Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Pindah


__ADS_3

Askara masih duduk di sebelah Afifah yang masih berbaring di tempat tidurnya. Panasnya belum juga turun, dan mulutnya masih terus memanggil bundanya. Askara tidak tahu harus bagaimana lagi, dia sudah berusaha menghubungi Salma, tapi jawaban Salma seperti itu. Seakan tidak mau menemui Afifah.


“Bunda .... Fifah kangen ....” Rintih Afifah dengan mata terpejam.


“Kamu sabar ya, Sayang? Bunda akan ke sini, percayalah. Tadi ayah sudah telefon bunda, supaya bunda ke sini, Nak,” ucap Askara di samping telinga Afifah, tapi Afifah masih belum sadar betul, dia hanya mengigau memanggil bundanya.


“Maafkan Fifah bunda ... bunda jangan pergi lagi.”


Askara menangis melihat putrinya merintih memanggil Salma. Hatinya sakit melihat putri satu-satunya terus mengigau memanggil bundanya.


“Sal, bencilah aku semaumu, tapi jangan buat Afifah seperti ini. Dia yang kumiliki sekarang. Hanya Afifah satu-satunya yang kumiliki. Tolong buka hatimu untuk menepikan dendammu dulu padaku dan Fifah. Hanya untuk Fifah, bukan untuk aku, Sal,” ucap Askara.


Askara menangis sampai sesegukkan melihat putrinya terbaring lemah di tempat tidurnya. Dia tidak beraani bilang dengan bundanya, atau budhenya kalau Afifah sakit dan memanggil bundanya terus. Yang ada kalau Askara bilang, pasti mereka semakin menyalahkan Salma. Karena mereka seperti sudah tidak menyukai Salma.


“Fifah, sembuh ya, Nak? Kita nanti ke rumah bunda lagi,” ucap Askara dengan mencium kening Afifah.


Askara masih mengompres Afifah. Dia terus mengecek suhu tubuh Afifah. Afifah mengerjapkan matanya, perlahan dia membuka matanya.


“Ayah, tadi bunda ke sini ya?” tanya Afifah.’


“Kok kamu tanya gitu?”


“Tadi Afifah merasa bunda di sini, nemenin Fifah, dan memeluk Fifah,” ucapnya.

__ADS_1


“Bunda belum ke sini, Nak. Sabar ya? Pasti bunda ke sini, kok,” jawab Askara. “Sekarang kamu makan, ya? Nanti pasti bunda ke sini.”


“Gak mungkin, Yah. Bunda kan udah benci sama Fifah? Bunda gak mungkin ke sini, Yah. Biar saja, mungkin bunda udah senang dengan Om Dimas, jadi lupa sama Fifah. Buktinya kemarin kita ke sana, kita nunggu sampai malam bunda gak pulang-pulang,” ucap Afifah.


“Ya karena bunda sedang ada kepentingan, jadi bunda lama pulangnya. Makan, ya? Kalau kamu sembuh, besok ayah ajak kamu ke Jogja,” ucap Askara.


“Yah, Ayah kemarin kan ngajak Fifah pindah ke Jogja? Yuk pindah ke sana saja? Toh sama-sama berdua, gak di sini gak di Jogja. Cari suasana baru di sana, Yah. Supaya aku bisa melupakan bunda, kan bunda udah nikah sama Om Dimas, pasti lupa kan sama aku? Kalau aku di sini terus, kapan aku lupa sama bunda? Di kamar penuh foto bunda? Afifah tahu, ini salah Afifah, tapi kenapa Afifah sudah minta maaf tapi bunda masih marah?”


“Iya nanti kita pindah ke Jogja, ayah urus dulu surat pindah sekolah kamu, ya? Sudah sekarang makan, mau sembuh, kan? Please ... jangan sakit, ayah hanya punya kamu, Nak,” ucap Askara dengan mata berkaca-kaca.


“Iya, ini Afifah mau makan kok. Afifah akan temani ayah sampai kapan pun. Afifah gak akan ninggalin ayah, Afifah janji,” ucap Fifah.


“Ya sudah makan yang banyak,” ucap Askara.


“Iya, sayang. Yang penting kamu sehat dulu,” ucap Askara.


Askara menyuapi Afifah. Askara tidak menyangka Afifah akan bicara sedewasa itu, dia bilang akan menjaganya sampai kapan pun, akan menemaninya sampai kapanpun. Askara semakin  merasa bersalah dengan Afifah, karena dirinya terlalu menuruti apa kata Azzura.


