Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Mantan Rasa Teman


__ADS_3

Salma mendekati kerumunan orang yang sedang menyaksikan pemakaman Azzura dengan khidmat. Mereka sedang mengamini doa yang dibacakan ustad. Salma berdiri di sebelah Dimas, dan di sebelah Salma persis adalah Alana dengan Risya dan Nina.


“Salma ....” Alana menyapa Salma lalu Salma mencium tangannya dan Alana memeluknya.


“Bunda, bagaimana kabar bunda?” Tanya Salma.


“Baik, Sal,” jawabnya. “Kamu ke sini dengan siapa, Nak?” Tanya Alana.


“Dengan Dimas, Bunda. Semalam Mas Aska mengabariku, katanya Mbak Zura meninggal, jadi saya ke sini, untuk berbela sungkawa atas kepergian Mbak Zura. Untung Dimas sedang tidak begitu sibuk hari ini, jadi dia bisa mengantarku,” jawab Salma.


Nina dan Risya juga menyapa Salma, tapi sekadarnya saja. Dia masih tidak enak hati dengan Salma soal kejadian saat itu. Padahal Salma sudah biasa saja. Dia menganggap masalah itu hanya angin lalu.


Satu persatu pelayat pergi. Askara dan Afifah masih berjongkok di depan gundukan tanah merah,  kuburan Azzura.


“Aku turut berduka cita atas meninggalnya istrimu tercinta, Mas,” ucap Salma.


“Sal, kamu datang?” tanya Askara.


“Ya, mumpung Dimas mau mengantarnya,” jawab Salma.


“Oh dengan Dimas?”


“Ya mau dengan siapa lagi?” jawab Salma.


“Bunda ....” Afifah langsung memeluk Salma. “Aku kangen bunda ....”


“Bunda juga kangen,  kamu yang sabar, ya? Doakan ibu, semoga ibu di terima di sisi Tuhan,” ucap Salma.


“Iya, Bunda. Bunda pulang ke rumah, kan? Gak akan pergi lagi?” tanya Afifah.


“Bunda ya pulang ke rumah bunda dong, Fah? Bunda kan sudah bercerai dengan ayah kamu?” jawab Salma.


Sebetulnya Salma juga kangen sekali dengan Afifah, tapi mengingat apa yang sudah Afifah dan ayahnya lakukan saat Azzura kembali rindu yang akan diucapkan Salma tecekat di tenggorokkan. Rasanya tidak mau lagi Salma mengenal orang-orang yang munafik yang ada di sekitarnya.


“Bunda itu kangen sama kamu, Fah. Tapi bunda ingat apa yang kamu dan ayahmu lakukan saat ibumu kembali. Hati bunda masih merasakan sakit, Fah. Belum bisa sembuh ternyata,” batin Salma.


“Kamu mampir ke rumah dulu kan, Sal?” tanya Alana.


“Iya nanti mampir sebentar,” jawab Salma. “Itu ada titipan oleh-oleh dari ibu juga, Bunda,” imbuhnya.


“Bunda kenapa gak kembali ke sini saja? Fifah sendirian bunda ....”


“Ada oma, opa, tante, budhe, dan ayah, kan? Jadi Fifah gak sendirian,” jawab Salma.


“Tapi gak ada bunda,” ucapnya.


“Ngobrolnya di lanjut di rumah saja, ya? Lagian masa mau kangen-kangenan di makan?” ucap Alana.


“Iya, ayo pulang, Sayang,” ajak Askara pada Afifah. “Mari Sal, mampir ke rumah,” ajak Askara pada Salma.


Salma mengangguk. Dia sebetulnya malas sekali, pasti nanti Afifah memaksa dirinya untuk menginap, dan tidak boleh pulang. Salma berjalan di sisi Dimas. Dimas merangkul Salma, dan Salma pun membalas rangkulan Dimas. Dimas mengusap kepala Salma, lalu menyandarkannya di dadanya sambil berjalan.


“Pulang yuk, Dim. Malas ah di sini, orang-orangnya sudah begitu asing bagiku,” ajak Salma lirih.


“Hush ... gak boleh, kamu yang sabar, mereka kan mempersilakan kita mampir, ya mampir lah dulu, ngobrol basa-basi apa gitu?” tutur Dimas.


“Lihat Afifah seperti tadi, saat meminta aku jangan pulang, kok kasihan ya? Tapi, kalau ingat kemarin pas ada Zura dia membangkang sekali sama aku, kok masih benci sekali dengan sikapnya? Apalagi dengan Askara, malas aku lihatnya,” ucap Salma.

