
POV Salma
Apa aku salah melakukan ini? Apa aku salah memutuskan untuk menikah dengan Dimas lagi? Dia pernah mengkhianatiku, tapi kenapa dengan dia seperti ini aku sangat kasihan dengannya? Apa aku ingin menikah dengannya hanya karena rasa kasihan saja? Bukan karena cinta? Kalau tidak cinta aku tadi menikmati sentuhan Dimas, atau aku hanya merindukan disentuh seorang pria? Aku tidak tahu kenapa aku bisa sekacau ini. Harusnya aku tidak seperti ini, ini sudah salah besar. Aku tidak bisa begini, hanya karena kasihan saja dengan Dimas, aku harus menikah dengannya, untuk membantu nya supaya dia sembuh. Padahal dia sakit seperti itu mungkin karena ulahnya sendiri. Dia mau menikahi Rani, yang katanya terpaksa tapi menikmati. Yang katanya tidak mencintai, tapi dia membalas cinta Rani. Begitu yang kubaca di buku milik Rani.
Aku baca lagi buku milik Rani. Di situ Rani bilang Dimas menyatakan cintanya dengan begitu tulus. Dan tertulis saat beberapa bulan sebelum dia meninggal. Jadi selama empat tahunan, mereka berumah tangga tanpa cinta? Wajar kalau pada akhirnya Dimas mencintai Rani, dan mau menyentuh Rani, toh mereka suami istri, kan? Aku pun sama Askara begitu? Awalnya aku dan dia sama-sama terpaksa menikah hanya demi Fifah, tapi selanjutnya kami bisa saling menerima, kami saling jatuh cinta, dan akhirnya kami pun sama-sama menunaikan kewajiban kami sebagai suami istri.
Tidak ada alasan untuk tidak mencintai, apalagi sudah menjadi suami istri, yang sehari-harinya terus bersama. Meski Dimas selalu bilang dia terpaksa menikahi Rani, tetap saja pada akhirnya saling mencintai. Tidak ada yang salah dengan cinta. Cinta bisa datang kapan saja tanpa kita tahu.
Aku mantapkan lagi hatiku, apa aku ini mencintai Dimas lagi? Atau hanya sekadar kasihan saja? Atau karena aku ingat kata-kataku dulu yang secara tidak langsung seperti menyumpahi Dimas jadi aku merasa bersalah saat ini?
Ayo dong Salma ... berpikirlah dengan jernih, jangan seperti ini. Kamu sudah merendahkan derajatmu di depan Dimas, laki-laki yang mungkin dulu sangat mencintaimu, tapi ingat, dia pernah melukai hatimu, dia memilih wanita lain sesuatu, dan menikahinya, lalu meninggalkanmu. Sekarang dengan rasa bersalahmu karena ucapan sepele itu kamu jadi merasa bahwa kamu orang yang paling berdosa? Oh bodohnya kamu, Sal! Pikir baik-baik lagi, apa kamu harus menikah denganya, atau jangan kembali lagi padanya.
Kamu jangan kembali dengan orang yang pernah menyakitimu! Itu adalah kata sebagian orang yang mungkin sudah tidak sudi lagi mengenal orang yang telah menyakitinya. Tapi ada sebagian orang yang bilang, daripada mencari yang lain, daripada memilih orang baru yang baru dikenal, lebih baik dengan orang tersebut meski sudah pernah menyakiti kita, karena yang terbaru belum tentu yang terbaik. Kadang yang lama dan menyakitkan akan kembali baik setelah diperbaikinya.
Aku tahu Dimas masih mencintaiku, dan karena kedekatan kami lagi, aku juga merasa kalau aku mulai jatuh cinta dengan Dimas.
Dari tadi aku membolak-balik buku milik Rani, aku baca lagi dan lagi. Dia hanya menceritakan sepenggal kisahnya dengan Dimas saja. Dan dia bilang kalau Dimas mencintainya karena terpaksa saja, karena kasihan dengannya. Cinta Dimas katanya hanya untukku seorang. Entah benar atau tidak aku tidak tahu, kan mereka yang menjalaninya?
