannya selangit, Bunda,” ujar Afifah. “Kelak juga Afifah akan melakoni pekerjaan itu? Menajadi ibu rumah tangga, urus anak, urus suami?” ucapnya sambil membayangkan kalau dirinya menjadi istri Dimas dan punya banyak anak.
“Ih udah bayangin nikah nih pasti?” sindir Askara.
“Bayangin kan gak apa-apa, Yah? Nanti juga bakal ngalamin begitu?” jawab Afifah.
__ADS_1
“Sudah punya pacar?” tanya Askara.
“Kalau sudah?”
“Gak apa-apa dong? Kan kamu sudah dewasa? Sudah dua puluh tahun masa gak boleh pacaran? Kenalkan dong pacarnya, kalau kamu sudah punya?” pinta Askara.
“Nanti ya, Yah? Nanti bakal Afifah kenalkan sama ayah dan bunda,” jawab Afifah.
“Pacarmu satu kampus? Kakak tingkat, atau seumuran kamu?” tanya Askara.
“Lebih dewasa pastinya dari Afifah. Dia sudah bekerja, pengusaha juga seperti ayah,” jawab Afifah.
“Wow ... pantas kamu semangat, ya? Pengin belajar bisnis?” ujar Askara.
“Iya, karena pacar Afifah dukung itu, Afifah juga banyak belajar dengan dia. Nanti bakal Afifah kenalin,” ucapnya.
Salma hanya diam, Afifah menuturkan kalau dirinya sudah punya pacar, dan pacarnya sudah dewasa. Salma sempat curiga Afifah menjalin hubungan dengan Dimas. Dia sering lihat gerak-gerik mencurigakan mereka yang sepertinya mereka dekat sekali, dan menjalin hubungan.
“Ah jangan berpikiran macam-macam, Salma! Masa sama Dimas? Ya, gak apa-apa sih kalau sama Dimas? Tapi kan Dimas kan bekas suamiku? Terus kalau benar, masa Dimas manggil aku bunda? Jadinya, Menantuku Mantan Suamiku, dong?” gerutu Salma dalam hatinya.
“Nama perusahaan pacarmu itu apa?” tanya Askara.
“Nanti kalau sudah pasti Afifah akan ceritakan semuanya ya, Yah?” jawab Afifah.
Afifah sebetulnya sudah tidak ingin menutupi hubungannya dengan Dimas. Dia sudah lelah umpet-umpetan dengan Dimas. Apalagi hubungannya dengan Dimas sudah semakin dalam, setiap hari bareng terus, sudah seperti suami-istri, bedanya hanya tidak serumah, dan Afifah belum menyerahkan semuanya untuk Dimas, hanya sebatas saling sentuh saja.
Dimas pun demikian. Dia juga sudah pengin jujur dengan Askara, kalau dirinya sudah menjalin hubungan lama dengan putrinya.
“Pengin deh jujur sama ayah soal Om Dimas, soal hubungan aku dengan Om Dimas yang sudah lama terjalin, tapi kok takut, ya? Lebih takutnya sama bunda sih, takut bunda marah, eyang juga. Bagaimana pun mereka pernah bersama di masa lalunya,” batin Afifah.
__ADS_1