Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Aku Mau Putus, Titik!


__ADS_3

Afifah dan Dimas saling menatap, tapi Afifah cepat-cepat menundukkan kepalanya, dia tidak ingin menatap Dimas lama-lama, apalagi tatapan Dimas sangat beda sekali dari biasanya. Mungkin karena tidak ada kabar darinya, atau karena dirinya menolak ajakan Dimas untuk jalan-jalan.


Setelah selesai makan malam Ardha dan Alana pamit untuk pulang. Afifah mengantarnya sampai teras depan bersama Bu Mila dan Dimas. “Fah, eyang masuk dulu, ya? Ada telefon, eyang angkat dulu,” ucap Mila.


“Iya, eyang,” jawab Afifah.


Dimas masih berdiri di dekat Afifah, ia masih bingung dengan perasaannya, kenapa dia seharian memikirkan Afifah terus, padahal Afifah juga kelihatannya biasa saja, cuek, dan tidak peduli sama sekali.


“Fah, kamu kok gak balas pesan om?” tanya Dimas.


“Oh maaf aku gak bawa hp om,” jawab Afifah. “Aku saja belum lihat hp ku ada di mana, habis oma ngajaknya dadakan sekali. Tahu aku sendirian di rumah, aku langsung diajak ikut, karena di sana juga banyak teman oma dan opa yang ajak cucunya, jadi aku diajak dadakan,” jelas Afifah.


“Masih saja ada tradisi begitu, kondangan pada bawa cucu, nanti dikenalkan, terus dijodohin? Pasti kamu tadi dikenalkan sama cucunya teman opamu yang cowok?” ucap Dimas.


“Iya, tadi dikenalkan sama opa, cucunya opa Alka, namanya Vero, dia baru mau masuk SMA,” jawab Afifah membenarkan.


“Sudah om duga pasti begitu. Cie dikenalin sama cowok nih? Ujungnya nanti dijodohin palingan?” ledek Dimas, padahal hatinya meletup-letup karena mendengar Afifah dikenalkan dengan cucu dari teman opanya.


“Biasa saja sih? Ya buat menambah teman. Masih kecil masa dijodohin?” ucap Afifah.


“Ya kadang ada tradisi begitu sih, dijodohin dari anak-anaknya atau cucu-cucunya kecil, bahkan ada yang dari bayi sudah ditentukan jodohnya sama orang tuanya atau eyangnya?” ucap Dimas.


“Memang mereka Tuhan? Sok jodoh-jodohin! Jodoh itu di tangan Tuhan, gak usah dicari, gak usah dijodoh-jodohin, tar juga dapat jodoh sendiri, jodoh akan mendekat, dan katanya jodoh cerminan diri kita?” ucap Afifah.


“Sok tahu kamu, bocil!” tukas Dimas.


“Bocil, bocil! Gak lihat apa aku sudah gede, malah Vero cucunya Opa Alka bilang aku ini sudah SMA, kan berarti bukan bocil lagi?” gerutu Afifah kesal.


“Ya emang kamu masih bocah, labil pula?” cetus Dimas.


“Terserah om deh! Capek bicara sama om! Ya sudah Afifah mau ke kamar, mau ambil hp Afifah, kali saja Vero telefon atau chat, tadi soalnya minta nomorku,” pamit Afifah.


“Tuh baru kenal saja sudah berani minta kontak kamu, ya?” cebik Dimas kesal.


“Lha memang kenapa? Masalah?” tanya Afifah.


“Masalah dong, kamu katanya pacarku? Kok nerima cowok lain?” ucap Dimas.


“Gak! Malam ini kita putus! Gak enak ternyata pacaran sama om-om, dikibulin ujungnya! Katanya pacarnya aku tapi wallpapernya perempuan lain!” cebik Afifah kesal, karena kemarin malam melihat wallpaper Dimas memakai foto Renata dengan dirinya yang posenya begitu mesra.


“Oh jadi kamu marah nih karena aku pakai wallpaper fotonya Renata? Jadi kamu minta putus karena itu?” tanya Dimas heran. “Dasar bocil, lihat gitu saja cemburu?” ucapnya lirih.


“Terus saja ngomongin aku bocil! Aku bilangin bunda sama ayah nanti!” ketus Afifah. Dimas mendekati Afifah yang masih berdiri menatap tajam Dimas karena dia marah sekali dikatain bocil sama Dimas. Dimas menyentuh pipi Afifah lalu dia mendekatkan wajahnya sambil berbisik pada Afifah. “Silakan bilang sama bunda dan ayah kamu, om malah mau bilang sama ayah dan bundamu kalau kita pacaran?” ucapnya dengan berbibisk, lalu mencium kilas pipi Afifah.


