
Hari ini, hari yang tidak dinantiu-nantikan oleh Afifah. Karena, Afifah harus melepaskan kepergian Dimas ke London. Tidak mudah untuk Afifah jauh dengan Dimas, apalagi ia baru memperbaiki hubungannya dengan Dimas kemarin, setelah dia selalu uring-uringan dengan Dimas selama hampir satu tahun. Ternyata setelah baikan malah akan ditinggal Dimas ke London.
“Om, jangan lama-lama ih di sananya?” ucap Afifah dengan manja, padahal di depan ayah dan bundanya yang juga akan mengantarkan Dimas ke Bandara.
“Kenapa memang kalau Om Dimas lama di sana, Fah?” tanya Askara.
“Gak ada yang traktir makan steak lagi, Yah! Gak ada yang beliin buku-buku yang Afifah suka, terus Afifah kan jadi gak punya om yang jahil?” jawab Afifah. Padahal bukan seperti itu yang ada di dalam hati Afifah. Ia tidak ingin Dimas lama-lama di London karena dia tidak mau menanggun rindu yang berkepanjangan, apalagi sampai lima atau enam tahun lamanya.
“Ya nanti kalau Om Dimas sudah selesai pekerjaannya kan pulang, atau nanti deh kita sesekali liburan ke London, kalau adikmu sudah besar,” ujar Askara.
“Benar begitu?” tanya Afifah dengan raut wajah bahagia.
“Iya, nanti menunggu tiga tahun lagi, kan adikmu sudah besar?” jawab Askara.
“Yah ... Om gak lihat kamu lonching dong, Sayang? Nanti kalau sudah melahirkan harus kasih kabar, harus video call, aku mau lihat nih jagoanku lahir?” ucap Dimas.
“Lagian kamu pergi dadakan kayak tahu bulat!” tukas Salma.
“Namanya juga ada pekerjaan, Sal? Mana mau sih aku pergi, aku penginnya di sini saja sebetulnya, karena sudah terlanjur kerja sama dan tanda tangan kerja sama, ya sudah harus begini?” jelas Dimas.
“Pokoknya di mana pun kamu berada, harus kasih kabar sama ibu, Dimas. Ibu bakalan kangen sama kamu. Baik-baik di sana, ya? Kerja yang fokus, supaya berhasil, gak usah main-main sama perempuan yang gak jelas! Kalau sudah ada yang buat seriusan, cerita sama ibu, kalau baik dan cocok untuk kamu, ibu akan restui apa pun pilihan kamu. Ibu pengin lihat kamu menikah lagi, Dimas,” ucap Bu Mila.
Bu Mila tidak ingin Dimas sendiri terus, apalagi Salma sudah bahagia bersama Askara, dan sebentar lagi akan memiliki anak. Sampai sekarang Dimas belum menemukan perempuan yang cocok untuk pendamping hidupnya setelah cerita cintanya kandas dengan Renata, dan perempuan lain yang dikenalkan dengan Bu Mila. Bu Mila kira, Renata yang bakal menjadi pendamping Dimas, ternyata hubungan mereka malah kandas di tengah jalan.
“Ibu, santai saja, nanti jug Dimas akan dapat jodoh yang terbaik?” jawab Dimas.
“Tapi kapan, Dimas? Mumpung ibu masih ada, kamu jangan menunda-nunda dong?” ucap Bu Mila penuh harap.
“Santai, Ibu ... Yang penting nanti dapat jodoh, entah enam atau tujuh tahun lagi?” jawab Dimas dengan menyunggingkan senyumannya.
“Memang enam atau tujuh tahun itu waktu yang singkat? Ibu ini sudah tua, ibu ingin lihat kamu bahagia, dengan pasangan kamu, Dimas,” ujar Bu Mila.
“Iya cepat, kalau gak dirasain, Bu? Sudah ibu tenang saja, nanti juga Dimas akan nikah kok? Doaka saja, semoga jodoh Dimas didekatkan, dan pastinya yang terbaik,” ucap Dimas.
Dimas, memandngi Bu Mila yang sangat berharap Dimas segera memiliki pasangan hidup. “Aku itu nunggu cucu ibu, aku penginnya Afifah, Bu. Aku akan menunggu dia dewasa, Bu,” ucap Dimas dalam hati.
__ADS_1
“Ibu kira kamu akan dengan Renata, dia baik, cantik, pintar, kurang apa sih kok sampai putus?” ucap Bu Mila.
“Renatanya yang minta putus, ya sudah aku bisa apa? Toh dia maunya sama cowok di bawah umur, Bu. Ya biar saja, biar dia bahagia,” jawab Dimas.
“Cowok di bawah umur bagaimana, Dim?” tanya Askara.
“Ceritanya panjang, nanti saja, tunggu aku pulang ceritanya,” jawab Dimas.
“Astaga ..., harus gitu ceritanya enam tahun lagi?” cebik Salma.
“Iya harus. Pokoknya nanti aku ceritain kalau aku pulang, atau bisa tanya sama Afifah saja,” ucap Dimas.
“Apa hubungannya Renata sama Afifah?” tanya Askara.
