
Satu-persatu tamu meninggalkan pesta pernikahan Afifah dan Dimas. Setengah hari Afifah dan Dimas menjadi Ratu dan Raja di atas pelaminan megah yang begitu mewah dan klasik. Sampai siang tamu tidak ada habis-habisnya untuk memberikan selamat pada Dimas dan Afifah, hingga Afifah kelelahan harus berdiri terus di atas pelaminan untuk menemui tamu-tamunya.
“Om ini ngundang berapa ratus ribu orang sih? Kayaknya dari tadi tamu gak ada habis-habisnya? Katanya Om hanya mengundang kerabat dekat saja, sama relasi bisnis Om? Masa sebanyak ini sih?” protes Afifah.
“Ya memang segitu tamunya? Ya gak tahu bakal datang semua, yang dari luar kota juga datang tuh?” jawab Dimas.
“Pantas saja gak selesai-selesai, masih ada saja tamu yang datang. Capek, Om,” rengek Afifah.
“Ayo duduk saja kalau capek,” ujar Dimas. “Eh ini ngomong-ngomong dari pagi kamu kok manggil aku om lagi? Kemarin udah bagus manggil Daddy lho?” protes Dimas.
“Ih lebih enak om saja. Kayaknya lebih seksi manggil om deh?” jawab Afifah.
“Seksi apaan? Ya jelas lebih seksi Daddy dong?” cebik Dimas.
“Gak, om saja! Nanti saja kalau sudah punya anak, aku panggil Daddy, ntar anakku manggil aku mommy,” ucap Afifah.
“Dari sekarang belajar manggil Daddy nya!” tegas Dimas.
“Gak mau ah! Gak enak, Om ...,” cebik Afifah.
“Ish ... kamu ini, suruh manggil suami yang benar malah manggilnya Om?” Dimas kesal dengan istrinya, kemarin padahal sudah memanggilnya Daddy, dan Dimas sangat suka panggilan itu, karena dia geli dipanggil om oleh Afifah, apalagi sudah jadi istrinya.
“Iya kan sudah benar, manggil Om? Dari pada Dimas?” ucap Afifah.
“Ih kamu, ya? Gak baik tahu begitu sama suami? Pokoknya harus panggil Daddy lagi!” tegas Dimas. “Atau kalau kamu gak mau panggil Daddy ya Mas boleh lah?” imbuhnya.
“Apaan itu? Mas? Masa Mas Dimas, gak enak banget ih? Udah paling enak Om Dimas. Udah itu saja! Nanti kalau sudah punya anak manggil Daddy nya. Itu saja gak pantas, masa Daddy Dimas? Gak pantas, pantasnya Papa Dimas!” cecar Afifah.
“Haduh ... susah sama anak kecil yang masih labil! Sudah lah terserah kamu, Sayang!” ucap Dimas menyerah.
“Gitu dong, mengalah sama istri? Tahu istrinya masih kecil, gak mau ngalah!” cebik Afifah.
“Iya deh, iya ... asal jangan manggil Dimas saja, gak sopan sama orang tua!” tegas Dimas.
“Ngaku sudah tua nih?” ejek Afifah.
“Tua-tua gini perkasa lho?” jawab Dimas.
“Om harusnya berterima kasih nih, karena bocil Om bisa mengembalikan keperkasaan Om? Enak kan, sudah perkasa lagi dan udah bisa nembak?” ujar Afifah sambil terkekeh.
Untung saja Afifah bilang begitu pas tidak ada tamu naik ke pelaminan, Askara, Salma, Bu Mila, dan lainnya yang juga ada di atas pelaminan juga tidak mendengarnya.
“Untung gak kedengaran orang dari tadi kita ngobrol?” ucap Dimas. “Jangan bilang gitu, nanti Om tembak kamu sekarang mau?” bisik Dimas.
“Gak apa-apa ditembak sekarang, kan pelurunya bikin basah? Yuk ke kamar?” bisik Afifah.
__ADS_1
“Ish ... udah gak tahan, ya?” ledek Dimas.
“Iya, yuk sekarang? Bikin adek bayi?” ajak Afifah menggoda.
“Tuh lihat masih banyak tamu? Masa ditinggal bikin adik bayi?” ujar Dimas.
“Salah sendiri mengundang tamu banyak? Kayak aku dong Cuma satu kelas saja yang aku undang, di luar itu paling beberapa, gak ada seratus orang?” ucap Afifah.
Afifah memang tidak punya banyak teman, paling tiga orang saja yang akrab dengannya. Jadi dia tidak mengundang banyak temannya, itu saja kalau tidak satu kelas Afifah tidak mengundangnya. Gak enak juga kalau tidak mengundangnya, nanti kalau tiba-tiba Afifah hamil, disangka hamil duluan, belum menikah? Kalau mengundang teman kuliahnya kan jadi mereka sudah pada tahu, kalau Afifah sudah menikah.
“Ya, Om saja gak tahu, kenapa orang yang Om undang datang semua? Padahal om hanya sebar saja undangan itu ya biasa, gak berharap banget mereka datang, apalagi yang luar kota? Datang, gak datang ya terserah mereka, yang penting Om sudah kasih undangan, kasih kabar bahagia om yang mau menikah. Syukur deh mereka datang semua, ngasih selamat, dan mendoakan kita. Makin banyak tamu yang datang, kan makin banyak yang mendoakan pernikahan kita, Sayang? Jadi, kamu jangan cemberut gini?” tutur Dimas.
“Tapi, aku capek, Om?” rengek Afifah.
“Ya sudah yuk, turun? Kita istirahat sebentar, nanti ganti baju juga,” ajak Dimas.
