Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Mendahului Kami


__ADS_3

Afifah masih diam saja, meskipun tamu Dimas yang menyebalkan itu sudah pulang. Dimas tahu pasti istrinya kesal dengan para tamunya yang malam membicarkan dirinya dengan Salma saat dulu. Istri mana yang gak cemburu dan gak marah kalau mendengar cerita masa lalu suaminya, apalagi diceritakan oleh orang lain, bukan suaminya sendiri yang menceritakan.


Afifah duduk di kursi yang ada di depan pelaminan, ia sedikit lelah setelah menemui tamu, ditambah tadi tamunya nyerocos terus mulutnya, bahas masa lalu Dimas dan Salma dulu, yang membuat Afifah kesal.


“Sayang ... kok diam?” tanya Dimas yang melihat wajah cemberut Afifah.


“Capek!” jawabnya singkat, setengah ngegas.


Dimas beranjak dari tempat duduknya, ia berjongkok di depan Afifah yang sedang merajuk. Dimas tahu pasti Afifah begitu karena tadi tamunya yang terus membahas masa lalunya dulu dengan Salma. Padahal menurut Dimas itu sudah cerita lama dan sudah tidak perlu untuk di perbincangkan.


“Kenapa, Hemm?” tanya Dimas, lalu meraih tangan Afifah dan menciumnya.


“Gak apa-apa, capek saja!” jawab Afifah dengan memalingkan wajahnya dari Dimas.


“Sayang ... marah ya sama aku? Gara-gara tamuku tadi? Dia memang begitu orangnya. Sudah dong jangan ngambek? Lagian kamu kan tahu aku sekarang bagaimana?” ucap Dimas membujuk Afifah.


“Ya gimana gak sebel? Semua pada menyayangkan om dan bunda berpisah? Gak tahu perasaan pasangan bunda yang sekarang, dan pasangan om yang sekarang, bicara seenak jidatnya mereka!” cebik Afifah.


“Namanya emak-emak gak ngotak, meskipun istri pejabat, ya begitu ngomongnya gak mikir-mikir dulu,” jawab Dimas. “Sudah dong, Sayang? Jangan ngambek lagi, lagian ini kan hari bahagia kita? Masa kamu gini?” bujuk Dimas.


“Kesel saja, ada gitu orang yang seperti itu! Kalau udah tahu masa lalu,  ngapain mesti dibahas!” ucap Afifah.


“Ya memang orangnya begitu. Sudah jangan dimasukkan ke hati, kita ini lagi bahagia lho? Masa kamu merengut gini wajahnya? Sudah ah, nanti hilang cantiknya.” Dimas terus membujuk Afifah yang ngambek karena istri temannya tadi.


“Ih ... gemes sekali! Pengin cabik-cabik mulutnya tuh ibu-ibu!” umpat Afifah. “Ihh ... gemes sumpah!” Afifah reflek meremas pipi Dimas dengan gemas.


“Ahhww ... sayang ... sakit tahu!” pekik Dimas.


“Ya habisnya gemes banget om!” kesalnya.


“Ya sudah, kali saja mau remas-remas pipi om lagi, gak apa-apa deh, yang penting istriku ini bahagia, gak marah lagi?” ucap Dimas.


Afifah melihat Dimas yang pasrah di depannya dengan menunjukkan pipinya yang memerah karena ia remas tadi, supaya Afifah meremasnya lagi.


Cup!


Afifah mengecup pipi Dimas dengan sayang. “Maaf, sampai merah gini, gak aku remas lagi, sini aku cium lagi, biar sembuh sakitnya,” ucap Afifah.


“Ada tamu lho, tuh ada yang lihatin,” ucap Dimas.


“Ih biarin saja, orang kita suami istri?” jawab Afifah.


“Oh gitu, ya?”


“Iya dong?” jawab Afifah manja.

__ADS_1


Sekilas Afifah mendengar adiknya menangis. Benar itu suara Yusuf menangis. “Om, dengar Yusuf nangis, gak?” tanya Afifah.


“Iya, kayaknya dia nangis,” jawab Dimas.


“Tumben, nangisnya begitu sekali?” ujar Afifah.


“Sama bunda dan ayah, kan?” tanya Dimas.


“Mungkin, kan tadi Bunda sama Ayah nyamperin Yusuf?” jawab Afifah.


“Ke sana yuk? Tumben sekali dia nangis sampai gitu?” ajak Dimas.


Afifah dan Dimas menghampiri sumber suara di mana Yusuf menangis sampai meraung-raung. Yusuf dengan Zhafran dan Ardha, dia menangis entah kenapa sampai menangis seperti itu.


“Sayang ... kamu kenapa?” Afifah mendekati adiknya, lalu langsung mengambil alih Yusuf dari gendongan opanya.


“Bunda ....” Yusuf menangis memanggil bundanya.


“Bunda lagi mandi, sebentar lagi ya, Sayang?” ujar Ardha.


“Tadi kayaknya bunda kan nyusulin Yusuf, Opa?” tanya Afifah.


