Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Hari Penuh Kejutan


__ADS_3

“Jadi ini kejutan yang ayah bilang semalam?” tanya Afifah.


“Bukan dong? Tuh kejutan dari ayah di depan, sana lihat sendiri,” titah Askara.


Afifah langsung ke teras depan, melihat kejuatan apa yang diberikan oleh ayahnya. Afifah teriak dengan bahagia melihat kejutan dari ayahnya.


“Ayah ... terima kasih?” Afifah memeluk Askara dengan rasa bahagia.


“Bunda ... terima kasih kadonya?” Lalu ia bergantian memeluk Salma.


“Iya, sama-sama, sayang,” ucap Salma dan Askara.


“Ah ...terharu kan aku dapat kado begini?” Afifah mengusap air mata yang akan jatuh dari sudut matanya.


Mobil, Askara membelikan mobil untuk Afifah. Memang dulu ia janji akan membelikan mobil kalau Afifah sudah berusia tujuh belas tahun. Hari ini Askara dan Salma menepatinya. Afifah sangat senang mendapat hadiah dari ayah dan bundanya. Ditambah dengan kedatangan Dimas yang tidak ia duga. Padahal Dimas bilang tidak akan pulang, tapi ternyata Dimas bohong dengan dirinya.


“Cie ... tujuh belas tahun? Cie dapat mobil baru?” ledek Dimas.


“Cie pulang? Katanya lima tahun pulangnya? Kangen ya sama aku?” balas Afifah.


“Idih, aku sudah gak sabar dong lihat keponakanku yang ganteng ini? Masa mau nunggu dua tahun lagi, nanti Yusuf sudah TK jadinya?” ucap Dimas.


“Ya sudah kalau gak kangen aku, Bye!” ucap Afifah, lalu ia langsung pergi meninggalkan Dimas.


“Eh mau ke mana?” tanya Dimas.


“Mandi, mau nagih janjinya ayah semalam!” jawab Afifah.


“Memang ayah semalam punya janji apa sama kamu, Nak?” tanya Askara.


“Toko buku, Ayah? Masa lupa?” jawab Afifah.


“Sudah ada Om kamu tuh, sana sama Om Dimas saja, ayah masih ada kerjaan nih, Kak,” ucap Askara.


“Mnch ... ayah kebiasaan ih!” tukas Afifah kesal, padahal dia senang sekali diberikan kesempatan pergi dengan Dimas, untuk melepas rindunya.


“Kamu itu selalu, kalau anaknya minta diantarin ke mana-mana, lemparnya ke aku. Ini aku baru sampai semalam lho? Aku sempatin pagi-pagi sekali ke sini Cuma buat ketemu Yusuf, sama ngasih kejutan Afifah?” ucap Dimas.


“Iya ih, ayah selalu begitu? Kemarin gak ada Dimas, ayah lempar ke sopir?” uar Salma.


“Bunda, ayah masih banyak kerjaan nih?” ucap Askara.


“Gak ada alasan! Ini weekend, ayah!” tekan Afifah.


“Sudah kita jalan-jalan, yuk? Sekalian ngerayain ultah Afifah, terus antar Afifah beli buku juga. Ini weekend, Askara ... waktunya buat keluarga!” ujar Dimas.


“Oke deh! Traktir kamu lho? Yang baru goll proyeknya dapat banyak dong pastinya?” ucap Askara dengan semangat.


“Iya aku traktir kalian, ayo buruan siap-siap! Itu yang ulang tahun buruan jangan lemot!” ucap Dimas.


“Iya ini mau mandi!” jawab Afifah kesal.


Afifah bahagia sekali, akhirnya Dimas jadi pulang saat ulang tahunnya. Hari ini benar-benar hari penuh kejutan untuknya. Kado dari ayah dan bundanya yang dulu dijanjikannya. Lalu kedatangan kekasih hatinya yang bilang katanya gak akan pulang, pulangnya akan diundur tahun depan atau tahun depannya lagi.


Dimas rela lembur terus, supaya pekerjaannya cepat selesai dan cepat kembali ke Indonesia. Ia targetkan pulang saat Afifah ulang tahun ke tujuh  belas. Ternyata bisa pulang. Dimas bilang tidak bisa pulang pada Afifah karena kemarin dia pikir pekerjaannya akan selesai lebih lama lagi, ternyata bisa selesai sesuai target yang dirancang oleh Dimas.


Dimas siang ini mengajak Askara dan keluarganya keluar untuk makan dan jalan-jalan. Ia juga sudah kangen dengan Bu Mila, ingin ia ajak jalan-jalan Bu Mila, dan akhirnya hari ini kesampaian juga.


