Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
My Little Girl


__ADS_3

Salma terus memutar otaknya, ia sangat penasaran sekali, dan sangat yakin itu cincin dari Dimas, apalagi Salma melihat Dimas juga memakai cincin di jari manisnya, dan sepertinya cincin yang Dimas pakai itu sangat berarti untuk Dimas, karena terlihat binar kebahagiaan saat Dimas melihat cincin yang melingkar di jarinya. Salma yakin cincin yang Dimas pakai itu kemarin beli barengan dengan Afifah, tapi kalau iya masa Dimas sama Afifah? Salma juga sempat berpikir itu cincin milik Rani dulu, mendiang istri Dimas. Tapi, tidak mungkin juga milik Rani? pikir Salma. Salma tak habis pikir kalau itu benar terjadi, apalagi dirinya pernah jadi istri Dimas, masa anak sambungnya jadi pacar mantan suaminya?


“Ini gak lucu!” cetus Salma, dan membuat Afifah menoleh memandangai Salma.


“Gak lucu gimana, Bunda?” tanya Afifah.


“Oh tidak apa-apa. Bunda tadi lagi mikir itu kok ya ada pengamen pakai baju badut yang joget-joget? Mikirnya kalau ayah pakai kostum gitu lucu gak, ya? Tapi, kayaknya gak lucu deh? Ayah kan orangnya serius?” jelas Salma yang ngawur dengan sedikit gugup.


^^^


Salma mencoba menepiskan pikiran negatif tentang Afifah dan Dimas, tapi semakin ia coba semakin terus memikirkannya. Apalagi dia ingat dengan ucapan Dimas tempo hari waktu Dimas mengatakan kalau dirinya sekarang lebih suka anak ABG. Salma jadi terus menerus kepikiran kalau Dimas dan Afifah diam-diam saling suka dan memiliki hubungan.


Mereka begitu dekat, itu yang membuat Salma tak berhasil menghentikan pikirannya untuk tidak memikirkan Dimas dan Afifah. Sepulang dari Bandara, Salma masih saja memikirkannya, Salma masih terus berpikir kalau Afifah ada hubungan spesial dengan Dimas.


Askara melihat Salma yang masih mondar-mandir tidak karuan karena memikirkan anaknya yang kemungkinan besar memiliki hubungan dengan mantan suaminya dulu, yaitu Dimas.


“Sal? Kamu kenapa mondar-mandir dari tadi?” tanya Askara.


“Ayah sini!” Salma menarik tangan Askara lalu mengajaknya ke kamar.


“Ada apa, Sal? Kamu kenapa, sih? Tadi di mobil kamu bayangin aku cosplay jadi pokemon? Sekarang main narik-narik saja? Apa kamu sedang ingin bercinta denganku?” ucap Askara dengan mata genit.


“Ishh ... apaan sih! Bercinta-bercinta! Bunda mau ngomong penting!” ucapnya, lalu Salma melongok keluar, memastikan keadaan depan kamarnya sepi. “Afifah ke mana? Masih di kamarnya, kan?” tanya Salma.


“Iya, masih di kamarnya,” jawab Askara. “Mau ngomong apa sih, Sayang?” tanya Askara.


“Sebentar, sebentar! Bunda mau narik napas dulu! Hmmhh ... huh!” Salma menarik napasnya lalu membuangnya kasar. “Huh!”


“Kenapa sih, Bunda? Hah huh saja?!” Askara seakin penasaran dengan istrinya.


Salma diam, menatap wajah Askara, ia memiringkan wajahnya lalu mengamati wajah Askara dengan seksama.


“Ih ini istriku aneh! Kesambet apa sih kamu?!” Askara semakin bingung dengan istrinya yang begitu.


“Kesambet cincin!” tukasnya.


“Cincin?” tanya Askara.


Salma mengangguk pelan. Ia masih bingung harus cerita dari mana pada suaminya soal kejanggalannya yang ada di hati dan pikirannya.


“Itu cincin Afifah, kayaknya hampir mirip sama cincin yang dipakai Dimas?” ucap Salma.


“Maksudnya? Mirip sama cincin yang dipakai Dimas tadi?” tanya Askara.