Tapi kenapa dia menikahinya kalau katanya cintanya hanya untukku? Kenapa dia mau menyentuhnya kalau dia hanya mencintaiku? Apa seperti itu kebanyakan lelaki? Askara pun sama, dia bilang hanya mencintaiku, tapi nyatanya? Dia melupakan aku karena Azzura? Apa sebaiknya aku sendiri, tidak usah berhubungan dengan pria lagi? Karena yang aku tahu, dua pria yang pernah hidup bersamaku sama saja seperti itu? Omong kosong saja!
“Salma ....”
Aku letakkan buku milik Rani, saat ibu memanggilku. Aku keluar dari kamarku, lalu menemui ibu.
“Ada apa, Bu?” tanyaku.
“Ada telefon dari Askara,” jawab ibu.
“Di mana?”
“Itu telefon rumah,” jawab ibu.
__ADS_1
“Mau apa sih dia telefon?”
“Fifah katanya sakit, Sal. Dia pengin ketemu kamu,” jawab ibu.
“Halah ... klise sekali alasannya? Sakit mau ketemu aku, giliran ada ibunya bentak-bentak aku!” gerutuku kesal.
“Sal ... dia masih kecil. Otaknya masih mudah dikelabuhi. Sudah dong, jangan begitu? Berdamailah dengan masa lalu. Apa salahnya kamu jenguk Fifah? Toh kamu juga pernah sayang sama dia, kan? Dia yang jadi alasan kamu untuk menikah dengan Askara, kan? Mungkin Fifah kemarin seperti itu karena dia juga sedang dipengaruhi oleh Azzura. Sekarang barbaik hatilah dengan dia, berdamailah dengan rasa dendammu? Toh kamu juga dengan Dimas bisa menyingkirkan masa lalu menyakitkan itu saat dengan Dimas, kan?” tutur ibu.
“Iya Salma akan coba,” ucapku lalu mendekati telefon duduk yang ada di meja kecil. Aku ambil dan aku menarik napasku untuk bicara dengan Askara.
“Halo ....” sapaku.
“Sal, ini aku Askara. Gimana kabarmu?”
“Baik.” Jawabku singkat.
“Afifah sakit, Sal. Dia pengin ketemu kamu,” ucap Askara.
“Sal, turunkan egomu dulu sehari saja untuk menemui Fifah. Dia demam dari semalam memanggil kamu, Sal. Aku tahu kamu sayang dengan dia, tolong Sal, temui Afifah sebentar saja.”
Aku menyeka air mataku, mendengar Askara menangis memohon padaku agar aku mau menemui Afifah yang sedang sakit. Aku ingin menemuinya, tapi melihat rumah itu, aku ingat Zura yang memandangku sinis saat aku akan pergi dari rumah, karena dia merasa menang, mengusir aku dari rumah, dan memiliki Askara seutuhnya.
“Maaf, sekali aku tidak bisa, aku tidak bisa, Mas!” jawabku kekeuh.
“Baiklah, aku sampaikan pada Afifah. Maaf mengganggu waktumu, Sal.” Ucapnya seperti menyerah.
Aku menutup telefonku, tidak terasa air mataku semakin deras mengalir. Wajah polos Afifah terbayang di pelupuk mataku. Gadis kecil yang riang, yang selalu semangat, dia pintar, penurut, baik, tidak tahu kenapa kedatangan ibu kandungnya merubah gadis itu. Hingga dia berani membentakku, memusuhiku. Benar kata ibu, otak Afifah masih muda di pengaruhi, jadi wajar Afifah seperti itu. Mungkin aku saja yang terbawa perasaan saat itu, karena aku terlalu berharap pada Afifah untuk tidak seperti ayahnya yang cuek padaku sejak kedatangan Azzura.
Aku harus bagaimana? Apa aku harus menemuinya meski sebentar saja? Tapi aku sudah tidak sudi menginjakkan kakiku di rumah itu lagi. Aku tidak mau, aku masih sakit mengingat semua itu.
