
Dimas sudah menunggu mereka di pendopo yang ada di sebelah paviliun. Ia tadi baru saja menemui orang kantor, jadi dia sekalian saja menemui Askara dan Salma di sana.
“Ini ada apa kalian kok mendadak ke sini?” tanya Dimas.
“Kalian-kalian! Sama calon mertua ngomong sembarangan!” tukas Salma.
“Maksud kamu, Sal?” tanya Dimas.
“Sal? Aku calon mertuamu! Manggil yang benar!” bentak Salma.
“Askara, ini ada apa?” tanya Dimas pada Askara.
“Panggil yang benar, masa sama calon mertua begitu manggilnya?” jawab Askara.
“Aku sudah cerita sama Bunda semua, Om,” jelas Afifah.
“Om? Sama calon suamimu manggilnya Om?” protes Salma.
“Ih bunda ... udah enak manggil om,” jawab Afifah.
“Ka—kamu sudah bilang, Fah?” tanya Dimas.
“Hmm ... ini minta langsung ke sini, mau minta om segera nikahin aku!” jawab Afifah.
“Boleh, besok, ya?” jawab Dimas.
“Ini kalian itu kenapa gak bilang? Kamu, Dimas! Berani sekali macarin anakku dari kelas dua SMP?” ujar Askara.
“Ya Afifah yang mau, aku juga mau? Lalu harus gimana? Daripada Afifah pacaran sama Vero? Hasilanya tangannya cedera, kan?” jawab Dimas. “Eh silakan duduk, Ayah, Bunda.” Dimas mempersilakan Askara dan Salma duduk.
“Nah gitu dong? Sopan!” ucap Salma.
Dimas benar-benar tidak menyangka Afifah bilang semuanya pada Ayah dan Bundanya. Dimas tahu, pasti Afifah sangat khawatir kalau eyangnya akan memaksa dirinya untuk dijodohkan dengan anak temannya.
“Apa ibu mengirimkan foto perempuan yang akan dijodohkan denganmu?” tanya Salma.
“Belum, Sal. Kenapa memang?” jawab Dimas.
“Sal? Kamu itu calon menantuku!” geram Salma.
“Eh iya, Bunda,” jawab Dimas. “Lucu sekali manggil kamu bunda,” lanjutnya.
“Mau gak sama anakku? Mau sama anaknya, manggil mertuanya Cuma namanya saja!” tukas Salma.
“Iya, Bunda ... iya?” ucap Dimas kesal.
“Tadi ada tamunya ibu datang, dengan anaknya. Dia kasih foto kamu ke anaknya teman ibu itu. Anaknya teman ibu juga kasih fotonya ke ibu, biar dikirimkan ke kamu,” jelas Salma.
“Dia calon sektrtaris barunya om,” sambung Afifah.
__ADS_1
“Siapa?” tanya Dimas.
“Ya, yang tadi baru saja interview?” jawab Afifah.
“Oh iya, siapa ya tadi namanya? Aku lupa,” ucap Dimas.
“Lupa atau pura-pura lupa?” ujar Afifah. “Kania namanya!”
Askara hanya mendengarkan Salma yang sedang menginterogasi Dimas. Dia belum tahu apa-apa. Dia baru dari kantor, tidak tahu soal Kania atau siapa. Askara juga masih tidak menyangka anaknya pacaran sama mantan suami bundanya. Benar-benar di luar nalar sebetulnya, tapi mau bagaimana lagi? Mereka saling sayang, saling cinta? Askara bisa apa, selain merestui mereka, dan mendoakan yang terbaik untuk mereka.
Askara memang sudah merasa, semenjak Afifah dekat dengan Dimas, Afifah menyukai Dimas. Apalagi dulu dia sering tanya Dimas, kalau tidak datang ke rumah. Kalau liburan pun, dia lebih memilih Dimas untuk mengantarkannya ke Opa-Omanya, juga ke Eyangnya. Jarang sekali Afifah minta liburan ke rumah eyang, dan opa omanya lalu dianta Askara dan Salma. Yang sering, Dimas yang mengantarkannya.
