
Afifah mendongakkan kepalanya, ia menata Dimas yang juga sedang menatapnya. Dimas mengusap air mata Afifah yang masih membasahi pipinya. Dimas paham, Afifah cemburu. Istri mana yang tak cemburu melihat suaminya dipeluk dan dicium perempuan lain? Afifah juga perempuan biasa yang pada umumnya memiliki perasaan yang sama dengan perempuan lain.
“Sudah, jangan nangis, jangan pernah takut aku meninggalkanmu. Cemburu boleh, asal jangan begini, ya? Aku tahu perasanmu, tidak ada seorang istri yang tidak cemburu melihat suaminya dipeluk dan dicium wanita lain. Pasti akan cemburu seperti ini. Aku minta maaf, aku tidak tahu akan begini jadinya,” ucap Dimas, lalu mengecup kilas bibir Afifah.
“Aku minta maaf juga sudah marah-marah sama kamu, Kak,” ucap Afifah.
“Iya, gak apa-apa. Lain kali jangan gini ya cemburunya? Aku takut, takut kamu kenapa-napa kalau marah seperti tadi,” ucap Dimas.
“Hmm ... iya gak akan begitu lagi, aku akan percaya sama kakak,” ucap Afifah dengan memeluk Dimas, menenggelamkan wajahnya di dada Dimas.
“Memang ya, kita kayaknya gak dibolehkan untuk keluar-keluar, di kamar saja bolehnya, sekali keluar ada insiden seperti tadi,” ucap Dimas.
“Iya, gak usah keluar-keluar lagi, di kamar saja,” jawab Afifah.
Afifah dari tadi mengendus bau tubuh Dimas yang maskulin, apalagi baru selesai mandi, segar sekali bau tubuhnya, yang membuat darah Afifah makin berdesir. Afifah berjinjit, lalu menciumi pipi Dimas berkali-kali, bergantian kanan dan kiri, itu semua untuk menghilangkan jejak ciuman Elena, dia tidak mau ada bekas ciuman Elena dan pelukan Elena di tubuh Dimas.
“Kok gak cium bibir?” tanya Dimas.
“Aku hanya ingin menghapus bekas ciuman Elena di pipi kamu, Kak. Iya, tahu sudah diguyur air, kakak sudah mandi, tapi tetap saja Kakak masih bisa merasakannnya. Jadi biar rasanya jadi ciuman aku, bukan dia!” jawab Afifah dengan mendengkus kesal.
“Ya sudah, kita mulai ronde pertama saja kalau begini? Tuh lihat sudah tegak, kan?” ucap Dimas.
“Ih sensitif sekali sih? Masa baru dicium pipinya sudah bangun?” ucap Afifah.
__ADS_1
“Karena sentuhanmu menjadi canduku,” jawab Dimas lalu ia langsung melahap bibir Afifah yang manis.
Dimas langsung menggendong tubuh Afifah, lalu merebahkannya di atas tempat tidur. Kemauan Afifah yang ingin pulang, akhirnya dialihkan dengan sentuhan Dimas di sekujur tubuhnya yang membuat dirinya lepas kendali.
Kembali mereka melakukan permainan di atas ranjang. Tidak peduli apa pun, Afifah semakin bergairah dengan sentuhan Dimas yang makin membuatnya melayang.
******* mereka mengusik sepi di setiap sudut kamar mereka. Mereka bermandi peluh, padahal AC menyala dengan suhu paling rendah, tapi tidak ada efeknya, karena permainannya mereka bermandi peluh. Namun, tidak peduli, mereka menikmati permainannya berkali-kali.
Setelah sudah empat kali bermain di atas ranjang, Afifah tertidur pulas di pelukan Dimas. Dimas menciumi pipi Afifah yang sudah tertidur pulas. Ia gemas sekali dengan Afifah yang sedang tertidur seperti itu.
“Kamu gadis kecil yang sangat cantik, yang pintar, yang cerewet, menggemaskan sekali. Tidak aku sangka, kamu akan jadi istriku, kamu yang bisa menyembuhkan sakitku. Terima kasih, Sayang ... jangan marah-marah dan cemburuan lagi, ya? Kamu itu cinta sejatiku, kamu yang akan aku bahagiakan sampai akhir hidupku. Aku sangat mencintaimu, Afifah,” ucap Dimas lirih lalu mencium kembali pipi Afifah.
Dimas memeluk erat tubuh Afifah. Dia masih membayangkan dulu, saat bertemu Afifah pertama kalinya di pemakaman Azzura saat itu. Afifah yang sangat berharap dengan Salma saat itu, terlihat sekali raut wajahnya yang begitu menyayangi Salma, yang membuat Dimas semakin ingin menyatukan Salma dan Askara lagi karena Afifah.
