Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Resmi Pacaran


__ADS_3

Salma mengganti bajunya dengan baju renang. Meski bukan bikini yang Salma pakai, tetap saja yang namanya pakaian renang sangat ketat, dan membentuk lekuk tubuh Salma yang indah.


Salma membasahi tubuhnya lebih dahulu sebelum ia berenang. Lalu ia kenakan bathrobe untuk menutupi tubuhnya.


“Ayo, mau ikut renang, gak? Masa masih pakai kemeja?” tanya Salma.


“Yakin kamu gak takut lihat aku bertelanjang dada, Sal?”


“Enggak, sudah biasa juga lihat kamu renang di sini, kan?” jawab Salma.


“Ya sudah ayo.” Dimas menarik tangan Salma.


“Lepas dulu bajunya.” Salma membuka kancing baju Dimas satu-persatu.


“Ih kamu ini, Sal. Biar aku lepas sendiri, Sal,” ucap Dimas sedikit grogi.


“Aku lepasin saja, ya?”


“Kamu gak lagi sakit kan, Sal?” Tanya Dimas dengan menyentuh kening Salma menggunakan punggung tangannya.


“Sakit gimana? Aku waras, Dim?” jawab Salma.


“Kamu kan Dim, yang sedang sakit? Jujur, aku yang tremor melakukan ini, Dim. Ini demi kamu, aku tahu kamu begitu tersiksa dengan sakit begini, Dim,” ucap Salma dalam hati,


“Kali saja kamu sakit, kamu jadi gini? Tadi aku buka dua kancing bajuku saja kamu sudah uring-uringan? Sekarang malah kamu bukain kancing bajuku?” ucap Dimas.


“Untuk latihan kalau nanti aku jadi istrimu lagi, Dim,” jawab Salma.


“Jangan ngadi-ngadi kalau ngomong?” jawab Dimas.


“Kenapa? Dari kemarin kamu selalu bilang sama aku, kamu ingin menikahiku lagi, sekarang aku begini, kamu bilang aku ini ngadi-ngadi? Kamu itu aneh tahu, Dim?” ucap Salma.


“Ya, gak gini juga, Sal?”


“Ya sudah ayo kita renang, mau tidak?”


“Iya sebentar, aku lepas celana panjangku.”


Dimas menanggalkan celana panjang dan kemejanya. Dia hanya memakai celana pendek saja. Salma juga membuka bathrobenya, tubuh seksinya tergambar jelas, lekuk tubuhnya begitu indah. Balutan baju renang berwarna maroon membuat tubuh Salma terlihat begitu seksi.


Salam menceburkan tubuhnya ke kolam renang. Disusul dengan Dimas, mereka berenang bersama, bercanda, dan sesekali Salma menyentuh lembut perut Dimas, supaya membangkitkan senjata Dimas.


“Benarkah kamu sakit, Dim? Benar kamu impotent? Ya Tuhan kasihan sekali, apa kata-kata Dimas, dan kata-kata sumpahku dulu berlaku? Hingga Dimas sakit seperti ini?” batin Salma.


Dulu saat baru pertama kali pacaran, di mana Dimas dan Salma sedang bucin-bucinnya, mereka saling berjanji. Mungkin mereka anggap janji itu adalah candaan atau kebucinan mereka. Kalau Salma sampai menikah dengan pria lain, dia tidak akan memiliki anak, dan Dimas juga janji kalau dirinya selingkuh, menduakan Salma, bahkan tidak menikah dengan Salma, Dimas bilang dia bakalan impotent. Sekarang terbukti, dan Salma masih ingat semua kata-kata itu, mereka juga mengucapkannya saat di rumah Dimas, di kamar Dimas lebih tepatnya, padahal ucapan itu ketika mereka masih pacaran. Ternyata itu terbukti. Salma menikah lagi dengan Askara dia tidak hamil-hamil, dan Dimas menikah dengan Rani, senjata Dimas tidak bisa digunakan untuk berperang dengan Rani.


