Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Semoga Tuhan Mengampuni Semua Dosamu


__ADS_3

Dimas sudah di rumah Salma sebelum berangkat ke kantor. Seperti biasanya, Dimas selalu sarapan di rumah Bu Mila, setelah Rani meninggal, Bu Mila yang selalu menyuruh Dimas sarapan di rumahnya sebelum ke kantor. Itu artinya kebiasaan seperti itu sudah ada sejak Salma belum pulang ke rumahnya.


Dimas sudah seperti menjadi anak laki-laki Bu Mila, apalagi sejak Salma menikah dengan Askara, Salma ikut Askara, jadi Bu Mila di rumah sendirian hanya ditemani pembantunya saja. Saat Salma menikah dengan Askara, dia juga jarang pulang ke rumah ibunya,kecuali sedang ada kepentingan baru dia pulang.


Bu Mila, Salma, Dimas pagi ini sedang menikmati sarapan bersama di ruang makan. Seperti biasa sebelum mereka melakukan aktivitas mereka lebih mengutamakan sarapan lebih dulu.


“Sal, apa kamu yang mencabut kabel telefon rumah?” tanya Bu Mila.


“Oh iya, semalam aku cabut, setelah menerima telefon dari orang,” jawab Salma.


“Iya semalam ibu dengar telefon bunyi, selepas Dimas pulang. Ibu mau keluar angkat telefonnya, sudah terlanjur enak rebahan, dan ibu dengar kamu mengangkatnya,” ucap Bu Mila. “Memang siapa yang menelefon?” tanya Bu Mila.


“Iya semalam aku yang angkat, pas selesai menata kue di keranjang, ada telefon masuk, setelah aku angkat ternyata orang yang memberi kabar tidak penting bagiku, meski itu kabar duka,” jelas Salma.


“Siapa, Sal? Terus kabar duka gak penting maksudnya?” tanya Dimas.


“Iya kabar duka masa gak penting, Sal?” ujar Bu Mila.


“Ya memang gak penting bagi aku,” jawab Salma.


“Gak penting gimana? Memang siapa yang menelefon?” tanya Dimas semakin penasaran.


“Askara. Dia memberitahukan kalau Azzura meninggal semalam. Gak penting, kan? Gak ada penting-pentingnya malah? Udah gitu nyuruh aku melayat lagi?” jelas Salma.


“Innalillahi wainna ilaihi rojiun ....” Ucap Bu Mila dan Dimas bersamaan.


“Jangan begitu, Sal. Kamu boleh marah atau kecewa, atau apa pun itu. Tapi, itu kan kabar duka, Sal?” tutur Dimas.


“Iya, Sal. Jangan begitu,” imbuh Bu Mila.


“Untuk apa aku berempati dengan apa yang sedang Askara alami? Ya udah kalau meninggal sih mau gimana lagi? Memang sudah saatnya, kan?” ucap Salma.


“Sal, jangan begitu ih,” ucap Dimas. “Kalau kamu mau melayat ke sana, ayo aku temani?” ajak Dimas.


“Ya aku memang bilang sama Aska, kalau Dimas mau antar aku akan datang. Tapi, rasanya malas saja mau ke sana? Belum juga ketemu sama keluarga besar Aska? Huh. Bikin malas!” ucapnya.


“Ayo aku temani, itung-itung kita jalan, kan? Kan dari kemarin kita belum jalan ke mana? Kamu sibuk, aku juga sibuk?” ucap Dimas.


“Gak ah,  mau apa ke sana?!”


“Salma ... jangan begitu, menurut ibu kamu ke sana saja, tunjukkan kamu baik-baik saja, dan kamu bisa hidup tanpa Askara. Kamu bisa bahagia tanpa dia. Ke sana saja, tunjukkan Salma itu bukan wanita lemah, bukan wanita yang sombong juga, biar mereka semua tahu, kamu itu perempuan hebat,” tutur Bu Mila.


“Jadi mau ke sana? Aku antar, ya? Kalau jadi aku telefon kantor, aku izin hari ini tidak ke kantor, jadi biar sekretarisku yang menghandle pekerjaanku dulu sehari ini.”


“Menurut kamu gimana? Apa aku harus ke sana?” tanya Salma pada Dimas.


“Ya menurutku sih iya, apa salahnya melayat? Toh Askara juga sudah menyuruhmu untuk melayat, kan?” jawab Dimas.

__ADS_1


“Iya, juga sih? Kalau menurut ibu bagaimana?” tanya Salma pada ibunya.