__ADS_1


“Malas apa kangen?” ledek Dimas.


“Apaan, sih!” ucap Salma dengan mencubit perut Dimas.


“Ouchh ... sakit, Sal! Kamu sekarang suka nyubit perutku, ya?” Dimas mengaduh, sampai semua mendengar dan menoleh ke arah Dimas.


“Perutmu sekarang gendut, gak kaya dulu, jadi aku gemes, Dim!” jawab Salma dengan menggelitiki perut Dimas.


“Udah geli, Sal! Orang perut masih sixpack gini kok, kamu bilang gendut, Sal? Ngadi-ngadi kamu!” tukas Dimas. “Mau lihat?” tantang Dimas.


“Nanti kalau sudah pulang saja, di sini banyak orang,” jawab Salma.


Salma sebetulnya gemas lihat perut Dimas yang seperti roti sobek. Kadang kesal sekali saat melihat Dimas di rumahnya, melepas kemeja dan kaos dalamnya, mengeksplor tubuhnya yang masih seksi seperti dulu. Untung saja iman Salma masih kuat, kalau melihat Dimas bertelanjang dada di depannya.


Dimas membuka pintu mobilnya dan menyuru Salma masuk ke dalam. Dari tadi Askara melihat kedekatan Dimas dengan Salma yang begitu dekat sekali. Bahkan Salma sekarang semakin akrab dengan Dimas. Askara curiga mereka sudah menikah lagi.


“Gak mungkin mereka balikan. Gak mungkin!” Batin Askara yang tidak terima melihat mereka dekat, bahkan perlakuan Dimas mesra sekali pada Salma.


“Ayah ayo ... kok di luar saja?” Panggil Afifah yang melihat ayahnya masih di luar saja, gak masuk ke dalam mobil.


“Iya, maaf,” jawab Askara.


“Kenapa cemburu lihat mereka dekat?” tanya Zhafran.


“Ya begitu, Pa,” jawab Askara.


“Makanya kalau mau bertindak pikir dulu! Main meninggalkan orang sebaik Salma. Sekarang menyesal, kan?” ujar Zhafran.


“Ya menyesal juga sepertinya sudah terlambat, Kak,” ucap Ardha.


“Jelas terlambat sekali, yang belum terlambat ya kamu harus merelakan mereka bahagia, Ka?” ucap Zhafran.


“Sepertinya tidak akan bisa, Ka. Lihat saja Salma  sudah bahagia begitu. Dan lihat dirimu, kamu itu sudah terlalu menyakitinya. Yang pertama, Salma tidak pernah mau dimadu, tapi kamu tetap menikahi Zura, kedua Salma istri pertamamu, tapi kamu abaikan. Dari situ saja kamu sudah salah besar, Askara! Jelas sekali dia tidak akan lagi mau kembali padamu,” ucap Zhafran.


“Tapi Dimas juga sudah pernah menyakitinya, malah dia menikahi sahabat kecilnya. Buktinya Salma dengan dia dekat lagi? Besar kemungkinan aku juga bisa mendekati Salma lagi,” ucap Askara.


“Mereka kan memang masih menjalin komunikasi baik sama keluarga Salma. Perusahaan ayahnya Salma dengan papanya Dimas dari dulu berjalan bersama, hingga sekarang dipegang oleh Dimas pun masih baik dia mengelolanya, mana uang buat Salma, mana uang buat ibunya Salma, buat almarhum istrinya dia dulu, dia bisa mengaturnya. Dia dengan ibunya Salma juga baik, pun dengan Rani, mendiang istrinya Dimas. Dia baik dengan ibunya Salma. Jadi Salma ya masih bisa memaafkannya?” jelas Zhafran.


“Kok papa tahu sekali tentang Dimas?” tanya Askara.


“Papa kenal Dimas, sebelum kamu mengenal Salma. Papa kira kamu tidak akan menyakiti Salma, ternyata kamu menyakiti dia lebih parah dari Dimas menyakiti Salma,” ucap Zhafran.


“Sejak kapan kakak mengenal Dimas?”


“Sejak Dimas masih bersama Salma. Papa dekat kok dengan Dimas, kami bekerja sama dengan baik, dari dulu sekali, selagi perusahaan Dimas masih dipegang oleh papanya, dan papa juga kenal dengan ayahnya Salma dan papanya Dimas, kami mengenal baik, itu kenapa papa menyetujui kamu menikahi Salma. Dia dari keluarga yang baik-baik, tapi memang dia pergi dari rumah menghindari Dimas,” ucap Zhafran.


