Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Semakin Rumit


__ADS_3

Bu Mila sedikit kecewa karena Dimas tidak bisa datang ke rumahnya. Dimas beralasan ada pekerjaan dadakan, padahal ia tahu, Bu Mila pasti akan membahas soal perjodohan dengan anak temannya. Dimas merasa dirinya tidak laku saja, sampai dijodoh-jodohin begitu.


“Sayang sekali, Dimas tidak bisa ke sini. Dia akhir-akhir ini sangat sibuk Jeng Sari. Katanya rumahnya juga sudah pindah, sejak saya ikut Salma di sini, saya jarang ke rumahnya, dan rumah barunya saya tidak tahu,” jelas Bu Mila.


“Tidak apa-apa, Jeng. Santai saja, nanti juga bertemu kalau waktunya. Tadi kan saya bilang, saya mampir ke sini karena memang searah. Jadi mampir, biar ngobrol soal yang tadi enak, gak lewat telefon,” jawab Bu Sari.


“Ehm ... begini saja, ini saya tunjukkan foto Dimas saja, ya?” Bu Mila mencari Foto Dimas di ponselnya. Lalu memperlihatkan pada Bu Sari dan anaknya.


“Bagaimana Kania, kamu mau ibu jodohkan sama Anaknya Bu Mila?” tanya Bu Sari. “Lihat, dia tampan, ibu tahu seperti ini kriteria kamu, kan?” ujar Bu Sari dengan memperlihatkan foto Dimas.


“I—ini orangnya? I—ini kan Pak Dimas? Pemilik Elkana Group?” tanya Kania.


“Kamu kok tahu?” tanya Bu Mila.


“Saya baru saja diterima kerja di sana, Bu. Saya diterima jadi Sekretaris Pak Dimas, besok hari pertamaku bekerja,” jawab Kania.


“Wah ... ini kebetulan sekali, Kania? Kamu kok gak bilang dari tadi? Jadi kamu sudah tahu Dimas, dong?”


“I—iya tahu, Bu. Tadi pas Interview, Pak Dimas sendiri sih yang interview calon Sekretaris barunya,” jawab Kania.


“Kalau begitu ini sangat mudah untuk kalian bisa saling dekat,” ujar Bu Mila.


“Iya, Kania, kan satu kantor, jadi kalian bisa semakin akra nantinya,” ujar Bu Sari.


“Ehm ... i—iya, Bu. Tapi, sepertinya Pak Dimas sudah memiliki kekasih, karena di ruangannya ada foto perempuan, ya saya tidak tahu itu kekasihnya atau saudaranya. Mirip sih sama Afifah,” ucapnya. “Oh iya, tadi Afifah juga ke kantor Pak Dimas, makanya saya tidak asing dengannya,” jelas Kania.


“Bukan lah! Afifah sudah dianggap Dimas seperti keponakannya. Dia memang manja sama Dimas dari dulu, karena Dimas memang manjain Afifah, apa yang Afifah mau pasti diturutinnya. Kalau ngambek sama Ayah atau Bundanya ya sudah dia langsung ngadu ke Dimas,” tutur Bu Mila.


“Oh begitu? Kania kira Afifah kekasihnya Pak Dimas?” ucap Kania.


“Dimas itu kan dulu menantu saya. Mantan suami Salma. Dia memang duda, tapi kan masih terlihat muda sekali, Kania? Ibu pengin melihat dia menikah lagi. Salma juga sudah menikah dan punya anak, masa Dimas masih sendiri terus? Afifah itu anak sambung Salma. Masa iya pacaran sama Mantan suami Bundanya? Ya gak mungkin, Kania?” ujar Bu Mila.

__ADS_1


“I—iya sih, kan Kania kira, Bu?” jawabnya.


Kania tidak menyangka Dimas yang Ibunya dan Bu Mila maksud ternyata Dimas atasannya, dan besok dia akan menjadi sekretaris Dimas. Tidak berpikir panjang lagi, biar pun duda, yang terpenting memiliki jabatan, dan punya perusahaan.


“Aku harus bisa mendapatkan hati Pak Dimas. Tidak salah aku jatuh cinta pada pandangan pertama padanya tadi saat interview. Ternyata dia orang yang akan dijodohkan denganku. Ah ... Ibu memang tahu apa seperti apa calon suami kriteriaku,” ucap Kania dalam hati.


^^^


Salma dari tadi menguping pembicaraan Ibunya dengan Bu Sari. Semakin rumit saja menurut Salma. Ibunya sangat mendukung Kania dengan Dimas. Salma tidak ingin anak perempuannya sakit hati karena Eyangnya. Sebisa mungkin sekarang Salma harus menemui Dimas. Ia langsung hubungi Askara supaya pulang dari kantor langsung ke rumah Dimas, untuk menyusul dirinya dan Afifah. Tidak mungkin dia mengundang Dimas ke sini, nanti yang ada Bu Mila malah membahas soal Kania, dan semuanya akan semakin rumit.


Untung saja Afifah tidak mendengar apa yang tadi dibicarakan Bu Mila dan Bu Sari tentang Dimas. Salma meminta Afifah buru-buru ganti baju, supaya tidak terlalu malam untuk ke rumah Dimas.