“Apaan sih! Cium-cium!” tukas Afifah kesal, dan mendorong tubuh Dimas.


“Hmmm ... sekarang saja baru kenal cowok lain, semalam kek gimana? Masih ingat? Kamu malah yang nyosor cium om!” ucap Dimas gemas.


“Maaf khilaf! Aku lihatnya bukan om soalnya! Tapi Song Joong-ki!” cetus Afifah. “Pokoknya aku mau putus!” tegas Afifah.


“Gak bisa semudah itu dong? Kamu sudah minta jadi pacar om sampai om mutusin Renata lho?” ucap Dimas.


“Halah mulutnya kalau ngomong seenaknya jidat saja! Orang sudah putus masih saja wallpapernya dia! Ah laki-laki banyak bicara sukanya!” cebik Afifah.


“Pokoknya om gak mau putus sama kamu! Kamu masih jadi pacar om selamanya! Om akan tunggu kamu sampai kamu dewasa!” ucap Dimas.


“Ya om sudah jadi kakek-kekek!” tukas Afifah. “Pokoknya kita putus! Putus, putus, dan putus! Titik!” pekik Afifah.


“Kenapa sih kamu ngotot minta putus gini? Labil sekali, gak seru ah pacaran masa dua puluh empat jam saja?” protes Dimas.

__ADS_1


“Terus masalah? Maunya berapa lama?” tanya Afifah.


“Sampai Afifah gede, terus om lamar dan om nikahi Afiah,” jawab Dimas lugas.


“Ngarep!” tukas Afifah. “Aku minta putus ya karena aku gak mau pacaran sama om-om! Sudah ah, kita putus pokoknya! Aku gak mau lagi jadi pacar om! Itu alasannya aku kenapa minta putus!” tegas Afifah lalu pergi meninggalkan Dimas.


“Gak bisa gitu dong, Fah! Kamu kok seenaknya ngomong putus?” protes Dimas


“Masalah gitu? Pokoknya udah, aku gak mau lagi!” tegas Afifah.


Dimas menggelengkan kepalanya, heran saja dengan dirinya kenapa bisa seperti itu, kenapa dia marah pada Afifah karena Afifah minta putus. “Dasar bocil labil! Lagian kenapa aku sampai begini sih? Pakai acara bilang pengin nikahin dia kalau dia sudah dewasa nanti lagi? Kenapa juga aku bisa mikirin Afifah terus? Gak berhenti-henti? Itu anak sudah aku cium-cium begitu malah minta putus? Afifah ... Afifah? Kenapa kamu bikin aku pusing gini? Karena mikirin kamu sehari saja kerjaku jadi berantakan, baru pernah seperti ini terjadi dalam hidupku. Semua ini karena kamu, Afifah!”


Baru pacaran semalam sudah langsung minta putus. Afifah padahal yang minta jadi pacar Dimas, tapi hanya semalam saja langsung minta putus. Dimas  mengambil ponselnya lalu menulis pesan utuk Afifah.


[Afifah, jangan putusin om! Om gak mau putus sama kamu!]


Dimas mengirim pesan seperti itu pada Afifah, rasanya malah seperti ABG yang baru diputusin ceweknya, stres, galau, kesel, kecewa, marah, dan bahkan Dimas merasa sedih sekali, pengin menangis diputusin Afifah. “Gila ini bocil buat gue begini. Afifah, Afifah, mantra apa yang kamu gunakan sampai buat om begini karena dicium kamu? Bukannya kamu yang galau, atau yang bucin sama om karena semalam kita ciuman sampai sedalam itu, sampai om sentuh yang seharusnya tidak om sentuh, tapi kamu malah biasa saja, cuek, dan sekarang mutusin om? Harusnya kamu yang galau Fifah, takut om tinggalkan kamu, karena di luar sana banyak perempuan cantik, seksi, dan menggoda! Tapi, kenapa malah om yang begini? Om biasa diputusin cewek juga biasa saja, gak ada galau dan bucin seperti ini saat kamu minta putus?” gerutu Dimas dalam hati.


Afifah tidak peduli dengan ucapan Dimas, ia tidak mau tahu pokoknya dia ingin putus dengan Dimas, karena dia takut dan ingat ucapan bundanya, kalau ciuman sama laki-laki nanti lama-lama bisa hamil, ayahnya juga mengiyakan perkataan bundanya, meski Afifah tahu hamil itu disebabkan oleh apa. Tapi, Afifah membenarkan ucapan bundanya, kalau keterusan ciuman Afifah bisa tidak terkontrol dan terjadilah hal seperti itu. Untung saja saat mau liburan kegiatan ekstra kurikuler PMR yang Afifah ikuti di sekolahannya mengadakan Penyuluhan masa remaja dan reproduksi remaja, jadi Afifah paham soal itu.