Tidak hanya rindu pada Afifah, Dimas juga rindu sekali pada Bu Mila. Baru kali ini dia lama meninggalakn Bu Mila, jadi ia sangat merindukannya. Apalagi dia selalu khawtir dengan kesehatan Bu Mila yang sering drop sebelum Dimas berangkat. Tapi, sejak ada Yusuf, Bu Mila malah kelihatan lebih sehat, lebih bahagia sekali setelah ada Yusuf.


Afifah keluar dari kamarnya. Ia sudah siap untuk diajak jalan-jalan dengan Dimas, dan bersama dengan keluarganya. Afifah semakin terlihat cantik sekali. Tiga tahun tidak bertemu secara langsung dengan Afifah, membuat Dimas semakin terpukau dengan penampilan Afifah sekarang.


“Afifah, sini!” panggil Dimas.


“Iya, ada apa?” tanya Afifah.


“Gak ada pakaian yang lebih ketat lagi, Fah? Pakaian kurang bahan dipakai!” tegur Dimas.


“Emang modelnye begini kok?” jawab Afifah.


“Pakai baju itu yang benar! Masa baju sampai di pusarmu saja? Kamu mau memperlihatakan perutmu di depan umum?” cecar Dimas.


“Askara, ini anakmu itu masa pakai baju begini? Nih lihat baju kok nangkring di di atas perut? Baju macam apa ini? Gak pantas sekali dpakai!” gerutu Dimas.


“Astaga ... ini kamu kesetanan apa, Afifah? Kamu tumben banget pakai baju gitu? Mau apa pakai baju wudelnya kelihatan, gitu? Mau mangkal?!” berang Salma yang melihat anak perempuannya memakai baju model crop top. “Gak biasanya lho kamu pakai baju begitu?” Salma tak henti-hentinya ngedumel melihat anak gadisnya memakai baju seperti itu.


“Ih, Bunda .... Ini kan baju lagi ngehits!” jawab Afifah.


“Ganti baju, atau gak usah pergi! Ayah gak mau anak Ayah begini! Kayak anak kurang perhatian orang tua dan keluarga saja!” tegur Askara.


“Ganti baju. Fah!” titah Dimas.


“Ih, iya ini mau ganti!” cebiknya.


“Kakak gak cantik!” ucap Yusuf dengan menggemaskan.


“Nah, adekmu saja bisa nilai kamu, kamu malah begini?” ujar Salma.


Bu Mila baru saja keluar dari kamarnya, beliau juga bersiap untuk ikut bersama Dimas dan lainnya. Bu Mila melihat cucunya yang memakai pakaian sedikit mini di bagian atasannya.


“Ini kamu pakai baju apa, Afifah? Eyang gak pernah lihat baju ini? Dapat baju kurang bahan dari mana kamu?” cecar Bu Mila.


“Beli lah, Eyang!” cebiknya kesal, karena semua orang menilai pakaian Afifah tidak bagus, dan tidak cocok dipakai Afifah.


“Pakaian kurang bahan dibeli! Sayang uangnya!” ujar Bu Mla.


“Ish ... kalian semua, ya? Orang ini pakaian yang lagi hits kok, ya?” gerutu Afifah.


“Ganti baju!” titah Bu Mila dengan tegas.


“Iya, Eyang cantik ....” jawabnya setengah kesal.

__ADS_1


Afifah kembali ke kamarnya. Dimas akui tubuh Afifah yang agak tinggi, perut rata, dada yang agak menonjol, dan pantat yang berisi, cocok dengan pakaian yang tadi dikenakannya. Sangat terlihat dewasa sekali, tapi Dimas tidak mau lekuk tubuh ceweknya itu terlihat di depan umum.


Afifah memilih bajunya lagi. Akhirnya ia mamakai setelan rok yang baru ia beli kemarin, dengan atasan rajut lengan pendek agak longgar, dan bawahan rok 7/8 motif bunga. Terlihat cantik dan anggung menurutnya, tapi tidak tahu nanti tangapan Bunda, Ayah, dan Dimas, juga Yusuf yang sekarang sudah bisa menilai kakaknya.


Afifah menata rambutnya kembali. Ia tidak mau ribet menggeraikan rambutnya,  jadi rambutnya ia ikat saja supaya simple. Afifah keluar dari kamarnya. Ia memperlihatkan penampilannya lagi di depan orang-orang yang tadi protes karena katanya pakaiannya kurang bahan.