“Aku kasihan sama Dimas. Aku percaya dia masih mencintaiku, kalau dia tidak cinta, dia tidak baik dengaku. Kok aku melow gini tahu dia sakit begini? Apalagi saat tadi aku dengan dia seperti panik, takut, cemas, karena sakitnya tidak sembuh-sembuh, apalagi semua dokter dari yang biasa sampai dokter yang luar biasa sudah dia kunjungi? Apa aku harus membantu menyembuhkannya? Jalan satu-satunya aku mau kalau diajak nikah Dimas. Tapi, tadi saat aku bilang aku akan latihan jadi istrinya malah murung wajahnya. Bukannya senang tapi wajah Dimas murung sekali,” batin Salma.


Salma melajutkan berenang, lalu dia berhenti di hadapan Dimas, dan langsung memeluk tubuhnya, bahkan posisinya dia seperti sedang digendong Dimas dari depan.


“Kamu ini seperti anak kecil, Sal,” ucap Dimas dengan menarik hidung Salma dengan gemas. Gemas sekali rasanya melihat Salma malam ini yang manja, dan tiba-tiba mengajak renang.


Dimas membawa Salma ke tepi. Dia mendudukkan Salma di atas kolam lalu membelai rambut Salma.


“Dimas ....”


“Iya, kenapa?”


“Tawaran untuk menikah denganmu kemarin masih berlaku?” tanya Salma.


“Kamu kok jadi bahas nikah, Sal?”


“Ya kita setahun ini dekat lagi, dan aku merasakan kamu yang dulu kembali lagi dalam hidupku,” jawab Salma.


“Tapi aku sudah tidak seperti yang dulu, Sal,” ucap Dimas.


“Maksudnya gak seperti yang dulu bagaimana, Dim?”


“Aku sudah pernah membuatmu sakit, aku takut kamu masih kecewa dan akan mengungkitnya, karena aku tahu kamu ini masih membenciku,” jawab Dimas. “Atau kamu mau menerima ajakanku menikah kemarin, karena kamu tidak mau diganggu Askara?” tanya Dimas.


“Jangan bahas Askara, tidak ada hubungannya dengan Dia, Dim?” jawab Salma.


“Lalu karena apa? Kamu jangan bohong, Sal, Iya karena Askara, kan? Karena untuk menghindari Askara saja?” tanya Dimas. “Kasihan Afifah, Sal. Dia sangat membutuhkan kamu, Sal,” ucapnya.


“Dia bukan anak kandungku. Buktinya, sekali ibu kandungnya pulang dia melupakanku yang sudah menemani dia dari umur tiga tahun. Dia membentakku juga, Dim. Sakit hatiku lebih parah saat itu. Saat Fifah berani membentakku, meski dia bukan anak kandungku, namanya seorang ibu dibentak anak, sakitnya lebih dari dibentak suami, Dim. Bukan aku tidak memaafkan Fifah, dia masih sembilan tahun saja sudah berani membentakku seperti itu, dan aku sadar, aku ibu tirinya, bagaimana kalau besar nanti, Dim? Kalau anak kandungku, aku tidak masalah, dia anakku, aku yang melahirkannya. Tapi, dia anak tiriku?” jelasku.


Ya, tidak ada ibu yang tidak sakit saat dibentak anaknya.  Mau dibentak anak tiri atau anak kandung, sama saja rasanya sakit. Apalagi anak tiri yang ia  rawat dengan setulus hati dari kecil layaknya anak kandungnya sendiri. Satu yang membuat Salma yakin untuk pergi dari rumah Askara, karena dia sudah dibentak Afifah, dan Afifah juga ikut membiarkan dirinya pergi. Kalau Askara, mungkin bisa maklum, karena Askara memang dulunya pernah mencintai Azzura, tapi Afifah? Dia belum begitu paham ibunya, dan setelah ibunya kemabali dengan Salma dia menjadi kasar. Padahal harapan Salma hanya satu, Afifah masih menyayanginya, dan berharap Fifah bisa merasakan sakit hatinya saat ayahnya menikahi ibunya lagi. Tapi nyatanya? Afifah terbawa arus Azzura, dan Afifah menjadi benci dengan dirinya.

