Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Mendapat Kado Dari Rafka


__ADS_3

Malam hari semua berkumpul di rumah Askara. Zhafran dan Ardha tidak mau melewatkan hari bahagia cucu perempuan satu-satunya, dan kesayangannya itu. Meskipun sudah terlewat sehari, mereka tetap memberikan kejutan untuk Afifah. Semua berkumpul di rumah Afifah. Wajar Ardha dan Zhafran dekatnya dengan Askara, karena hanya Askara yang rumahnya paling dekat dengan mereka, sedangkan Nina, kakak Askara, dan Risya adik dari Askara, mereka semua ikut bersama suaminya di luar kota. Jadi bersama mereka hanya hari tertentu saja, itu pun bisa bertemu hanya sehari atau dua hari saja.


Zhafran dan Ardha memberikan kado untuk Afifah, pun dengan Alana dan Binka. Di ulang tahunnya yang ke tujuh belas, Afifah mendapatkan kado terindah dari semua orang yang menyayanginya. Tapi kado yang paling membuat Afifah bengong adalah rumah dari Dimas, yang di atas namanya dirinya.


“Ini cucu opa sudah tujuh belas tahun, mana pacarnya?” tanya Zhafran.


“Uhuk!!!” Afifah tersedak, mendengar opanya tanya soal pacar. “Ah, belum mikir ke situ, Opa,” jawabnya.


“Katanya kemarin ada yang suka? Siapa kak namanya? Yang tiap hari nungguin kamu di depan gerbang sekolahan, meskipun kamu nolak, dia ngejar kamu terus, siapa namanya? Oh, iya, dia ketua OSIS sebelum kamu, kan?” tanya Askara.


“Oh, Rafka? Iya dia suka Afifah, tapi Afifah gak suka sama dia. Tadi juga dia ngasih kado, tapi belum aku buka, aku taruh di loker sekolah, ketinggalan pas habis olahraga, selesai olahraga aku lupa gak ambil lagi,” jawab Afifah.


“Kok begitu? Jangan begitu dong, Fah? Meskipun kamu gak suka, tetap hargai pemberiannya. Jangan begitu lain kali, ya?” tutur Ardha.


“Zaman sekarang itu orang pada nekat, Fah? Kadang cinta ditolak dukun bertindak, atau mungkin cintanya ditolak, dijadikan bahan incaran untuk dicelakakan? Ngeri! Makanya kalau kamu gak suka sama orang, kamu tanggapi biasa saja, kamu terima dia kasih apa, dan jangan terlalu terlihat mencolok tidak suka di depannya. Karena bisa-bisa orang itu menaruh dendam padamu,” tutur Zhafran.


“Betul kata opamu, Eyang kemarin bilang sama kamu juga, masih ingat, kan? Jangan buat sakit hati seseorang, apalagi cowok, takutnya akan seperti itu, malah dia balas dendam yang gak baik sama kamu,” ujar Bu Mila.


“Iya sih, Afifah lupa kok, bukan karena tidak mau menerima kado dari dia? Besok aku ambil, nanti jelasin juga ke Rafkanya,” ucap Afifah.


Afifah sebetulnya sengaja menaruh di lokernya, toh kunci loker sekolahan dibawa Afifah sendiri. Afifah sengaja meninggalkan di sana, karena ia menghargai perasaan Dimas, yang tadi siang sepulang sekolah akan mengajaknya jalan. Jadi, Afifah tinggal saja di loker kado dari Rafka.

__ADS_1


Dimas yang mendengarnya hanya diam, ia sesekali melirik Afifah yang duduk di depannya. Seakan ia menunjukkan tidak suka dan cemburu mendengar Afifah mendapatkan kado dari cowok lain. Apalagi dari Rafka.


^^^


Rafka cowok yang sederhana, dia pintar, rajin, pintar juga masalah agama, dia juga pernah jadi juara Qori. Tidak salah Rafka seperti itu, karena dia berasal dari Trah Pesantren, tapi Rafka memilih sekolah di luar dari jalurnya, tidak seperti kakak dan adiknya. Meskipun begitu, dia tetap menjadi kebanggaan Abah dan Ummiknya, juga kakak perempuan dan adik laki-lakinya. Meski menyeleweng sendiri, Rafka tetap menjaga apa yang Abahnya tuturkan.  Padahal Rafka adalah harapan Abah dan Ummiknya agar kelak bisa memimpin pesantren menggantikan Abahnya. Tapi, mau bagaimana lagi, sejak SMP Rafka sudah ingin keluar jalurnya. Hanya keluar jalur sekolahannya saja, tapi tetap saja hari-harinya ia di pondok mengikuti kegiatan di sana.


