Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Pacar Kecilku


__ADS_3

Dimas sebetulnya janjian dengan Renata. Ia tidak mau putus begitu saja dengan Renata, apalagi dia sudah keluar uang banyak untuk Renata, apartemen yang Renata tempati saja dibelikan oleh dirinya, dengan seenak jidatnya Renata minta putus karena Dimas tidak bisa ereksi. Sekarang Dimas merasa kalau dirinya sudah kembali normal, dia akan buktikan malam ini dengan Renata, kalau dirinya sudah sembuh.


Untuk Afifah, Dimas memang sayang dengan Afifah, untuk pacar, Dimas rasa Afifah masih terlalu kecil, dengan dipuji cantik dan menarik saja dia sudah bangga dan senang, dengan dipeluk dan dicium saja Afifah sudah senang, tapi untuk benar-benar jadi pacar Afifah, dia tidak bisa. Kasihan Afifah juga kalau harus pacaran dengan mantan suami ibu sambungnya.


“Maafin om ya, Fah? Om tadi di mobil mau membuktikan lagi saja, om bisa on lagi gak saat sama kamu. Ternyata om sembuh, Fah. Om gak mau merusak kamu lebih lagi, cukup dengan tadi om menciumu sedalam itu, om juga butuh seorang istri, untuk ke depannya, Fah. Masa depanmu masih panjang, om gak mau merusak masa depanmu,” ucap Dimas dengan menatap Afifah yang sedang makan dan sesekali memuji masakan eyangnya.


^^^


Dimas pamit untuk menemui klien, padahal dia ingin menemui Renata, karena ingin membuktikan kalau dirinya sembuh dari sakitnya. Ia sudah berada di depan apartemen Renata. Dimas langsung menekan kode pintunya, dan terbuka unti apartemen Renata.


“Dimas, ngapain kamu di sini?” tanya Renata yang baru keluar dari kamar mandi, ia hanya mengenakan handuk yang ia lilitkan di tubuhnya.


“Aku gak terima kamu minta putus, Re! Aku bisa sembuh, Re. Aku akan buktikan denganmu kalau aku sembuh, aku benar-benar sembuh, Renata,” ucap Dimas.


“Yakin bisa? Aku gak yakin, Dim!” ucap Renata.


“Aku sudah sembuh, Re!”


“Buktikan kalau kamu sembuh!” Renata membuka handuk yang ia lilitkan di tubuhnya hingga ia polos di depan Dimas. Renata meliuk-liukan tubuhnya dengan indah di depan Dimas, mencoba merayu Dimas yang ada di depannya.


Dimas tidak mau hanya diam menatap tubuh molek Renata yang sudah menjadi candu selama ini, namun karena dia mengalami disfungsi ereksi, jadi Dimas tidak bisa melanjutkan lebih dalam, hanya membuat Renata puas dengan sentuhannya saja.


“Kamu sembuh, Dim?” tanya Renata memegang milik Dimas. Dimas hanya mengangguk dan melanjutkan memagut bibir Renata.


Biasanya Dimas tidak memperbolehkan Renata memegang miliknya karena sama sekali tidak ada respon. Dari tadi milik Dimas sudah mengeras, dan ia membiarkan Renata bermain miliknya. Sekian lama Renata ingin seperti ini, baru kali ini Renata puas bermain milik Dimas.


“Lakukanlah semaumu, Dim. Aku ingin,” bisik Renata.


Renata sudah pasrah Dimas mau melakukan apa saja. Ia hanya bisa berbaring menikmati sentuhan Dimas, menikmati milik Dimas yang baru menyentuh miliknya.


“Re, sorry gak bisa Re,” ucap Dimas frustrasi saat ingin melakukan lebih dalam tapi tidak bisa dilanjutkan karena miliknya tidak bisa berfungsi dengan baik lagi.


“Kenapa begini, Dim?! Jahat sekali aku sudah ingin kamu malah berhenti?!” gerutu Renata kesal.


“Maaf, Re. Aku gak tahu kenapa bisa begini?” ucap Dimas dengan perasaan kacau.


Baru saja bisa berfungsi sempurna, tapi malah seperti ini lagi. Padahal Dimas sangat fokus melakukannya, tidak ada pikiran apa-apa selain ingin menuntaskan permainan panasnya dengan Renata.


“Aku kecewa, Dim!” cetus Renata dengan penuh rasa kecewa yang mendalam.

__ADS_1


“Aku minta maaf, Re,” ucap Dimas. “Aku gak tahu kenapa bisa begini?” imbuhnya.


“Sudah, Dim. Jangan diteruskan lagi hubungan ini. Cukup sampai di sini, aku butuh begini, Dim? Aku perempuan normal. Aku minta maaf aku gak bisa melanjutkan hubungan ini,” ucap Renata.


“Re, apa kamu gak bisa menemaniku supaya bisa sembuh? Aku janji apa pun yang kamu akan aku kasih,” ucap Dimas.


“Percuma, Dim. Meskipun kamu beri aku setumpuk kekayaanmu, tapi aku gak bisa berumah tangga tanpa adanya bercinta yang begitu menggelora. Aku gak bisa, aku ini perempuan normal, Dimas ... aku juga ingin bercinta dengan sempurna,” ucapnya. “Kita putus, Dim. Sudah aku gak mau apa-apa darimu. Meski semua harta kekayaanmu di atas namakan namaku, aku tidak mau, karena aku gak bisa begini, aku bukan wanita yang gila harta, bahkan aku sudah ada niatan mau balikin apartemen ini dan seisinya? Aku butuh keluarga sempurna, dari sisi materi dan ranjang, Dim. Kalau hanya satu sisi aku gak bisa,” lanjutnya.


