Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Kehadiranmu Merubah Segalanya


__ADS_3

Askara semakin cuek dengan Azzura, kadang dia juga lupa dengan jadwal kontrol Azzura. Askara hanya tidak tahan saja dengan sikap posesif Azzura yang sampai saat ini juga masih sering diperlihatkan di depan Askara. Askara pulang kerja lewat dari jam kerja saja Azzura pasti marah.


Kadang Afifah juga tidak suka dengan ibunya yang terlalu mengekangnya. Afifah sudah tidak bebas lagi bermain dengan teman-teman dekat rumahnya, karena Azzura melarangnya. Sering sekali Afifah uring-uringan dengan ibunya hanya karena dia terlambat pulang sekolah, karena mengerjakan tugas dulu di rumah temannya, kadang juga uring-uringan karena Afifah main dengan teman-temannya terlalu lama.


“Yah ... ibu mana?” tanya Afifah.


“Di kamar mandi, sedang mandi, mau siap-siap ke rumah sakit, mau kontrol,” jawab Askara. “Ada apa tanya ibu?” tanya Askara.


“Ayo sini, Yah!” Afifah menarik tangan Askara untuk keluar dari kamarnya. Afifah mengajak ayahnya ke belakang, ke tempat yang jauh dari kamar ayahnya.


“Ini ada apa sih, Fah? Pakai acara ke belakang? Mau ngomong ya tinggal ngomong saja kenapa pakai sembunyi di sini?” tanya Askara.


“Sssttt ... jangan berisik, Ayah!” Afifah celingukan lihat keadaan, kali saja ibunya sudah keluar dari kamar mandi, dan melihat dirinya yang sedang bicara dengan ayahnya.


“Ada apa Fifah?” tanya Askara.


“Yah ... kangen bunda ....” Ucap Fifah dengan mata berkaca-kaca.


“Ayah juga kangen sama bunda, Nak. Maafkan ayah yang egois ya?” Askara memeluk Afifah yang menangis, ia pun sampai meneteskan air matanya karena terlalu merindukan Salma.


“Bunda di mana ya, Yah? Fifah juga salah sama bunda, Fifah ingin minta maaf sama bunda, sejak ada ibu, Fifah sering gak nurut sama bunda, sering bentak bunda, sampai bunda pergi,” ucap Afifah.


“Sudah jangan menangis, bunda pasti baik-baik saja di luar sana, bahkan hidup bunda pasti jauh lebih bahagia,” ucap Askara.


“Fifah pengin ketemu bunda, apa bunda sudah menikah lagi, Yah?” tanya Afifah.


“Tidak tahu, tapi sepertinya bunda mau menikah lagi, Fah,” jawab Askara.


Raut wajah Fifah semakin menunjukkan kekecewaan. Tapi, semua itu juga karena dirinya yang selama ada ibunya dia terlalu cuek dengan bundanya. Bahkan kadang dia sedikit berselisih dengan Salma.


“Bunda pasti marah dengan Fifah ya, Yah? Dengan kita berdua, yang selama ada ibu di sini kita cuek sama bunda, bahkan bunda pergi aku membiarkan saja, kadang malah aku sering berselisih sama bunda sejak ibu di sini. Tapi sekarang,  malah ibu suka ngatur, aku gak boleh main sama teman sebelah, gak boleh pulang sekolah telat, dan ibu sekarang sukanya ngatur. Bibi juga sampai ngeluh, katanya bunda sekarang galak,” ucap Fifah.


“Kamu jangan bicara seperti itu, bunda itu sedang sakit, jadi emosi bunda kurang stabil, Fah,” tutur Askara.


Meski Askara juga sudah jenuh dengan sikap Zura, tapi dia tidak mau menjelekkan Zura di depan putrinya. Walau bagaimana pun Fifah adalah putri kandung Zura.


“Ya sudah yuk masuk, nanti ibu nyariin,” ajak Askara.


“Iya, Yah. Tapi kapan-kapan mau tidak ayah antar aku menemui bunda?” pinta Afifah.


“Nanti lihat situasi dan kondisinya ya, Sayang? Ibu itu lagi sensitif, lagi senang marah, ayah terlambat pulang dari kantor saja ibumu marah. Jadi, kita cari waktu yang tepat untuk ketemu dengan bunda, ya? Belum tentu bunda mau menemui kita, kan? Kamu kan tahu, kita berdua terlalu sering bikin bunda marah selama ada ibu?” jelas Askara.