“Biar saja, anggap saja ini ciuman pertamaku. Aku gak merasa rugi karena Om Dimas tampan sekali, bahkan aku bayanginnya Song Joong-ki. Lagian Cuma ciuman saja dan pegang-pegang, daripada aku terus pacaran sama Om Dimas, nanti malah diapa-apain sama om-om?” batin Afifah.


Afifah mengambil ponselnya, ia jadi lupa mau mengambil ponselnya karena ingin tahu Vero sudah menghubunginya atau belum, ternyata malah belum ada Vero menghubunginya. Yang ada malah setumpuk pesan dari Dimas, dan puluhan panggilan tak terjawab dari Dimas.


“Apaan ini? Aku kira Vero sudah menghubungiku? Malah semuanya dari Om Dimas? Bucin banget om ku sama anak SMP?” ucap Afifah dalam hati.


Afifah membaca pesan dari Dimas yang isinya sama semua. Isinya Dimas tidak mau putus darinya. Sampai seratus lima belas Dimas mengirim pesan yang isinya sama.


[Afifah, jangan putusin om! Om gak mau putus sama kamu!]


[Om gak terima diputusin kamu!]


[Jangan putusin om, om sayang Afifah!]


[Om gak mau putus, titik!]


[Om gak mau putus!]


Semua pesan dari Dimas hanya berisi tidak mau putus dengan Afifah. “Dasar om-om bucin!” ucap Afifah dengan terkekeh melihat dan membaca pesan dari Dimas.


Afifah ingin membalas pesan dari Dimas, tapi ia tak henti-hentinya tertawa melihat Dimas terusmengirim pesan yang isinya sama. Dia tidak mau putus.


[Aku mau putus saja! Titik!]


Afifah tetap ingin putus dengan Dimas, ia tidak mau lagi sampai terjerat dengan om-om, yang mungkin nantinya akan sulit melepaskannya.


[Kamu mikir gak sih, Fah? Sadar gak sih, kemarin malam kita itu habis ngapain? Kamu gak sayang sudah om sentuh?]


Dimas membalas pesan Afiah, tetap saja Dimas terus membujuk Afifah supaya tidak jadi putus.


[Iya, aku sadar kemarin malam habis ngapain sama om. Justru karena aku sadar, aku jadi ingin putus! Aku gak mau terus-terusan begitu, yang ada kalau gak putus kita begitu lagi!]


[Terus kamu mau gituan lagi sama cowok lain? Jangan menjatuhkan harga dirimu, Fifah! Cukup di depan om dan kemarin malam saja! Om janji gak akan mengulanginya. Afifah, please ... jangan putusin om!]


[Gak aku mau putus ya putus, Om!]


[Fah, jangan gitu dong, katanya kamu sayang sama om?]


[Ya sayang, karena om baik. Sudah Afifah gak jadi untuk jadi pacar om. Om cari saja yang lain. Anggap saja semalam Afifah khilaf om, karena Afifah akui om sangat tampan sekali semalam]

__ADS_1


[Afifah, dengarkan om! Om sayang Afifah, om mau kita pacaran lagi. Tolong jangan begini, Afifah? Kamu mau apa om akan turuti, asal kamu masih mau jadi pacar om.]


[Sudah ya, Om? Afifah gak mau pacaran sama om.]


[Om akan nungu kamu, Fifah! Sampai kamu dewasa akan om tunggu, om akan bilang sama bunda dan ayahmu jika kamu sudah lulus kuliah, om akan tunggu kamu!]


[Ya Afifah gak mau, pasti om sudah keriputan, om sudah tua, jadi kakek-kakek!]


[Lihat saja nanti!]


Dimas benar-benar dibuat pusing dengan Afifah. Afifah beneran minta putus dan gak mau lagi pacaran sama Dimas. Dimas dari tadi meminta Afifah untuk keluar menemuinya di taman belakang, tapi Afifah tidak menghiraukan pesan masuk dari Dimas yang menyuruh Afifah ke taman belakang. Afifah malah menaruh ponselnya di bawah bantal, lalu ia keluar pamit dengan eyangnya untuk tidur. Afifah kembali ke kamarnya, mengunci pintunya, dan menyalakan laptopnya karena ingin nonton film lagi.


