Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Om Dimas Sakit?


__ADS_3

Dimas mengajak Afifah ke rumahnya lebih dulu, karena Renata sedang menunggu dirinya di rumah. Entah apa yang akan dibicarakan Renata pada Dimas. Dimas hanya mendengar ucapan Renata sepertinya serius ingin membicarakan sesuatu yang membuat Dimas penasaran.


“Om gak lama-lama kan di rumah om?” tanya Afifah.


“Enggak, paling sebentar kok?” jawab Dimas.


“Aku sudah kangen sama eyang soalnya,” ucap Afifah.


“Iya sabar, ya? Om Cuma mau bicara sebentar sama tante Renata,” ucap Dimas.


“Oke,” jawab Afifah.


Dimas sampai di rumahnya. Di halaman rumahnya yang luas sudah ada mobil milik Renata. Dimas turun dan mengajak Afifah untuk masuk ke dalam. “Ayo Fah, masuk dulu,” ajak Dimas.


Dimas langsung menemui Renata yang sedang duduk di teras rumahnya sambil menikmati secangkir teh yang disuguhkan oleh asisten Dimas.


“Afifah, kamu masuk dulu, ya? Om mau bicara sama Tante Renata,” titah Dimas pada Afifah.


“Oke, om,” jawabnya, lalu Afifah langsung masuk ke dalam rumah Dimas. Afifah sering ke rumah Dimas kalau sedang liburan di rumah eyangnya, jadi asisten di rumah Dimas sudah tahu Afifah.


“Siapa tadi?” tanya Renata ketus.


“Anaknya Salma,” jawab Dimas. “Ada apa, Sayang? Tumben ke sini dadakan? Besok juga kan kita bisa ketemu?” tanya Dimas.


“Aku ingin tahu soal kamu, Dim. Jelaskan padaku, kenapa kamu gak bilang kalau kamu sakit, Dim?!” ucap Renata dengan  penuh kekecewaan.


“Sakit? Sakit apa maksudmu?” tanya Dimas, pura-pura tidak tahu.


“Jangan menutupinya, Dimas! Aku sudah tahu semuanya. Kamu tahu Dokter Aldo. Dokter spesialis Andrologi? Kalau kamu jawab tidak kamu berarti membohongiku!” cecar Renata.


“Ya, aku tahu dia, kenapa memang?” tanya Dimas.


“Kamu gak mau bilang kamu sakit apa, Dim? Katakan, Dim!” cecar Renata.


“Ya aku sakit, Re. Aku belum sempat menjelaskan pada kamu,” jawab Dimas.


“Benar kamu impoten, Dim?” tanya Renata dengan mata berkaca-kaca.


“Ya, aku sakit itu, sudah lama aku sakit itu, dan belum bisa sembuh sampai sekarang,” jawab Dimas jujur.


“Kenapa gak bilang, Dim? Kalau kita menikah gimana? Bukannya menikah yang terpenting adalah berhubungan intim, Dim? Mana bisa kalau kamu begini?” pekik Renata. “Pantas saja kita sering begitu tapi kamu gak pernah mau melanjutkan?” pungkas Renata.


“Maaf, Re. Aku belum berani menjelaskannya padamu, aku minta maaf,” ucap Dimas.

__ADS_1


“Aku gak bisa terus begini, Dim! Kamu tahu aku ini bagaimana, kan? Aku gak bisa hanya dipuaskan dengan cumbuanmu dan jarimu saja!” ucap Renata. “Kita putus!”


“Maksudmu gimana, Re? Putus? Kenapa kamu malah begini, apa tidak bisa kamu membantu aku supaya biar sembuh?”


“Gak bisa, Dim! Kelamaan!” jawab Renata, lalu pergi meninggalkan Dimas.


“Re ... Re ... Re ... jangan begini dong, Re? Kita bicara baik-baik,” ucap Dimas dengan meraih tangan Renata.


