
Salma menata kue buatannya ke dalam toples kecil. Ia menatanya di dua toples, satunya ia tinggal di dapur untuk cemilan karyawan yang ada di dapur, dan satunya ia bawa keluar.
“Ayo keluar,” ajak Salma.
“Sudah selesai?” tanya Dimas.
“Yang kamu lihat? Ini kue sudah matang, aku kan bikin satu adonan saja,” jawab Salma.
“Kamu gak buatin kopi atau teh untukku, Sal? Aku tamu lho?”
“Itu di showcase banyak minuman dingin, ada kopi, susu, teh kokat, ambil saja sesukamu,” jawab Salma.
“Aku maunya dibuatkan kamu, Sal,” pinta Dimas
“Ishh ... aku gak bisa bikin kopi!” Salma tidak peduli Dimas yang minta dibuatkan kopi.
Salma keluar membawa toples lalu duduk di sebelah ibunya. Dimas mengikutinya, dan menarikn kursi duduk di depan Bu Mila.
“Bu, masa Salma ada tamu gak dibuatkan kopi?” ucap Dimas.
“Ya minta saja sama anaknya,” jawab Bu Mila.
“Buatkan dong Sal?” pinta Dimas.
“Ih itu di lemari pendingin banyak kopi, Dimas ... sana ambil saja, aku yang bayar, aku malas ah bikin kopi!” tolak Salma.
“Sal, tamu lho? Buatkan gih!” titah Bu Mila.
“Salah sendiri bertamu di sini? Ibu saja sana yang buatkan? Toh biasanya kan ibu yang buatkan?” jawab Salma.
“Ya kamu ini aneh, kamu buat kue kesukaan Dimas, tapi kopinya gak kamu buatkan, kalau dia makan terus pengin minum bagaimana?” ujar Bu Mila.
“Ya ampun ibu ... Salma bikin kue ini buat Salma sendiri, bukan buat Dimas! Lagian mau ini kue kesukaannya juga sudah lupa?” ujar Salma.
“Tapi ada tamu ya buatkan minum dong, Sal?” tutur Bu Mila.
“Iya ini Salma ambilkan minum, tapi gak mau aku buatkan kopi untuknya, emang dia siapa? Biasanya juga dibuatkan ibu kok?” ucap Salma.
“Aku mantan kamu, Sal!” cetus Dimas.
__ADS_1
“Terserah!” tukas Salma.
Salma mengambilkan kopi untuk Dimas dari dalam lemari dingin. “Ini silakan!” Salma menaruhnya di depan Dimas.
“Kopi kenangan, cie mau mengenang kenangan sama aku, Sal?” celetuk Dimas.
“Ish ... kamu banyak protesnya ya, Dim!” geram Salma.
“Jangan kopi kenangan, Sal. Kopi masa depan saja, aku maunya kopi yang kamu buat. Kenangan itu kadang terlalu manis, aku gak mau diabetes karena kenangan. Aku maunya meski ada sedikit pahitnya, kita bisa terus menata masa depan bersama, Sal. Dari awal lagi, dan lupakan kenangan juga masa lalu yang dulu, yang mungkin sudah menyakiti perasaanmu. Kamu pilih manisnya kenangan yang menyakitkan, atau pilih masa depan yang ada pahitnya, tapi ujungnya bahagia?”
“Gak milih semua! Tinggal bilang gak mau saja repot! Pakai ngomong panjang kali lebar, kek ulama lagi ceramah saja!” tukas Salma.
“Sal, aku serius.”
“Aku tidak peduli!” Ucap Salma dengan mengambil kopi yang ia suguhkan pada Dimas, menaruhnya di lemari pendingin lagi dan akhirnya dia membuatkan kopi untuk Dimas.
Salma tersenyum saat membuatkan kopi untuk Dimas. “Selamat menikmati kopi buatan Salma yang kamu rindukan, Dimas ...,” ucapnya dengan tersenyum.
Salma membawakan kopi ke depan, lalu menaruhnya di depan Dimas. “Silakan kopinya bapak Dimas Sutejo?” ucap Salma.
“Kamu sukanya merubah namaku, Sal! Masih ingat saja sama Dimas Sutejo?” ucap Dimas.
“Oke, aku makan kuenya, Sal,” ucap Dimas.