“Ya ke sana saja, tunjukkan kamu ini baik-baik saja di depan mereka. Kalau ibu sih begitu?” jawab Bu Mila.


“Jadi gimana, Sal? Ke sana atau tidak?” tanya Dimas memastikan lagi. “Kalau mau ke sana aku antar kamu, aku tidak akan melepaskan kamu ke sana sendirian,” ujar Dimas.


“Iya deh ke sana.” Akhirnya Salam memutuskan untuk pergi ke pemakaman Azzura. Dia juga sekalian ingin melihat bagaimana reaksi Askara saat dirinya datang dengan Dimas.


“Ya sudah,aku telefon kantor dulu, supaya tahu kalau aku hari ini tidak berangkat,” ucap Dimas.


Salma mengangguk, sambil menghabiskan sarapannya. Dia memang ingin melihat Fifah juga. Meski semenjak ada Azzura dia selalu ribut dengan Fifah, dia tidak bisa memungkiri perasaan kangennya dengan Afifah. Gadis kecil yang ia rawat sejak masih balita. Sejak usia tiga tahun dia menemani Fifah, merawat Fifah, bahkan dia merasa hanya Fifah teman barunya saat pertama kali berada di kota Askara. Fifah yang bisa menyembuhkan luka di hatinya karena Dimas saat itu. Fifah yang menjadi pelipur lara saat dia terpekur meratapi luka, setelah berpisah dengan Dimas kala itu.


“Jujur, Bunda kangen sekali sama kamu, Fah. Kangen kamu yang dulu, yang manja dengan bunda, yang sayang sama bunda. Bunda paham, kamu berubah karena kamu kasihan sama ibumu, tapi bunda kecewa, kenapa kamu malah berpihak pada ibumu, saat bunda butuh kamu? Kamu malah ketus dengan bunda, seakan bunda ini jahat denganmu. Bunda kecewa sama kamu, tapi sekecewanya bunda, bunda tetap sayang kamu, Fah,” batin Salma.


Dari tadi Dimas sebetulnya mengajak bicara Salma, tapi Salma malah melamun, diam, dan memikirkan Afifah.


“Salma ... itu diajak Dimas bicara? Malah bengong?” Bu Mila menepuk pundak Salma, hingga Salma terjingkat.


“Eh iya Dim, ada apa?” tanya Salma.


“Mentang-mentang mau ketemu mantan saja ngelamun?” sindir Dimas.


“Ih kamu itu, lha kamu itu siapanya aku? Mantan juga, kan? Apa aku pernah galau dan melamun saat sama kamu? Kalau ngebentak kamu sih iya, Dim?” jawab Salma. “Kamu tanya apa tadi?”


“Aku sudah bilang dengan orang kantor, oke gak ada jadwal penting hari ini, jadi aku bisa free dan antar kamu ketemu mantan,” jelas Dimas.


“Kamu itu, aku mau melayat, bukan ketemu mantan!”


“Sudah, kalian kok malah jadinya ribut sih? Sudah sana kamu siap-siap, nanti ibu ambilkan buah tangan untuk kamu bawa ke sana. Ibu ambil dari toko saja nanti, sana kamu mandi, dandan yang cantik, biar mereka pangling lihat kamu yang dibuang begitu saja!” ujar Bu Mila.


“Ibu ada-ada saja,” jawab Salma.


Salma bersiap-siap untuk pergi ke pemakaman Azzura. Iya benar kata ibunya, dia harus terlihat cantik, menawan, dan terlihat bahagia setelah berpisah dengan Askara. “Eh, aku memang bahagia kok. Aku tidak merasa seterpuruk dulu saat Dimas meninggalkanku, sampai aku lama sekali mengobati luka karena Dimas. Sekarang dengan Askara, aku tidak begitu terpuruk, mungkin hatiku sudah dilapisi baja, jadi tidak mudah rapuh, dan sudah biasa disakiti,” batin Salma.


Sejak berpisah dengan Askara, Salma memang biasa saja, ya hanya mengingat Askara sekadarnya saja, tidak seperti saat pisah dengan Dimas dulu, yang setiap harinya dia selalu terbayang masa lalu yang indah saat bersama Dimas, kadang Salma sampai menangis semalaman karena mengingat Dimas, sering tidak bisa tidur, dan sering sakit karena memikirkan Dimas. Tapi, ketika ia berpisah dengan Askara, dia baik-baik saja, dia langsung mengisi kegiatan positif setiap harinya. Seperti membuat kue, merajut, dan lain sebagainya.