Sejak dirinya kembali dengan Salma, Dimas memang selalu memberikan perhatian lebih pada Afifah. Askara kira, perhatian itu hanya sebatas Om dan keponakan saja, tapi ternyata malah jadi perhatian yang akhirnya timbul rasa cinta.
“Ehm ... sebentar, ini bagaimana ceritanya, Afifah masih kelas dua SMP sudah jadi pacar kamu, Dim?” tanya Askara penasaran.
“Ya, Afifah yang minta,” jawab Dimas.
“Benar, Afifah?” tanya Askara.
“I—iya, Yah,” jawab Afifah. “Habis Afifah selalu mikir gak ada laki-laki yang setampan Om Dimas. Afifah suka saja, Afifah blak-blakan minta jadi pacar Om Dimas, tapi dia malah nyebelin! Ngajak jadian, malah masih pasang foto perempuan lain!” ucap Afifah.
“Lagian kamu juga pacaran sama cowok lain? Egois sekali kamu, aku gak boleh pasang fotonya Renata!” sembur Dimas.
“Ya harusnya ngerti dong, Om?!” cebiknya kesal.
“Om Dimas yang mulai dulu, Yah!” ucap Afifah.
“Orang kamu dulu yang bahas?” ucap Dimas.
“Nikahi anakku sekarang! Dia sudah cukup usianya untuk menikah!” tegas Salma.
“Bunda ... aku belum lulus kuliah kok?” ucap Afifah.
“Mau kapan nikahnya? Kamu sudah sering sama Dimas, ke mana-mana bareng, bahkan kamu saja sering ke sini? Mau nanti kalau kamu keburu hamil duluan baru menikah?!” ucap Askara.
“Ih ayah! Gitu banget bilangnya!”
“Ya mau kapan lagi kalau gak sekarang-sekarang, Afifah? Ayah itu takut kamu pacaran lama-lama. Ayah percaya sama kamu, kamu gak ngapa-ngapain pacarannya, ya gak tahu sebenarnya juga sih bagaimana? Ayah hanya khawatir, kalian sama-sama sudah dewasa, apalagi pacarmu ini sudah tua, gak dewasa lagi, dia itu tua-tua keladi, mau kamu dihamili dulu sama dia?!” ujar Dimas.
“Tua juga masih ganteng, Pak! Ampun deh dibilang tua-tua keladi. Tega amat bilang gitu sama menantunya, Pak?” cebik Dimas kesal.
“Kalau gak tua-tua keladi terus apa maunya? Kamu suka sama anak di bawah umur, Dim! Anakku pula?” ucap Askara. “Nikahi anakku secepatnya! Besok persyaratan untuk menikah, sudah harus ada di depanku!” gertak Askara.
Askara tidak mau menunda-nunda. Takut sekali anak gadisnya melakukan hal lebih dengan Dimas. Apalagi mereka begitu dekat. Bisa-bisa mereka nekat melakukan hal-hal yang menurutnya sah-sah saja mereka lakukan, karena sudah berpacaran lama. Biar saja Afifah belum lulus kuliah, banyak yang masih kuliah menikah, jadi Askara ingin Dimas cepat-cepat menikahi Afifah.
“Ini gak salah, Askara?” tanya Dimas. “Eh, Ayah ma—maksudku,” ralatnya.
“Gak, gak ada yang salah. Kalau kamu gak mau menikahi Afifah dalam waktu dekat ini, itu artinya kamu hanya ingin mempermainkan Afifah saja, dan jangan harap kamu bisa mendapatkan Afifah!” ancam Askara.
__ADS_1
“Iya, iya! Aku akan segera urus semuanya. Iya, aku akan nikahi Afifah. Enak saja Ayah bilang aku mempermainkan Afifah, kalau aku permainkan Afifah, sudah aku buat dia gak perawan lagi! Gara-gara Afifah tuh, aku jadi bisa sembuh. Nahan nih dari dia masih piyik. Dapat lampu hijau dari ayah dan bunda untuk segera menikahinya, ya gas dong?!” ucap Dimas semangat.
“Kasihan, bisa sembuh karena anak kecil? Dari dulu cewek-cewek seksimu ke mana? Gak ada gitu yang bisa bikin kamu sembuh?” ucap Salma dengan terkekeh.