__ADS_1


“Dim, masih berlaku tidak tawarannya?” tanya Salma.


“Kenapa kamu jadi gini? Gak kesambet, kan?”


“Kesambet badan sixpcak kamu, Dim,” jawabnya ngasal.


“Jangan bercanda. Menikah itu gak untuk candaan, Sal?” ucap Dimas.


“Memang aku ini bercanda, Dim?”


“Ya mungkin, karene ngelindur saja jadi kamu gini?”


“Aku serius, Dimas Sutejo ....”


“Ih apaan sih, kebiasana Sutejonya diikutin!” tukas Dimas kesal.


“Nama eyang kakung kamu, kan?”


“Iya, tapi jangan diikutin dong, Sal?”


“Dim, nikah yuk? Aku lelah gini terus,” ucap Salma.


“Tuh kan tambah ngelindur kamu, Sal!” ucap Dimas.


Dimas tidak tahu kenapa Salma tiba-tiba ingin menikah dengan dirinya. Harusnya Dimas bahagia, karena orang yang sangat ia cintai mengajaknya menikah, mengajaknya untuk memulai hidup baru. Tapi, Dimas malah merasa kebingungan, apalagi saat ini dirinya sakit. Tidak mungkin dia akan menolak Salma tanpa alasan yang jelas, apalagi dia pernah mengajak Salma menikah kemarin. Sekarang Salma sudah mau dia malah bimbang, mau menolak bingun alasannya, mau jujur dengan sakitnya nanti malah membuat Salma kecewa.


“Aku gak ngelindur, Dim.” Ucap Salma dengan mengecup kilas bibir Dimas.


Baru kali ini Salma menjatuhkan harga dirinya di depan pria, yaitu mantan suaminya yang ia benci. Itu semua karena dirinya merasa kasihan pada Dimas. Dia ingin Dimas sembuh, apalagi Dimas menjadi begitu mungkin karena kesalahannya dulu saat berucap.


“Sal? Kamu kok?”


“Kenapa? Aku mencintaimu, Dimas. Aku masih sangat mencintaimu,” ucap Salma.


“Aku gak salah dengar, Sal?”


“Enggak, Dim. Aku ingin menikah dengan kamu,” jawab Salma.


Salma benar-benar terpaksa mengungkapkan perasaannya. Padahal rasa cintanya belum seratus persen kambali utuh untuk Dimas, hanya rasa nyaman saja yang sudah kembali hadir pada diri Salma.


“Iya.”


“Apa alasanmu ingin kembali padaku?” tanya Dimas.


“Karena aku mencintaimu, Dim. Aku jatuh cinta lagi padamu,” jawab Salma.


“Kamu mencintaiku?”


“Iya, Dimas,” jawab Salma lugas.


“Love you too, Sal,” ucap Dimas, lalu mengecup bibir Salma.


Dimas bahagia, akhirnya cintanya terbalas. Dia pun masih sangat mencintai Salma. Salma mengimbangi kecupan Dimas, dan kegiatan mereka semakin memanas. Dimas menenggelamkan wajahnya ke leher Salma, dia mengecup leher Salma dengan lembut, lalu menciumi dada Salma, dan membuka tali baju renang Salma, hingga dada Salma terlihat. Sebetulnya Salma takut, takut dia terbawa suasana, tapi tujuan dia mengobati Dimas, dia meraba milik Dimas dengan kakinya. Benar tidak ada perubahan pada senjata Dimas, dia biarkan Dimas menjajahi dadanya dengan mulutnya, Salma yang semakin panas, tapi Dimas tidak, bagian senjatanya masih terkulai lemas, dan itu Salma merasakan saat kakinya merabanya.