“Kenapa papa baru bilang kalau papa kenal sama Dimas dan Salma dari dulu?” tanya Askara.


“Ya karena papa merasa gak perlu saja mengusik masa lalu Salma. Papa hanya sekadar tahu saja, toh Salma perempuan baik-baik. Mungkin kalau masa lalu Salma yang gak baik, terus dia itu dari keluarga gak baik juga, papa baru membahasnya, tapi kan papa sudah tahu bagaimana masa lalu Salma, kenapa Salma pergi dari rumah, tahu semuanya. Ya papa juga sempat kecewa dengan Dimas, kenapa dia sampai memilih Rani, ternyata ada alasan sendiri,” ucap Zhafran.


“Apa alasannya?” tanya Askara.


“Kamu tanya saja pada Dimas,” jawab Zhafran.


Askara hanya diam. Ternyata papanya tahu siapa Salma. Pantas saja selama ini papanya setuju dan dengan Salma terlihat begitu membela sekali, apalagi waktu Nina dan Risya berulah dengan Salma, Zhafran marah besar dengan mereka. Itu semua karena Zhafran sudah lama mengenal Dimas, dan sampai detik ini mereka masih bekerja sama dengan baik.


“Kenapa papa malah diam saja? Harusnya dari dulu papa bilang sama aku?” batin Askara.

__ADS_1


Dimas melajukan mobilnya dengan pelan, karena sambil ngobrol dengan Salma, dan di depan mobilnya ada mobil Zhafran juga yang melaju pelan, jadi Dimas santai mengemudikan mobilnya.


“Dim kamu ngapain buka kancing bajumu!” cetus Salma.


“Biar kamu tambah gemas lihat perutku, nanti kan dicubit lagi,” jawab Dimas dengan terkekeh.


“Ih apaan sih! Gak lucu, Dim!” tukas Salma.


“Kamu sudah biasa lihat juga, kan?” ujar Dimas


“Iya lihat lah, orang kamu kadang di rumah buka baju sembarangan? Jangan lepas baju sembarangan kalau di rumah dong? Gemas sekali lihatnya pengin aku cubit,” ucap Salma.


“Kamu gak kangen dipeluk aku saat aku telanjang dada, Sal?”


“Kamu tambah ngadi-ngadi ya ngomongnya? Tutup kancing bajunya!”


“Kamu kok balik galak lagi sih Sal? Kek zaman kamu masih SMP, kan galak banget, judes lagi?” ujar Dimas.


Dimas mengingat dulu saat pertama pindah rumah, dan dekat dengan rumah Salma, papanya selalu mengajak ke rumah Salma setiap hari, hingga dia bisa menaklukkan gadis yang jutek itu, juga galak, dan menjadi berteman akrab lalu saat SMA mereka menjalin hubungan. Dari SMP mereka berteman akrab hingga terjalin asmara saat SMA, membuat Dimas dan Salma tidak memiliki teman, Dimas hanya memiliki Salma saja sebagai teman sejak pindah rumah, dan Salma juga merasa hanya Dimas saja temannya. Padahal Salma adik kelas Dimas. Salma kelas satu SMP dan Dimas kelas tiga SMP saat itu. Karena sudah akrab dengan Dimas, akhirnya Salma masuk ke SMA yang sama dengan Dimas. Dan, mereka menjalin kisah kasih di sekolah saat Salma baru kelas satu SMA, dia berpacaran dengan Dimas yang sudah kelas tiga.


“Lagian kamu itu nyebelinnya dari dulu gak ilang-ilang ya, Dim?!” ujar Salma.


“Aku sengaja, gemas saja lihat kamu yang jutek, galak, jarang senyum. Dan ... sekali senyum aku langsung jatuh cinta sama kamu,” ucap Dimas.


“Dan ... sekali menikahiku malah menyakitiku?” sambung Salma.


“Itu semua karena keadaan, Sal,” jawab Dimas dengan raut wajah penuh penyesalan. “Oh iya, Sal, kamu sudah baca surat dari Rani? Kamu sudah baca buku milik Rani juga? Yang aku titipkan sama kamu kemarin, setelah aku kecelakaan itu,” tanya Dimas.


“Belum aku baca, belum aku sentuh lagi setelah aku menerimanya dari kamu,” jawab Salma.


