
Yusuf masih menggedor-gedor pintu kamar Afifah. Dia menangis ingin kakaknya keluar dari kamarnya. Salma dan Askara sudh membujuknya, ia tidak enak dengan Dimas, karena mereka tahu apa yang sedang dilakukan pengantin baru.
“Sayang ... sebentar, Kak Fifah lagi mandi, makanya enggak dengar. Jangan gini, ya? Yuk tunggu Kakak di belakang, itu Opa sedang ngasih makan ikan,” bujuk Askara.
“Oh iya, Yusuf tahu gak, di belakang ada bola, lho? Tadi Kak Dimas beliin buat kamu,” tutur Salma.
“Kok Kak Dimas? Om Dimas, Bunda!” protes Yusuf.
“Kan Om Dimas sudah menikah dengan Kak Afifah, jadi Yusuf panggilnya kakak, tidak Om lagi,” tutur Salma.
“Harus begitu, Bunda?” tanya Yusuf.
“Iya, harus dong?” jawab Salma.
“Yuk main bola sama Ayah,” ajak Askara.
“Gak mau! Maunya sama Kak Afifah! Kan kakak janji mau ajak main di belakang! Masa sudah siang sekali belum bangun? Kakak pemalas sekali! Terus Om Dimas, eh Kak Dimas gak ada di kamarnya!” ucap Yusuf.
Yusuf memang tidak tahu menahu soal kakaknya yang sudah satu kamar dengan Dimas. Dari pagi dia cari-cari Dimas dan Afifah, semua orang mengalihkan apa yang Yusuf cari, tapi pada akhirnya Yusuf berontak dan terus menggedor pintu kamar Afifah.
“Lagian mereka itu lupa sama waktu! Mentang-mentang pengantin baru!” gerutu Askara lirih.
“Ayah ... jangan begitu dong? Ayah juga merasakannya, kan?” tegur Salma.
“Iya sih, tapi gak keterlaluan sampai jam sembilan gini, Bunda?” jawab Askara.
“Ya kan orang beda-beda, Yah?” ujar Salma. “Ayo buruan, ke belakang, bunda mau lihat Opa mancing ikan, terus katanya mau dibakar nanti ikannya,” bujuk Salma lagi pada Yusuf.
Tetap saja Yusuf gak mau pergi dari depan pintu kamar Afifah. Dia masih menangis sambil menggedor-gedor pintu kamar Afifah. Sedangkan Afifah dan Dimas di dalam, baru saja melakukan pelepasan, mereka tak gentar, meski terganggu oleh suara gedoran Yusuf, dan tangisan Yusuf.
“Sayang, kamu ke kamar mandi, ya? Ayo aku gendong, terus aku temui Yusuf,” ucap Dimas.
“Iya, Sayang, kasihan dia nangis begitu, kejam sekali aku bikin dia nangis begitu,” jawab Afifah.
Dimas menggendong Afifah, karena dia kesusahan untuk berjalan. Ia membawa Afifah ke kamar mandi. Dimas mencuci muka biar terlihat tidak awut-awutan, lalu memakai lagi piyamanya. Dimas membukakan pintu kamarnya. Ia melihat Yusuf yang masih di depan kamarnya dengan mendongak menatapnya keheranan, karena yang membuka pintu bukan Kakak perempuannya, melainkan Dimas.
“Kak Dimas? Kok di kamar Kak Afifah?” tanya Yusuf yang melihat Dimas keluar dari kamar Afifah.
“Kakak?” tanya Dimas.
“Kamu ini kan sudah jadi kakaknya Yusuf, Dim?” ujar Askara.
__ADS_1
“Oh iya, lupa,” ucap Dimas. “Ada apa anak ganteng?” tanya Dimas pada Yusuf.
“Kok Kak Dimas di kamar Kak Afifah?” tanya Yusuf.
“Iya, kakak kan sudah menikah sama Kak Fifah? Jadi kami sudah satu kamar, Sayang?” jawab Dimas.
“Apa kalau sudah menikah harus satu kamar?” tanya Yusuf penasaran.
“Iya, kan Ayah sama Bunda juga satu kamar?” jawab Dimas.
“Oh iya, opa sama oma juga satu kamar, ya?” ucap Yusuf mulai mengerti.
“Kak Fifah di mana?” tanya Yusuf.
“Kakakmu sedang mandi, tadi baru bangun, kakinya katanya sakit, kan kemarin berdiri terus di panggung?” jelas Dimas.
“Yah ... gak bisa main di belakang dong?”
“Nanti sore saja mainnya, ini kan sudah panas?” Dimas meraih tubuh Yusuf, lalu menggendongnya.
“Berapa ronde, Pak? Sampai kaki putriku sakit? Awas kalau sampai Afifah sakit!” ancam Askara.
“Ayah ... jangan begitu, wajar sakit, Yah! Kan baru pertama?” ucap Salma.
“Sudah, tadi,” jawabnya.
“Kakak mau siapkan sarapan buat Kak Fifah, kamu mau ikut Kak Dimas ke dapur?” ajak Dimas.