Dimas mencoba menyentuh senjatanya sendiri. Masih sama, tidak ada perubahan sama sekali, hingga dia menghentikan aktivitasnya di dada Salma.


“Maaf, Sal. Aku kebawa suasana, harusnya aku tidak melakukannya.” Ucapnya lalu menutup dada Salma lagi.


“Ehm ... gak masalah, Dim. Aku juga minta maaf, sampai begini,” ucap Salma gugup.


Salma sebetulnya tahu, kalau Dimas tidak bisa on senjatanya. Salma benar-benar kasihan dengan Dimas, bisa-bisanya Dimas mendapatkan sakit yang seperti ini.


“Kita lakukan lagi kalau sudah menikah ya, Sal?” ucap Dimas.


“Kapan mau menikahiku?” tanya Salma.


“Secepatnya,” ucap Dimas. Padahal dia takut sekali, dia tidak mau kalau Salma sampai kecewa karena dia tidak bisa on senjatanya.


Salma tahu, Dimas sedang gundah hatinya. Salma tadi melihat Dimas menyentuh miliknya sendiri, dan saat merasakan miliknya tidak ada reaksi, dia langsung menghentikan aktivitasnya dari dada Salma.


“Sudah yuk, sudah malam, nanti kamu masuk angin,” ajak Dimas.


“Gendong ....” pinta Salma.


“Ayo naik ke punggungku.”


“Depan saja, seperti tadi di kolam,” pinta Salma.

__ADS_1


“Ada bibi, malu, Salma ....”


“Ah gak mau, mau di depan,” pintanya manja.


Salma mau di depan karena biar dia tahu, milik Dimas bisa tegang tidak, dan Dimas pun menuruti. Benar, tidak ada reaksi sama sekali. Padahal kalau Dimas bisa ereksi, pasti masih tegang karena belum tersalurkan hasratnya.


“Ya Tuhan, kenapa Dimas jadi begini? Kasihan sekali. Sembuhkan Dimas, aku mau melakukan apa pun asal dia bisa sembuh, karena mungki semua itu juga karena aku, karena ucapanku dulu,” ucap Salma dalam hati.


“Sampai sini saja, Dim. Takut bibi tahu, nanti lapor sama ibu.”


“Nah sadar, kan?” ucap Dimas.


“Cium dulu ....” pinta Salma.


“Manjanya pacarku ini,” ucap Dimas.


“Pacar?”


“Ya kan malam ini kita resmi pacaran?” jawab Dimas.


“Ah iya benar,” ucap Salma.


Biar saja Salma begini, biar saja Salma malam ini menjatuhkan harga dirinya di depan Dimas. Itu semua karena ingin Dimas sembuh, tapi malam ini meski sudah memanas, tetap saja Dimas belum sembuh juga. Dimas masih belum bisa ereksi.


“Dim, masa aku harus sentuh-sentuh punya kamu?” batin Salma.


Dimas kebingungan sendiri. Tingkah Salma sama seperti dulu saat zaman pacaran dengan Dimas. Manja dan menggairahkan, tapi meski Salma menggairahkan, tetap saja tidak bisa membangkitkan senjatanya. Senjatanya masih tertidur pulas, meski dia sudah bermain di dada Salma yang masih sangat padat dan kenyal.


“Aku harus bagaimana kalau Salma seperti dulu, selalu minta mainan senjataku. Ya kali aku kasih senjata lembek? Apa aku jujur saja dengan Salma, kalau aku ada masalah  dengan senjataku ini?” batin Dimas.


^^^


Dimas masih bingung dengan dirinya yang masih saja belum sembuh dari sakitnya. Dimas ingin sekali bicara dengan Salma perihal masalahnya itu. Tapi, dia takut Salma malah akan kecewa, apalagi dia sudah berniat untuk menikahi Salma.


