Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Kebahagiaan Salma dan Askara


__ADS_3

Salma masih belum percaya dengan cincin Afifah itu. Ia yakin itu dari Dimas. Menjelang tidur pun Salma masih memikirkan itu. Ia tidak masalah Dimas suka dengan Afifah, tapi kalau mengingat Dimas pernah jadi mantan suaminya dia tidak rela Afifah dengan Dimas. Kasihan Afifah mendapatkan bekasnya, meskipun Afifah tidak peduli akan hal tersebut.


“Mas, perutku!” pekik Salma.


Salma merasakan perutnya kencang, rasanya mulas, seperti akan melahirkan. Salma mengalami kontraksi, entah kontraksi palsu atau benar-benar dirinya akan melahirkan.


“Kenapa perutmu, Sal?” tanya Askara panik.


“Gak tahu, Mas! Rasanya mules, keknya aku mau melahirkan deh mas? Masa maju, ya?” ucap Salma yang juga ikut panik.


“Kamu tenang, aku panggil sopir, kita segera ke rumah Sakit! Tunggu sini, tenangkan pikiranmu, oke?” ucap Askara.


Askara keluar dari kamarnya, ia bangunkan Afifah yang baru saja tertidur, dan juga membangunkan ibu mertunya, dia panik sendiri, karena Salma kesakitan. Askara juga langsung meminta sopir untuk menyiapkan mobilnya. Afifah segera keluar dari kamarnya, ia menghampiri bundanya yang sedang kesakitan. Afifah mengambil koper yang kemarin sudah ia siapkan dengan bundanya, persiapan untuk di bawa ke rumah sakit sudah Salma siapkan.


“Bunda yang kuat, ya? Sakit sekali ya, Bund?” ucap Afifah dengan mengusap bahu bundanya.


“Sakit, Fah! Mules sekali! Aduh ...,” rintih Salma.


“Bunda sabar, ya? Mobil lagi disiapkan sama sopir kok,” ucap Afifah.


“Ayo, Sal. Mobil sudah siap, Afifah bantu bawa koper, ikut ayah, ya? Temani bunda di rumah sakit,” pinta Askara.


“Iya, Ayah,” jawab Afifah.


Askara menggendong Salma, lalu Afifah dan Bu Mila mengikuti di belakangnya. Afifah takut sekali melihat bundanya kesakitan, dan merintih. Ia berdoa di sepanjang jalan, ia takut bundanya tidak kuat menahan sakit.


Suara pekikan Salam terdengar di dalam mobil, dia merintih kesakitan yang membuat Afifah dan Askara panik. Berbeda dengan Bu Mila, beliau terus menguatkan putrinya yang sedang mengalami kontraksi.


“Aduh ... ibu sakit sekali,” rintih Salma.


“Sabar, Nak. Nanti mau sampai, yang kuat, tarik napas dalam-dalam, keluarkan perlahan, kamu yang sabar, ya?” tutur Bu Mila.


“Bunda yang kuat, jangan begini. Afifah takut, Bunda,” ucap Afifah sambil menoleh ke arah bundanya yang ada di belakang, Afifah duduk di depan di sebelah sopir.


“Aku gak kuat, Bu,” rintih Salma.


“Salma ... jangan bicara begitu, Sayang? Tahan, ya?” ucap Askara semakin panik.


Padahal Salma masih diperkirakan tiga minggu lagi HPL-nya, tapi malam ini Salma sudah merasakan kontraksi yang hebat di perutunya seperti akan melahirkan. Bukan kontrakasi palsu lagi, karena air ketuban Salma juga sudah pecah.


“Bu, ini kok basah? Kamu gak ngompol kan, Sal?” tanya Askara.


“Ini air ketuban, Askara!” timpal Bu Mila. “Pak, bisa cepat sedikit, air ketuban Salma sudah pecah!” perintah Bu Mila.


“Siap, Bu!” jawab Sopir.


Bu Mila semakin panik, air ketuban Salma sudah pecah, dan Salma dari tadi merintih kesakitan, tak hanya Bu Mila, Afifah apalagi, dia takut sekali Bundanya dari tadi merintih kesakitan.


“Bunda ... sabar, ya? Sebentar lagi sampai kok, itu rumah sakitnya sudah kelihatan,” ucap Afifah.


“Afifah, ini sakit sekali!” pekiknya dengan sedikit mengerang.


“Iya, Afifah tahu, Bunda, sebentar lagi tuh sampai, bunda semangat, ya? Kan, mau melahirkan dedek bayi?” Afifah menyemangati Salma, mencoba menghibur Salma yang sedang kesakitan.


“Iya, ini Bunda semangat, tapi sakit, Afifah ...!” pekik Salma.


“Sudah sampai tuh, Bun? Bunda tahan, ya?” ucap Afifah.