“Iya, tapi Yusuf gak mau sama bundanya, maunya sama opa, ya bundamu ke kamar, katanya mandi, tapi lama sekali gak keluar-keluar, apa istirahata kali, ya?” ujar Ardha.


“Ayo sama Om Dimas, sini sayang.” Dimas mengajaknya, tapi tetap saja  Yusuf masih cari-cari bundanya.


“Kali saja lagi istirahat, Sayang? Biar dulu, bunda sama ayah dari pagi sudah capek, bahkan dari kemarin, tuh eyang saja sudah di kamar dari tadi?” cegah Dimas.


“Gak apa-apa, daripada Ucup nangis mulu?” jawab Afifah.


“Jangan Ucup manggilnya!” protes Yusuf dengan teriak.


“Eh iya, iya ... maaf ya anak ganteng, iya deh, Yusuf adikku sayang yang tampan,” ralat Afifah.


“Kakak nakal!” teriaknya.


“Ih siapa juga yang nakal sama kamu?” protes Afifah.


“Sudah jangan ledek adikmu, sana katanya mau memanggil bunda?” titah Dimas.


“Ya sudah aku panggil Bunda, biar  Ucup gak nangis,” ucap Afifah sambil meledek adiknya.


“Ih tuh kan, Om! Kakak manggilnya Ucup lagi?” pekik Yusuf.


“Biar nanti Kakakmu tak sentil sama om, sudah diam sama om, ya? Yuk lihat ikan di sana, sama burung,” ajak Dimas, supaya Yusuf tidak nangis lagi.

__ADS_1


Sedangkan Afifah, dia mencari bundanya di kamar. Mungkin benar kata opanya, kalau Ayah dan Bundanya sedang istirahat, karena sudah kelelahan. Afifah juga sebetulnya sudah sangat lelah sekali, tapi mau bagaimana lagi, Suaminya masih  banyak tamu yang datang. Afifah mengetuk kamar yang dipakai bunda dan Ayahnya.


“Bunda ... Ayah ... apa kalian di dalam?” panggil Afifah sembari mengetuk pintu.


“Bunda?” ulang Afifah.


“Iya, sebentar!” sahut Salma dari dalam.


Salma membuka pintu kamarnya, ia memakai bathrobe dan kepalanya dibungkus oleh handuk, karena habis keramas.


“Ih bunda ... hayo habis ngapain sama ayah?” ledek Afifah yang melihat wajah bundanya berseri-seri sekali, apalagi terlihat ada beberapa kiss mark di leher bundanya.


“Ish ... bunda habis mandi, tuh ayah juga lagi mandi? Ini bunda mau siap-siap, ganti baju dulu,” jawab Salma.


“Mandi apa mandi? Masa mandi sampai dua jam? Hayo habis ngapain?” Afifah semakin meledek bundanya, sampai Salma salah tingka.


“Ya, bunda beneran mandi dong?” jawabnya gugup.


“Tuh apaa merah-merah di leher? Habis digigit serangga, ya? Oh iya, serangga gigi putih yang ganas nih pastinya?” Afifah terkekeh sambil meledek ibunya.


“Ah masa sih? Sudah sana bunda ganti baju dulu,” ucap Salma.


“Yusuf nangis, Bun, gak mau sama siapa-siapa,” ucap Afifah. “Bunda ini mendahului Afifah, ya?” proter Afifah.


“Mendahului bagaimana?” tanya Salma pura-pura.


“Siapa, Bunda?” tanya Askara yang baru keluar dari kamar mandi.


“Ini Afifah,” jawab Salma.


Askara mendekati Salma yang berada di ambang pintu, ia sudah mengenakan kaos oblong yang sepertinya baru saja selesai mandi.


“Wah ... benar, kan? Kalian habis mendahuluiku? Masa pengantin baru saja belum belah duren, kalian udah duluan?” ledek Afifah lagi.


“Kamu bicara apa, Fah?” tanya Askara.


“Tuh leher Ayah sama Bunda merah-merah, habis digigit serangga gigi putih!” jawabnya.  “Ayok buruan! Tuh Yusuf nangis lho? Dia manggilin bunda dari tadi? Ehhh ternyata bunda sama ayah lagi bikinin Yusuf adek?” candanya.


“Ish ... kamu itu? Biar nanti Yusuf punya adek sekaligus keponakan,” ucap Askara.


“Haduh ... ribet dong? Ya sudah ah, buruan tuh nangis terus Yusuf,” ujar Afifah.


Afifah meninggalkan kamar bundanya, ia menggeleng-gelengkan kepalanya, gak menyangka saja siang bolong malah mainan, kesempatan Yusuf banyak yang jagain.


“Jiwa mereka masih muda semua, pasti tuh tadi ayah merajuk sama bunda, waktu orang-orang bicara soal bunda dan Om Dimas dulu?” batin Afifah.

__ADS_1


Namanya juga anak dan ayah. Pasti sifatnya hampir mirip. Keras kepalanya Afifah sama saja seperti keras kepalanya Askara, begitu juga hatinya yang mudah sensitif, apalagi mengenai pasangannya.


__ADS_2