“Nanti diceritain bunda sama ayah, ya? Kalau kamu sudah siap cerita,” ucap Dimas pada Afifah.
“Nanti kapan-kapan aku akan ceritakan semuanya, Om,” jawab Afifah.
“Ada yang kalian sembunyikan?” desak Salma.
“Enggak, paling soal Renata,” jawab Dimas.
“Ya sudah aku pamit, ya? Pesawatku sebentar lagi,” pamit Dimas.
Dimas memeluk Bu Mila, lalu memeluk Askara. Ia sebetulnya sangat berat meninggalkan Afifah, tapi mau bagaimana lagi, semua itu demi pekerjaannya. Dimas memeluk Afifah, dia mengusap kepalanya dengan sayang. “Jaga diri baik-baik, gak usah pacaran, sekolah yang bener, harus mempertahankan peringkatmu, pokoknya jangan bandel. Nurut sama bunda dan ayah,” tutur Dimas.
“Iya Om,” jawab Afifah. Afifah kembali memeluk Dimas dengan erat. Ia tidak rela sekali Dimas akan pergi jauh dan kembali dalam waktu yang lama.
“Afifah bakal kangen, Om,” ucap Afifah.
“Sama, Om juga,” jawab Dimas. “Jaga dirimu baik-baik, tunggu Om pulang, Om sayang kamu.” Dimas bicara dengan berbisik, supaya Askara dan Salma tidak mendengarkan.
“Hmm ....” Afifah melepaskan pelukannya Dimas. Dengan mata berkaca-kaca Afifah menatap wajah Dimas.
“Sudah gak usah nangis, cengeng sekali kamu!” Dimas mencubit pipi Afifah sembari mengusap kepalanya.
__ADS_1
“Gak ada lagi teman berdebat, gak ada lagi orang yang usil, gak ada lagi yang traktir aku makan steak semauku. Ahhh ... kenapa Om pergi, sih!” Afifah menangis memeluk Dimas.
“Afifah, Om nya kan mau kerja, kamu kayak anak kecil sekali sampai nangis?” ujar Askara.
“Lagian ayah kalau diajak makan steak saja gak pernah mau? Bunda juga? Cuma Om Dimas yang selalu ajak Afifah? Sekarang malah mau pergi?” gerutunya sambil bergelayut manja pada Dimas.
“Ya sudah nanti Om temani kamu makan steak, tapi virtual dulu, ya?” gurau Dimas.
“Mana enak sih! Sudah sana berangkat! Take care ya, Om?” ucap Afifah.
“Oke, kamu jaga diri baik-baik, gak usah neko-neko, belajar yang serius, gak usah ngurusin yang namanya Vero lagi,” tutur Dimas.
“Iya cerewet!” cebiknya.
Afifah melepaskan Dimas berangkat ke London, rasanya ada yang hilang dari hidup Afifah melihat pesawat yang ditumpangi Dimas lepas landas.
“Aku akan menunggu Om pulang. Aku janji akan membuat bunda dan ayah bangga, Om. Dan semoga Tuhan mempertemukan kita di hari baik kita,” ucap Afifah dalam hati.
Askara mengajak pulang Afifah setelah mengantarkan keberangkatan Dimas. Askara melihat jari manis Afifah yang tersemat cincin berwarna perak. Askara meraih tangan Afifah dan melihat cincin yang melingkar di tangan Afifah.
“Cincinmu baru, Fah? Kok ayah baru lihat?” tanya Askara.
“Iya, baru. Baru kemarin, beli bareng-bareng sama teman. Couplean gitu,” jawab Afifah bohong, karena itu cincin yang dibelikan Dimas.
“Oh ayah kira dari Vero?” ucap Askara.
“Ih gak usah sebut nama dia lagi! Orang menjijikan, sama tante-tante kok mau!” tukas Afifah.
“Maksudnya?” tanya Askara.
“Ini yang mau Afifah bilang sama ayah, sama bunda, dan eyang,” jawab Afifah.
“Soal Renata?” tanya Salma.
“Iya, Bunda. Tanter Renata pacaran sama Vero. Kemarin siang pulang sekolah, pas aku ke Mall sama Om Dimas, kami memergoki mereka, dan mereka pacaran di apartemen Tante Renata. Mereka melakukan hal yang menjijikan. Afifah ada bukti kok, tapi Ayah, Bunda, dan Eyang jangan bilang sama Opa Ardha dulu, ya? Nanti urusannya tambah panjang,” ujar Afifah.
__ADS_1
“Iya, Ayah gak akan bilang, coba kasih lihat Ayah,” pinta Askara.
Afifah memberikan ponselnya, dia memperlihatkan foto-foto Vero dan Renata, juga videonya. Askara tidak menyangka kalau Vero dan Renata bisa segila itu. Askara meminta video itu pada Afifah untuk bukti pada jika Alka menanyakan hubungan Afifah dengan Vero, lalu Askara menghapus video dan foto yang ada di ponsel Afifah. Bu Mila dan Salma pun tidak menyangka Renata suka dengan anak SMA, dan itu adalah Vero.