Salma juga tahu, Dimas sedang bingung dengan keadaan dirinya yang belum juga sembuh dari sakitnya. Satu minggu mereka sudah menjalin hubungan. Ya, mereka merajut tali asmara lagi, dan Salma melihat Dimas selalu kebingungan saat dirinya membahas soal menikah.


Hari ini, Dimas ingin mengajak Salma jalan mumpung sekarang hari minggu. Dimas juga ingin berterus terang pada Salma perihal masalahnya itu. Dimas minta izin dengan Bu Mila untuk mengaja Salma keluar, seperti biasanya Dimas dan Salma pergi setelah mengantar Bu Mila ke toko.


“Kalian hati-hati, ya?” ucap Bu Mila.


“Iya, Bu. Aku ajak Salma dulu, Bu,” pamit Dimas.


“Iya, jagain Salma, ya?”


Mereka berangkat ke tujuan mereka. Yaitu Vila milik Dimas yang ada di daerah pegunungan. Vila yang dulu sering ia pakai untuk berlibur dan menghabiskan waktunya untuk bercinta, mereka kembali mendatangi Vila itu untuk menghabiskan waktu hari minggunya berdua.


Sesampainya di sana, mereka langsung menuju ke kamar. Kamar yang tatanannya masih sama seperti dulu.


“Masih utuh begini saja, Dim?” tanya Salma.


“Ya mau seperti apa? Ini Vila yang makai kan aku sama kamu saja, Sal?” jawab Dimas.


Salma duduk di sebelah Dimas, lalu menyandarkan kepalanya di lengan Dimas. “Sal aku ingin bicara denganmu, ini penting,” ucap Dimas.


Salma tahu, pasti Dimas akan bicara soal dirinya yang sedang sakit. “Iya, mau bicara apa, Dim,” jawab Salma.


“Kamu harus tahu ini, sebelum kita menikah, ka—karena aku tahu kalau kamu tahu ini, kamu akan kecewa denganku, bahkan kamu tidak akan mau menikah denganku,” ucap Dimas.


“Apa yang ingin kamu katakan, Dim. Jujur saja, aku tidak akan kecewa, dan akan menerima segala kekuranganmu,” ucap Salma.


“Yakin begitu?” tanya Dimas.


“Iya, Dim. Aku yakin,” jawab Salma.


“Sal, kamu baca ini, ya?” Dimas memberikan hasil pemeriksaannya yang menunjukkan bahwa dirinya impotent. “Aku impotent, Sal. Aku tidak bisa ereksi, aku tidak akan seperti dulu jika menikah nanti,” ucap Dimas dengan menunduk dan tubuhnya bergetar karena menangis. “Maafkan aku, Sal,” ucap Dimas.


“Aku sudah tahu, aku sudah baca surat dari Rani, aku juga sudah baca buku miliknya. Itu kenapa aku berani, berani mengajak kamu menikah, Dim. Aku ingin kamu sembuh,” ucap Salma.


“Gak mungkin sembuh, Sal. Aku sampai sudah berobat ke luar negeri, Sal. Masih utuh, tidak sembuh.”


“Tidak ada yang tidak mungkin, Dim. Aku yakin kamu bisa sembuh, percaya padaku, Dim.” Ucap Salma begitu yakin.


“Aku malu, aku ini laki-laki gak berguna, Sal!” ucap Dimas dengan suara bergetar karena menangis.


“Dimas ... jangan biacara seperti itu. Aku ingin ajukan pernikahan kita, kamu pasti akan sembuh, Sayang. Percaya padaku. Please ... jangan gini, Dimas.”


Dimas memeluk Salma. Dia malu, dia hancur, dan tidak tahu lagi perasaannya seperti apa saat ini. Salma benar-benar mau menerima dirinya, hingga dia mau pernikahannya diajukan secepatnya.

__ADS_1


__ADS_2