Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Ayok Piknik! Biar Gak Panik!


__ADS_3

Kedekatan Salma dan Dimas terus membuat Askara cemburu. Setiap hari Dimas tidak pernah absen untuk telefonan dengan Salma. Entah hanya sekadar untuk menanyakan kabar Salma atau ngobrol biasa saja. Askara merasa kalau Dimas melepaskan Salma kembali padanya, tapi masih berat untuk benar-benar dilepaskan.


Askara kembali menampakkan wajah tidak sukanya lagi saat pulang dari mengantarkan Afifah ke sekolah. Harusnya setelah pulang dari sekolahan Afifah, Askara langsung mendapatkan sambutan hangat dari Salma, karena ia sudah ingin bermanja dengan Salma. Namun yang Askara dapatkan malah melihat Salma sedang asyik menerima telefon dari Dimas.


Askara akui, Dimas lebih dari dirinya. Entah itu dari segi materi, juga dari segi ketampanan dan postur tubuhnya. Askara takut Salma terpikat lagi dengan Dimas karena dua hal itu, padahal sedikit pun Salma tidak berpikiran sampai ke situ. Dimas pun demikian, ia hanya ingin tahu keadaan Salma dan keluarganya. Hanya itu.


“Dim, sudah dulu, ya? Suamiku pulang, nanti sambung lagi kapan-kapan. Jangan lupa sampaikan pada ibu soal tadi. Titip ibu ya, Dim? Terima kasih banyak, Dim,” ucap Salma sebelum mengakhiri telefonnya dengan Dimas.


Salma mendekati Askara yang raut wajahnya terlihat kesal. Salma tahu Askara pasti marah karena telefonan dengan Dimas, apalagi tadi Salma sampai ketawa-ketawa dengan Dimas di telefon, jadi mungkin Askara marah dan kesal karena pulang bukannya disambut dirinya yang sudah siap untuk ritual di ranjang, tapi malah asyik telefon dengan Dimas.


“Marah ya? Maafin aku ya, Sayang? Mana kutahu Dimas mau telefon aku?” Salma memeluk Askara dari belakang dan mengusap lembut perut datar Askara.


“Gak usah begitu tangannya! Aku gak se-sixpack Dimas perutnya! Seksi Dimas, kan?” tukasnya.


“Mas, kok bawa-bawa fisik? Aku gak bandingin lho? Mau mas kurang sixpack atau apa, aku gak masalah. Apa aku pernah mempermasalahkan itu dari dulu? Aku menerima kamu tulus, apa adanya dirimu, aku menerimamu tanpa karena. Semua terjadi senatural mungkin, dari aku sayang sama Afifah, lalu aku pun timbul sayang ke kamu yang sabar mengurus Afifah sendiri. Perasaan ini muncul begitu saja, tanpa sebab apa pun!” ungkap Salma dengan penuh penekanan.


“Memang kenyataannya begitu, kan? Aku jauh bila dibandingkan dengan Dimas yang terlihat lebih sempurna!” ucap Askara sambil melepas kemejanya, lalu mengganti dengan kaos oblong.


“Aku gak suka ya, Mas! Mas bandingin diri mas sendiri sama orang lain! Merasa lebih rendah dari orang lain! Karena aku gak pernah bandingin siapa pun. Meski kamu dan dia sama-sama sudah menggoreskan luka pada hatiku! Aku sebisa mungkin mencoba berdamai dengan masa lalu, berdamai dengan sakitku sendiri, karena aku ingin hidup tenang dengan pria pilihanku untuk menemani sisa hidupku! Jadi tolong gak usah bicara begitu lagi!” cecar Salma. “Sekarang mas katakan maunya apa? Jangan gini mas, aku gak suka!” pungkasnya.


“Aku gak suka saja istriku dekat dengan mantan suaminya!” jawab Askara.

__ADS_1


Salma menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Ia tidak menyangka Askara semarah itu karena cemburu melihat dirinya telefonan dengan Dimas. Salma sadar, harusnya setelah menikah kembali dengan Askara ia membatasi dirinya dengan Dimas, meskipun Dimas dekat dengan ibunya. Dari dulu juga Dimas sudah dekat dengan ibunya saat Salma memilih pergi dari rumah, mencari ketenangan dan bertemu Askara. Salma tidak peduli dengan Dimas yang dekat dengan ibunya. Salma bersikap biasa saja dengan Dimas, bahkan dia sangat membenci Dimas.