“Lepaskan, Dim! Aku bilang kita putus, ya putus!” seru Renata.


Renata pergi meninggalkan Dimas. Dimas mengepalkan tangannya, lalu ia mengusap kasar wajahnya. “Arrghhhttt!!!” Dimas mengerang dengan penuh amarah. Bisa-bisanya kejadian seperti ini terjadi lagi. Setiap kali ia mencoba serius dengan perempuan, perempuan itu tahu sakitnya Dimas, langsung pergi meninggalkannya.


“Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa?!” erang Dimas dengan kacau. Dimas duduk di kursi teras dengan meremas rambutnya dan terus mengerang dengan penuh amarah.


Afifah mendengar keributan Dimas dengan Renata. Afifah melihat Dimas sangat kacau sampai terdengar isakan Dimas yang serak. Afifah tahu Dimas pasti sedang menangis. Afifah mendengar pertengkaran mereka karena Dimas sakti.


“Om Dimas sakit apa? Kok sampai Tante Renata mutusin Om Dimas? Kasihan Om Dimas, diputusin ceweknya langsung nangis begitu?” ucap Afifah lirih.


Afifah mengingat Renata tadi menyebut sakitnya Dimas adalah impoten. Afifah langsung mengambil ponselnya lalu ia cari penyakit Dimas itu, penyakita apa. Afifah mengerjapkan matanya saat membaca penjelasan di google apa itu penyakit impoten.


“Disebut impotensi, adalah gangguan kesehatan yang membuat seorang pria tidak mampu mendapatkan atau mempertahankan ereksi.” Afifah membacanya dengan lirih. “Ereksi? Kata guru biologi ereksi itu kan tegangan pada laki-laki saat mendapatkan rangsangan dari lawan jenis? Sebentar-sebentar, kok aku jadi mikirnya ke mana-mana, ya? Kata Ela, Ereksi itu saat itunya cowok tegang? Ih Om Dimas gak bisa tegang dong?” sambung Afifah.


Afifah sudah tahu begitu dari temannya yang sudah pacaran. Dia memang sering cerita pada Afifah dan teman Afifah lainnya yang satu circle dengan Afifah. “Kasihan sekali Om Dimas diputusin pacarnya?” ucap Afifah lirih.


“Ih kok jadi traveling sih pikiranku? Kan jadinya ke sana-sana?” ucap Afifah.


Dimas meredakan tangisnya sendiri, ia sadar di dalam ada Afifah yang sedang menunggu dirinya, entah sedang apa Afifah di dalam rumahnya. Dimas mencari Afifah ke dalam, tapi tidak ada. Ia tanya pada asistennya, dan katanya Afifah sedang di taman belakang, duduk di tepi kolam renang sambil menikmati jus mangga yang dibuatkan asistennya Dimas.


Dimas melihat Afifah sedang duduk santai dengan bermain ponselnya, dan sesekali ia meneguk minumannya. Dimas mendekati Afifah dan duduk di sebelahnya. “Kenapa di sini? Maghrib lho? Malah di sini?” tanya Dimas.


“Habis mau di mana lagi, Om? Tante Renata mana? Udah pulang?” tanya Afifah.


“Ya baru saja pulang?” jawab Dimas.


“Mukanya kusut banget, Om?” ucap Afifah dengan memandangi wajah Dimas. “Habis nangis, ya? Kok sembab matanya?” tanya Afifah.


“Enggak, masa laki-laki nangis?” jawab Dimas. “Laki-laki itu gak boleh cengeng!” pungkasanya.


“Hmm ... ada kok laki-laki yang nangis?” ucap Afifah.


“Masa? Pernah lihat?” tanya Dimas.


