Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Selalu Merindukanmu


__ADS_3

Sudah tujuh bulan Afifah menjalani LDR dengan Dimas. Setiap hari mereka tidak pernah absen untuk memberi kabar. Afifah dan Dimas semakin intens berkabar, sekarang juga Dimas sering video call dengan Afifah kadang dengan Askara kalau Askara di rumah, karena Dimas pengin lihat Yusuf yang sangat tampan dan menggemaskan. Di usia ketujuh bulan Yusuf semakin aktif, Afifah juga semakin senang kalau bermain dengan adiknya yang menggemaskan.


Kegiatan Afifah sehari-sehari hanya dengan adiknya kalau sudah pulang sekolah dan les. Dia begitu menyayangi adiknya, bahkan istirahat di sekolah pun Afifah selalu menyempatkan video call dengan bundanya hanya karena ingin lihat Yusuf yang setiap hari semakin menggemaskan sekali.


Untuk masalah cincin yang dipakai Afifah dan Dimas sudah selesai pembahasannya. Salma sudah percaya saat Dimas menunjukkan cincin imitasi yang ia beli dengan model serupa yang dipakainya. Salma baru percaya dengan itu. Askara malah justru tidak memedulikan masalah cincin, ia percaya kalau putrinya itu sudah jujur soal cincin tersebut, jadi Askara iyain saja, dan tidak mempermasalahkannya.


Afifah juga sudah semakin sibuk mempersiapkan Ujian Nasional. Dimas selalu memberikan support untuk Afifah supaya dia bisa masuk di sekolah yang ia impikan.


Malam hari seusai belajar, seperti biasa Afifah menyempatkan mengobrol lewat pesan suara atau telefon dengan Dimas, atau kadang mereka video call untuk melepaskan rindu. Padahal baru tujuh bulan, tapi rasanya sudah lama sekali.


“Afifah?” panggil Dimas di balik telefon Afifah.


“Iya, Om? Kenapa?” tanya Afifah.


“Baru tujuh bulan rasanya kok sudah lama sekali ya, Fah? Bagaimana menunggu sampai lima tahun, Fah? O, Tuhan ... Om gak bisa bayangin rindunya bagaimana?” keluh Dimas.


“Ish ... om itu, setiap hari kan kita video call? Sabar, nanti juga ketemu. Asal om di situ bisa jaga hati, jaga pandangan, dan perbuatan om?” jawab Afifah.


“Kamu makin hari makin pintar saja? Yeay ... sebentar lagi pacar om mau pakai seragam putih abu-abu nih?” ucap Dimas.


“Iya, gak kerasa cepat sekali ya, Om?”


“Lama, Sayang? Lama sekali lima tahunnya?” jawab Dimas. “Om kangen pengin peluk kamu, Fah,” ucap Dimas.


“Gak usah mulai aneh-aneh, deh!” tukas Afifah.

__ADS_1


“Afifah, kamu tumben gak laporan ke toko buku? Biasanya sebulan sekali kamu beli buku?” tanya Dimas.


“Ada Yusuf, jadi aku gak pengin lama-lama di luar, Om? Pulang sekolah ya langsung pulang, kayak udah ada yang nungguin di rumah,” jawab Afifah.


“Pantas saja kamu gak beli-beli buku lagi? Sudah ada tiga bulanan kamu gak bilang sama om minta buku?” ucap Dimas.


“Iya, buku tiga bulan yang lalu saja aku belum sempat baca, Om. Jadi ya, belum beli lagi?” Jawab Afifah. “Ada Yusuf, jadi aku milih mainan sama Yusuf, Om? Sejak ada Yusuf aku gak ngelamunin om terus, biasanya tiap menit kepikiran om, macem-macem lagi mikirnya? Takut om di sana sama cewek!” ucap Afifah.


“Malah om yang takut kamu di situ kecantol cowok-cowok ganteng? Apalagi mau SMA? Pasti nih cowoknya ganteng-ganteng lho, Fah?” ujar Dimas.


“Gantengan Yusuf, dong? Setiap hari aku kangennya sama dua orang, Yusuf sama om,” ucap Afifah.


“Kamu setiap hari sama Yusuf, bisa-bisanya kangen?” ujar Dimas.


“Ih kalau di sekolahan, aku itu pengin cepat-cepat pulang, wajah Yusuf itu kelihatan terus? Tenang saja, tapi gak akan ngalahin rinduku padamu, Om?” ujar Afifah.


