Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Kekhawatiran Askara dan Salma


__ADS_3

Afifah semakin kesal dengan bundanya yang sering melarang Afifah kalau kebanyakan main hape. Seperti tadi saat lagi asik-asiknya main hape, dan chat dengan teman-temannya di grup, Salma sudah menyuruh Afifah istirahat dan harus menonaktifkan hapenya. Afifah memberikan hp nya dengan nada kesal pada Salma, lalu menyuruh Salma keluar dari kamarnya, dan membanting pintu kamarnya. Salma hanya membuang kasar napasnya saat Afifah melakukan hal seperti itu, ia tidak membentaknya sama sekali, bahkan ia menyalahkan dirinya sendiri, dan bertanya di hatinya, apa dirinya terlalu keras mendidik Afifah?


Askara sampai keluar dari kamarnya mendengar suara pintu yang tertutup dengan keras. Askara mendekati istrinya yang sedang berdiri di depan pintu kamar Afifah.


“Ada apa, Bunda?” tanya Askara.


Salma mendekati suaminya yang masih berdiri di depan pintu kamarnya. Maklum rumah mereka di Jogja tidak seluas rumah yang di Jakarta. Kamar mereka berhadapan, jadi Askara sampai mendengar pintu tertutup dengan begitu keras.


“Kenapa, Bun?” tanya Askara lagi. Lalu Salma malah mengajak Askara masuk ke dalam kamar. “Ih bunda ditanya malah diam?”


“Huh ... biasa yah, Afifah kalau disuruh istirahat, jangan mainan hp mulu, jadi marah dia? Gini tadi banting pintu kamarnya,” jawab Salma.


“Afifah itu sekarang susah sekali kalau dinasihati. Kalau ingin sesuatu juga harus dituruti. Sekarang juga sudah berani mendebat ayah, menentang ucapan ayah, kadang juga berani sama bunda, ya seperti tadi? Banting pintu kalau sudah mara?” ucap Askara.


“Bunda bingung, Yah. Afifah marah sama bunda, waktu tadi bunda minta dia untuk matikan ponselnya lalu bunda pegang seperti biasanya, baru kalau pagi bunda kasihkan lagi. Bunda itu pengin dia istirahatnya cukup saja. Biar besok fresh di sekolah. Tapi bunda menegur jangan main hape terus karena sudah jam sepuluh dia marah, katanya temannya saja boleh pegang hape dua puluh empat jam kok? Bunda harus gimana ya, Yah? Bunda keras gak sih yah sama Afifah?” keluh Salma.

__ADS_1


“Enggak, bunda benar kok. Ayah juga gak mau dia terlalu fokus sama gadget, Bun,” jawab Askara.


“Tapi, kalau gini terus yang ada Afifah semakin marah sama bunda, Yah?” ujar Salma. “Mulai besok, biar deh Afifah pegang hp nya sendiri, lagian Afifah sudah gede kok, Yah. Bunda juga lihat dia disiplin, belajarnya juga disiplin, gak pernah meninggalkan tugasnya, selalu dikerjakan tepat waktu baru dia main hp,” jelas Salma.


“Dari mana bunda tahu Afifah begitu?” tanya Askara.


“Bunda kan memantau Afifah, Yah? Biarpun tidak terlihat seperti sedang memantau dia, tapi bunda percaya Afifah gak aneh-aneh,” jawab Salma.


“Ya kalau misal bisa dipertanggung jawabkan dengan baik, dengan Afifah pegang hp begitu, ayah sih boleh, tapi ayah takut saja, karena pergaulan anak sekarang itu ya begitulah, bunda tahu sendiri?” ucap Askara.


“Iya juga sih, ayah percayakan pada bunda, ikut bagaimana bunda. Bunda kan yang lebih banyak waktunya bersama Afifah, jadi tahu bagaimana? Memang sih menghadapi anak yang baru menginjak masa remaja itu begini. Kita kan juga pernah muda, pernah mengalami masa-masa seperti Afifah, jadi ya tahu rasanya bagaimana Afifah selalu dilarang kita,” jelas Askara.


“Iya, Yah. Bunda hanya takut Afifah pacaran, Yah,” ungkap Salma.


