
Aku tidak jadi menemui Dimas. Biar saja Dimas penasaran soal Askara. Rasanya tidak baik aku menemui laki-laki lain saat ini, apalagi janjian berduaan saja, dengan mantan pula?
Lagian aku sudah menceritakan pada ibu tadi, setelah Dimas pulang, aku perlahan menjelaskan pada ibu. Syukur Alhamdulillah ibu bisa menerima dengan baik apa yang aku ceritakan. Ibu malah lega aku lepas dari Askara.
“Sepertinya kamu janjian dengan Dimas tadi?” Tanya Ibu.
“Gak jadi, Bu. Rasanya kok gak pantas aku menemui laki-laki dalam keadaan begini,” jawabku.
“Ibu juga tadinya mau bilang gitu sama kamu, syukurlah kamu sadar sendiri,” ucap Ibu.
“Sepertinya aku ingin menikmati kesendirian dulu sama ibu. Aku gak mau lagi berurusan dengan laki-laki yang ujungnya seperti ini.”
“Tenangkan dulu pikiranmu. Sudah sana bawa istirahat, gak usah mikirin Dimas. Paling Dimas sedang ngambek kamu gak jadi menemuinya?”
“Iya biar saja. Aku juga gak mau dicap, baru jadi janda, langsung dekat sama laki-laki.”
Aku masuk ke kamarku, aku matikan ponselku, biar tidak ada yang mengganggu. Padahal aku sedang menunggu kabar dari seseorang. Mas Aska. Aku memang menunggu kabar dia, karena aku ingin tahu bagaimana reaksinya setelah aku ceraikan.
^
POV Askara
Aku tahu, Salma pasti menceraikanku. Biar saja, karena aku juga tidak bisa apa-apa untuk mencegahnya. Di sini Zura tidak ada temannya. Hanya aku saja di sini. Padahal aku ingin pulang dan bicara baik-baik sama Zura, tapi Azzura tidak mau di tinggal aku pulang ke Indonesia sebentar, hanya sehari atau dua hari.
Aku ingin sekali menghadiri persidangan itu, tapi keadaanku tidak bisa dipaksakan. Lagian bunda meminta aku ikhlaskan kalau Salma pergi. Aku juga tidak bisa menggantungkan hubunganku dengan Salma. Dia bebas terserah mau ke mana.
__ADS_1
Sejak kedatangan Zura aku memang ingin fokus merawatnya. Ingin sekali merawat dia. Sekarang kondisinya semakin lemah, aku juga bingung, dibawa ke Singapura pun masih sama, tidak ada perubahan sama sekali. Kalau tahu begini, aku tidak akan membawanya dia ke sini, dan pastinya aku masih bersama Salma.
“Mas ....” panggil Zura.
“Iya, gimana?” tanyaku.
“Apa benar, Salma menceraikanmu, Mas?” tanya Zura.
“Iya, dia menggugatku, dan sekarang aku dan dia sudah tidak ada hubungan apa-apa.”
“Syukurlah, itu artinya aku hanya milikmu, Mas,” ucap Zura.
“Iya.” Jawabku singkat
Aku tidak menyangka Zura malah bicara seperti itu.
Pantas Salma bilang kalau Zura egois, ternyata iya benar dia egois. Dia istri kedua, tapi dia ingin menang, mengalahkan Salma. Benar Salma selama ini, kalau Zura egois dan mau menang sendiri.
“Aku tidak ingin berbagi mas. Biar saja aku egois, karena aku mau kamu!”
“Ya sudah, sekarang sudah tidak ada lagi saingannya, jadi jangan ngambekan gitu,” ucapku.
Biar saja, sekarang aku hanya bisa diam, tapi aku tidak akan diam. Aku akan selalu mengawasi Salma. Meski dari sini.
“Kamu tidak akan mengajaknya rujuk kan, Mas?”
__ADS_1
“Tergantung keadaan, Ra. Dia itu perempuan baik, kenapa kamu gini sih? Kenapa kamu sangat membencinya?” tanyaku.
“Karena dia sudah merebut kamu dariku!” jawabnya.