“Aku mau sama bunda saja, mau lihat opa ngasih makan burung dan ikan,” jawabnya.
“Ya sudah yuk sama bunda, biar kakak sarapan dulu, nanti mainan sama Kakak,” tutur Salma. “Maaf, Dim, Yusuf ganggu waktu kamu sama Afifah,” ucap Salma.
“Benar, gangguin saja, biar buyar!” tukas Askara.
“Ish ... jangan begitu dong, Ayah? Katanya mau cucu yang banyak? Malah digangguin? Udah masukinnya susah, diganggu pula?” gerutu Dimas, lalu ia langsung berjalan ke dapur.
“Eh ... tunggu! Ayah ikut ke dapur, tadi kamu bilang apa? Masukinnya susah?” tanya Askara.
“Ih ayah kepo!” jawab Dimas.
Dimas ke dapur, dia bertanya pada asisten yang ia khususkan untuk memasak. Ia bertanya masak apa pagi ini, tapi rasanya masakannya tidak sesuai dengan lidahnya, dan Dimas yakin kalau Afifah juga tidak begitu suka menu sarapan pagi ini. Dimas memilih membuatkan susu untuk Afifah, lalu membuatkan sandwich untuk Afifah. Tidak lupa ia juga meminta asistennya untuk memasakkan seafood untuk makan nanti, setelah ia menikmati susu dan sandwich.
__ADS_1
“Itu masakannya enak lho? Kamu gak makan itu saja?” tanya Askara.
“Iya enak, tapi aku gak cocok dengan menunya, Ayah. Paling Afifah juga gak cocok dengan menunya, soalnya dia maunya makan udang asam manis sama capcay, terus cumi saus tiram,” jelas Dimas.
“Ya sudah terserah kamu deh,” ucap Askara.
“Ini ayah ikutan ke dapur mau apa? Mau aku buatkan kopi?” tanya Dimas.
“Mau tanya kamu, Afifah gimana, dia baik-baik saja, kan?” tanya Askara khawatir.
“Baik, dia sedang mandi, Yah?” jawab Dimas santai.
“Gak kesakitan?” tanya Askara.
“Ayah ... ayah ... kalau sakit ya sakit, dong? Kan baru pertama kali, ayah juga sudah pengalaman, kan? Kok pakai tanya? Kalau belum itu tanya gak apa-apa?” jawab Dimas.
“Ya kali saja dia sakit, kata kamu masuknya tadi susah?” ujar Askara.
“Ayah ... namanya masih perawan, ya susah dong? Haduh ayah gimana sih?” Dimas menggelengkan kepalanya, lucu melihat Ayah mertuanya yang sepertinya ketakutan mendengar Afifah sedang sakit kakinya. “Yah, terima kasih, ya? Sudah jagain putri ayah untuk aku. Dia perempuan yang sangat sempurna, Yah. Terima kasih sekali Ayah sudah berhasil menjaga putri ayah dengan baik,”ucap Dimas.
“Iya, karena itu tugas ayah, sekarang semua tugas ayah sudah beralih ke kamu sebagai suaminya. Ayah mau kamu jaga Afiffah, jangan sakiti dia, jangan kasar dengan dia, ajari dia menjadi istri yang patuh terhadap suaminya. Ayah titip Afifah, bahagiakan dia lahir dan batin,” ucap Askara.
“Itu sudah pasti, Yah,” jawab Dimas.
“Bagaimana malam pertamamu? Berhasil?” tanya Askara.
“Berhasil dong? Meskipun penuh perjuangan, karena satu jam baru bisa. Doakan saja, bibit unggulku berkembang sempurnya di dalam rahim Afifah, katanya ayah mau cucu yang banyak?” jawab Dimas.
“Aamiin ... beri ayah cucu yang tampan-tampan dan cantik-cantik, paling utama sehat, dan lahir sempurna,” ucap Askara. “Oh iya, tadi kamu bilang satu jam baru bisa? Maksudnya kamu baru bisa jleb satu jam gitu?” tanya Askara penasaran.
“Ssst ... gak boleh diceritain kegiatan ranjangnya, sudah jangan kepo, Yah? Ayah juga pernah merasakan, kan?” ucap Dimas.
“Tapi gak sampai satu jam?” jawab Askara.
“Kan orang beda-beda, Ayah? Sudah aku mau antar sarapan untuk putri ayah yang paling cantik. Kasihan dia kelaparan, aku juga belum siapkan bajunya, dia masih mandi, barangkali sudah selesai,” ucap Dimas.
“Ya sudah sana, balik ke kamar. Lanjut nanti malam saja, jangan siang-siang,” tutur Askara.
“Emang Ayah, mainnya siang-siang?” sindir Dimas.
“Mumpung ada kesempatan dong?” jawab Askara.
__ADS_1
Dimas hanya mengulas senyum dan menggelengkan kepalanya. Ia langsung ke kembali ke kamarnya, membawa dua gelas susu dan sandwich. Sebelum ke kamar, ia kembali menemui asistennya di dapur belakang, untuk segera memasakkan menu masakan yang Afifah inginkan.