“Lha bukannya dulu saja bunda dari SMP sudah pacaran sama Dimas? Ya ayah juga sih, tapi lupa siapa pacar ayah saat masih SMP, namanya juga cinta monyet, kadang lucu kalau ingat,” ucap Askara. “Ayah sih gak masalah kalau Afifah sudah mulai suka sama teman laki-lakinya, atau mungkin pacaran, asal kita pantau saja bagaimana, kan?” imbuh Askara.

__ADS_1


“Ya bunda juga tidak masalah, tapi kan zaman sekarang beda sama zaman dulu. Sekarang zaman sudah canggih sekali lho, Yah? Apa-apa bisa diakses dengan mudah menggunakan hape. Kalau dia pacaran, terus lihat-lihat konten aneh, dan ia tirukan sama pacarnya gimana? Bunda takut, Yah. Bunda memang bukan ibu kandungnya, tapi bunda sayang sekali sama Afifah. Bunda takut saja Afifah bergaul dengan teman yang salah?” ucap Salma.


“Ya sudah, kita tetap beri dia kebebasan, beri dia haknya sekarang, asal kita bisa pantau dia, perhatikan dia. Mungkin ini salah satu cara biar kita itu gak ribut terus sama Fifah, coba besok pagi kita bicarakan, ya? Sudah gak usah manyun gini, nanti besok pasti Fifah dah reda marahnya,” ucap Askara.


“Aku takut saja Afifah marah lagi sama aku, Afifah anggap aku ini ibu tiri yang galak, padahal aku tuh pengin Afifah gak terjerumus dalam pergaulan yang ngeri seperti anak-anak zaman sekarang,” ucap Salma.


“Sudah besok kita bicarakan bareng-bareng, bicarakan baik-baik supaya Afifah juga ngerti. Ayo tidur, sudah malam. Sini ayah peluk bunda.” Askara mencoba membuat Salma untuk tidak berpikiran macam-macam. Askara terus membujuk Salma, kalau Afifah itu hanya emosi sesaat saja, paling besok juga amarahnya mereda lagi.


Namanya anak baru menginjak remaja pasti ada saja hal yang ingin diketahui Afifah lebih banyak lagi. Seperti mulai mengenal teman lawan jenis, mulai curi pandang cari perhatian pada teman lawan jenisnya. Semua itu adalah hal wajar untuk kebanyakan anak yang baru memasuki masa remaja atau pubertas. Mereka sedang aktif-aktifnya bersosialisasi dengan teman sebayanya, saling cari perhatian, bahkan ada yang sudah mulai menjalin hubungan dengan teman lawan jenis atau pacaran. Itu yang Salma takutkan, kalau Afifah sampai sudah bisa suka sama teman lawan jenisnya atau bahkan pacaran.


Salma tidak ingin Afifah seperti dirinya, pacaran di usia masih cukup muda. SMP kelas dua Salma sudah pacaran dengan Dimas. Tidak masalah kalau hanya sebatas mengenal teman laki-lakinya, tapi yang Salma takutkan zamannya sudah berbeda dengan dulu. Dulu meskipun banyak anak yang seusia Afifah pacaran, tapi masih sewajarnya, masih dipantau orang tuanya, belum ada alat canggih seperti gadget yang sekarang sudah mulai canggih untuk mengakses apa yang ada di pikiran kita.


Salma selalu mencoba percaya pada Afifah kalau Afifah main hape hanya untuk chat dengan teman-teman gengnya di grup. Atau untuk lihat-lihat video viral, untuk informasi tugas dari gurunya, tidak untuk macam-macam. Namun, yang namanya orang tua pasti ada rasa takut dan khawatir anaknya melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukannya. Apalagi Afifah adalah anak sambungnya, bukan anak kandungnya sendiri. Sebisa mungkin ia ingin menjadi ibu yang baik dan mengerti apa yang putrinya inginkan. Salma berusaha menjadi teman Afifah, menjadi tempat keluh kesah Afifah, meski kadang harus berdebat dan keras-kerasan kepala dulu.


Afifah juga sudah berani mendebat ucapan ayah dan bundanya. Jadi kadang Askara pun sampai khawatir anak perempuannya jadi keras kepala, dan membangkang.

__ADS_1


__ADS_2