“Bu cobain Salma bikin kue ini, masih enak gak buatan Salma. Dah lama sekali Salma gak bikin kue seperti ini. Setelah Salma balik ke profesi Salma, Salma jarang sekali menjamah dapur, paling ya buat masakan saja, itu juga rasanya gak enak, gak pernah bikin-bikin kue lagi, soalnya sibuk sekali pekerjaan Salma. Makanya Salma pengin sih mulai lagi bikin-bikin kue kering, atau apa gitu?” ucap Salma dengan mengambil kue lalu menyuapkan pada ibunya.
“Enak, gak berubah rasanya, gak terlalu kering juga sih, ini enak adonannya pas banget,” puji Bu Mila.
“Masa sih? Gak Cuma muji saja nih?”
“Gak, makanya kamu cicipi, jangan Cuma tanya sama ibu, tanya juga tuh sama Dimas? Gimana, Dim?” tanya Bu Mila.
“Masih sama rasanya seperti yang dulu, Bu. Kamu gak mau gitu bikin kue, khusus buatan kamu, lalu kamu coba jual di sini? Kamu ada bakat, Sal. Gak hanya mengobati orang, tapi ini juga bakat terpendam kamu,” puji Dimas.
“Makasih atasa pujian kalian, nanti aku pikir dulu deh, sama cari kreasi bentuk kuenya yang lain,” jawab Salma.
“Sepertinya kopinya enak nih, aku minum ya?” ucap Dimas.
“Oh silakan diminum, Dim. Kamu pasti akan memuji lagi kopi buatanku,” ucap Salma dengan tersenyum.
__ADS_1
“Oke aku minum, gak dikasih sianida, kan?” tanya Dimas.
“Aku tidak mau hidupku membusuk di penjara, Dim!” tukas Salma.
Dimas meminum kopinya, ia menyesap kopinya sedikit demi sedikit, lalu tersenyum pada Salma. “Kopimu enak sekali, Sal. Saking enaknya keknya bisa bikin orang darah tinggi, Sal,” ucap Dimas.
“Maksud kamu, Dim?” tanya Bu Mila.
“Ini Salma kapan keluarnya ambil air laut ya, Bu? Kopinya rasanya kek air laut, Bu,” jawab Dimas.
“Air laut? Berarti asin?”
“Ya begitu, Bu,” jawab Dimas.
“Salma ... kamu ini kalau bercanda keterlaluan sekali, masa pakai garam bikin kopinya?” ucap Bu Mila.
“Ah masa sih? Apa aku salah, ya? Atau aku sudah lupa apa yang namanya manis, jadi aku sengaja pakai garam saja?” jawab Salma.
“Jangan gitu dong, Sal? Kamu boleh marah sama aku, tapi jangan pakai garam bikin kopinya? Mending kopi tanpa gula, daripada pakai garam, Sal?” ucap Dimas.
“Kamu ini bercandanya keterlaluan, Sal!” ujar Bu Mila.
“Ya sudah sini aku ganti kopinya,” ucap Salma.
Salma membawa cangkir kopinya, lalu membuatkan kopi untuk Dimas lagi, kasihan sekali pasti asin sekali kopinya, apalagi dia menaruh garam dua sendok teh ke dalam secangkir kopinya yang ia buat untuk Dimas. Sebelum membuatkan kopi, Salma mengambilkan air mineral untuk Dimas.
“Nih netralkan dulu rasa asinnya. Maaf deh,” ucap Salma dengan menyodorkan satu botol air mineral pada Dimas.
“Makasih, Sal,” ucap Dimas.
Salma membuatkan lagi kopi untuk Dimas. Kali ini dia tidak mengerjai Dimas lagi, dia bikin kopi dengan benar, tidak memakai garam tapi gula, sesuai takaran yang Dimas suka. Gulanya jangan terlalu banyak.
Salma membawa kopinya ke depan dan menaruhnya di depan Dimas. “Kali ini mungkin sesuai dengan seleramu,” ucap Salma.
“Benar ya, gak pakai garam lagi?” ujar Dimas.
“Enggak, sudah dicicipi saja,” jawab Salma.
Dimas menyesap kopinya. Benar kopinya rasanya sesuai dengan apa yang ia inginkan. Kopi yang Salma buat, masih sama seperti dulu. “Kopi buatan kamu masih sama rasanya, sama seperti dulu,” ucap Dimas.
__ADS_1
“Ya namanya kopi ya masih sama rasanya, Dim? Masa mau berubah rasa teh atau cokelat? Aneh-aneh saja kamu, Dim?” jawab Salma.