“Makanya pulang sekarang? Apa gak bisa gitu pulang sebentar saja, seminggu atau beberapa hari lah? Masa gak kangen sama aku?” ucap Afifah.


“Nanti kalau kamu sudah tujuh belas tahun om pulang!” jawabnya tegas.


“Yakin?”


“Tunggu saja, pasti om pulang,” jawab Dimas.


Dimas memang berencana akan pulang saat Afifah ulang tahun ke tujuh belas tahun. Dia ingin memberikan kejutan pada Afifah nanti.

__ADS_1


“Awas kalau bohong lho?” ancam Afifah.


“Iya, Sayang? Om gak bohong!” jawab Dimas. “Sudah tidur sana, sudah malam. Nanti besok kamu kesiangan lho?” ucap Dimas


“Oke, om. Om pulang kerjanya hati-hati, ya?” ucap Afifah.


“Oke, sweetheart? Jangan nakal, ya?” ucap Afifah.


“Iya, om juga. Awas sama cewek seksi di sana!” tukas Afifah.


“Cantik kamu, di sini seksi banyak, tapi Cuma kamu yang om mau!”


“Jangan gombal, jangan bikin baper, nanti aku udah kebaperan malah om nyakitin!” ujar Afifah.


“Enggak, Sayang? Sudah bobo dulu, om ini mau siap-siap pulang.”


“Oke, Om tampanku!” jawabnya semangat.


Afifah mematikan ponselnya. Dia aslinya tidak betah kalau telefonan, pasti harus bisik-bisik, takut bunda atau ayahnya dengar dia telefonan malam-malam. Apalagi kalau sudah lewat dari jam sembilan pasti ayah atau bundanya keliling mengecek kamar Afifah. Jadi dia jam sembilan harus sudah selesai telefonan dengan Dimas.


^^^


Dimas di London masih ada pekerjaan. Harusnya proyek di sana sudah jalan beberpa tahun yang lalu, tapi karena ada kendala jadi baru mulai. Kalau tidak Dimas sendiri yang turun tangan, mau siapa lagi? Orang-orang kepercayaannya sudah ia utus membantu di perusahaan milik ayahnya Salma yang sampai sekarang masih lancar dan semakin maju di tangan Dimas. Tapi, secuil pun Dimas tak mau menerima bagi hasilnya, ia murni membantu apalagi dia masih merasa bersalah atas apa yang ia lakukan pada Salma dulu saat ia memilih menikahi Rani. Jadi sebagai penebus Dosanya, ia lakukan semua yang telah diwasiatkan kedua orang tuanya, bahwa dirinya harus membantu Bu Mila membesarkan perusahaan peninggalan suaminya.


Dimas sedang bersiap untuk pulang ke apartemennya. Selesai bekerja dia langsung pulang ke apartemen, untuk menyelesaikan pekerjaannya lagi, supaya cepat selesai dan segera pulang ke Indonesia. Itu semua ia lakukan demi sang pujaan hati. Ia sudah sangat rindu dengan Afifah. Gadis kecil yang sangat ia cintai. Dimas ingin sekali bisa pulang saat nanti Afifah berusia tujuh belas tahun, atau kalau dia kelulusan SMA dia akan memberikan kejuatan pada Afifah. Dia ingin pulang, dan segera melanjutkan niat baiknya untuk serius dengan Afifah. Apa pun risikonya ia akan hadapi smeua aral yang melintang di depannya.

__ADS_1


Di London memang masih sore. Dimas melihat arlojinya, sudah menunjukkan pukul empat sore waktu London. Arloji itu adalah pemberian Afifah, kenang-kenangan dari Afifah saat ia akan berangkat ke London Afifah memberikan kado berupa jam tangan untuk dirinya. Katanya supaya setiap detik Dimas bisa mengingatnya. Setiap melihat jam pemberian kekasih hatinya itu, Dimas tersenyum bahagia, karena memang benar kata Afifah, setiap detik dia selalu ingat dengan Afifah.


“Bisa saja nih bocah kecilku? Kamu benar sayang, setiap aku lihat jam tangan ini, aku selalu ingat kamu, bahkan gak lihat pun, setiap hari aku selalu ingat kamu. Aku merindukanmu, Afifah gadis kecilku,” ucap Dimas dengan tersenyum.


__ADS_2