Pacaran, sebetulnya Rafka pun tidak diperbolehkan untuk pacaran, karena keluarganya pasti sudah menyiapkan calon untuknya, entah itu dengan santri mana, dan anak dari Kyai siapa, Rafka tidak tahu. Tapi, ia yakin sudah pasti keluarga besarnya akan seperti itu. Meskipun ia sudah mendapat lampu hijau dari Abahnya yang katanya Abah dan Ummiknya tidak mau ikut campur soal jodoh, yang terpenting berakhlak baik, dan sholehah. Namun tetap saja Rafka waspada, barangkali suatu hari Ummik dan Abahanya berubah pikiran.


Putus dengan Alinka pun karena hal konyol. Ya, menurut anak SMA zaman sekarang sih itu hal konyol, tapi bagi Rafka itu bukan hal konyol, melainkan musibah bagi dirinya kalau dia memenuhi permintaan Alinka. Alinka gadis berjilbab yang gayanya mengikuti zaman sekarang meskipun sekolah memaki jilbab. Rafka kira, dengan Alinka yang berjilbab, Alinka tidak meminta hal yang aneh pada Rafka. Sebab itu Alinka minta putus, dan mengecap Rafka itu cowok yang sok suci, sok alim, dan sok takut Dosa. Bagaimana Rafka tidak menolak? Alinka minta dicium? Rafka jelas tidak mau, jangankan mencium Alinka, jalan saja biasa saja, gandenga tangan juga yang gandeng Alinka nya bukan Rafka.


Setelah melihat Afifah, entah kenapa Rafka langsung dibuat jatuh hati dengan Afifah. Rafka jatuh hati dengan Afifah karena dia memang pintar, di samping itu Afifah memang cantik dan anggun sekali. Meskipun sekolah tidak memakai jilbab, dia memakai seragam yang sesuai dengan aturan. Kadang ada siswa yang pakaiannya tidak sesuai dengan peraturan sekolah.


Rafka masih menunggu balasan dari Afifah. Ia akan tanya pada Afifah kadonya suka atau engak, tapi dari tadi masih centang satu saja whatsApp nya.


“Apa nomorku diblokir Afifah? Aku semakin penasaran sekali dengan dia. Dia itu anak papi, atau benar tidak mau pacaran dulu, atau mungkin dia sudah punya pacar? Karena tadi saat di sekolah ada yang bilang padaku, Afifah dijemput cowok tampan sekali, tapi lebih dewasa darinya,” batin Rafka.


Rafka masih tercenung di Gazebo halaman rumahnya, ia belum ke pondok, karena masih ingin sendiri dulu, dan menanti balsan dari Afifah.


“Kamu masih di sini rupanya, Raf?” tanya Abah Furqon.


“Iya, Bah. Nanti deh Rafka ke sana. Masih ada yang ngisi materi juga, kan? Kan belum jadwalnya Rafka, Bah?” jawab Rafka.

__ADS_1


“Ini sudah mau jam sembilan, Raf. Harusnya kamu sudah di sana menggantikan Rosyid,” tutur Abah.


“Iya sebentar lagi, Bah,” jawabnya.


“Roman-romannya kamu lagi galau nih? Jangan bilang masalah cewek nih?” ujar Abah.


“Yah, manusiawi, Bah? Cowok ya mikirin cewek?” jawab Rafka. “Sudah, Rafka ke pondok dulu, Bah! Abah istirahat jangan capek-capek.”


“Iya, ini saja baru istirahat, oh iya, Abah mau tanya sama kamu, kamu jadi mau kuliah di Kairo?” tanya Abah.


“Jadi lah, Bah,” jawabnya.


“Jadi sampai S2 di sana?”


“Sekalian S3 kalau Abah dan Ummik meridhoi,” jawab Rafka.


“Ya jelas Abah ridho, Raf. Masa tidak?” ucap Abah. “Makanya persiapkan dari sekarang!” tuturnya.


Rafka hanya mengangguk saja, sebetulnya dia sudah mendapatkan beasiswa kuliah di Kairo, tapi ia masih rahasiakan semua itu dari Ummik dan Abahnya.


Kira-kira Rafka bisa mendapatkan cintanya Afifah gak nih, Para Pembaca Tericinta?

__ADS_1


__ADS_2