“Udah gimana kalau ini?” tanya Afifah.


“Cantik!” Yusuf paling gercep menanggapinya.


“Nah gitu dong anak perempuan? Cantik, anggun, elegant, tadi pakai baju kayak kurang bahan!” komentar Salma.


“Ini  baru anak Ayah, cantik, angun. Sudah pokoknya bagus nih baju kamu,” timpal Askara. “Ngomong-ngomong ini kayaknya baju baru, ya? Ayah baru lihat?” tebak Askara.


“Hmm ... baru beli tiga hari yang lalu, kembaran biasa sama Ayu,” jawab Afifah.


“Kayak panti asuhan, pakai baju kembaran mulu kalian! Bunda sama Ayah jarang pakai couple? Kalau ke kondangan saja, itu Cuma memadukan warna saja biar senada?” ujar Salma.


“Ya kan biar kita kompak, Bunda?” jawab Afifah.


“Serah kamu deh? Yuk berangkat?” ajak Salma.


Dimas dari tadi diam memandangi penampilan Afifah yang terlihat begitu anggun, manis, dan cantik sekali. Ia semakin terpesona dengan penampilan Afifah kali ini. Tiga tahun tidak bertemu secara langsung membuat Afifah berubah segalanya.


“Cewekku cantik banget?” batin Dimas.


“Hei, lihat apa, Om? Kedip, entar kelilipan! Baru lihat, ya? Aku dandan gini?” sembur Afifah, dan berhasil mengagetkan Dimas.


“Mnch ... orang lagi lihatin anak yang dulu masih kecil, sekarang udah gede gini? Pasti nih di sekolahan banyak yang ngefans kamu, ya?” ucap Dimas.


“Ya begitu deh? Mau tahu aja atau mau tahu banget?” tanya Afifah.


“Gak usah dikasih tahu, jawabannya pasti iya, kamu pasti punya banyak fans di sekolahan!” ujar Dimas.


“Iya dong? Apalagi kan aku baru saja mengharumkan nama sekolah? Aku berhasil jadi juara olimpiade, terus satu lagi aku baru dilantik jadi ketua OSIS periode ini. Jadi, wajar punya banyak fans. Begitulah kira-kira,” jawab Afifah.


Afifah tahu Dimas pasti sewot kalau dia bahas soal ketua OSIS, apalagi Afifah disukai oleh mantan ketua OSISnya, yang sekarang jabatannya sudah diserahkan pada Afifah. Ya, Rafka, siapa lagi kalau bukan Rafka yang masih setia mendapatkan kata iya dari Afifah untuk jadi pacaranya. Katanya sih, Rafka gak akan menyerah sampai kapan pun. Afifah adalah pilihannya, tapi sayangnya Afifah malah memilih  berteman saja, karena dia sudah memiliki kekasih. Afifah jujur pada Rafka, karena supaya Rafka mengerti dan paham kalau dirinya punya cowok.


“Pintar sekali keponakan, Om. Ya sudah kita berangkat?” ajak Dimas.


“Ih sebentar!” henti Afifah sambil mencari Eyangnya di mana, karena Eyangnya belum mengomentari baunya. “Eyang di mana?” tanya Afifah.


“Eyang sudah di depan, Afifah?” jawab Bu Mila yang sudah menunggu di ruang tamu.


“Eyang komentari dulu dong pakaian Afifah?!” teriak Afifah, lalu berlari ke depan.


Afifah berlenggak-lenggok tak ubahnya model yang sedang berpose di depan penonton. “Bagaimana?” Tanya Afifah dengan memutar badannya.


“Nah ini baru cucu Eyang! Cantik dan anggun sekali,” komentar Bu Mila.


“Berhubung Eyang memujiku paling akhir? Eyang harus belikan baju yang seperti ini untuk Afifah! Sebagai kado untuk Afifah,” ucapnya.


“Oke, asal gak pakaian yang kurang bahan!” jawabnya mengiyakan permintaan cucunya.


“Iya, ya sudah yuk berangkat! Eyang sudah menunggu dari tadi,” ajak Bu Mila.


“Ayo Dimas, berangkat sekarang!” ajak Askara.


“Iya, pakai mobil aku saja,” ucap Dimas.