Salma  menganggukkan kepalanya cepat. Askara berpikir dan mengingat-ingat cincin yang melingkar di jari Dimas. Kemarin malam memang sempat Askara tanya pada Dimas yang tumben sekali pakai cincin di jari manisnya. Dimas menjawabnya, karena dia ingin diketahui orang-orang sudah memiliki calon istri, padahal masih jomlo. Itu semua karena dia tidak ingin dikejar-kejar perempuan lagi, yang kadang hanya datang dan pergi sesuka hati karena sudah tahu dirinya sakit.


“Ah, iya, sama!” seru Askara.


“Ih, Ayah! Jangan keras-keras!” tegur Salma. “Nanti Afifah dengar!” lanjutnya.


“Apa hubungannya sam Afifah sih?” ucap Askara bingung.


“Itu cincin Dimas mirip sekali modelnya, cuman punya Dimas gak ada permatanya gitu, punya Dimas polos, Yah,” ucap Salma ambigu.


“Sama dengan cincin Afifah maksudnya?” tanya Askara.


“Iya! Serupa tapi tak sama lebih tepatnya!” jawab Salma.


“Ah masa sih? Sebentar Ayah ingat dulu cincinnya Afifah sama punya Dimas bagaimana,” pikir Askara.


“Oh iya hampir mirip kayaknya, Bund?” ucap Askara.


“Makanya Bunda jadi mikir, jangan-jangan Afifah dikasih Dimas? Jangan-jangan mereka dekat, lalu mereka pacaran? Kan, hampir setiap hari mereka bersama, Yah? Masa iya anakku pacaran sama mantan suamiku? Ah ... ini gak lucu, Yah!” resah Salma.

__ADS_1


“Hush, kamu mikirnya gitu banget?” ujar Askara.


“Gimana aku gak mikir ke situ, Ayah? Dimas sendiri kan bilang sekarang dia sukanya sama anak ABG? Masa iya sama Afifah? Boleh sana pacaran sana anak ABG, tapi jangan Afifah dong, ya?” ucap Salma semakin resah.


“Iya, ya, Bund? Kok ayah gak mikir ke situ? Kalau Dimas sampai suka sama Afifah dan Afifah mau bagaimana? Masa aku mau dapat menantu yang tak lain mantan suami dari istriku? Ini sungguh gak lucu, Bunda!” desah Askara.


“Makanya, Ayah ... bunda dari tadi itu bingung begitu? Nanti kalau beneran gimana, Yah?” keluh Salma.


“Kalau benar, kalau jodohnya sih gak apa-apa? Itu nanti,” ujar Askara. “Eh tapi Dimas sudah tua dong? Kasihan Afifahnya ngurus orang jompo nanti? Tapi, kalau ayah lihat sepertinya Dimas sayang sama Afifah? Entah itu sayang sebagai ponakan atau bukan, ayah lihatnya dia sayang sama Afifah.”


“Idih, Ayah dukung nih?!” cebik Salma.


“Ya gak dukung lah! Tapi, kalau memang ada yang menuruni Opa Dev dan Oma Nadia, ya gak apa-apa? Mereka kan jauh sekali umurnya, kayak Dimas sama Afifah,” ujar Askara. ( Yang penasaran cerita Devan dan Nadia, bisa ke *******/******. Judulnya Cinta Tak Salah. Di Bagian Akhir.)


“Aku gak setuju!” tukas Salma.


“Kenapa, cemburu, ya? Mantan suaminya sama anaknya?” ledek Askara.


“Ih apaan sih! Masa cemburu? Kasihan Afifah, Ayah! Masa dapat bekasnya aku? Nanti kalau ada yang ngegosipin dia gimana? Nanti kalau ada yang bilang, ih Afifah, udah dapat om-om, eh bekas ibu sambungnya pula? Kasihan, Ayah? Masih banyak kok selain Dimas?” resahnya.


“Iya juga, sih? Udah sih, Bunda? Jangan mikir aneh-aneh dong? Lagian Afifah mana mau sama Dimas? Enggak lah!” ujar Askara.