“Kenapa gak seperti dulu? Sepertinya dulu kamu gak peduli dengan Dimas? Mau dia sering di rumah ibumu, sering dengan ibumu, dan menjaga ibumu. Kalian gak pernah telefonan lama sekali, ketawa-ketiwi begitu?” ucap Askara.


“Iya aku salah, Mas. Aku minta maaf. Tapi aku mohon, jangan pernah bandingin dirimu dengan orang lain. Kamu ya kamu, Mas. Aku mencintaimu juga gak memandang sesuatu yang ada padamu. Jangan gitu lagi, ya? Karena kalau kamu terus begitu yang ada kamu terus merasa rendah di depan siapa pun. Gak di depan Dimas, gak di depan orang lain pun kamu akan menganggap dirimu lebih rendah dari mereka,” papar Salma. “Aku gak mau dengar lagi kamu bandingin diri kamu sendiri dengan orang lain, Mas! Kamu ya, kamu! Bahkan gak ada di dunia ini laki-laki yang seperti kamu?” pungkasnya.


“Aku hanya takut kamu kembali dengan Dimas, Sal. Karena aku sadar, Dimas lebih segalanya dari aku,” ucap Askara.


“Buktinya aku kembali dengan kamu? Menerima kamu kembali, memilih kamu kembali untuk jadi suamiku?” ucap Salma.


“Ya mungkin kamu lebih memilih aku karena Dimas sakit, jadi kamu lebih memilih aku?”


“Sudah aku gak mau melanjutkan acara perdebatan ini. Ayok ikut aku!” Salma menarik tangan suaminya, dan mengajaknya pergi.


“Piknik! Kamu kurang piknik, Mas! Jadi panik mulu hawanya!” jawab Salma.


Salma mengambil kunci mobil, ia kali ini mengajak paksa suaminya untuk pergi refreshing, daripada otaknya berpikiran negatif terus pada Salma.


“Mau ke mana, Salma ...?” tanya Askara.


“Piknik, Sayang ... biar kamu gak panik gini pikirannya,” jawab Salma.

__ADS_1


“Piknik ke mana ih? Kamu ada-ada saja? Nanti Afifah pulang di rumah sendirian dong?” ucap Askara.


“Sebentar saja. Refresh otaknya mas biar gak macem-macem mikirnya!” jawab Salma. “Lagian aku gak tega ninggalin Afifah di rumah sendirian. Nanti pulang piknik langsung jemput Afifah terus makan siang di luar saja sekalian, aku belum masak. Sesekali lah menikmati moment gini sama suami,” papar Salma.


“Kamu ini ada-ada saja, Sal? Sini biar aku yang nyetir saja.” Askara meminta kunci mobilnya, tapi Salma tidak memberikannya.


“Gak, kamu lagi panik otaknya. Lebih baik kamu duduk di sebelahku, dan tenangkan pikiranmu, biar aku yang bawa mobilnya,” jawab Salma.


“Memang kamu tahu jalannya?” tanya Askara.


“Aku pernah lama di Jogja, kan aku kuliah di sini?” jawab Salma.


“Sama Dimas juga?” tanya Askara.


“Iyalah, dia juga ikut kuliah di sini, kan aku sama dia pacaran dari SMA, eh SMP mungkin,” jawabnya.


“Pantas senang sekali di sini, sampai gak mau pindah ke Jakarta lagi? Ternyata banyak kenangan sama Dimas di sini? Dimas juga sering ke sini, mungkin mengenang masa-masa denganmu?” ucap Askara.


“Susah ngomong sama orang yang lagi cemburu!” tukas Salma.


Salma melihat Askara semakin ngambek saat dia bilang pernah di tinggal di Jogja lama dengan Dimas. Memang kenyataannya seperti itu, Salma tidak mau menutup-nutupi. Padahal Askara sudah tahu kalau Salma dulu kuliah di Jogja saat ambil kedokteran, tahu juga hubungan Salma dengan Dimas terjalin saat mereka masih remaja, tapi namanya orang sedang terbakar api cemburu, apa pun topik pembicaraannya selalu dikait-kaitkan untuk jadi bahan cemburunya.

__ADS_1


“Ini Askara kerasukan setan apa sih? Cemburunya sampai begini? Padahal dia tahu kalau dulu aku kuliah di sini dengan Dimas, dan tahu juga aku pacaran dengan Dimas dari remaja. Memang sih banyak kenangan dengan Dimas di kota ini, tapi ya sudah, toh aku sudah tidak ada rasa dengan Dimas? Askara kok jadi cemburuan gini sih? Mungkin aku sedikit-sedikit harus jaga jarak sama Dimas, biar gak ada salah paham,” ucap Salma dalam hati.


__ADS_2