“Jangankan cewek-cewek seksi, dulu saja kamu gak bisa, kan?” ejek Dimas.
Cletak!!!
Salma refklek melempar botol air mineral kosong ke arah Dimas, dan mengenai dada Dimas. “Sembarangan kamu kalau ngomong! Jaga mulutmu!” berang Salma. “Untung Yusuf gak ada di sini, kalau dia di sini lihat aku begini, aku yang diceramahin dia?” imbuh Salma.
Yusuf sedang bersama Asisten Dimas. Dia ingin melihat kolam ikan, dan bermain di taman. Jadi mereka bebas ngobrol tanpa direcoko Yusuf, yang kadang banyak tanya, dan banyak ingin tahunya.
“Hayo ... kalian dulu ngapain?” ucap Afifah dan Askara bersamaan.
“Ih kompak sekali kalian?” tanya Salma.
“Hayo Bunda? Ngapain dulu sama Om Dimas,” tanya Afifah.
“Sayang ... itu dulu kok, sudah berlalu, sudah jangan dibahas, ya? Kan kamu tahu sendiri dulu Om sama Bundamu pernah jadi suami istri?” ucap Dimas yang agak panik, takut Afifah marah karena dirinya salah ngomong.
“Ya gak apa-apa sih? Aku paham kok, tapi penasaran sih ngapain hayo?” ledek Afifah.
“Ish ... sudah, jangan dibahas, ya? Aku gak mau ribut sama kamu. Sudah ya, Sayang? Sudah,” ucap Dimas dengan mengusap kepala Afifah.
“Salah ngomong sendiri ketakutan sendiri, kan?” ejek Askara.
“Makanya kalau mau ngomong itu, mikir dulu, jangan asal jeplak!” tegur Salma.
“Iya, Bunda, iya ... maaf ya, Bunda?” ucap Dimas.
“Sudah kita balik ke jalan yang benar. Kita bahas pernikahan kalian. Terserah kalian mau konsep seperti apa, yang penting kalian harus menikah sah, secepatnya!" tegas Askara. "Kamu tahu ibu sudah mau jodohin kamu, sama sekretaris barumu itu?” ucap Salma.
“Ibu itu biasa, selalu begitu, tapi masalah ibu tenang saja, nanti aku bicara baik-baik, atau aku hubungi ibu saja suruh ke sini, nanti biar sopir yang menjemput ibu. Kita bahas sekalian saja, hari dan tanggalnya sekalian,” ujar Dimas.
“Iya, boleh. Sekalian Ayah dan Papa. Gak mungkin aku tidak memberitahukan Papa dan Ayah,” ucap Askara.
“Ya sekalian saja, biar mereka tahu, tapi kalau mereka tidak setuju? Ayah kan tahu sendiri, umurku ini berapa?” tanya Dimas.
“Yang penting aku menyetujuinya!” jawab Askara.
“Jadi benar, mau menikah dalam waktu dekat ini, aku sama Om Dimas, Yah?” tanya Afifah.
“Kalau tidak sekarang mau kapan lagi? Apa menunggu kamu lulus kuliah? Yang ada nanti malah kamu dihamili dia dulu!” jawab Askara.
“I—iya sudah, aku nurut saja,” ucap Afifah.
Ada rasa bahagia, sudah mendapat restu dari kedua orang tuanya. Tapi, Afifah masih tidak tahu bagaimana nantinya dia akan menjadi ibu rumah tangga? Bagaimana nanti kalau dia sudah menjadi seorang istri, punya anak, dan menjalani kehidupan berumah tangga dengan Dimas. Afifah masih sedikit takut nantinya bagaimana, apa Dimas akan setia sampai akhir, atau terseret zaman sekarang yang sedang marak perselingkuhan.
“Kok aku sedikit takut mau menikah? Padahal aku pacaran sama Om Dimas, enjoy-enjoy saja jalaninnya? Giliran mau menikah begini rasanya? Ada sedikit rasa takut yang terselip dalam kebahagiaan ini,” batin Afifah.
__ADS_1