“Ayah, ih! Bunda itu tahu Afifah, dia itu selalu muji-muji Dimas, Yah? Dia selalu bilang Dimas itu kayak aktor Korea yang namanya Song Joong-ki, Yah? Bilang Dimas masih kayak anak muda lagi? Duh ... bunda kok jadi gini, ya? Mikirnya ke sana-sana? Kalau Afifah sampai pacaran sama Dimas, takut diapa-apain, Yah? Ayah kayak gak tahu Dimas saja, ih!” Salma semakin resah dengan pikirannya yang ke mana-mana.


“Diapa-apain gimana maksudnya?” tanya Askara.


“Ya digituin? Dicium-cium atau apa gitu? Tadi saja bunda lihat waktu dia melepaskan Dimas pergi meluknya gitu banget? Kayak meluk pacarnya yang mau pergi jauh? Terus Dimas cium kening kepala Afifah, dia usap pipinya, terus dipeluk lagi Afifahnya, terus entah mereka bisik-bisik apa? Ayah, Bunda itu khawatir tahu? Dimas kalau pacaran kan main gituan?” resah Salma.


“Gituan gimana? Jadi pas dulu Bunda balikan lagi sama Dimas, pasti kalian begituan, ya? Jangan-jangan pas seharian pergi itu, pas Ayah nunggu sama Afifah di rumah, Bunda sama Dimas pergi jalan sampai mau petang gak pulang-pulang? Ayah dari pagi lho sama Afifah di rumah Bunda?”


“Ih Ayah, jadi bahas ke situ? Ya gituan sih iya, tapi, kan, Dimas gak bisa On, Ayah? Gak tahu sekarang?” jawab Salma.


“Tidur mulu ya punya, Dimas? Pasti nih dipegang-pegang?” ledek Askara. “Besar dan panjang mana, Bunda, sama punya Ayah?”


“Sudah-sudah, jangan bahas itu, Sal. Sudah, ya? Iya aku kejam, aku salah, aku sudah menyakiti kamu, maafkan aku,” ucap Askara dengan mata berkaca-kaca.


Kalau membahas itu, Askara merasakan sesal yang amat dalam sudah menyakiti Salma sedalam itu. Terkadang rasa bersalah itu terus menghantui dirinya, itu sebabnya Askara benar-benar tidak mau membahas semua itu lagi, dia tidak mau mengingat semua itu. Ia ingin hidup bahagia dengan Salma, selamanya.


“Jangan nangis dong, Yah? Maaf Bunda mengingatkan lagi. Habis Ayah juga begitu sama Bunda? Bunda bilang semua itu, karena Bunda sayang sama Afifah. Bunda gak mau dong anak bunda masa pacaran sama bekas suami Bunda? Apalagi dulu dia menyakiti Bunda? Ya, meskipun perkara jodoh Tuhan yang tahu, tapi kan tetap saja, Bunda penginnya Afifah dapat yang lajang, yang masih muda, yang seumuran, yang lebih baik dari Dimas, terutama dari tuh bocah ingusan yang jadi simpanan tante-tente!” ucap Salma.


“Ayah sakit, Bund, kalau Bunda mengingatkan kejadian dulu. Sudah, ya? Jangan bicara yang dulu lagi. Iya Afifah ya harus dapat yang lebih dari Vero dong? Gak mungkin dia sama Dimas, Bunda? Dia itu paling manja saja sama Dimas, karena dari sejak kenal dengan Dimas, Dimas memanjakannya,” ucap Askara.


“Iya sih, apa saja yang Afifah mau selalu dituruti Dimas,” ucap Salma.


“Masalah cincin itu gak usah di bahas, ya? Mungkin benar Afifah samaan dengan teman-temannya, dan mungkin juga alasan Dimas pakai cincin itu memang karena tidak mau digangu perempuan?” Askara mencoba menenangkan pikiran Salma.


“Iya sih, tapi bunda tahu kok, mana cincin yang imitasi atau bukan. Bunda yakin punya Afifah itu asli, berliannya juga asli, Yah!”