“Kamu mau aku dapat harta darimu tapi tubuhku dinikmati laki-laki lain? Enggak, kan? Aku juga gak mau, Dim. Maaf beribu maaf, Dim. Aku gak bisa menemani kamu yang begini, jujur kamu adalah laki-laki baik, tapi aku gak bisa menerima kenyataan ini, Dim,” cetus Renata.


“Ya sudah, aku gak bisa memaksamu, Re. Terima kasih sudah menemaniku selama ini, maaf aku memang bukan lelaki sempurna, Re. Semoga kamu mendapatkan yang lebih dariku. Apartemen ini untuk kamu,” ucap Dimas.


“Gak, Dim. Aku gak bisa, ini punya kamu, aku gak mau begitu. Aku senang kamu beri aku kemegahan dunia, tapi aku gak mau kalau aku gak merasakan nikmatnya surga dunia, Dim. Kamu tahu maksud aku, kan? Kalau kamu gak mau menerima kembali apartemen ini, lebih baik kamu sewakan saja, karena besok aku sudah ada niatan untuk mengosongkan apartemen ini,” ucap Renata.


“Aku pikirkan nanti, Re. Aku pamit pulang. Maaf membuatmu kecewa,” ucap Dimas, lalu ia pergi meninggalkan Renata.


Ternyata Renata bukan perempuan yang seperti Dimas kira. Renata malah mengembalikan semua yang sudah Dimas berikan padanya.


Dimas berjalan dengan gontai, entah kenapa saat tadi bersama Renata ia tidak bisa lagi melanjutkan kegiatannya karena miliknya tidak mau berfungsi lagi. Padahal dia tidak memikirkan Afifah sama sekali, ia fokus dengan kegiatannya dengan Renata.


^^^


“Fah, kenapa belum tidur?” tanya Dimas.


“Nanggung lagi nonton drakor, Om,” jawab Afifah. “Om baru pulang?” tanya Afifah.


“Ya kamu lihatnya om gimana, Fah?” jawab Dimas, lalu ia berjalan mendekati Afifah dan duduk di sofa. Dimas langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa.


“Kenapa kusut sekali?” tanya Afifah.


“Biasa kliennya susah,” jawab Dimas.


“Mirip ayah begitu, kalau pulang habis menemui klien yang susah kusut sekali wajahnya,” ucap Afifah, dan masih menghadap laptopnya.


“Ayahmu kusut karena memang mengurus klien yang berhubungan dengan pekerjaan, Fah! Om ini karena gak bisa berdiri lagi! Om putus beneran sama Renata!” umpat Dimas dalam hati.


“Kamu lihat film apa, Fah? Kamu masih kecil jangan lihat film dewasa begitu!” tegur Dimas.


“Hmm ... kecil gimana? Orang Fifah sudah punya pacar?” jawabnya.

__ADS_1


“Siapa?” tanya Dimas.


“Oh ada yang lupa ternyata? Baru beberapa jam jadian lupa!” tukas Afifah kesal.


“Jadian sama siapa?” tanya Dimas pura-pura lupa, ia ingin melihat reaksi Afifah seperti apa saat Dimas bicara seperti itu.


“Oh ya sudah lupakan. Ternyata aku ini ditipu sama om-om. Sana ke kamar jangan di sini! Ganggu orang, ngerusak mood!” usir Afifah.


Dimas tersenyum gemas melihat Afifah yang kesal. Tapi, memang Afifah sedang serius sekali nonton Drama Korea. “Pantas serius pemerannya cakep-cakep gitu?” ucap Dimas. “Ada pacaranya dilupakan nih?” imbuhnya.


“Eh pacar? Mana pacar? Gak ada! Pacarnya lagi amnesia!” tukas Afifah.


“Cie ngambek ...,” goda Dimas. “Pacar kecilku lagi ngambek nih rupanya?” ucap Dimas lalu mencium pipi Afifah.


“Gak usah macem-macem! Ini di rumah eyang, nanti eyang tahu!” gerutu Afifah. “Oh jadi aku pacar kecil om, dan Tante Renata pacar om yang besar gitu?” pungkasnya.


“Om sudah putus dengan dia, Fah. Sudah pacar om Cuma kamu saja,” ucap Dimas.


“Sudah ah sana, Afifah lagi serius nih nonton film. Masih tiga episode lagi, sana om ke kamar! Jangan ganggu!” usir Afifah.


“Idih ngusir-ngusir kamu! Om pengin menemani pacar om,” cetus Dimas.


“Om jangan ganggu! Ih nanti aku bilangin eyang nih!” ancam Afifah.


Afifah kalau sedang fokus menonton, dia tidak mau diganggu. Kadang sampai uring-uringan dengan ayahnya kalau ayahnya ganggu dia nonton film.


“Berani ngadu sama eyang? Terus ngadunya gimana? Gini ya, eyang nih pacar Fifah gangguin! Gitu ngadunya?” ujar Dimas.


“Om sudah dong?” cebik Afifah kesal.


“Iya sudah, om tidur di sini saja, om temanin kamu,” ucap Dimas.


“Serah deh!” jawab Afifah.


“Hmmm ....” Dimas mengusap kepala Afifah dengan sayang, ia biarkan Afifah dengan dunianya. Memang anak remaja kalau sedang nonton film kesukaannya pasti tidak mau diganggu seperti Afifah sekarang.


Dimas ketiduran sambil menunggui Afifah nonton film. Selesai menonton, Afifah mematikan laptopnya. Ia melihat Dimas yang sudah tertidur lelap. Afifah tersenyum, lalu ia pergi ke kamar untuk mengambil selimut. Afifah menyelimuti tubuh Dimas, lalu mengecup keningnya.


“Selamat tidur om pacarku,” ucap Afifah lirih, lalu ia masuk ke kemarnya.

__ADS_1


__ADS_2