Dari sekian banyaknya perempuan yang hadir di hidup Dimas setelah Dimas sakit impotent, hanya Afifah yang bisa menyembuhkan dirinya, apalagi sembuhnya secara spontan dan tidak sengaja, karena ciuman Afifah di kolam renang menjelang petang itu, membuat senjata Dimas bisa kembali bangkit lagi. Dimas seperti menemukan sebongkah berlian setelah itu, dan ia ingat akan ucapannya, siapa pun perempuan yang bisa membangunkan kembali senjatanya, dia akan menikahinya, dan akan mencintainya juga menyayanginya seumur hidupnya. Ternyata perempuan itu Afifah. Gadis kecil yang sangat dekat dengan dirinya setelah dia menyerahkan kembali bundanya untuk menikah dengan ayahnya.
“Kau tahu, aku tidak pernah menyangka akan seperti ini. Kau hanya gadis kecil yang manja, yang jika aku ke rumahmu, kau selalu menagihku untuk jalan dan menikmati es krim juga makan steak bersama. Selalu seperti itu, tapi entahlah aku tak pernah bosan jika kau ajak seperti itu. Padahal kau itu menyebalkan, maunnya selalu diturutin. Sekarang, kau juga masih sama saja menyebalkan, bedanya aku sangat mencintaimu sekarang, bukan hanya sayang saja. Kamu perempuan yang aku sayangi di dunia ini, kamu satu-satunya keluarga yang aku miliki saat ini, Afifah. Aku sangat takut kamu meninggalkanku. Aku tidak mau sebatangkara lagi, setelah mama dan papaku meninggal, aku hanya punya Bu Mila yang aku anggap seperti ibuku sendiri. Sekarang kamulah satu-satunya hidupku.” Dimas semakin mengeratkan pelukannya pada Afifah.
Afifah menggeliat, merasakan berat di tubuhnya karena dipeluk erat oleh Dimas. Afifah mengerjapkan matanya, ia melihat Dimas yang sedang menatap dirinya, lalu Afifah tersenyum dan mengecup kilas bibir Dimas.
“Kok belum tidur?” tanya Afifah.
“Sedang mengingat masa lalu,” jawab Dimas.
__ADS_1
“Masa lalu kakak dengan siapa?” tanya Afifah dengan rau yang sudah menunjukkan kesal pada Dimas.
“Masa lalu dengan kamu, Sayang. Gak nyangka saja kamu jadi istriku sekarang. Aku sedang ingat dulu waktu pertama melihat kamu, saat di pemakaman ibumu, dan yang kedua kalinya di rumah ibu, saat kamu akan pamit ke Jogja. Gadis kecil yang manis dan polos itu, seakan berharap padaku, lepaskan bunda untuk ayah, dan kamu untukku saja,” ucap Dimas lalu ia terkekeh.
“Ish ... nyebelin! Enggak gitu lah! Mana aku tahu soal begituan? Aku masih benar-benar polos saat itu, belum tahu drakor, jadi belum tahu ciuman, pas udah tahu, uhh gemes sekali tiap lihat kamu, Kak. Pengin cium nih bibir kakak,” ucapnya blak-blakan.
“Kamu sukanya halu sih! Jadi main sosor saja!” tukas Dimas.
“Habis bibir om menggodaku,” ucap Afifah gemas dan genit.
“Ih jangan om ah, geli dengarnya,” protes Dimas.
“Iya, kakak sayang ... habis gemes sekali, manis sekali bibirnya,” ucap Afifah lalu langsung nyosor menciumi bibir suaminya.
“Tapi, ada hikmahnya kamu cium kakak pas di kolam itu, nih bisa bangun. Ternyata pawangnya ada pada bocah kecil ini. Bisa nih bangun. Kakak benar-benar berterima kasih pada kamu, makanya kakak gak mau menyia-nyiakan orang yang sudah berjasa dalam hidup kakak. Selama bertahun-tahun kakak itu tersiksa lahir batin. Dan kamu, bisa melepaskan siksaan itu. Terima kasih sayang,” ucap Dimas lalu mencium kilas bibir Afifah.
“Uhh ... so sweet ... sama-sama sayang, kalau bukan karena kakak, aku bakalan habis ditangan Vero, laki-laki brengsek itu!” ucap Afifah kesal saat mengingat Vero.
“Ya sudah bobo lagi, ya? Sini kakak peluk. Jangan ingat-ingat anak berandalan itu. Bobo ya? Besok kita bikin bayi lagi pagi-pagi,” ucap Dimas.
“Hmm ... oke, peluk aku, jangan dilepas,” pinta Afifah manja.
Dimas memeluknya erat, ia kecup kening, pipi, dan bibir Afifah sebelum mereka tertidur pulas.
__ADS_1