“Ya biar saja, sudah itu kan privasi Afifah? Yang penting dia bisa jaga diri, dia masih stabil nilai sekolahnya, gak neko-neko, gak terjerumus pergaulan yang sesat. Ayah sudah bersyukur banget lho Afifah masih sedikit-sedikit terbuka sama kita? Tentang Vero juga mereka terbuka sama kita. Anak kan punya ruang privasi sendiri, yang penting belum di luar batas, Bunda,” terang Askara. “Bukannya Bunda sendiri yang bilang kalau Afifah juga berhak menjaga privasinya sendiri?”


“Iya sih, tapi Bunda kepikiran saja, masa iya Afifah mau sama Dimas? Kaget rasanya,  lihat cincin mereka yang mirip,” ujar Salma.


“Sudah, ya, Bunda gak usah khawatir dan mikir macem-macem? Kasihan adik bayinya, nanti ikutan mikir, jadi pusing deh?” tutur Askara.


Salma mengangguk, menuruti apa kata suaminya. Tapi, tetap saja masih kepikiran soal Dimas dan Afifah. Ia tidak masalah kalau misalkan nantinya Afifah sama Dimas, tidak masalah juga engan jarak yang terpaut banyak, tapi yang dia pikirkan, karena Dimas mantan suaminya? Masa mau sama anak sambungnya?


^^^


Selepas makan malam, Afifah bergegas membereskan piring dan gelas kotor yang baru digunakan untuk makan malam dengan keluarganya. Afifah memang selalu begitu, kalau malam dia yang membereskan setelah makan malam, lalu ia sekalian mencuci piring dan gelas kotor, kebiasaan itu sudah Afifah lakukan sejak dulu dia di Jogja berdua saja dengan ayahnya, tapi setelah ayahnya menikah lagi dengan Salma, Salma tidak memperbolehkan Afifah melakukannya. Kadang Afifah diam-diam saja membantu membereskan dan mencuci gelas kotor, kalau misal Salma tidak melihatnya. Afifah tidak betah kalau ada tumpukan gelas dan piring kotor di dapur, apalagi dulu pembantunya tidak menginap, setelah selesai masak untuk makan malam, dia pulang, jadi gelas dan piring kotor menumpuk sampai pagi.


Selesai membereskan dapur, Afifah bergegas pergi ke kamarnya. Belum sampai di depan pintu kamar, Afifah mendengar Ayah dan Bundanya membahas cincin Afifah dan Dimas yang hampir mirip. Askara dan Salma membahas lagi setelah makan malam di runang tengah, mereka membahas dengan Bu Mila juga yang sekarang tinggal bersama Askara, karena sudah tidak ada Dimas yang menjaganya di rumah.


“Ih, benar dugaanku, kan? Bunda pasti curiga nih sama cincin yang diberi Om Dimas? Aduh aku harus bagaimana? Mana Bunda mau video call Om Dimas nanti kalau Om Dimas sudah sampai dan gak sibuk? Mau video call Cuma mau membuktikan cincinnya sama dengan aku tidak? Padahal beda kok, ya? Iya sih serupa tapi tak sama? Aduh, aku harus gimana, ini?” ucap Afifah dalam hati. Dia masih berdiri mematung di depan pintu yang akan menuju ke ruang tengah, dan menuju kamarnya.

__ADS_1


“Jangan keras-keras, Ayah! Nanti Afifah dengar kita bahas ini?” ucap Salma, lalu ia menoleh ke belakang, utung saja Afifah langsung kembali ke dapur, pura-pura belum tahu.


“Bunda ...! Ini sekalian mau Afifah bikinkan susu tidak?” teriak Afifah dari dapur, supaya tahunya mereka Afifah masih di dapur.


“Nanti saja, Fah!” jawab Salma.


“Ya sudah!” Afifah langsung keluar membawa cemilan kue kering yang dibuatkan Bundanya. Setiap hari harus ada stok kue-kue kering buatan Bundanya untuk menemani belajarnya.


“Kamu mau ke kamar, Fah?” tanya Bu Mila.


“Iya, mau ngerjain PR, besok ada PR, Eyang,” jawab Afifah.


“Sini sebentar, Eyang mau tanya sama kamu,” perintah Bu Mila.