“Iya, ayok turun,” jawab Afifah.
Dimas bicara dengan Askara dan Salma, kalau Afifah ingin turun dari pelaminan, ingin ganti baju, dan ingin istirahat. Askara mengiyakan, lagian sudah siang juga Afifah belum makan siang, apalagi Afifah sarapan hanya sedikit, dia tidak nafsu makan, karena memikirkan acara akad nikah yang membuat dia tegang dan panik.
“Kamu mau turun, Nak?” tanya Askara pada Afifah.
“Iya, Ayah ... capek sekali,” jawab Afifah.
“Iya, pengin gendong ayah saja,” jawab Afifah.
“Ih masa ayah yang gendong? Ada aku lho? Aku suami kamu?” protes Dimas.
“Aku penginnya gendong ayah, Om? Nanti kan kalau kita tinggal di sini aku gak ketemu ayah tiap hari, jadi aku pengin digendong ayah,” jawab Afifah manja.
“Biar ayah yang gendong, lagian kamu juga capek. Kamu siapkan saja tenagamu untuk nanti malam, biar staminanya jos! Jangan lupa bikinkan ayah cucu yang banyak!” ucap Askara.
“Kalau masalah itu tenang saja, Yah. Aku pasti akan buatkan ayah cucu yang banyak,” jawab Dimas.
“Makanya biar ayah yang gendong Afifah, kamu irit-irit saja tenagamu untuk nanti malam,” ujar Askara.
“Wih ... Ayah Mertuaku memang pengertian sekali sama menantunya?” puji Dimas.
“Ayah sangat mengerti, apalagi lama kamu menduda? Pasti udah di ubun-ubun tuh?” ledek Askara.
“Iya dong, apalagi aku udah sembuh, bibit unggul milikku akan segera tertanam di rahim Anak ayah yang cantik ini,” ujarnya.
“Bikin yang banyak, biar ayah sama bunda gak kesepian,” pinta Askara.
“Iya tenang saja, nanti kami bikinkan cucu yang banyak!” jawab Dimas.
__ADS_1
Askara menggendong putrinya ke kamar. Tidak dirasa Afifah sudah menjadi istri orang sekarang. Ada rasa kehilangan sosok anak perempuan yang manja, dan dekat dengannya. Anak perempuan yang selalu mengerti dirinya, dan selalu cerewet setiap dirinya sakit dan tidak enak badan. Afifah memang sangat menyayangi Askara, meskipun kadang rasa sayangnya tidak secara langsung ia tunjukkan, tapi Askara sangat merasakan kasih sayang putrinya itu.
“Anak ayah sudah jadi istri orang sekarang. Kamu sudah jadi seorang istri, sudah bukan Afifah kecil ayah,” ucap Askara dengan mata berkaca-kaca.
“Ih Ayah kok gitu bilangnya? Jangan begitu ih?” ucap Afifah yang tak kalah sedihnya.
“Jadi istri yang patuh sama suamimu ya, Sayang?” tutur Askara.
“Itu pasti, Yah. Ayah jangan sedih gini, nanti Afifah nangis,” ucap Afifah dengan mata berkaca-kaca juga.
“Enggak, ayah bahagia sekali melihat kamu bahagia. Kamu seperti tuan putri, cantik sekali hari ini,” puji Askara.
“Ayahku juga sangat tampan, gak kalah tampannya sama suamiku. Ayah jangan sedih, meski Afifah sudah menikah, Afifah ingin selalu menjadi putri kecil Ayah yang sangat ayah sayangi,” ucap Afifah.
“Ya, Ayah selalu menganggap kamu ini masih kecil, masih menjadi putri kecil ayah yang menggemaskan dan sangat cantik,” ucap Askara.
Askara menurunkan Afifah di depan kamarnya, lalu ia kecup kening Afifah dengan sayang.
“Ayah titip Afifah ya, Dim?” ucap Askara.
“Iya, Ayah, Dimas akan jaga Afifah, akan sayangi Afifah. Dimas akan jaga amanah Ayah yang cantik ini,” ucap Dimas.
“Ya sudah sana kalian ganti baju, lalu kalian makan siang,” ucap Askara. “Jangan mainan dulu, masih banyak tamu,” imbuhnya.
“Iya enggak, masa sekarang? Nanti malam aku buatkan cucu buat ayah,” ucap Dimas.
Salma melihat Dimas begitu bahagia menikahi Afifah. Ia bersyukur Dimas mendapatkan istri yang sangat Dimas cintai, juga bisa menyembuhkan sakitnya. Salma juga lega, Askara tidak cemburu-cemburu lagi, karena Dimas sudah menikah.
“Sudah kalian ganti baju, bunda akan minta asisten kamu siapkan makan siang,” ucap Salma.
“Iya bunda,” jawab Afifah dan Dimas.
Afifah dan Dimas masuk ke kamarnya. Masih dalam keadaan memakai gaun pengantin, dan masih ada riasan di kepalanya, Afifah langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
“Sayang ... ganti baju dulu,” perintah Dimas.
“Capek, Om ...,” ucapnya.
“Om lagi?” kesal Dimas.
“Capek Sayangku cintaku ...,” ralat Afifah.
“Ya sudah sini aku pijit kakinya, sandaran di sana, sini aku pijit.”
Dimas memijit kaki Afifah yang sedang pegal-pegal. Memang agak tegang otot-ototnya, karena dari pagi Afifah berdiri menemui tamu, pun dengan dirinya yang juga merasakan capek sekali, kakinya kaku dan pegal.
__ADS_1