Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Mereka Belum Tahu Siapa Mantan Suamiku


__ADS_3

POV Salma


Aku sudah memantapkan hatiku untuk menggugat cerai Mas Aska. Bagaimana aku tidak mantap untuk berpisah? Sudah tiga bulan dia sama sekali tidak peduli denganku. Tiga bulan yang lalu memang perseteruan kita sedikit mereda. Kami sama-sama saling mengerti keadaan, aku juga mencoba untuk mengalah dan menerima. Hingga tiba waktunya saat kami akan meneguk madu bahagia lagi, Azzura datang, dan dia membawa Mas Aska pergi hingga saat ini Mas Aska juga tidak pernah ke rumahku. Jangankan ke rumahku, sekadar menanyakan kabarku saja lewat chat atau telefon saja tidak?


Untung saja malam itu kami belum melakukannya lagi. Kalau saja aku melakukannya, besar kemungkinan aku hamil, karena malam itu masa suburku. Aku tidak memiliki beban untuk menggugat cerai Mas Aska. Apalagi tidak ada kabar darinya, tidak pernah bertemu, karena Mas Aska di Singapura menemani Azzura berobat. Keluarga Mas Aska juga cuek denganku, mungkin mereka marah denganku karena aku tidak mau mengerti keadaan. Harusnya mereka yang mengerti perasaanku bukan aku yang harus mengerti mereka.


Tiga bulan lamanya, dan sebelum itu Azzura datang ke rumahku, meminta Mas Aska pulang, meminta Mas Aska lagi, dengan berdalih untuk menemani saat-saat terakhirnya. Aku berusaha mempertahankan Mas Aska, tapi ternyata Mas Aska berubah pikiran, tidak sesuai dengan kata-katanya sebelum Azzura datang. Mas Aska bilang, apa pun yang terjadi, dia akan tetap bersamaku, meski harus menemani Azzura dia akan membagi waktu seadil-adilnya. Iya, adil saat itu, tapi hanya satu minggu, setelah Azzura kembali, dan meminta dirinya ikut dengannya, Mas Aska bak ditelan bumi, sampai sekarang tidak ada kabarnya.


Sudah tiga bulan dia tidak ada kabar, jadi aku sudah bisa mengajukan gugatan cerai dengannya. Aku sudah tidak mau menjalani hubungan toxic seperti ini, di mana aku yang selalu mengalah, aku yang selalu tersakiti. Silakan urus Azzura, aku tidak peduli, semoga saja jalanku menggugat cerai Mas Aska akan dipermudah, karena tidak mungkin Mas Aska akan pulang hanya untuk menghadiri sidang cerai. Perusahaannya saja yang ngurus adil laki-lakinya sekarang.


Malam ini aku sudah mempersiapkan semua berkas untuk aku ajukan ke pengadilan agama. Aku akan menemui pengacaraku, setelah selesai dan aku dinyatakan sah berpisah, aku akan pulang, aku akan hidup dengan ibu, aku tidak akan lagi menginjakkan kakiku di kota ini, aku tidak akan lagi mengenal keluarga Askara yang sok, yang selalu merasa paling benar, dan membenarkan soal poligami yang seperti ini. katanya wajar Askara yang peduli dengan Azzura, karena Azzura sedang sakit, dan aku harus sabar, menunggu Askara pulang, toh nantinya akan kembali lagi denganku. Semua bicara seperti itu, seolah aku ini perempuan yang mau-mau saja diperlakukan seperti boneka.

__ADS_1


Apalagi Oma Nadia, katanya aku harus sabar, kalau cinta dan jodoh tidak akan ke mana, aku harus bersabar menunggu Askara kembali, dan menerima keadaan kalau Askara harus fokus pada Azzura lebih dulu. Memang aku ini wanita yang hatinya sekuat baja, dan mau meratapi nasib seperti itu? Enak saja bilang aku harus sabar dan harus menanti Askara kembali. Katanya dulu Oma juga begitu, waktu Opa Dev fokus pada istri pertamanya. Wajar Oma Nadia mengalah, dia istri kedua? Aku ini istri pertama, gak terima dong diperlakukan macam ini?


