Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Pulang


__ADS_3

Aku beranikan diri untuk pulang ke rumah. Iya, pulang ke rumah ibuku, ke kota kelahiranku. Setelah semuanya selesai, aku memilih untuk pulang. Ternyata pergi dari kotaku untuk menemukan hidup yang baru dan melupakan masa lalu tidak semudah membalikkan kedua telapak tangan. Iya, aku bisa melupakan masa laluku, aku bisa menemukan masa depanku, tapi ternyata masa depanku abu-abu. Mas Aska memilih pergi menemani istri keduanya, dan membiarkan aku, melupakan aku, bahkan dia tidak peduli aku menggugatnya, dia tidak pulang, tidak mau tahu keadaanku yang ditinggalkan selama tiga bulan lamanya.


Biarlah, terserah apa maunya. Aku tidak bisa protes dengan siapa-siapa soal masalah ini. Aku sendirian, tidak ada orang yang mendukungku, bahkan keluarga Mas Aska bilang aku ini egois, tidak mau mengerti keadaan Azzura. Bagaimana aku mengerti keadaan Azzura? Azzura saja gak mau tahu soal hatiku yang sakit? Dia saja tidak peduli denganku? Aku istri pertamanya, harusnya dia tidak bersikap begitu. Jangan mentang-mentang sedang sakit keras, dan umurnya sudah divonis dokter tidak lama lagi, jadi seenaknya saja. Apa dia tidak egois dengan seperti itu? Harusnya keluarga Mas Aska tahu, siapa yang egois, aku atau Azzura? Tapi, semuanya hanya fokus padaku, hanya aku yang dipojokan. Aku yang di bilang egois oleh mereka.


Sudah cukup aku sabar menerima apa yang mereka ucapkan. Cukup sampai di sini, aku tidak mau tahu lagi, aku tidak mau melanjutkan hubungan yang sudah membuat hidupku hancur. Biar saja mereka mau bilang aku ini egois, aku ini tega, aku ini kejam. Yang ada, yang kejam adalah wanita perebut suami orang. Dia kejam, melebihi kejamnya penjahat kelas kakap.


Aku gagal lagi, Bu. Iya gagal lagi. Pernikahanku kandas lagi karena orang ketiga. Dulu Rani, sahabat kecil Dimas yang mengambil Dimas dariku, sekarang Azzura, mantan istri Mas Aska, dia mengambil Mas Aska dariku. Apa sudah nasib aku yang selalu gagal dalam pernikahan, dan disebabkan oleh perempuan lain di masa lalu suamiku?


Aku masih belum turun dari mobilku. Aku masih melihat rumahku, rumah yang sudah berubah sekarang. Sekarang sudah tidak seperti dulu. Rumah klasik dan kuno, sekarang sudah disulap menjadi rumah megah nan mewah. Aku yakin Dimas yang menyulap rumahku. Rumah masa kecilku dulu. Padahal aku sudah wanti-wanti sama ibu, untuk tidak terlalu terbuka kedua tangannya menerima apa-apa dari Dimas, meski mamanya Dimas juga memaksanya. Ya, mertuaku juga sangat baik, bahkan dia tidak pernah mau menganggap Rani itu menantunya, karena yang mama mertua mau, aku yang menjadi menantunya, meski aku sudah bercerai dengan Dimas.


Mama mertua meninggal juga karena Dimas membawa Rani ke rumah mama. Mama menolak keras kedatangan mereka, hingga sakit jantung mama kambuh, dan mama mengembuskan napas terakhirnya dengan menggenggam tanganku. Mama bersumpah, tidak akan menerima Rani sebagai menantunya, mama tidak sudi menerima Rani, apa pun alasannya mama tidak akan bisa menerimanya. Semua peninggalan dan harta milik mama, beliau atas namakan aku, dan Dimas menyetujui itu. Dimas juga paham, mamanya tidak akan mau menerima Rani, mungkin hanya dirinya dan ibu yang menerima baik Rani. Ya, ibuku, beliau baik dengan Rani, kadang ibu juga menceritakan bagaimana Rani, tapi aku tidak menggubris ucapan ibu.


Aku turun dari mobilku. Aku pijakkan kakiku di halaman rumahku. Mungkin hampir setahun aku tidak ke sini, aku memang jarang ke sini setelah menikah dengan Mas Aska, itu semua karena aku tidak ingin bertemu Dimas, karena Dimas sering ke rumah ibu. Kadang ibu yang mengalah, ibu yang ke rumahku, menjengukku meski hanya satu hari satu malam ke rumahku. Ibu juga paham dengan perasaanku kalau aku bertemu Dimas.