“Pernah lah, papa pernah menangis saat ibu meninggal, terus saat ingat bunda, saat kangen bunda waktu pertama kali pindah ke Jogja ayah sering mandangin foto bunda terus menangis,” jawab Afifah. “Laki-laki itu juga manusia, kan? Meskipun sering menutupi kesedihannya di depan orang yang dia sayangi, tetap saja di belakangnya menangis? Menangisnya laki-laki itu biasanya karena rindu pada orang yang disayangi , dan saat putus sama pacarnya juga,” jelas Afifah.

__ADS_1


“Sok tahu kamu nih? Kecil-kecil sudah tahu pacaran?” ucap Dimas.


“Temanku banyak yang sudah pacaran, Om. Jadi ya Afifah tahu,” jawab Afifah.


“Kamu juga pasti sudah punya pacar, kan?” tanya Dimas.


“Penginnya punya, tapi takut bunda sama ayah marah, mereka tambah galak, Om,” jawab Afifah.


“Memang ada yang dekat dengan kamu?” tanya Dimas.


“Ada, tapi Fifah gak suka, sukanya sama kakak kelas Fifah, eh ... tapi dia malah pacaran sama teman Fifah?” jawab Afifah dengan raut wajah kecewa.


“Jangan pacaran dulu, nanti kalau sudah SMA saja,” ucap Dimas.


“Ih curang! Semuanya curang, ayah pacaran dari SMP, bunda juga iya, om juga, kan?” protes Afifah.


“Boleh pacaran, asal gak ganggu belajar kamu,” tutur Dimas. “Sudah yuk masuk, terus ke eyang,” ajak Dimas.


“Oke,” jawab Afifah.


Dimas bangun lebih dulu, lalu ia membantu Afifah untuk bangun. “Aduh ... awwhhh ...!” pekik Afifah.


Byuuurrrr ....


Dimas dan Afifah jatuh ke kolam karena Afifah terpeleset dan Dimas gak bisa mengimbangi tubuh Afifah karena berada di sisi kolam. Dimas langsung meraih tubuh Afifah karena mereka jatuh di kolam yang cukup dalam. Dimas menggendong tubuh Afifah di depan, memeluk tubuh Afifah, hingga wajah mereka nyaris tak berjarak. Mereka saling berpandang, dan semakin mendekatkan wajahnya. Bibir mereka menyatu, entah kenapa Dimas tertarik pada bibir Afifah yang ranum, dan Afifah pun begitu terpesona dengan ketampanan Dimas.


Tautan bibir mereka semakin dalam, hingga mereka sama-sama tersadar apa yang baru saja ia lakukan. Afifah mendorong dada Dimas, melepaskan kecupannya, dan mengalihkan pandangannya karena malu. Reflek Afifah turun dari gendongan Dimas.


“Aww ... Om ... ini dalam sekali!” pekik Afifah.


“Sini om bantu. Memang di sini agak dalam.” Dimas membantu Afifah untuk menepi. “Ayo naik.” Dimas membopong tubuh Afifah ke atas.


Dimas pun naik ke atas, dan mengambilkan handuk untuk Afifah. Dimas menyuruh Afifah ke kamar tamu, mandi, dan ganti baju.


“Ganti baju, nanti kamu kedinginan,” ucap Dimas.


“Lagian om sih,” tukas Afifah.


“Ih kamu juga gak hati-hati?” cebik Dimas. “Sudah ganti baju dulu sana.”


Dimas dan Afifah merasa sedikit canggung, entah kenapa bisa terjadi hal yang tak terduga seperti itu.


“Dimas ... dia anak SMP! Gila kamu!” rutuk Dimas. Tapi Dimas merasakan sesuatu mengeras di bagian celananya. “Apaan ini? Kamu bangun karena anak SMP yang masih bau kencur? Astaga ....!” pekik Dimas dalam hati.

__ADS_1


“Ih apaan tadi? Kenapa aku bisa cium bibir Om Dimas sih? Habis tampan sekali Om ku itu, kayak Song Joong-ki, Bibirnya manis sekali,” batin Afifah dengan dada berdebar.


__ADS_2