Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Keluarga Vero Yang Sebenarnya


__ADS_3

Salma menyiapkan makanan untuk Afifah dan dirinya saat Afifah ganti baju. Salma ingat kalau Afifah nanti sore ingin diantar oleh Vero saat les. Ia mengambil telefonnya untuk menelefon Askara, mau bilang soal Vero yang ingin antar les Afifah, tapi saat mau menelefonnya, Salma mendengar bel pintu berbunyi. Salma mengurungkan niatnya untuk menelefon Askara, biar nanti Afifah yang telefon saja, pamit dengan ayahnya boleh tidak berangkat les dengan Vero.


Salma membukakan pintu depan, ternyata mama dan papa mertuanya datang. Binka dan Zhafran datang karena ingin melihat keadaan Salma yang sudah hamil besar, sudah lama Binka tidak ke rumah Salma, jadi ia ingin menjenguk menantunya. Salma beruntung memiliki dua pasang mertua yang sangat baik dengannya. Ardha dan Alana yang lebih sering mengunjungi rumahnya, juga Zhafran dan Binka yang baik sekali dengan Salma.


“Mama, papa?” sambut Salma langsung memeluk Binka dan Zhafran.


“Kamu sehat, Nak?” tanya Binka.


“Sehat, Ma. Ayo masuk, Ma, Pa,” jawab Salma lalu mengajak mertuanya masuk ke dalam.


“Afifah ... ini ada Opa Zhafran sama  Oma Binka, Nak!” Salma sedikit teriak memanggil Afifah yang sedang di kamarnya. Medengar opa dan omanya datang, dia langsung kegirangan dan keluar dari kamarnya.


“Opa ... Oma ....” Afifah langsung memeluk opa dan omanya. “Opa sama oma kok lama baru ke sini?” tanya Afifah.


“Opa sibuk sekali, Sayang. Ini saja opa baru pulang dari luar kota,” jawab Zhafran. “Kamu sudah gede sekarang, mau SMA ya beberapa bulan lagi?


“Ih masih lama opa? Baru saja Afifah masuk kelas tiga? Masa beberpa bulan lagi? Masih lama, Opa? Masih delapan bulana lagi, orang Afifah di sini belum ada tiga bulan?” jelas Afifah.


“Oh iya, tapi seperti sudah lama pindah ke sini, ya?” ucap Zhafran.


“Papa terlalu sibuk, jadi tahunya kita di sini sudah lama, Pa,” ujar Salma. “Yuk makan siang bareng? Aku masak untuk makan siang agak banyak tadi, soalnya barangkali teman Afifah makan di sini bareng,” ucap Salma.


“Teman Afifah? Siapa cewek atau cowok?” tanya Binka.


“Cowok, Ma. Tuh pacarnya mungkin?” jawab Salma.


“Kamu sudah punya cewek, Fah? Siapa?” tanya Zhafran.


“Ih belum, belum pacaran, Cuma teman saja,” jawab Afifah. “Masa opa gak tahu sih? Apa Opa Ardha gak bilang sama opa?” tanya Afifah pada Zhafran.


“Memang kenapa Opa Ardha?” tanya Zhafran.


“Itu teman Afifah kan cucunya teman Opa Ardha, katanya opa juga kenal? Namanya Opa Alka, cucunya namanya Vero,” jelas Afifah.


“Cucunya Alka? Anakanya Daren mungkin ya, Pa?” tanya Binka pada Zhafran.


“Kamu dekat sama dia?” tanya Zhafran pada Afifah.

__ADS_1


“Iya, opa,” jawabnya.


Zhafran hanya mengangguk, dia tahu siapa Daren. Tidak habis pikir kenapa Ardha malah mengenalkan Afifah pada cucunya Alka itu. Zhafran tahu siapa Daren, dan bisnis Daren itu apa. Daren punya usaha gelap, dia adalah penyuplai miras dan bisnis senjata ilegal di luar negeri. Sudah pasti anak Daren tidak jauh perbuatannya dengan Daren. Entah dari segi suka gonta-ganti pasangan, atau suka berkawan dengan gemerlapnya dunia malam. Entah kenapa Daren bisa jauh berbeda dengan Alka yang tidak seperti itu. Bahkan Zhafran yang lama tinggal di Berlin mengurus perusahaan opanya saja, dia tidak pernah menjamah dunia bisnis gelap dan ilegal.