“Ada apa, Eyang?” Afifah langsung mendekati eyangnya, lalu duduk di sebelahnya.


Meskipun Afifah bukan anak kandung Salma, tapi Bu Mila sangat menyayangi Afifah seperti cucu kandungnya. Malah justru Afifah lebih dekatnya dengan Eyang Mila, daripada ke Oma Alana dan Oma Binka.


“Fah, kamu sudah gak berhubungan sama Vero, kan?” tanya Bu Mila.


“Ya enggak lah, Eyang! Ngapain sih sama orang macam dia? Berteman pun aku sudah gak mau, Eyang!” jawab Afifah.


“Bagus deh, jangan berkawan dengan orang seperti itu,” tutur Bu Mila. “Jadi cincin ini bukan dari Vero, kan?” tanya Bu Mila.


Bu Mila sengaja, tidak membahas Dimas. Di awal dia tanya Vero dulu, baru nanti Bu Mila melipir bahas-bahas soal Dimas.


“Ih ini beli sama teman-teman kemarin, samaan dengan mereka, kan tadi siang sudah Afifah tunjukkan fotonya?” jawab Afifah


“Tapi ini kayak cincin mahal, Fah?” ucap Bu Mila.


“Ya emang rada mahal, kita beli online, hampir satu juta harganya,” jawab Afifah ngarang.


“Kamu itu boros sekali, ya? Buat beli cincin samaan dengan teman harganya sampai segitu?” ujaa Askara.


“Afifah kan bilang belum selesai, Yah? Hampir satu juta itu dapat cincin empat, Yah? Sama box dan Photocard gitu? Kan, memang itu edisi buat hari persahabatan, Yah? Kita iuran itu,  Ayu yang pesankan,” jelas Afifah tambah ngawur sekali.


“Oh gitu?” ucap Askara percaya saja.


“Sebentar, tapi ini kok mirip sama cincinya Dimas, ya?” pikir Bu Mila.


“Masa sih? Beda kayaknya? Memang Om Dimas pakai cincin, tapi beda dong? Masa sama sih?” ucap Afifah.


“Udah nih mau tanya soal cincin saja? Nanti besok aku panggil Ayu deh kalau gak percaya? Masa iya aku dikasih Vero? Orang mau pacaran sama dia saja gak jadi? Masa dikasih cincin?” ucap Afifah.


“Ya kali saja, Afifah? Ya sudah sana, kerjain PR nya dulu?” titah Bu Mila.


Afifah mengangguk, lalu ia langsung beranjak ke kamarnya. Ia akan mengerjakan PR nya, lalu sehabis itu ia akan menghubungi Dimas, untuk membahas soal cincinnya.


Afifah tahu orang rumah pasti curiga dengan cincin yang ia kenakan, karena hampir mirip dengan milik Dimas. Afifah langsung memberitahukan Dimas, kalau mereka menaruh curiga soal cincinnya, supaya Dimas punya alasan kalau suatu hari nanti mereka tanya soal cincin Dimas tidak kaget.


Afifah dari tadi bertukar pesan dengan Dimas sampai malam, membahas cincin yang menjadi bahan penasaran meraka, cincin itu Afifah dapat dari mana.


[Tenang, Sayang? Nanti kalau mereka video call, aku akan tunjukkan replika cincin yang mirip dengan kamu, nanti Om Bilang itu memang cincin couple.]


[Ya aku takut saja, Om, mereka tumben sekali cerewet, mana bahasnya cincin terus dari tadi?]


[Sudah, tidur dulu, Sayang? Besok pagi-pagi Om bangunin kamu. Gak usah panik, gak usah takut. Tenang dan santai, ya? Kita sama-sama jaga hubungan ini. I Love you my little girl]


[Love you too, Om Sayang .... muaachh ...]


[Hmmm ... kena sampai sini, muaach ... tidur yang nyenyak, mimpi indah, Sayang]


Afifah mengakhiri chatnya dengan Dimas. Dadanya berdegup kencang saat Dimas bilang love you padanya. Ia memegangi dadanya, dan senyum-senyum sendiri.

__ADS_1


__ADS_2