Aku mendengar mobil masuk ke halaman rumahku, dan berhenti di sebelah mobilku. Aku tahu itu mobil Dimas. Betul kan, dia pasti sering ke sini untuk menemui ibu, karena dia sudah mengangap ibu seperti ibunya sendiri.


“Salma ....” Aku mendengar suara ibu memanggilku. Ibu keluar dari mobil Dimas.


“Ibu ....” Aku berhambur memeluk ibu. Aku peluk ibu, rasanya nyaman, hatiku tenang, tentram, dan aku merasakan seluruh masalahku runtuh hanya dengan memeluk ibu.


“Kamu pulang kok gak bilang-bilang, Sal?” tanya ibu.


“Kejutan buat ibu,” jawabku, lalu aku peluk ibu lagi.


“Hai, Sal,” sapa Dimas.

__ADS_1


“Hai, kamu sudah sembuh? Kakimu sudah baik-baik saja?” tanyaku.


“Ya beginilah, Sal. Sudah lumayan bisa untuk bawa mobil,” jawabnya.


“Kamu tahu Dimas kakinya sakit, apa kalian pernah bertemu?” tanya ibu.


“Ibu lupa, ya? Kan aku pernah bilang sama ibu, kalau aku pernah bertemu Salma di makam ayah?” jawab Dimas.


“Iya, Bu, kami pernah bertemu di makam ayah,” jawabku.


“Ayo masuk,” ajak ibu.


Aku merangkul ibu, bergelayut manja pada ibu. Tapi tiba-tiba ibu menghentikan  langkahnya. “Ini mana Askara? Apa dia tidak ikut?” tanya Ibu.


“Iya, Salma sendiri, Bu. Mas Aska gak ikut,” jawabku.


“Iya, kami baik-baik saja,” jawabku.


“Jangan bohong, yakin gak ada masalah?” Tanya ibu lagi penuh selidik, seakan tahu aku ini sedang ada masalah besar dengan Mas Aska. Ya, memang  aku sedang ada masalah dengan Mas Aska.


“Aku sudah bercerai dengan Mas Aska, Bu,” ucapku dalam hati.


“Salma ... jawab ibu, kamu tidak sedang ada masalah dengan Askara, kan?” tanya ibu lagi.


“Enggak, ibu ... masalah apa coba? Aku ini kangen sama ibu, jadi aku pengin ke sini, daripada menunggu Mas Aska gak ada kerjaan? Kelamaan dong? Nanti giliran dia gak ada pekerjaan, akunya gak bisa cuti?” jawabku.

__ADS_1


“Ibu, Salma ini baru datang, pasti dia lelah, biar dia istirahat dulu di dalam, kok ditanyain terus?” ucap Dimas, seakan dia tahu aku sedang terpojok dengan pertanyaan ibu.


“Iya sih, ya sudah yuk masuk,” ajak ibu.


Dimas menyelamatkanku. Ibu tidak lagi menanyakan Mas Aska padaku. Coba Dimas tidak bilang, pasti ibu masih mengulik soal Mas Aska, karena ibu pasti tahu aku ini sedang bohong dengannya. Ibu selalu tahu kalau aku ini sedang bohong. Itulah ibu, tidak bisa aku bohongi, selalu tahu kalau aku sedang menyembunyikan masalah.


“Kamu menginap, kan?” tanya ibu.


“Iya dong, Bu? Aku seminggu di sini, ya?” jawabku.


“Seminggu? Tumben?” tanya ibu.


“Ya kan cutinya seminggu, jadi ya seminggu di sininya, Bu?” jawabku.


“Ya sudah terserah kamu, asal kamu pamit dengan suamimu?” ucap Ibu.


“Itu jelas dong, Bu?”


Ibu memang belum tahu aku ini sudah berpisah dengan Mas Aska. Biar saja, biar nanti aku perlahan menjelaskan pada ibu. Ibu pergi ke kamarnya, dan hanya aku dengan Dimas di ruang tengah.


“Bagaimana Askara?” tanya Dimas.


“Bahas nanti, Dim,” jawabku.


“Nanti malam aku tunggu di cafe biasa, yang dulu sering kita datangi,” ajaknya.

__ADS_1


“Iya.” Jawabku.


Dia masih ingat saja cafe itu. Cafe di mana aku bertemu dengannya untuk yang pertama kali.


__ADS_2