“Tunggu, Bunda ... ih bunda ini semangat sekali sih?!” ucap Afifah. “Afifah saja santai?” imbuhnya.


“Bunda ini sedang memperjuangakan kamu dan Dimas. Harus gerak cepat masalah seperti ini, Afifah!” tegas Salma.


“Iya, sebentar, ambil tas dan kunci mobil!” ucap Afifah.


Salma juga tidak mau mempersulit hubungan Afifah dengan Dimas, toh mereka saling mencintai. Tadinya, Salma pikir ia akan risih kalau menantunya itu mantan suaminya. Namun, mau bagaimana lagi, sudah terlanjur seperti itu keadaannya.


Sedangkan Askara, mendapatkan kabar dari Salma yang begitu, Askara hanya tercenung. Membaca chat dari Salma, Askara berpikir memang ia harus mengambil tindakan, supaya Dimas meresmikan hubungannya dengan Afifah. Mau bagaimana lagi? Mereka sudah lama menjalin hubungan? Melarang pun nantinya malah membuat Afifah semakin macam-macam dengan Dimas. Namun, di balik semua itu Askara juga berpikir akan jauh dari anak gadisnya kalau dia menikah nanti. Askara sebetulnya belum siap kalau Afifah menikah.


Askara langsung pulang dari kantornya, menuju ke lokasi yang diberitahukan Salma dan Afifah. Askara masih berpikir kalau Afifah menikah nanti dia bagaimana? Dimas akan menyayangi dan mencintainya dengan segenap jiwanya atau tidak. Dimas akan menyakiti Afifah atau tidak, Askara terlalu takut anak perempuannya akan disakiti pasangannya.


“Enggak, aku yakin Dimas nggak akan menyakiti Afifah. Aku tahu Dimas bagaimana, dia sayang Afifah dengan tulus. Sejak kenal Afifah, dia memang langsung sesayang itu pada Afifah, ternyata malah jadi pacarnya. Terus, tadi kata Salma mereka pacaran saat Afifah kelas dua SMP. Bisa-bisanya anakku malah pacara sama om-om di usianya yang remaja. Bukan malah suka dengan teman lawan jenis yang seumuran, malah sama om-om?” ucap Askara dalam hati.


Afifah dan Salma sudah sampai di depan rumah Dimas yang baru. Dimas sekarang lebih sering tinggal di rumah barunya yang sudah di atas namakan Afifah itu. Itu semua karena dia dengan Afifah sering berada di rumah itu. Afifah menunggu penjaga rumah membuka pintu gerbangnya


“I—ini rumah siapa, Afifah?” tanya Salma bingung saat melihat rumah yang katanya milik Dimas, terlihat seperti istana.


“Ya rumahnya Om Dimas, Bunda?” jawab Afifah.

__ADS_1


“Ini rumah apa istana sih?” tanya Salma. “Eh ini mah bukan istana lagi, Afifah? Ini kayak Mension yang di film-film Mafia itu sih?” imbuhnya.


“Bunda itu ada-ada saja ih? Ya ini rumah lah, rumah yang cukup mewah sih. Entahlah kenapa Om Dimas milih rumah ini,” jawab Afifah.


“Ini tidak mewah lagi, Afifah! Ini benar-benar kek rumah di film-film Mafia gitu?” ucap Salma.


“Ya begitu, Bunda,” jawab Afifah.


Penjaga rumah mempersilakan Afifah masuk. Tak lama kemudian mobil Askara datang, “Pak, itu mobil ayah saya, biarkan masuk juga!” ucap Afifah pada penjaga.


“Baik, Nona,” jawabnya.


Afifah memarkirkan mobilnya, ia turun dan langsung di sambut oleh asisten di rumah Dimas. Sudah seperti nyonya di rumah Dimas itu, semua asisten di rumah Dimas sangat menghargai Afifah.


“Sudah ditunggu Pak Dimas samping Paviliun, Non,” ucap salah satu pelayan.


“Oh iya, Mbak,” jawab Afifah. “Mbak, nanti buatkan minum untuk bunda dan ayah, ya?” pinta Afifah.


“Iya, Non. Silakan saya antar dahulu,” ucapnya.


“Kamu sering ke sini?” tanya Salma dengan berbisik.


“Kenapa semua orang di sini kenal kamu? Dan seperti sopan sekali sama kamu, Fah?” tanya Askara. “Kamu sering ke sini?”


“Iya, Yah, Bun, aku sering ke sini, diajak Om Dimas,” jawab Afifah.


“Ngapain?” tanya Askara.


“Gak macam-macam, kan?” tanya Salma.


“Ih, bunda, ayah, ya enggak, lah? Paling menemani Om Dimas kerja, meeting sama klien, dan diajari soal bisnis sama Om Dimas,” jawab Afifah.

__ADS_1


Askara merangkul Afifah. Tidak disangka Afifah malah memilih laki-laki yang umurnya jauh sekali dari dirinya. Apalagi laki-laki itu adalah mantan suami bundanya.


__ADS_2