__ADS_1


“Iya, Yah. Nanti cari waktu yang tepat buat ketemu bunda ya, Yah?” pinta Afifah.


“Iya, ayo buruan tuh dengar, ibu sudah manggil ayah, kan?” ucap Askara.


“Huh ... nyusahin saja ibu!”


“Hus ... jangan begitu!” tutur Askara.


“Habisnya sekarang begitu,” ucap Afifah, dia langsung berjalan mendahului ayahnya.


Afifah berpapasan dengan ibunya yang baru saja keluar dari kamarnya. “Fah, kamu lihat ayah?” tanya Zura.


“Itu di dapur, lagi minum,” jawab Afifah asal, tapi Askar mendengar Afifah menjawab, dan dia langsung mengambil air putih lalu membawanya keluar dari dapur.


“Mas, dari tadi aku cariin kok malah di dapur?” tanya Azzura.


“Tadi lagi lihat bahan-bahan buat masak, kali saja nanti bibi ke sini, aku kan tinggal nyuruh yang kurang apa di dapur, sekalian ambil minum,” jawab Askara asal. “Kamu sudah siap?” tanya Askara.


“Sudah,” jawab Azzura.


“Ya sudah yuk berangkat sekarang, biar gak terlalu antrenya. Ya meski sudah daftar dan dapat nomor yang muda, tapi kan tetap saja antre,” jelas Askara.


“Iya, ayo.”


“Iya, Yah. Afifah nanti mau ngerjain tugas di rumah Yasmin, boleh, kan?”


“Iya boleh, ayah gak pernah larang kamu ke rumah Yasmin, dia kan memang bestie kamu dari kecil. Sana main sama Yasmin, daripada di rumah,” jawab Askara memperbolehkan.


“Kamu itu sukanya main ya, Fah! Kerjain sendiri apa gak bisa?” tukas Zura.


“Bu, namanya tugas kelompok yang harus dikerjakan bersama, masa sendiri? Ibu kok sekarang banyak ngekang, ya? Gak kaya bunda!” protes Fifah.


“Ibu begini demi kamu, Fifah!”


“Demi apa? Biar Fifah gak punya teman? Kayak ibu? Ibu tahu, bunda selalu bilang sama Fifah, jangan seperti bunda, sana kamu berteman, harus punya teman meski satu, karena bunda gak punya teman sampai sekarang, dan memang baiknya aku punya teman, daripada sendiri!”


“Oh kamu nurutnya sama orang yang merebut ayahmu dari ibu?”


“Bunda gak merebut ayah! Ibu saja yang pergi, ninggalin aku sama ayah! Kalau gak ada bunda, aku tidak bisa merasakan kasih sayang seorang ibu, Bu! Setelah ibu pulang, bukannya tambah sayang sama aku, tapi tambah ngekang! Tahu gini, aku gak akan nurut sama ibu, untuk ngejauhin bunda!” protes Afifah.


Afifah mengeluarkan semua unek-uneknya di depan ibunya. Dia tidak mau lagi memendamnya sendiri. Apalagi tadi dia sudah bicara dengan ayahnya, kalau dirinya dan ayahnya sama-sama merindukan Salma.

__ADS_1


“Kamu sudah berani nentang ibu, ya? Ibu begini demi kamu, demi kebaikan kamu!” erang Azzura.


“Ini yang dinamakan baik, Bu? Baik apanya? Baik itu kalau ibu percaya sama aku, sama ayah, gak curigaan mulu!”


“Fifah, stop! Jaga bicara kamu! Sudah sana kamu main saja ke rumah Yasmin, jangan ribut! Ayah pusing lihat kalian berdebat terus setiap hari!” lerai Askara.


“Aku juga pusing lihat ibu marah-marah gak jelas setiap hari sama ayah! Kesel tahu, kek di penjara. Kalau gitu mending aku ikut oma saja! Di sini panas, kayak di neraka!” Afifah langsung pergi meninggalkan rumah, dia sudah tidak peduli lagi kalau ibunya marah. Dia tidak mau lagi berurusan dengan ibunya yang setiap hari selalu mengatur dirinya tidak jelas. Bahkan sampai uang saku saja yang biasanya Salma tidak pernah memperhitungkan Azzura selalu memperhitungkan uang saku Afifah.