Askara dari tadi diam saja, dia panik sekali, tidak bisa berkata apa-apa kecuali berdoa. Dulu dia pernah mengalami hal serupa saat Azzura akan melahirkan Afifah, tapi Azzura lebih tenang, hanya meringis-ringis saja, jadi Askara tidak sepanik ini.


Sampai di depan IGD, Askara langsung keluar dari mobil, beberapa petugas medis sudah siap di depan pintu untuk mengurus pasien. Salma dipapah keluar, lalu direbahkan di atas brankar. Salma masih merintih kesakitan. Perawat segera menangani Salma, mengecek keadaan Salma.

__ADS_1


“Tekanan darah pasien tinggi, harus segera ambil tindakan caesar!” terang Dokter yang menangani Salma. “Panggil keluarga pasien, beritahu kalau pasien harus segera melakukan operasi caesar!” titah Dokter pada suster.


“Baik, Dok!” jawab Suster.


Suster keluar, memanggil keluarga Salma. “Suami dari Ibu Salma!” panggil Suster di depan pintu.


“Ya, saya, Sus!” sigap Askara.


“Bapak bisa ikut saya? Dokter mau bicara dengan bapak,” ucap Suster.


“Iya, baik, Sus!” jawab Askara.


Askara mengekori Suster tersebut, kemudian menemui Dokter yang menangani Salma.


“Selamat malam, Dok,” sapa Askara.


“Selamat malam, silakan duduk, Pak,” perintah Dokter.


“Bagaimana dengan istri saya, Dok?” tanya Askara.


“Tekanan darah istri Bapak sangat tinggi, maka dari itu kami mengambil tindakan untuk melakukan operasi caesar, demi keselamatan ibu dan anak,” ternag Dokter.


“Lakukan yang terbaik untuk istri saya, Dok!” ucap Askara.


“Baik, Pak,” jawab Dokter.


“Sus, surat pernyataannya segera diberikan Pak Askara, biar ditandatangani,” perintah Dokter pada Suster.


“Baik, Dok,” jawabnya.


“Silakan tanda tangan di sini, Pak,” pinta Suster pada Askara.


“Baik, Sus.”


“Saya minta lakukan yang terbaik untuk istri saya, Dok,” ulang Askara.


“Iya, Pak,” jawab Dokter.


Askara keluar dari ruang Dokter, ia langsung menemui Salma ke IGD. Ia melihat Salma yang masih terbaring lemah di atas brankar. Ia dekati Salma, ia usap kepala Salma lalu mencium kening Salma.


“Kuat ya, Sayang? Demi anak kita. Kamu jangan meyerah,” ucap Askara pada Salma.


“Iya, Mas. Sakit sekali, Mas,” ucap Salma.


“Iya, Mas tahu itu, kalau Mas bisa gantikan biar Mas yang sakit, jangan kamu,” ucap Askara.


“Berdoa, ya? Mas juga di sini akan mendoakanmu, Afifah dan ibu juga, Bunda dan Ayah sedang jalan ke sini. Papa sama Mama juga. Kamu harus kuat, demi anak kita,” ucap Askara.


“Iya, aku kuat, Mas,” jawab Salma.


Askara mengcup kening Salma lagi. Ia menguatkan Salma sebelum Salma di bawa ke ruang operasi.


Suster masuk ke dalam IGD, lalu membawa brankar Salma ke ruang Operasi. Askara turut di sebelahnya, menggenggam tangan Salma. Afifah dan Bu Mila juga ikut berjalan ke menuju ruang operasi.


“Bapak dan semuanya menunggu di luar, ya?” perintah Suster.


“Baik, Sus,” jawab Askara dan lainnya.


“Kamu harus kuat, berdoa ya, Sayang?” bisik Askara. “Ikuti aku baca doa, ya?” Askara membisikkan doa di telinga Salma, sebelum Salma masuk ke ruang operasi.


Salma masuk ke ruang operasi. Askara duduk di sebelah Afifah. Afiah memeluk papanya, mencoba meredakan ketegangan papanya karena menunggu istri tercintanya sedang berjuang melahirkan putranya.

__ADS_1


^^


Tak lama kemudian, suster memanggil Askara, dan meminta Askara untuk ikut ke ruang bayi. Operasi berjalan dengan lancar, bayi dan ibunya sehat. Tinggal menungu Salma sadarkan diri, lalu dipindahkan ke ruang perawatan.


“Pak Askara, selamat atas kelahiran putranya, Pak. Ini bayi bapak, dia sehat, dan sagat tampan sekali,” ucap Suster.


Askara mengambil bayinya dari gendongan suster. Ia lalu mengadzani bayinya, lalu membacakan iqomah di telinganya. Setelah itu ia mengecup kening bayinya. Impiannya terkabul kalau dirinya ingin sekali punya anak laki-laki, sekarang kesampaian juga Askara punya anak laki-laki.


“Alhamdulillah kamu sudah hadir di tengah-tengah ayah dan bunda, kamu tampan sekali, Nak. Sehat terus ya, Sayang?” ucap Askara dengan mata berkaca-kaca.