“Merebut aku darimu? Kamu sadar gak, kamu pergi tanpa pamit apa kamu gak salah? Dia datang saat kamu gak ada. Saat kamu hilang entah ke mana, Ra! Apa aku salah? Fifah mau dengannya, dan aku pun butuh sosok perempuan dalam hidupku!” Ucap ku dengan nada tinggi.
“Aku pergi ada alasannya mas!”
“Mau alasannya baik sekali pun, kamu meninggalkan aku tanpa pamit, Ra! Tiga hari seorang istri meninggalkan rumah, tanpa pamit dengan suaminya, itu juga sudah salah besar! Sedangkan kamu? Tujuh tahun, Ra! Kamu menyiksa batinku, Ra!” cetusku.
“Jadi kamu bela dia, Mas?”
“Aku sedang tidak membelanya, Ra! Percuma bicara dengan orang egois seperti kamu, Ra!”
Aku keluar dari ruang perawatan Zura. Aku ingin sekali menghubungi Salma, aku ingin minta maaf, dan bilang aku tidak ingin berpisah. Aku sangat mencintai Salma. Cintaku pada Salma, rasanya berbeda dengan cintaku ke Zura. Cinta untuk Zura hanya sebatas belas kasihan saja.
Benar yang dikatakan ayah, aku terlalu mudah mengambil keputusan. Aku tidak memikirkan perasaan Salma dan keadaan Salma saat aku tinggalkan. Aku terlalu menuruti apa yang Zura mau. Hingga ia meminta aku jangan menghubungi Salma, aku pun nurut dengan Zura untuk tidak menghubungi Salma, hingga aku mengganti nomor telefonku. Hanya Zura dan keluargaku yang tahu.
Aku memang salah, aku ini punya dua istri, harusnya aku tidak terlalu berpihak pada salah satunya saja. Aku hanya mementingkan Zura, dan aku abaikan Salma, hingga Salma menggugatku, karena tiga bulan aku tidak mengabarinya, dan sampai sekarang sudah bulan kelima, aku juga tidak memberikan kabar padanya, seperti aku ini membiarkan dia mengajukan cerai, dan aku menyetujuinya.
Aku menyandarkan kepalaku di kursi yang ada di depan ruangan Zura. Aku memejamkan mataku, aku ingat semua tentang Salma, dari awal aku bertemu dengannya, hingga aku memantapkan hatiku untuk menikahnya dan mencintainya.
Sia-sia sudah aku belajar mencintainya. Aku mati-matian belajar mencintai Salma, tapi aku sendiri yang menghancurkan cintaku pada Salma, dan menghancurkan kepercayaan Salma padaku. Padahal aku sudah janji, tidak akan menduakannya, tidak akan meninggalkannya, dan tidak akan menyakitinya. Sekarang aku menyakitinya, menduakannya, dan meninggalkannya. Aku sungguh berdosa sekali. Wajar kalau dia sampai menceraikanku, karena aku yang mulai lebih dulu menyakitinya.
Jujur saja aku memang belum bisa menerima semua ini. Aku belum bisa menerima keputusan pengadilan, bahwa aku dan Salma harus berpisah. Aku ingin pulang, membicarakan semuanya dengan Salma, tapi apa pantas aku menemuinya lagi? Setalah aku mengabaikan dirinya hanya karena Azzura? Tapi, semua ini harus dibicarakan berdua, aku dengan Salma. Iya, harus! Nanti kalau aku pulang aku akan membicarakannya berdua dengan Salma.
__ADS_1
Entah kapan aku pulangnya aku tidak tahu. Aku sudah tidak tahan sekali, aku ingin pulang, aku ingin bertemu Salma, aku ingin bicara dengannya, minta maaf dengannya.
Aku masuk ke dalam ruangan Zura. Aku lihat dia masih menangis. Biar saja menangis, memang dia tukang nangis. Apa-apa nangis, nanti kambuh, dan minta sesuatu yang enggak-enggak. Minta aku ninggalin Salma, tidak boleh hubungi Salma, dan lainnya. Permintaannya selalu tentang Salma, dan intinya aku harus meninggalkan Salma. Supaya dia menjadi milikku satu-satunya.