“Sal ... ibu tahu kamu merindukan Fifah. Pergilah, temui dia sebentar. Jangan seperti ini, kamu sama saja menyiksa batinmu kalau begini. Ibu lihat Askara juga sepertinya merasa menyesal berpisah denganmu. Dia begitu mencintaimu, ibu paham itu.”
__ADS_1
“Ibu lihat Askara kapan? Kok bisa tahu dia begitu menyesal?”
“Saat kamu pergi dengan Dimas kemarin, sebetulnya Askara dan Fifah ke sini, mereka menunggu kamu dari kamu pergi sampai mau isya mereka menunggu kamu. Akhirnya karena kamu tak kunjung pulang, Afifah dan Askara pulang dengan raut wajah kecewa. Dan, ibu kaget, kok Fifah tanya sama ibu kapan kamu akan menikah dengan Om Dimas?”
Aku kaget ibu bicara seperti itu. Berarti dua hari yang lalu Afifah dan Askara ke sini? Kenapa ibu baru bilang sekarang? Dan kenapa Afifah sampai tanya hal itu pada ibu?
“Sebentar, apa waktu aku sama Dimas pergi sampai malam itu, Bu? Berarti sudah dua hari yang lalu?” tanyaku.
“Iya benar, dua hari yang lalu mereka ke sini, Sal,” jawab ibu.
“Kenapa ibu baru bilang?” tanyaku.
“Karena kamu itu dari kemarin sibuk dengan Dimas. Oh iya, apa benar kamu mau menikah dengan Dimas? Kok Fifah tanya begitu?” tanya ibu.
“Ya, aku sebetulnya memang sedang berhubungan lagi dengan Dimas. Tapi kok Salma bimbang ya, Bu? Aku bilang begitu sama Afifah, karena Afifah memaksa aku untuk menginap di rumahnya waktu aku melayat Azzura. Aku terpaksa bilang seperti itu, biar Fifah tidak memaksaku lagi,” jelas ibu.
“Kamu bimbang bagaimana? Ibu tahu kok kamu dekat lagi dengan Dimas. Ya ibu tidak mempermasalahkan itu. Tapi, kalau kamu tidak yakin untuk apa melanjutkan hubunganmu itu?” ucap ibu.
“Salma gak tahu, Bu. Dimas sudah begitu menyakiti Salma. Apa kalau Salma kembali dengannya, dia akan menyakiti Salma lagi?”
“Hanya hatimu yang bisa menjawabnya, Sal. Kalau kamu percaya Dimas tidak akan menyakitimu lagi, ya tidak akan,” jawab ibu.
“Tapi, yang harus kamu pikirkan saat ini adalah Fifah, Sal. Dia itu kangen sama kamu, ibu lihat dari sorot mata Fifah. Dia begitu gelisah saat menunggu kamu pulang, dia begitu khawatir kamu gak pulang-pulang, dia menunggu di teras, tercenung sesekali mengusap air matanya, dia bilang sama ibu, dia menyesal sudah membentak kamu, sudah menyakiti hatimu, dan sudah membiarkan kamu pergi. Dia menangis, memeluk ibu sampai terisak-isak, dia bilang, dia sangat merindukanmu, Sal. Apa kamu tega tidak akan menemuinya? Apalagi dia sedang sakit?” ucap ibu.
“Nanti Salma pikirkan lagi, Bu,” jawabku.
“Mau dipikir sampai kapan, Sal?” tanya Ibu.
“Ya nanti, ibu.”
Apa aku harus mengalah? Aku harus ke sana menemui Afifah? Menengar cerita ibu saat Fifah ke sini aku juga merasakan sakit sekali, aku sampai tega membuat dia menunggu sedangkan aku dengan Dimas malah bersenang-senang di Vila, mengukir jejak masa laluku dulu dengannya, bercinta dan memadu kasih dengannya. Sungguh kejam diriku dengan Afifah, sampai dia jadi sakit.
__ADS_1
Benar kata ibu, seusia Fifah masih labil, kadang dia cepat terpengaruh oleh omongan orang lain. Harusnya aku paham dengan anak seusia Afifah, bukan malah aku ini marah, dan dendam sampai begini.