“Ih kamu kok gitu? Aku diamanahi sama almarhum lho, Sal? Baca Sal suratnya kali saja penting, kalau di buku sih aku sudah baca semunya,” ucap Dimas. “Ibu pernah gak bicara soal Rani sama kamu?” tanya Dimas.


“Enggak, sama sekali enggak pernah. Paling pernah bilang kalau Rani sering ke rumah, gitu saja,” jawab Salma. “Kalau buku itu sama surat itu, aku belum baca, gak minat saja. Kalau semisal aku membaca buku milik Rani dan surat dari Rani, rasanya seperti mengupas masa lalu saja yang sudah berusaha aku bungkus rapat dan sudah ingin aku buang, tidak ingin lagi aku melihat atau mengingatnya. Jadi aku memilih menyimpannya saja,” jelas Salma.


“Nanti kalau hati kamu sudah siap, baca ya, Sal? Banyak yang kamu tidak tahu soal Rani, dan soal pernikahanku dengan Rani,” ucap Dimas.


“Memang aku harus tahu gitu? Gak melulu aku harus tahu soal masa lalu kamu kan, Dim? Apalagi dengan seseorang yang sudah merebut kamu dariku?” jawab Salma. “Sudah lah Dim, aku tidak mau membahas Rani. Aku sudah cukup sakit hati, aku sudah cukup sabar mengobati lukaku yang kamu goreskan dulu, dan sekarang aku masih mau menerimamu sebagai teman, harusnya kamu tidak usah membahas soal Rani lagi, Dim? Bikin bad mood saja kamu!”


“Ya sudah maafkan aku, Sal. Sudah jangan ngambek. Tapi kalau misal aku berharap lebih dari teman gimana?” tanya Dimas.


“Jangan berharap, Dim! Aku sudah tidak mau berkomitmen lagi dengan laki-laki,” jawab Salma.


“Oke, aku hargai keputusanmu, gak masalah kok, yang penting aku masih lihat kamu saja,” ucap Dimas. “Kalau misal Askara minta balikan lagi bagaimana?” tanya Dimas.


“Gak akan lah! Meski dia berlutut sekali pun aku tidak akan mau kembali.” Jawab Salma.


“Misal Afifah yang mau?”


“Gak akan, Dimas? Kamu dari tadi misalnya misalnya terus? Gak capek apa sih tanya begitu? Sudah ah gak usah bahas ke sana-sana. Sekarang aku ingin fokus pada ibu. Ibu satu-satunya orang tua yang aku punya sekarang. Aku ingin menemani ibu, di masa senja ibu. Aku gak mau mikir menikah lagi, Dim. Ibu adalah prioritasku sekarang. Aku sudah terlalu mengecewakan ibu, dengan aku gagal berumah tangga dua kali. Itu kenapa aku memilih di rumah saja, menemani ibu, dan aku kan selama ini merepotkan kamu untuk menjaga ibu. Jadi aku gak mau merepotkan orang lain lagi,” jelas Salma.


“Jadi kamu anggap aku orang lain?” tanya Dimas.


“Mungkin matan rasa saudara kali, ya?” jawab Salma.


“Kamu bisa saja, Sal?”


Salma memang sudah merasa nyaman dengan keadaan sekarang. Dia kembali menemukan sosok Dimas yang dulu, yang pertama kali dia mengenalnya. Dimas yang selalu sabar meski dibentak-bentak dia, Dimas yang selalu mengerti keadaan hatinya, tahu perasaannya, dan tahu apa yang sedang diinginkan. Salma sekarang bisa menemukan Dimas yang dulu, yang mungkin bisa membuat dirinya jatuh hati lagi pada Dimas. Tapi saat sudah memulai memikirkan perasaannya pada Dimas, Salma buru-buru menepiskan rasa yang bagi Salma itu tidak boleh terulang lagi.

__ADS_1


“Aku nyaman dengan keadaan ini. Nyaman dengan sosok Dimas yang sekarang, tapi aku merasakan Dimas adalah Dimas yang dulu, yang baru saja aku mengenalnya. Soal perasaanku dengan Dimas, aku sendiri tidak tahu, karena kadang aku pun merasa sedang jatuh hati kedua kalinya dengan Dimas. Aku merasa aku ini sedang menjalani masa remaja lagi dengan Dimas. Bertengkar, berdebat, marahan, tapi ujungnya saling membutuhkan lagi, saling mengerti lagi, dan saling membutuhkan lagi. Aku rasa ini bukan cinta, tapi aku juga merasa benih cinta kami akan tumbuh kembali, tapi tidak tahu, aku belum memikirkan itu,” batin Salma.


__ADS_2