
Afifah memilih gaun yang cocok untuk pernikahannya nanti dengan Dimas. Semua serba mendadak, jadi Afifah dan Dimas memilih baju pernikahan yang seadanya di Butik. Tidak memesannya dulu, karena semua serba mepet sekali. Afifah juga tidak mengundang banyak temannya, paling yang dia kenal saja. Apalagi Afifah bukan tipe orang yang mudah bergaul dan memiliki banyak teman.
Afifah mencoba gaun yang keempat. Dari tadi tidak ada yang cocok, sesuai apa yang Afifah inginkan. Kalau modelnya cocok, Afifah tidak suka dengan bahannya, atau kegedean, kadang juga kekecilan.
“Ini bagus lho, Kak?” ucap Designer nya.
“Iya, ini bagus sekali, Mbak,” ucap Afifah.
“Cocok sekali gaun ini dipakai mbaknya,” ujar Designer.
“Biar calon suamiku lihat dulu ya, Mbak?” ucap Afifah.
Afifah keluar dari ruang pas, ia menunjukkan gaun yang ia pakai di depan Dimas. Dimas begitu terpukau melihat Afifah yang terlihat cantik dan anggun mengenakan gaun tersebut, sampai Dimas melongo dan belum berkomentar apa-apa.
“Dad ... bagaimana?” tanya Afifah.
“Cantik, sangat cantik. Ambil yang itu saja,” jawab Dimas.
Dimas tidak membayangkan saat nanti di hari pernikahannya, Afifah pasti sangat cantik memakai gaun itu, apalagi dipoles dengan make-up dari MUA terkenal.
Selesai menemukan gaun yang cocok, Afifah langsung diajak Dimas pulang, karena di rumah sudah ada Tim WO yang sedang memasang pelaminan. Dimas ingin meminta pendapat Afifah, apa pilihannya sudah cocok dengan yang Afifah inginkan atau belum. Padahal Afifah sudah menyerahkan pada Dimas konsepnya akan bagaimana, yang penting bagi Afifah menikah dengan Dimas, dan Dimas menjadi milik Afifah satu-satunya.
“Ini berati langsung pulang?” tanya Afifah.
“Iya, Sayang. Kamu harus melihat pelaminan kita, sudah cocok belum konsepnya sesuai yang kamu minta?” jawab Dimas.
“Ih, aku kan bilang sama Daddy, kalau konsep terserah Daddy? Aku nurut kok, mau gimana, asal aku bisa menikah dengan orang yang berani ambil ciuman pertamaku,” ucap Afifah.
“Ehem ... yakin aku yang pertama cium kamu?”
“Ih iya dong? Di kolam renang?” jawab Afifah.
“Nanti lagi, ya? Ciuman di kolam renang?” ajak Dimas. “Kalau sudah sah tapi,” imbuhnya.
“Iya jelas dong kalau itu? Lagian kita juga sering begitu di kolam renang?” ucap Afifah.
“Beda dong, kalau sudah menikah rasanya pasti beda lagi,” ucap Dimas.
“Jangan bosan sama Afifah ya, Dad?” ucap Afifah.
__ADS_1
“Kok bosan? Ya gak akan dong? Kamu itu canduku, Sayang? Kamu sudah kayak narkotika, kalau gak aku hirup aroma tubuhmu, yang ada aku stres seharian,” ucap Dimas.
“Ih lebay, selama hampir seminggu ini kan Daddy gak sentuh aku?” ucap Afifah.
“Ya, itu kan karena Daddy terpaksa. Ya kayak dulu itu dipingit. Bedanya sekarang dipingitnya gak nyentuh. Kalau dulu kan gak boleh ketemu? Sekali ketemu di pelaminan?” ucap Dimas.
“Bisa ajah ih?” tukas Afifah.
Mereka sudah sampai di rumah Dimas. Pernikahan Afifah dan Dimas akan di gelar di rumah baru Dimas. Lebih tepatnya ruamah mereka. Afifah melihat halaman belakang rumah Dimas sudah terpasang tenda super besar dan mewah sekali. Padahal Afifah maunya biasnya saja, tapi Dimas begitu berlebihan, karena ini semua untuk Afifah, dan sekali seumur hidup untuk Afifah. Ya, untuk Afifah, karena ini yang keduanya Dimas akan menuju ke pelaminan lagi. Meski pernah tiga kali menikah, tapi dengan Rani, mereka menikah biasa saja. Tidak ada pelaminan, tidak ada pesta, hanya biasa saja di rumah Rani. Hanya ada syukuran pernikahan saja.