Biar saja, semua keluarga Askara membenciku. Aku tidak mau mendengarkan ucapan mereka lagi. Mumpung aku belum diberikan keturunan dengan Askara, jadi aku tidak ada beban untuk pergi dari hidupnya. Hanya bunda, iya bundanya Askara yang bisa mengerti perasaanku, dan bunda yang merelakan aku menggugat Askara, karena bunda tidak ingin melihatku sakit hati menunggu Askara yang tidak pasti kapan kembali. Ini sudah tiga bulan, dan aku akan melayangkan surat gugatan, karena aku sudah memantapkan diriku untuk berpisah dengan Mas Aska.


^^^


Selesai sudah.


“Senang ya? Jadi janda lagi! Memang nasib kamu ya, Sal? Ditinggalkan suaminya lagi. Makanya jadi istri itu jangan egois!” ujar Nina yang tiba-tiba ke pengadilan agama untuk menemuiku. Dia juga bersama dengan Risya. Dua iparku yang paling sok tahu, dan paling sok benar!


“Egois yang bagaimana ya, Kak? Apa aku harus pasrah saja diperlakukan seperti ini oleh suamiku? Kamu pernah gak ngerasa kalau kamu jadi aku? Bisa gak ngerasain seperti aku? Atau kamu pengin suami kamu nikah lagi? Iya, pengin? Biar kamu tahu rasanya gimana?” ujarku dengan sinis.

__ADS_1


“Perempuan tidak tahu diuntung kamu ya, Mbak?” ujar Risya.


“Gak tahu diuntung? Memang Askara ngasih apa sama aku? Rumah mewah? Mobil mewah? Atau aset perusahaan? Mana ada dia ngasih semua itu, orang semua hartanya sudah dialokasikan pada Afifah? Rumah saja itu bekas rumah dengan Zura, dan kamar juga iya, udah bekas Azzura, pakai acara aku diusir! Itu kamu lihat mobilku yang mungkin lebih mahal dari mobil kalian, itu mobilku sendiri! Gak ada sangkut pautnya dengan Askara!” ucapku.


Gila, dia bilang aku perempuan yang gak tahu diuntung? Aku untung apa selama dua tahun sama Askara? Aku punya apa-apa mutlak milikku, bukan dari Askara. Selama tiga bulan saja dia gak pernah ngasih nafkah lahir maupun batin? Untung saja rekeningku yang dari Dimas masih penuh dan gak pernah aku usik. Dan aku ingin memperlihatkan saldoku berapa pada mereka, mungkin bisa untuk membeli rumah mereka beserta isinya, dan mungkin bisa untuk membeli perusahaan Askara?


“Dengar ya kalian! Aku selama menikah dengan Askara, tidak pernah diistimewakan sama sekali, semua serba bekas dari Azzura, dan ternyata dia dibawa pergi Azzura! Dan dengar nih! Aku gak butuh uang Askara. Coba nanti tanyakan Askara, berapa uang yang dia keluarkan untukku, selama dua tahun dia menikahi aku? Suruh dia jumlah semuanya! Atau begini saja, sini rekening kalian, mau minta berapa? Sepulu juta? Seratus juta? Lima ratus juta? Atau satu milyar! Aku sanggup kirim ke rekening kamu sekarang! Oke kamu lihat aku ini hanya perempuan biasa, dari kota kecil, dan ibuku hanya punya toko, aku juga hanya seorang dokter yang gajinya gak seberapa, tapi kamu minta uang satu milyar sekarang akan aku kasih! sekarang tanpa nanti!” ucapku menantang mereka.


Mereka hanya diam, tidak bicara lagi. Aku tidak peduli dengan uang yang aku pamerkan tadi, itu uang milikku dari Dimas. Ya Dimas sampai sekarang masih memberiku uang. Meski hanya dua ratus juta perbulan, dan aku sama sekali tidak pernah menyentuh uangnya selama aku berpisah dengan Dimas. Mereka tidak pernah tahu, kalau mantan suamiku masih menyuntikkan dana setiap bulan untukku, dan semua usahanya diatas namakan namaku. Mereka juga tidak pernah tahu bagaimana kehidupanku sebelum bertemu Askara. Mungkin mereka kaya, iya siapa yang gak kenal dengan anak cucu Alfarizi, dan anak cucunya Devano, mereka orang kaya raya, tapi mereka tidak tahu Dimas Wiharjono itu siapa. Mereka belum tahu siapa mantan suamiku.


“Kenapa diam? Ayo ikut aku ke bank, aku ambilkan uang untuk kalian, kali saja mau buat shoping atau buat perawatan kalian?” tantangku.

__ADS_1


__ADS_2