“Ardha ... Ardha ... apa dia gak tahu sih soal Daren? Okelah kita semua tahu bagaimana keluarga Alka? Tapi, harusnya dia juga tahu bisnis gelap Daren itu apa? Memang sih bisnis Daren itu tertutup, tidak banyak diketahui orang, aku saja tahu karena dulu diajak temanku yang ada transaksi gelap dengan Daren waktu di New York?” batin Zhafran.


“Opa, tahu Opa Alka, kan?” tanya Afifah.


“Ya tahulah,” jawab Afifah. “Tapi, jangan pacaran dulu ya, Fah? Opa sih penginnya kamu fokus belajar saja,” tutur Zhafran.


“Iya, Fah. Benar kata opamu,” sambung Binka.


Afifah hanya mengangguk saja, lagian dia dekat dengan Vero karena dia ingin seperti teman-temannya yang sudah punya pacar. Pengin merasakan seperti temannya berangkat dan pulang sekolah bareng naik motor berboncengan seperti anak sekolah yang lainnya. “Kok Opa Zhafran  sama Oma Binka seperti tidak suka aku dengan Kak Vero, ya? Bunda juga kelihatannya begitu?” batin Afifah.


^^^


Afifah akhirnya diizinkan oleh ayahnya untuk  berangkat les dengan Vero. Padahal Zhafran sama sekali tidak suka cucunya dekat dengan cucunya Alka, yang tak lain anaknya Daren. Zhafran takutnya Vero akan sama dengan papanya yang suka dengan dunia malam dan gonta-ganti pacar.


“Kamu izinkan mereka, Aska?” tanya Zhafran yang masih berada di rumah Askara.


“Ya gak apa-apa sih, Pa? Lagian Vero itu anak yang baik kok. Dia sopan, dia juga pintar, tidak neko-neko anaknya?” jawab Askara.


“Lha sudah jelas kan, Pa? Dia cucunya Om Alka?” jawab Askara.


“Bukan itu, kamu kenal Daren, kan?” tanya Zhafran.


“Tahu lah, Pa?” jawab Askara.


“Kalau kamu tahu, pasti kamu juga tahu Bisnis Daren apa, kan?”


“Bisnis Daren? Dia kan sudah lama jadi pengusaha batubara kan, Pa? Terus punya bisnis properti juga, dan bisnis lainnya katanya. Dia juga sampai luar negeri kadang, malah jarang pulang kalau sudah di sana,” jelas Askara.


“Ya betul sekali, tapi kamu gak akan pernah tahu yang sebenarnya, Askara. Papa saja gak menyangka Daren punya bisnis seperti itu,” ucap Zhafran.


“Maksud papa bisnis apa?” tanya Askara.


“Kamu pasti tidak percaya kalau Daren punya bisnis gelap. Bisa dikatakan dia itu ketua mafia. Ya papa sih juga awalnya tidak percaya, akhirnya papa tahu bisnis dia, papa lihat sendiri, itu pun papa diam-diam, karena bisnis dia tertutup, apalagi dengan kerabat dekat, dia gak akan memberitahunya, bahkan sama papanya saja dia gak berani bilang bisnisnya itu,” jelas Zhafran.

__ADS_1


Zhafran menceritakan semuanya. Dia tahu semua itu juga dari temannya, karena temannya saat itu membutuhkan senjata entah untuk apa. Saat berada di luar negeri Zhafran diajak temannya itu bertemu dengan beberapa orang yang telihat seperti mafia, bertemunya juga di tempat tertutup, tapi Zhafran tidak berani turun dari mobil, ia hanya memerhatikan dari dalam mobil, ternyata Deren bergabung dengan mereka yang membawa koper berisi senjata dan juga barang terlarang seperti narkoba. Zhafran pura-pura tidak tahu apa-apa, dia diam dengan temannya itu, dia bersikap biasa saja, seolah dia tidak tahu apa-apa, dan perlahan memutuskan untuk menjauh dari temannya tersebut, karena bagi Zhafran sudah tidak sehat berkawan dengan orang seperti itu.