“Semua karena Azzura, Afifah jadi begini. Jadi kehilangan Salma. Dulu waktu Afifah kecil, dia juga kehilangan kasih sayang seorang ibu, karena Azzura pergi entah ke mana. Setelah Afifah menemukan bahagia, bertemu Salma, merasakan kasih sayang seorang ibu dari Salma, kini Afifah kembali kehilangan sosok bundanya, dan itu disebabkan karena Azzura. Dia yang begitu jahat, bukan Salma. Dan aku pun jahat dengan Salma. Salma ... apa aku harus berlutut di kakimu, supaya kamu memaafkanku, dan mau menemui Fifah lagi? Aku tidak mengharap bisa kembali padamu, karena aku tahu kamu tidak sudi lagi. Aku hanya berharap kamu temui Afifah, jangan cuek Afifah, dia begitu sayang denganmu, Sal,” gumam Askara.


Afifah baru saja selesai makan, mau tidak mau dia harus menghabiskan makannya. Dia ingin sembuh, dia tidak mau membuat ayahnya panik dan menangis karenanya. Meski masih sangat merindukan Salma, dia terpaksa menyembunyikan rindunya demi ayahnya, agar ayahnya tidak sedih lagi. Afifah mengambil foto Salma dengan dirinya yang ada di meja belajarnya saat ayahnya menaruh mangkuk kotor bekas buburnya. Afifah memandangi foto-foto bundanya dengan dirinya.


“Bunda ... Fifah mau pindah ke Jogja. Bunda baik-baik saja, ya? Bahagia selalu dengan Om Dimas. Bunda tidak apa-apa kok kalau masih marah sama Afifah, mungkin bunda juga bencindengan Fifah, tapi Fifah sangat menyayangi bunda. Maafkan fifah, bunda. Fifah sudah mengecewakan bunda, dan sudah membuat bunda benci sama Fifah. Tapi, sedikit pun Fifah gak akan pernah benci dengan bunda. Maafkan Fifah, bunda,” ucap Fifah sambil menatap foto bundanya lalu menciumnya.

__ADS_1


Askara melihat Afifah yang sedang mencium foto Salma. Hatinya sakit melihat Afifah yang begitu rindu dengan Salma. Kalau saja Askara punya nomor telefon Salma, dia akan memfoto Afifah dan mengirimkannya ke Salma, biar Salma tahu, betapa rindunya Fifah padanya.


“Salma, bencilah aku sekuat hatimu, tapi jangan benci Fifah, Sal. Dia masih kecil. Dia masih labil perasaannya, tapi lihatlah, dia begitu mencintaimu, dan merindukanmu,” gumam Askara.


^^^


Keadaan Afifah sudah membaik. Seminggu dirinya sakit menahan rindu pada Salma, tapi dalam waktu seminggu itu juga Salma sama sekali tidak menjenguknya. Afifah yakin bundanya itu sudah tidak sudi lagi menemuinya, tapi Afifah yakin suatu hari nanti bundanya akan merindukannya juga.


“Meski bunda sudah tidak mau menemuiku, tapi suatu hari nanti kalau Fifah sudah besar, Fifah akan menemui bunda, Sampai kapan pun, bunda adalah ibunya Fifah, tidak akan terganti bunda,” batin Fifah.


Askara menghampiri Fifah yang sudah siap untuk pergi, kali ini Askara akan mengajaknya ke Jogja. Pindah ke Jogja maksudnya. Sudah selesai semuanya urusan di sekolah Afifah, dan hari ini mereka akan pindah ke rumah barunya di Jogja. Askara ditugaskan ayahnya untuk mengelola usaha ayahnya di sana, jadi Askara harus pindah ke sana. Dia membeli rumah baru untuk ditempati dirinya dengan putri semata wayangnya.


“Sudah siap tuan putri ayah?” tanya Askara.


“Sudah, yah. Aku bawa foto bunda boleh kan, Yah?” tanya Afifah.


“Boleh, bawa saja,” jawab Askara.


“Kita jadi pamit ke rumah bunda dulu, Yah?” tanya Afifah.


“Iya jadi, ayo sekalian berangkat, kita mampir dulu pamit ke rumah bunda,” ajak Askara.


“Oke, ayo berangkat,” ajak Afifah dengan semangat.

__ADS_1


Askara bahagia, anaknya bisa diajak bekerja sama seperti ini. Afifah benar-benar mengerti dirinya, dan sekarang dia hanya ditemani Afifah ke mana pun dia pergi.


__ADS_2