“Fifah! Kalau ibu sudah pulang kamu belum pulang juga, jangan harap kamu bisa masuk ke rumah!”


“Aku bisa ke rumah oma, budhe, om, atau tante! Ke rumah bunda juga bisa! Gak pulang ke sini aku malah senang, Bu!” jawabnya.


“Kamu berani membangkang sekarang!” teriak Azzura.


“Aaahh .... uhuk ... uhuk ... Sakit sekali dadaku, Mas.” Zura memegangi dadanya karena sakit. Askara langsung memapah Azzura dan membawanya ke mobil, Azzura tergolek lemah di mobil, dia masih memegangi dadanya.


“Kamu itu sedang sakit, tapi gak bisa ngatur emosimu, Ra. Gini kan jadinya? Kamu itu harusnya mengerti Fifah, Ra. Seusia dia biarlah mencari teman, toh teman dia di sini hanya Yasmin saja yang akrab? Jangan terlalu mengekang anak, Afifah memang sudah biasa begitu, jadi mau diatur ulang kamu ya gak bakal bisa,” tutru Askara.


“Dari awal sudah salah didik Si Salma!” tukasnya.


“Kamu bilang apa? Salma salah didik bagaimana? Kalau kamu gak pergi, dia gak akan kenal Salma. Dia selama sama Salma gak pernah bentak-bentak Salma, saat kamu datang, dia mulai berani bentak Salma, dan sekarang kamu merasakan sendiri dibentak anakmu, kan?” ucap Askara.


“Salma yang mendidiknya dari kecil, kenapa kamu salahkan aku? Kenapa kamu bilang sejak ada aku Fifah jadi pembangkang?”


“Memang begitu? Sejak kamu datang semua berubah, Ra!” Askara membenarkan. “Kamu ini maunya aku sama Fifah nurutin kamu yang gimana, Sal? Kamu harusnya tahu, anak juga punya dunianya sendiri, aku pun punya ruang sendiri untuk memikirkan diriku sendiri, Ra? Gak melulu kamu yang atur!”


“Aku melakukan ini, karena aku tidak  mau ada orang lain dalam rumah tangga kita!”


“Kalau gak mau kenapa kamu pergi, hah! Kau tahu perasaanku saat kamu pergi entah di mana? Tujuh tahun, Ra! Sadar gak sih kamu? Gak merasa bersalah gitu? Harusnya kamu sadar, Ra!” erang Askara.


“Aku pergi ada alasannya, Mas!”


“Ada alasannya itu bilang, apa alasannya kamu pergi, jangan asal perhi, itu namanya kamu kabur!” bentak Askara. “Sadar gak sih, kamu membuat aku menyakiti orang sebaik Salma. Aku mencintai Salma, Ra! Sangat mencintainya, dan kamu tahu, setelah kamu begini, aku sudah tidak ada rasa dengan kamu! Aku hanya kasihan sama kamu!” erang Askara gemas, di depan wajah Zura, hingga Zura terdiam tidak bisa berkata apa-apa lagi.


“Sekarang aku tahu, hati kamu untuk siapa, Mas?” ucap Azzura merendah.


“Untuk Salma. Hanya untuk dia!” jawab Askara dengan menatap Azzura. “Kamu sudah paham?”


Azzura hanya diam saja. Dia tidak menyangka suaminya akan bicara seperti itu, tanpa memikirkan bagaimana perasaannya.


“Maaf aku bicara seperti itu, karena semua itu kenyataan, aku tidak bohong, dan tidak mau menutupinya,” ucap Askara.

__ADS_1


Azzura haya ingin Askara hanya miliknya, tapi ternyata setelah memilikinya, dan hanya dia yang memilikinya, Askara malah bilang tidak mencintainya. Dengan dirinya hanya kasihan saja.


“Sia-sia aku kembali, dan sia-sia juga aku usir Salma, aku minta Salma menceraikan Askara. Ternyata Askara hanya kasihan padaku, tidak mencintaiku lagi, aku salah menduga selama ini. Dibalik sikap Askara yang menuruti semua yang kumau, ada keterpaksaan di dalam hatinya, bukan karena dia tulus, dan ingin denganku saja,” gumam Azzura.


__ADS_2