Hari ini, Afifah merasakan bahagia yang berlipat. Tahunya Afifah Dimas tidak akan pulanh saat ulang tahunnya yang ketujuh belas tahun. Ternyata Dimas pulang, memberikan kejutan padanya, membawakan boneka dan bunga. Ditambah Ayahnya memberikan kadon yang dulu sempat dijanjikan, membelikan mobil untuk Afifah, saat dirinya berusia tujuh belas tahun;


Afifah duduk di jok paling belakang bersama Yusuf. Yusuf memang dekat sekali denga kakaknya, dia tidak mau jauh-jauh dari Afifah. Kalau Afifah di rumah Yusuf full bersama Afifah. Afifah sudah seperti ibu kedua bagi Yusuf kalau Afifah libur.


Dari tadi Yusuf mengajak mainan robot dengan Afifah. Afifah menurutinya, gak ada yang Afifah tolak kalau adiknya minta sesuatu, kecuali minta yang membahayakan Yusuf.


“Jangan diginiin, nanti rusak, Adik?” tutur Afifah. “Gini nih, mainnya yang benar.” Afifah menasihati adiknya, karena mainannya akan dibongkar-bongkar.


“Kayak begini, Kakak ...,” ucap Yusuf.


“Ih ... masa kepala Ultramennya diputusin? Kasihan dong, Dik?” ucap Afifah.


“Biar, nanti kakak obatin, kan, kakak Bu Dokternya?” jawab Yusuf.


“Ih sejak kapan Ultramen berobat ke Dokter?” ucap Afifah lirih.


Kadang mainan dengan anak kecil membuat Afifah bingung sendiri, karena kadang di luar nalar. Memang anak kecil belum nalar, belum tahu ini itu, kadang kerandomannya juga membuat Afifah tergelak, dan salah satu hiburan Afifah kalau sedang rindu sama Dimas adalah bermain dengan Yusuf yang lucu, tampan, dan menggemaskan.


^^^


Dimas mengajak ke tempat rekreasi juga setelah makan dan membelikan buku Afifah. Yusuf senang sekali, dari tadi dia bermain dan berlarian bersama kakaknya. Tidak mau dengan siapa-siapa, hanya dengan Afifah, Yusuf mau bermain, dan sesekali dengan Dimas.


“Sini sama om, kasihan kakakmu capek tuh?” ajak Dimas.


“Om, ayo ke sana!” ajak Yusuf.


“Ke sana, ke mana, Yus? tunjuk Yusuf.


“Itu, naik bebek!” jawabnya.


“Oh, perahu bebek? Memang Yusuf gak takut?” tanya Dimas.


“Enggak,” jawabnya dengan menggeleng.


“Ya sudah, ayo naik perahu bebek, ajak kakakmu juga,” ujar Dimas.


“Ayo, Kakak!” ajak Yusuf.


“Ke mana lagi sih, Dek?” tanya Afifah.


“Naik perahu bebek, Kak,” jawabanya. “Ayo kakak ....!” rengeknya.

__ADS_1


“Ya sudah pamit sama Ayah dan Bunda!” titah Afifah.


Yusuf berlari mendekati Ayah dan Bundanya yang sedang bersantai menikmati liburan hari ini.


“Bunda, Ayah! Adek mau naik itu!” tunjuk Yusuf ke arah perahu bebek.


“Naik perahu? Sama siapa? Bunda gak mau ah!” jawab Salma.


“Sama kakak, sama om juga,” jawabnya.


“Sama Om Dimas?” tanya Askara.


“Iya, Ayah,” jawab Yusuf.


“Ya sudah sana, mumpung ada baby sitter baru. Ayah sama Bunda santai dulu menikmati liburannya.” Askara memperbolehkannya.


“Yeay ... Ayok, Kakak! Ayok, Om!” ajak Yusuf girang.


“Ya sudah ayo ke sana,” ajak Dimas.


Dimas menggendong Yusuf, lalu ia menggamit tangan Afifah, mereka berjalan mendekati area wahana perahu kayuh.


“Kita kayak sudah punya anak, ya?” ucap Dimas berbisik di telinga Afifah.


“Ya begitu, memang Yusuf kayak anakku. Kalau aku di rumah ya sudah, apa-apa maunya denganku, Om?” jawab Afifah.


“Ya sudah, hari ini anggap saja kita lagi cosplay suami-istri, juga jadi orang tua. Anggap saja kita lagi liburan bersama ajak anak kita,” ucap Dimas.


“Nih om bisa aja deh?” ujar Afifah dengan tersenyum membayangkan apa yan Dimas katakan.


Dimas melingkarkan tangannya di pinggang Afifah. Ia mendekatkan Afifah ke tubuhnya, karena jarak mereka sudah jauh dari Askara, Salma, dan Bu Mila yang sedang bersantai, jadi tidak mungkin mereka melihatnya.