Dimas masih menunggu Afifah di belakang. Ia terus menelefon Afifah tapi tidak diangkat oleh Afifah. “Afifah ... angkat dong? Kamu benar-benar, ya?!” umpat Dimas kesal.


Dimas mengetuk kamar Afifah, tapi tidak ada sahutan. Afifah memang memakai earphone, jadi tidak mendengar ada orang yang mengketuk-ketuk pintunya.


“Dim kamu cari Afifah? Dia mau tidur katanya, baru tadi bilang ibu dia mau tidur,” tanya Bu Mila.


“Iya, ini ayahnya telefon, tapi gak diangkat-angakat sama Afifah,” ucap Dimas.


“Apa tadi telefon rumah Askara yang telefon? Ibu di kamar mandi, jadi gak ibu angkat, gak ada bibi juga di rumah,” ucap Bu Mila.


Memang tadi telefon rumah bunyi, saat Dimas mau angkat sudah mati, dan Askara benar menelfon Dimas karena Afifah tidak bisa dihubungi dari tadi, padahal Askara ingin dengar suara Afifah, karena seharian belum menelefon Afifah.


“Iya mungkin tadi Askara yang telefon, Bu,” ucap Dimas.


“Kebiasaan sekali ini anak, paling sedang denger musik atau nonton film nih anak! Pakai itu lho yang di telinga biasanya?” ucap Bu Mila.


“Iya biasanya pakai earphone bu,” ucap Dimas membenarkan.


“Sebentar ibu gedor pintunya,” ucap Bu Mila.


“Afifah! Buka pintunya!” Bu Mila menggedor-gedor pintu kamar Afifah berkali-kali, cukup lama. “Afifah!” teriak Bu Mila sambil terus menggedor pintunya.


“Ini anak biasanya gak dikunci lho pintunya?” ucap Bu Mila.


“Askara anak gadismu ini pasti sedang nonton film, dari semalam juga nonton film korea sampai jam satu malam dia. Atau mungkin dia lelah karena seharian pergi sama Om Ardha dan Tante Alana, ikut ke pernikahannya anak teman Om Ardha dan Tante Alana?” ucap Dimas pada Askara lewat telefon.


“Ini anak mentang-mentang lagi liburan mantenginnya laptop mulu! Film mulu yang dibesar-besarkan!” gerutu Askara di balik telefon Dimas.


“Ini lagi dipanggil ibu kok, kamu tunggu saja,” ucap Dimas tanpa mematikan telefon dari Askara.


Afifah samar-samar mendengar pintu kamarnnya di gedor dan mendengar suara eyangnya memanggil. “Eyang kayaknya panggil aku? Ih aku kan bilang mau tidur?” Afifah melepaskan earphone nya, lalu mendengarkan lagi, benar tidak eyangnya memanggil dia dan menggedor pintunya.


“Afifah, buka pintunya! Ayah sama bundamu telefon!” teriak Bu Mila dari depan kamar Afifah sambil menggedor-gedor pintu kamar Afifah.


“Eh iya eyang yang manggil? Aduh ayah telefon? Gawat nih pasti ayah marah karena aku gak angkat telefon?” ucap Amira dan langsung ambil ponselnya, melihat ayahnya menelefonnya atau tidak. “Tuh, kan? Sampai lima belas kali?” ucap Afifah.


Afifah masih mendengar eyangnya menggedor pintu kamarnya. Dia beranjak dari tempat tidurnya, lalu membuka pintunya. “Ada apa eyang?” tanya Afifah.


“Haduh kamu ini? Boleh kunci pintu, tapi hape kamu aktifin, Fifah? Ayahmu telefon kamu dari tadi katanya! Sampai telefon ke telefon rumah, sama ke Om Dimas, mungkin di ponsel eyang juga, tapi ponsel eyang dayanya habis,” ucap Bu Mila.


“Iya, lupa Afifah hapenya di bawah bantal,” ucap Afifah.


“Pintar, ya? Malah mentingin film?! Nih ayahmu mau bicara, siap-siap kamu dikasih siraman rohani karena kebanyakan nonton filim?” ucap Dimas sambil memberikan ponselnya pada Afifah.


Afifah mendengkus kesal, lalu ia merebut ponselnya Dimas, dan bicara pada ayahnya. Benar ayahnya langsung meberikan siraman rohani karena ia kebanyakan nonton film mentang-mentang sedang liburan.


“Iya ayah, ih ayah begitu sekali bilangnya?” ucap Afifah kesal pada ayahnya lewat telefon.

__ADS_1


__ADS_2