“Ini gak salah? Tenda sama pelaminannya semewah ini, Dad?” tanya Afifah.
“Maunya yang bagaimana, Sayang? Aku pilihkan yang terbaik, dan paling bagus. Ya ini jadinya? Bagaimana? Ada yang kurang? Kalau ada bilang saja sama Tim WO nya supaya mereka perbaiki?” ujar Dimas.
“Ini sudah terlalu sempurna, Daddy ... Terima kasih,” ucap Afifah lalu memeluk Dimas, dan berjinjit untuk mengecup bibir Dimas.
“Banyak orang, Sayang?” ucap Dimas.
“Biar saja, kan kita mau menikah?” jawab Afifah.
“Mau dilanjut, gak? Yuk ke kamar?” ajak Dimas.
“Daddy gak tahan kalau lihat kamu begini, apalagi kamu berani cium Daddy. Itu namanya kamu membangunkan singa yang sedang tidur, Sayang?” ucap Dimas.
Lalu dia menggendong tubuh Afifah, mengajaknya ke kamar, hanya sekadar untuk bercumbu melepas kangen yang hampir seminggu mereka tidak saling sentuh.
“Oh ... Daddy ...,” racau Afifah.
Dimas terus mencumbu Afifah dari ujung kaki hingga ujung rambut. Afifah menikmati setiap sentuhan yang Dimas berikan. Ia terus mende-sah dan meracau, sambil tangannya memainkan lobak berurat milik Dimas.
“Dad ... aku mau ini?” racau Afifah.
“Ini milikmu, Sayang,” bisik Dimas.
“Sekarang, ya? Please ....,” rengek Afifah.
“Sssttt ... jangan, aku maunya nanti kalau malam pertama. Lusa, ya? Sabar, Sayang,” bisik Dimas.
“Ini menyiksaku, Dad ... sungguh ...,” ucap Afifah.
__ADS_1
Dimas masih mengoyak milik Afifah menggunakan jarinya, ia tidak berani memasukkannya terlalu dalam. Hanya memberi sentuhan hingga tubuh Afifah bergetar hebat dan jari Dimas terasa hangat karena ada sesuatu yang mengalir dari dalam milik Afifah.
“Kamu curang, sampai duluan,” ucap Dimas.
“Sini aku puaskan Daddy,” ucap Afifah.
Dengan hasrat menggebu, Afifah memainkan lobak berurat milik Dimas. Melahap habis sampai mulut Afifah penuh.
“Ohhh ... Fah ...kamu makin pintar sayang? Ya begitu terus sayang ... Ahhh ...,” racau Dimas.
Afifah semakin semangat saat melihat Dimas merasakan nikmat karena sentuhannya. Hingga Dimas mengalami pelepasan yang begitu nikmat.
“Makasih, Sayang,” ucap Dimas.
Dimas menarik tubuh Afifah, membiarkan dia tidur di dadanya, dan menciumi pipi Afifah.
“Aku pengin lebih, Dad,” bisik Afifah.
“Kemarin kayaknya ada yang takut? Takut sakit? Kok sekarang minta lebih?” ucap Dimas.
“Ih ... itu kan kemarin? Sekarang aku mau lebih, please ... masukin milik Daddy,” rengeknya.
“Gak, Daddy gak mau, nanti saja. Lusa kan kita menikah, Sayang? Biar malam pertama kita bersejarah dong? Kamu merasakannya dengan memakai gaun pengantin, masa begini? Jangan ah,” tolak Dimas.
“Ih ya sudah, tapi aku mau lagi, pakai mulut Daddy,” pinta Afifah.
“Iya sebentar istirahat dulu.”
Dimas memeluk Afifah yang tidur di atas dadanya, tangan Dimas tidak mau diam bermain di dada Afifah, hingga Afifah merasakan hasratnya kembali naik.
“Dad ... tanggung jawab, aku pengin lagi,” pinta Afifah.
“Iya sebentar, tuh lihat punya Daddy juga sudah on lagi,” ucap Dimas.
“Aku suka.”
“Ini milik kamu Sayang,” ucap Dimas.
Dimas tidak menyangka Afifah yang bisa mengembalikan keperkasaannya lagi. Miliknya bisa berdiri tegak lagi, dan sensitif sekali jika berada di dekat Afifah, maunya terus-terusan bangun, karena tahu ada pawangnya.
__ADS_1