Dulu saat berpisah dengan Dimas pun dia berusaha melakukan kegiatan positif, sampai dia kembali lagi menekuni profesinya menjadi seorang Dokter. Namun, kenyataannya sama saja, setelah pulang dari bertugas, sampai di rumah dinas,. dia langsung meratapi nasibnya ditinggal Dimas, dia menangis sampai ketiduran, kadang masih memakai jas putihnya sampai ketiduran.


Saat itu Salma benar-benar hancur saat Dimas menikahi perempuan lain. Bahkan awal berpisah dengan Dimas, Salma sering mabuk-mabukan, dia sempat akan bunuh diri dan terjerumus ke dalam lembah hitam untuk menggunakan obat-obatan terlarang. Untung saja hal tersebut langsung diketahui ibunya. Salma setiap hari dipantau ketat oleh ibunya, hingga Salma sadar diri, dan tidak mau terpuruk lagi, dia langsung menjalani serangkaian beberapa seminar supaya dia bisa bertugas lagi menjadi seorang dokter.


^^^


Salma keluar dari kamarnya. Dimas baru saja pulang dari toko roti Bu Mila, sekalian mengambil buah tangan dari Bu Mila untuk dibawa Salma ke Askara. Entah apa yang Bu Mila bawakan, satu dus berukuran cukup besar yang Bu Mila bawakan untuk dibawa ke rumah Askara.


“Sudah siap, Sal?” tanya Dimas.


“Iya sudah,” jawabnya. “Ibu sudah di toko?” tanya Salma.

__ADS_1


“Sudah, ayo berangkat,” ajak Dimas.


Salma langsung mengiyakan ajakan Dimas, dia masuk ke dalam mobil Dimas, memasang seat beltnya supaya Dimas tidak memasangkannya lagi seperti saat itu.


Dimas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, untung masih agak pagian, jadi tidak terlalu padat jalanan.


“Dim itu ibu bawakan apa? Banyak sekali?” tanya Salma.


“Gak tahu, aku suruh bawa saja kok?” jawab Dimas.


Setelah beberapa jam mereka  menikmati perjalanan, akhirnya mereka sampai di depan rumah Askara. Salma tercenung melihat rumah yang pernah ia singgahi bersama Askara. Sepintas kenangan saat bersama Askara terlintas di depan matanya.


“Gak usah diingat, Sal!” tutur Dimas.


“Ah iya, Dim. Siapa yang sedang mengingat sih?” jawab Salma. “Dim, kayaknya sudah sepi, apa mungkin sudah berangkat ke pemakaman?” tanya Salma.


“Coba aku tanya pada ibu itu,” ucap Dimas. Lalu ia turun untuk bertanya pada ibu-ibu yang ada di depan rumah Askara, sedang membersihkan sisa minuman tamu.


“Bu apa jenazahnya sudah dimakamkan?” tanya Dimas.


“Oh baru saja berangkat, Pak. Baru banget kok, iring-iringan jenazah berangkat,” jawabnya.


“Oh ya sudah saya langsung menyusul saja, Bu,” ucap Dimas. “Oh iya, pemakamannya ada di daerah mana, Bu?” tanya Dimas.


“Di TPU ...., Pak,” jawabnya.


“Baik, Bu, terima kasih informasinya,” ucap Dimas.


Dimas langsung kembali ke mobil untuk segera ke tempat pemakaman umum yang diberitahukan ibu tadi.


“Gimana, Mas?” tanya Salma.


“Sudah berangkat, baru saja katanya, yuk langsung ke sana saja, ya?”


“Iya, ke sana saja langsung, di makam ...., kan?” tanya Salma.


“Iya betul, kamu tahu jalannya?”


“Iya tahu,” jawab Salma.


Dimas melajukan mobilnya ke makam tersebut. Sesampainya di sana, prosesi pemakaman baru akan dimulai. Dimas mengajak turun Salma, Salma sedikit takut dan ragu saat akan turun, tapi genggaman tangan Dimas, membuatnya tidak takut, dan tidak ragu lagi.


“Ayo? Takut ketemu mantan?”


“Eng—enggak! Kenapa takut?” jawab Salma.


“Slow biasa saja, Sal. Yuk turun. Buktikan kamu ini bahagia tanpa Askara,” ucap Dimas.

__ADS_1


Salma akhirnya turun dari mobil. Ia melangkahkan kakinya mendekati sekumpulan orang yang sedang menyaksikan prosesi pemakaman almarhum Azzura.


“Tenang di sana, Ra. Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosamu, yang sudah mennyakitiku dan merebut suamiku,” batin Salma.


__ADS_2