Askara kembali memberikan bayinya pada suster. Karena kata Suster sebentar lagi akan dibawa ke ruangan perawatan bersama dengan Salma.


Askara kembali ke depan ruang operasi, Salma sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Askara bersyurkur, Salma hanya mengalami tekanan darahnya yang tinggi, tidak ada masalah lain.


Salma sudah berada di ruang perawatannya. Akhirnya yang Salma nantikan hadir juga di tengah-tengah kehidupannya. Ia ingin sekali memiliki buah hati lagi setelah kepergian putrinya dulu, saat ia bersama Dimas.


“Mana anakku, Mas?” tanya Salma.


“Ini anak kita, anak kita tampan sekali, Sayang.” Askara mengambil bayi nya dari keranjang bayi, lalu ia memperlihatkan pada Salma yang sedang berbaring di ata bed perawatan.


“Tampan sekali kamu, Nak?” Salma memuji ketampanan putranya itu. Memang sangat tampan sekali, mirip dengan Opanya, matanya begitu indah seperti Afifah saat terbuka, tidak heran karena Afifah kakak satu bapak, jadi mirip sekali matanya indah seperti Afifah.


“Kak, sini!” pinta Salam.


“Apa, Bunda?” tanya Afifah.


“Lihat ini adikmu, tuh kan matanya kayak kamu kalau terbuka, indah sekali matanya, tampan sekali adikmu, Nak,” ucap Salma.


“Ih, iya, kok Ayah baru merhatiin, ya?” ucap Askara.


“Tampan sekali adikku, aku pengin gendong, Yah,” pinta Afifah.


“Memang bisa?” tanya Askara.


“Harus bisa dong? Masa kakak gak bisa gendong adiknya? Apalagi perempuan?” ujar Salma.


“Iya dong, harus bisa, Yah?” jawab Afifah.


“Hati-hati lho? Adikmu tulangnya masih kecil,” ujar Askara.


“Makanya bantuin dong, Ayah?”


“Sini biar ikut Eyang dulu, nanti baru Eyang kasih ke kakak,” pinta Bu Mila.


Bu Mila menggendong bayi laki-laki Salma yang belum dikasih nama itu. Bu Mila bahagia sekali, akhirnya bisa menimang cucu dari anak semata wayangnya. Ia tak kesepian lagi, Salma juga tidak gundah lagi, karena skearang sudah memiliki anak.


“MasyaAllah ... cucu eyang tampan sekali, gak ada mirip sama bunda dan ayahnya nih, malah mirip Opa Zhafran!” ucap Bu Mila.


“Apa ini nasibku, ya? Dua anakku mirip ke papa semua, aku sama sekali gak mirip papa, tapi anak-anakku malah ke sana semua gen-nya ke Oma Thalia?” keluh Asakara.


“Ayah kurang beruntung berarti? Atau kami bukan anak ayah?” canda Afifah.


“Enak saja! Memang kamu maunya anak siapa? Untung kamu gak ikut ayah sama ibu wajahnya, ikutnya wajah Uyut Thalia,” ucap Askara.


“Iya dong, biar ada bau-bau bulenya ya, Sayang?” ucap Afifah sambil mengusap gemas pipi adiknya. “Utututu ... kamu lucu sekali, Sayang? Ayolah ikut kakak? Pinta Afifah.


“Sini ikut kakak. Gini Afifah tanganmu. Sudah siap? Eyang taruh di tanganmu, ya?” Bu Mila memberikan intruksi pada Afifah, lalu menaruh bayi mungil itu di tangan Afifah.


“Yeay ... kamu gendong kakak sekarang? Nanti kalau udah gedean sedikit kakak akan gendongin kamu, sekarang kamu masih kecil, masih rawan sekali tulang-tulang kamu, jadi kakak bisanya dibantu eyang deh?” ucap Afifah, mengajak bicara adiknya dengan bahagia.


Afifah menimang adiknya. Dia bahagia sekali memiliki adik laki-laki yang sesuai dengan harapannya. Wajahnya juga mirip Afifah apalagi matanya.

__ADS_1


“Nanti kalau kamu sudah besar, jagain kakak dari cowok yang jahatin kakak ya, Dik? Kakak juga akan jagain kamu. Tapi, kamu kan cowok, jadi cowok itu harus kuat, harus pintar, cerdas, bertanggung jawab, dan dapat dipercaya. Kayak Dasa Dharma Pramuka saja ya, Dik? Dan, satu lagi, jadi cowok harus setia, dan jangan pernah kamu nyakitin hati seorang perempuan, khususnya pada ibu dan kakakmu yang cantik ini,” ucap Afifah pada adiknya.


Salma dan Askara tersenyum bahagia, karena sudah memberikan Afifah seorang adik yang sangat dinantikan dan diharapkan  Afifah.


__ADS_2