“Kita besok kencan, ya?” bisik Dimas.


“Bahas nanti, Yusuf itu anaknya pintar,” jawab Afifah.


Yusuf dari tadi memerhatikan Dimas yang bisik-bisik pada kakaknya. Dia langsung bertanya pada Dimas dan kakaknya.


“Ih, Om sama Kakak kok bisik-bisik?” tanya Yusuf.


“Tuh, kan? Dia pasti tanya!” tukas Afifah.


“Mau tahu, om bisikin apa ke kakakmu?” tanya Dimas pada Yusuf.


“Iya, mau!” jawabnya semangat.


“Bisikin apa ya, tadi? Aduh om lupa!” ucap Dimas.


“Tadi om bisikin ke kakak, kalau nanti mau ajak makan steak!” ucap Afifah.


“Nah iya itu, kamu mau?” tanya Dimas pada Yusuf.


“Gak mau, gak doyan!” jawabnya.


“Yah ... adek mah gitu?” gerutu Afifah.


“Lalu kamu maunya apa?” tanya Dimas.


“Gak mau apa-apa. Maunya naik itu saja,” jawab Yusuf.


“Ya sudah ayo kita naik!”


Dimas menyewa perahu kayuh, ia naik bersama Afifah dan Yusuf. Mereka berdua serasa seperti sepasang suami istri yang sedang piknik keluarga. Dimas mengayuh perahunya, begitu juga Afifah. Dari tadi Yusuf terus berceloteh, bertanya ini dan itu, karena memang anak seusia Yusuf sedang aktif-aktifnya dan serba ingin tahu semuanya.


Perlahan Yusuf lelah, dan merebahkan tubuhnya ke dada Dimas. Matanya sudah sayup-sayup seperti mengantuk, Dimas membiarkan Yusuf tidur di dadanya. Setelah Yusuf tertidur, Dimas jadi leluasa bicara dengan Afifah. Dia benar-benar sudah merindukan kekasihnya itu.


Dimas meraih tangan Afifah lalu menciumnya. “Om kangen,” bisiknya.


“Jangan gitu, nanti Yusuf bangun!” lirih Afifah.


“Besok jalan, ya? Om mau kasih hadiah untuk kamu,” ucap Dimas.


“Jalan ke mana?” tanya Afifah.


“Nanti kamu tahu. Pulang sekolah, ya? Langsung jalan,” pinta Dimas.


“Nanti izin sama bunda dan ayah gimana?” tanya Afifah.


“Sudah nanti om yang izin,  pasti dibolehin,” jawab Dimas.


“Iya deh,” jawab Afifah.


Dimas sesekali mengusap kepala Afifah, lalu mencium kepalanya. Afifah benar-benar merasa aman dan nyaman berada di dekat Dimas. Dia tidak ingin ditinggalkan Dimas lagi, karena ia merasa sepi sekali setelah ditinggalkan Dimas.


“Om kapan berangkat ke London lagi?” tanya Afifah.


“Om sudah gak berangkat ke sana. Pekerjaan om sudah selesai di sana, om sengaja percepat pekerjaan om di sana, karena demi kamu. Om gak mau jauh-jauh dengan kamu, Fah,” ucap Dimas.


“Jadi Om akan stay di sini terus?” tanya Afifah.


“Iya, Sayang?” jawab Dimas. “Om mau urus perusahaan bundamu itu, kemarin sempat berantakan saat om tinggal, kasihan bundamu gak bisa menghandle itu. Orang kepercayaan om curang lagi,” ucap Dimas.


“Iya, kemarin eyang dan bunda sempat membahas itu, tapi kemarin ayah juga ikut turun tangan?”


“Ya karen Om minta bantuan ayahmu,” jawab Dimas.


Mereka bercerita cukup lama di atas perahu kayuh angsa. Yusuf semakin pulas tidurnya, dia pasti kelelahan sekali, karena dari tadi dia lari-lari.


“Yuk sudah, anak kita sudah lelap,” ajak Dimas.


“Anak kita?”

__ADS_1


“Iya, umpamakan saja kita orang tua Yusuf, kita sebuah keluarga kecil yang sedang menikmati weekend bersama,” jawab Dimas. Afifah hanya tersipu malu di depan Dimas, membayangkan kalau beneran suami istri.


“Apa aku bisa, beneran jadi istri Om Dimas? Ah pasti bahagia sekali aku jadi istrinya? Dia baik, tampan, penuh kasih sayang, apa yang aku mau pasti dia menurutinya?” batin Afifah.


__ADS_2