“Papa yakin Daren punya bisnis itu?” tanya Askara.


“Yakin, papa lihat sendiri, kok. Papa gak bilang-bilang karena itu tidak penting, toh papa jauh dengan keluarga Alka?” jawab Zhafran.


“Pantas saja Daren terlihat wah sekali, dari rumahnya saja seperti istana begitu?” ucap Askara.


“Papa yakin Dimas pun tahu soal bisnis gelap Daren,” ucap Zhafran.


“Kok papa nebak gitu?” tanya Askara.


“Kamu seperti tidak tahu Dimas saja? Dia terlihat biasa saja, tapi dia punya orang-orang yang kuat di sekitarnya, tapi bukan berarti Dimas juga ikut jejak hitam,” ucap Zhafran.


“Aku kok jadi kepikiran Afifah, ya? Mana dia sedang pergi bareng Vero lagi?” ucap Askara.


“Ya semoga saja sih gak ada apa-apa. Vero masih SMA, masa iya mau seperti papanya? Mungkin bias jadi kalau nanti dia kuliah, dan siap diajari ilmu bisnis oleh papanya. Takutnya nanti Daren itu mengajari anaknya main gelap seperti dirinya,” ucap Zhafran.


“Ya bisa jadi sih, Pa? Apalagi Vero anak satu-satunya Daren kan, Pa?” ucap Askara.


“Iya, Vero anak satu-satunya Daren, dan kamu tahu sampai sekarang Daren saja belum menikah lagi sejak istrinya meninggal. Kamu tahu kan, kematian istrinya Daren saja masih misterius?” ucap Zhafran.


“Iya, katanya meninggal kecelakaan, mobilnya terbakar, dan jenazahnya juga hangus terbakar, tidak tersisa,” jawab Askara.


“Nah itu kejanggalannya, ada yang bilang mobilnya seperti sengaja di bakar, ada yang bilang begini, begitu, gak tahu mana yang benar. Ada juga yang bilang karena mengetahui bisnis gelap Daren, jadi Daren membunuh istrinya,” jelas Zhafran.


Askara berpikir macam-macam, ia takut anak perempuannya kalau sampai pacaran dengan Vero dan sampai menikah nantinya, lalu mengetahui bisnis mertuanya, malah akan bermasalah pada Afifah. “Semoga saja Afifah gak beneran suka sama Vero. Aku gak mau anakku jadi korban. Duh tadi ayah ngizinin mereka jalan dulu lagi?” ucap Askara.


“Sudah, bunda yakin Afifah belum terlalu suka sama Vero, kalau dia suka beneran sama Vero, dia pasti mau-mau saja diajak Vero jalan waktu pulang sekolah tadi? Buktinya Afifah masih mendengarkan selalu nasihat kita?” jelas Salma.


“Iya, mudah-mudahan Afifah gak suka sama Vero. Mama juga takut jadinya, ya sudah kalian diam saja, meskipun sudah tahu soal Daren, biar saja dia menikmati bisnis gelapnya itu, nanti juga ada balasannya,” tutur Binka.


“Nanti papa akan bilang sama ayahmu, dia itu masih sama, sukanya begitu,” ucap Zhafran pada Salma.


“Iya, Pa," jawab Salma.


“Kalian gak usah khawatir, Afifah pasti baik-baik saja,” ucap Zhafran.

__ADS_1


Zhafran sebetulnya juga sedikit khawatir dengan cucunya yang dekat dengan anaknya Mafia. Tapi, Zhafran berpikir positif saja, kalau Afifah tidak apa-apa, dan tidak suka dengan Vero, hanya sebatas teman saja.


__ADS_2